
Malam semakin larut, suasana makin hening dan hanya suara-suara hewan-hewan kecil yang terdengar. Gadis bernama Alica terlelap dalam tidurnya, tak ada yang mengganggunya sehingga Alica dapat beristirahat dengan tenang.
Drrt
Drrt
Drrt
Tiba-tiba suara ponsel berbunyi, satu tangan Alica meraba-raba nakas mencari hpnya dalam posisi mata yang masih terpejam kuat.
"Halo" ucap Alica dengan suara serak, khas bangun tidur.
Terdengar suara tangisan di balik telpon genggam. Alica mengerutkan alis, di tengah malam yang gelap ia malah mendengar suara tangisan seseorang.
"Halo ini siapa!" Tanya Alica lagi.
"Alica, ini aku Anna" jawab Anna menitihkan air mata di seberang telpon.
Sontak mata Alica langsung terbuka dengan lebar, ia bangun dari duduk dan mendengarkan dengan seksama apa yang akan Anna katakan.
Perasaannya tiba-tiba tak enak saat Anna menghubunginya di tengah malam seperti ini, di tambah lagi Anna yang menitihkan air mata tak tau kenapa.
"Anna kamu kenapa nangis, apa yang udah terjadi sama kamu, jangan bilang ada penyerangan di rumah mu" tebak Alica panik, karena hanya itu yang ada di benak Alica.
"Bukan, tapi ibu aku Alica hiks hiks hiks" isakan tangis Anna begitu menyayat hati.
"Ibu kamu? Ada apa sama kamu ibu kamu, kenapa kamu nangis, semuanya baik-baik aja kan?" Penasaran Alica makin tak paham mengapa Anna menelponnya di tengah malam dengan di iringi tangisan.
__ADS_1
"Ibu aku meninggal Alica huhu" jelas Anna makin kejer.
DEG!
Alica terdiam, jadi ini yang bikin Anna menelponnya di tengah malam. Pantas aja Anna tak henti-hentinya menangis.
"Kok bisa, kok bisa ibu kamu meninggal an, tadi bukannya ibu kamu baik-baik aja?" Resah Alica kala tau bahwa ibu Anna meninggal dunia.
"Tadi ibu memang baik-baik aja, tapi setelah magrib ibu aku udah gak gerak lagi, pas di periksa udah gak ada hiks hiks hiks" sahut Anna tak dapat membendung air mata kala mengetahui bahwasanya ibundanya telah berpulang.
Tak hanya Anna, Alica yang mendengarnya ikutan shock dan sedih, apalagi Anna yang mengalaminya secara langsung.
"Anna, Anna kamu tenang, besok pagi-pagi sekali aku akan ke sana, kalau sekarang aku gak bisa ke sana, ini udah malam" tutur Alica berusaha menenangkan Anna yang pastinya tengah terpuruk.
"Iya, besok aku tunggu kamu, Alica tolong cepat bantu keluarga aku, aku gak mau semua anggota keluarga ku satu persatu ikutan pergi, nanti aku akan sama siapa kalau mereka ninggalin aku" ketakutan Anna, sebab telah ada 4 orang yang tewas di keluarganya.
"Iya, besok aku akan ke sana, pagi-pagi sekali aku akan berangkat" jawab Alica.
"Makasih ca, makasih kamu udah mau bantu keluarga ku, aku harap kamu bisa selesain semua masalah yang ada di keluarga ku, sungguh aku udah muak hidup kayak gini, aku pengen terlepas dari ini semua" syukur Anna hanya dapat mengucapakan kata terima kasih tanpa tau harus membalas apa atas kebaikan Alica.
"Sama-sama, sekarang kamu jangan nangis lagi, aku tutup dulu, besok aku akan kabarin kamu lagi. Kalau ada apa-apa sama kamu dan juga keluarga kamu yang lainnya, kamu langsung kasih tau aku" ujar Alica.
Di seberang telpon Anna mengangguk."Iya aku akan kasih tau kamu"
Alica cukup lega, lalu kemudian menutup panggilan telpon, wajah Alica seketika tak tenang, ia tak bisa diam sejak tau bahwa ibu Anna telah meninggal dunia.
Saat Alica berada di rumah Anna, ia dapat melihat bertapa sakitnya menjadi Lasmi yang di sekujur tubuhnya di penuhi luka-luka yang bernanah, bengkak dan mengeluarkan bau yang tak sedap.
__ADS_1
Kini Lasmi yang ia lihat sangat memperihatinkan telah di kabarkan meninggal dunia, Alica belum sempat untuk membantu menyebutkannya, tapi beliau telah berpulang terlebih dahulu.
"Kasihan banget Anna, dia pasti sedih banget, aku sebenarnya pengen ke sana, tapi siapa yang bisa aku ajak ke sana, