
Murid-murid manggut-manggut mendengar penjelasan Nofan dan yang lain. Alasan yang mereka berikan masuk akal dan di terima dengan baik, walau sebenarnya ada sesuatu di balik tujuan terbentuknya kelompok ronda yang di tekankan kepada pria.
"Kami mohon kerja samanya, ini juga demi keselamatan bersama, mau tidak mau kalian harus ikut, kalau di antara kalian ada yang tidak mau, kami akan memberikan tugas yang lain yang mungkin lebih berat lagi" lantang Nofan sedikit mengancam.
Mereka terdiam, mereka ingin membatah, mereka ingin menolak tapi takut akan ancaman Nofan.
"Sekarang aku tanya siapa di antara kalian yang gak setuju, bagi siapa saja yang gak setuju tolong acungkan tangan" teriak Nofan ingin melihat siapa yang tidak setuju dengan kegiatan yang ia tetapkan.
Semuanya diam, tidak ada tangan yang terangkat, kepala semua orang tertunduk.
Nofan tersenyum tipis, ia dapat melihat jika para murid tak suka dengan kegiatan ini, namun mereka tidak bisa berkutik karena tidak punya wewenang.
"Oke semuanya setuju bukan, sekarang aku bentuk kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 25 anak, setiap malam hari ada 1 kelompok yang ronda" ujar Nofan.
Mereka tetap diam, segala keputusan ada di tangan Nofan, karena Nofan yang mengatur, mereka hanya mengikuti saja yang penting baik dan tidak merugikan orang lain atau diri mereka sendiri.
"Kelompok pertama, Ical, Jefri, Ali, Dodi, Mansyur, Kavca, Fattah, Syafi'i, Udin, Asrori, Zainal, Effendi, Goffar, Suhaimi, Manaf, Ifdhal, Ryan, Beni dan...."
Nofan terus menyebut satu persatu nama hingga membentuk beberapa kelompok yang siap untuk bertugas menjaga keamanan para murid serta guru selama berada di hutan Pinus.
"Oke semuanya sudah kebagian, nanti malam yang akan ronda adalah kelompok pertama, malam beritanya di lanjut dengan kelompok kedua dan seterusnya, semua paham?"
"Paham kak" jawab mereka.
"Kalau seperti itu silahkan kalian kembali ke tenda masing-masing, nanti malam siap-siap bagi kelompok satu untuk menjalankan tugas" Nofan membubarkan pasukan.
Mereka langsung pergi, lalu kembali ke tenda masing-masing.
"Semuanya sudah beres, tinggal nikmati indahnya hutan Pinus walau banyak berita miringnya" ujar Nofan menatap punggung anak-anak di sertai senyum sumringah.
"Kamu benar fan nyuruh kita buat begadang juga? Gak mereka aja yang bertugas, kenapa kita juga harus ikutan begadang" keberatan Calvin.
"Kalau mereka doang yang kita suruh jaga mereka pasti akan demo, liat aja tadi mereka layak keberatan gitu. Mangkanya aku bawa nama kita biar mereka juga setuju dan gak berat sebelah" jelas Nofan.
Taktiknya tak hanya membuat para siswa berat tapi berlaku pada kawan-kawannya yang merasa berat jika di haruskan untuk begadang demi keselamatan semua orang.
"Tapi fan kami itu pengen istirahat yang cukup, kenapa kamu malah nyuruh kami buat gak tidur sih" masih tak terima Reza.
"Ya ampun cuman gak tidur aja kalian heboh bener, kalian emang biasanya tidur? Enggak kan, kenapa kalian keberatan gitu, orang biasanya kalian gak pernah tidur malam" heran Nofan.
Faktor penyebabnya sering terlambat ke sekolah karena jarang tidur malam, tak hanya Nofan, kawan-kawannya juga sama. Satu geng itu sama-sama tak bener.
"Tapi itu kan biasanya, sekarang ini beda" timpal Dimas tetap menentang keputusan Nofan.
"Sama, apanya yang beda. Udah kalian gak boleh berontak, keputusan ku sudah bulat gak bisa di ganggu gugat lagi, nanti malam kita ronda biar semuanya aman!" Tegas Nofan tak bisa mengubah sesuatu yang telah ia tetapkan.
Mereka tampak tak mau menerima, namun untuk melawan mereka tak mampu, Nofan sulit untuk di lawan walaupun mereka bersikeras tak akan Nofan tanggapi.
"Sekarang kalian tidur aja, nanti jam 7 bangun, kita harus mulai ronda dari jam 7 sampai subuh" suruh Nofan.
Hanya dehaman yang keluar, mereka pun langsung masuk ke dalam tenda untuk beristirahat mumpung ada waktu, sebelum pada akhirnya mata mereka harus di paksa melek semalaman.
Mata Nofan menatapi punggung kawan-kawannya yang beranjak pergi meninggalkannya seorang diri.
"Fan" panggil Alica sedikit berteriak sambil berlari-lari kecil.
"Apa, apa lagi yang mau kamu bilang?" Tanya balik Nofan.
"Gak ada sih, aku cuman mau liat-liat hutan ini, kamu gak usah nyariin aku" pamit Alica.
Mendengar hal itu Nofan langsung menolak."Gak, gak boleh, ini udah mau magrib, kalau ada apa-apa sama kamu gimana, aku juga yang akan repot!"
Larang keras Nofan, tak ingin mengambil resiko memberikan izin pada Alica, di tambah lagi tempat yang ia singgahi begitu asing, tak ada yang tau ada apa saja di dalam hutan sehingga khawatir terjadi sesuatu pada Alica.
"Tapi fan aku bisa kok jaga diri, kalau ada masalah aku akan kasih tau papa, dia pasti akan nolong aku, kamu gak perlu khawatir" timpal Alica punya penyelamat pribadi.
"Gak boleh, walau apapun yang terjadi aku gak akan bolehin kamu buat berkeliaran bebas di hutan ini" tegas Nofan.
Alifa mengerucutkan bibir, ia kesal karena tak di beri izin, ingin rasanya ia mencakar habis-habisan wajah Nofan.
"Nyesel deh aku pamitan, kalau bakal kayak gini ogah aku mau pamit sama dia" batin Alica kesal.
"Sekarang kamu masuk ke tenda, jangan keluyuran, kalau sampai aku tau, aku gak akan segan-segan buat hukum kamu!" tegas Nofan tak pandang bulu, meski sahabatnya sendiri ia tak akan segan-segan untuk memberi hukuman.
Alica makin kesal, ia tak habis pikir kenapa-napa Nofan malah membuatnya bagai di penjara, sama Alica aja Nofan tetap akan memberikan hukuman apalagi sama yang lain.
Alica yang kesal beranjak pergi dari sana, malas melihat wajah Nofan lama-lama.
Nofan menatap punggung Alica yang berlalu dari hadapannya.
"Ada-ada aja anak itu, udah tau hutan ini berbahaya masih aja pengen liat-liat. Apa yang mau dia liat, kalau ada masalah aku juga yang akan kena omel sama guru-guru, sama aku wali murid sama papa ku sendiri. Hukuman yang aku dapatkan jelas akan jauh lebih berat jika terjadi sesuatu sama tuh bocah"
__ADS_1
Nofan tak bisa mengambil resiko, menjadi orang jahat dan terkesan nyebelin tak apa baginya yang penting selamat, tanpa ada masalah sedikitpun.
Alica yang tak bisa apa-apa hanya terus berjalan mendekati tendanya yang berdiri di sebelah barat paling ujung.
Sebelum tiba di tenda tak sengaja ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Siapa itu?" Alica mengerutkan alis melihat seseorang yang berjalan di lurus ke sebelah barat.
"Aku harus ikuti dia, sepertinya dia ingin pergi dari sini"
Dengan mengendap-endap Alica berjalan membuntuti orang yang begitu ia curigai, namun mampu membuatnya penasaran berat.
"Mau kemana dia sebenarnya, kenapa dia ke sana, apa dia gak tau jika matahari akan segera terbenam hingga dia masih keluyuran"
Makin lama Alica makin penasaran akan orang yang terus berjalan tersebut, Alica penasaran kemana dia akan pergi di saat kurang beberapa menit lagi matahari akan segera tenggelam.
Saat sedang fokus membuntuti orang misterius tiba-tiba kerah baju belakang Alica di tarik oleh seseorang.
"Mau kemana?" Nada dingin orang itu terdengar tepat di telinga.
Alica cengar-cengir menatap siapa yang kini menarik keras bajunya seperti menarik anak kucing dengan sesekali tertawa garing.
"Aku kan udah bilang jangan kemana-mana, kenapa kamu masih aja bandel" Mata melotot tajam milik Nofan tertuju ke arah Alica.
"Aku cuman mau ke sana kok, tadi itu ada-
"Ada apa?" Tanya sinis dan tegas Nofan.
"Aduh bagaimana ini, nih bocah pake tau segala kalau aku mau pergi" batin Alica kesal berat.
"Kamu mau kabur ya, bener-bener bandel, sekarang kamu ikut aku" ajak Nofan tegas tak akan ia kasih hati lagi.
"Kamu mau bawa aku kemana?" Teriak Alica sambil membuntuti Nofan dari belakang.
Tak ada sahutan dari bibir Nofan, ia berjalan lurus ke depan tanpa tolah-toleh, sedikit kecewa melihat kalau Alica tidak mendengarkan apa yang dia katakan.
"Dia mau bawa aku kemana sih, kenapa coba dia harus datang di saat aku masih belum tau siapa orang yang jalan ke barat itu, aku penasaran banget sama dia, tapi kalau dia liat-liat dia bukan murid di sekolahan ini. Aku rasa dia ada sosok makhluk halus yang berada di hutan" batin Alica berkeyakinan penuh.
Brukkk
Alica menyentuh keningnya yang sakit saat menabrak tubuh Nofan.
Ocehan Nofan kembali terdengar, makin lama makin membuat kuping Alica pengang.
Alica berdecak kesal, hari ini Nofan benar-benar ngeselin.
"Karena kamu gak dengarin perintah ku, aku akan beri kamu hukuman" dengan mengelilingi tubuh Alica Nofan berkata seperti itu.
Alica menegak ludah jahit, seumur-umur baru kali ini ia terkena hukuman dan orang yang memberikan hukuman adalah teman karibnya sendiri.
"Udah cepat bilang, aku siap kok melaksanakan hukuman yang akan kamu berikan" tak sabaran Alica karena ia ingin cepat-cepat pergi dari sana.
Nofan mengeluarkan senyum sinis, Alica merasa ngeri melihat Nofan seperti itu.
"Sekarang kamu bikinin aku makan, aku laper, aku gak sempat sarapan tadi" suruh Nofan.
Alica melongo."Eleh, aku kira hukuman apaan, cuman bikin makanan doang, kecil itu mah, kalau kayak gini setiap hari aku akan melanggar" ujar Alica.
"Udah sana cepat bikin, aku udah laper" suruh Nofan.
Alica mulai membuatkan makanan cepat saji untuk Nofan, kebetulan guru-guru sudah menyiapkan peralatan dapur yang lengkap selama mereka berada di sana.
Nofan duduk di batang pohon yang sudah lama tumbang, sambil melihat Alica yang memasak untuknya.
"Lama banget, urus laper ini, bisa masak gak sih!" Teriak Nofan sengaja biar Alica panik.
"Bacot, udah diam aja, gak usah banyak cengcong, lama-lama ku robek juga mulut ku itu!" Gerutu Alica kesabarannya setipis tissue.
Nofan terkekeh, melihat Alica menderita ia rasanya begitu senang.
5 menit kemudian makanan yang Alica siapkan sudah matang, ia lantas memberikan makanan itu pada Nofan.
"Ini jenderal, makanannya sudah siap, silahkan habiskan semoga suka!" Tutur Alica agak tak ikhlas karena sedari tadi mulut Nofan terus mengoceh.
"Bagus-bagus, gitu dong aku ini udah laper" jawab Nofan.
Hanya dehaman yang Alica keluarkan, malas berdebat lagi dengan Nofan.
Perut Nofan yang sudah keroncong angsung menyantap mie yang Alica buatkan untuknya meskipun harus besertakan kekesalan di dalamnya.
"Kamu mau kemana?" Nofan langsung menghentikan Alica yang akan segera pergi.
__ADS_1
"Balik ke tenda, mau kemana lagi" ketus Alica.
"Udah, kamu duduk aja, jangan kemana-mana. Nanti kamu kabur lagi" titah Nofan.
Alica mengepak kuat tangannya saat lagi-lagi Nofan mengungkit hal itu lagi.
"Aku cuman mau balik ke tenda, masa gak boleh, aku gak akan kabur lagi. Lagian tadi aku cuman pengen ikutin salah satu sosok yang aku curigai, aku penasaran kenapa dia mendekati tenda kita" jelas Alica.
"Apapun masalahnya gak boleh, udah diam aja di sini gak usah banyak ngebantah" larang keras Nofan.
Alica tak punya pilihan lain, ia diam di sana dan menunggu Nofan selesai makan walaupun bete.
Kegelapan mulai terasa, perlahan-lahan matahari mulai terbenam, kegelapan di hutan sedikit demi sedikit mulai berdatangan.
Saat suasana hutan gelap gulita tak ada penerangan lagi, bulu kuduk Alica berdiri.
"Fan, kok aku jadi merinding ya" ujar Alica memegang erat lengan Nofan sebagai pelindung.
"Merindibg? Kok aku gak" respon Nofan.
"Fan aku beneran, aku gak bercanda, kamu jangan bercanda, saat ini benar-benar gak lucu" Alica makin mengeratkan memeluk lengan Nofan.
Nofan melirik Alica yang ketakutan parah padahal tak ada apapun yang membuatnya bisa takut.
"Aneh betul anak ini, dia indigo, dari kecil loh, kenapa masih aja takut sama yang namanya hantu. Aku yang bukan indigo aja gak takut, kenapa dia yang selalu takut. Aku akan bikin dia gak takut lagi sama yang namanya hantu" batin Nofan memiliki ide cemerlang di balik senyum sinisya.
"Kenapa kamu senyam-senyum, kamu kesambet ya!"
Seperti tersambar petir saat teganya Alica mengeluarkan kata-kata mutiaranya.
Senyuman itu langsung sirna.
"Gak, gak ada apa-apa kok, kamu aja yang terlalu curiga, udah jangan pegang-pegang tangan aku, nanti jgabtehgaj aku luntur" ujar Nofan.
Secepat kilat Alica langsung melepaskan pelukannya.
"Iiih pede banget" jijik Alifa jika Nofan sudah menggila seperti ini.
"Hahahaha" tawa keras meluncur keluar dari bibir Nofan.
Alica makin mumet, Nofan begitu membuat orang-orang tertekan apalagi dirinya.
"Udah jangan ketawa terus, nanti kamu malah kesambet lagi!" Teriak sofa.
"Iya, ayo kita balik ke tenda, ada sesuatu yang mau aku kasih tau sama orang-orang" ajak Nofan.
Alica dengan semangat langsung setuju, mereka kembali ke tempat di mana semua orang berkumpul, mereka semua duduk di batang pohon yang tumbang.
Gelap, satu persatu tak ada yang mereka kenali, karena kegelapan yang begitu mendominasi.
Alica melirik semua orang di tengah gelapnya malam, tiba-tiba murid-murid yang mengenakan pakaian merah itu berubah warna menjadi putin dan menyeramkan.
Sontak Alica langsung memeluk erat tubuh Nofan, pengelihatan yang ia dapati begitu menyeramkan.
"Kenapa, kamu liat apa!" Cemas Nofan.
Kepala Alica menggeleng, tak mungkin ia bilang yang sebenarnya pada Nofan tentang pengelihatan yang ia dapatkan di tempat yang banyak sekali orang-orang.
Alica tidak mau membuat semua orang takut dengan pengelihatan singkat yang ia dapatkan.
"Udah, jangan takut aku ada di sini" kata Nofan..
"Vin, buat api unggun biar gak gelap begini" suruh Nofan.
Dengan cepat Calvin langsung bangkit dari duduk dan mendekati Nofan.
"Gak ada kayunya, mau bikin api unggun dari apa kalau gak ada kayunya" tutur Calvin.
"Ya kamu cari sana, sekitar sini banyak kok kayu, tinggal cara aja, gratis pun" sahut Nofan.
Calvin bukannya langsung melaksanakan tugas, malah melirik ke kanan dan kiri yang gelap.
Calvin menegak ludah pahit, bulu kuduknya pun kuduk berdiri
"Takut fab, gelap, aku gak punya nyali, kamu aja sana" suruh Calvin balik.
"Lemah, gitu aja takut, minggir biar aku yang nyari" ujar Nofan menghina Calvin..
Secepat kilat Calvin langsung minggir, kali ini Nofan sendiri yang turun tangan demi semua orang mendapatkan penerangan.
Alica membuntuti Nofan dari belakang, tak mau melepaskan Nofan sama sekali.
__ADS_1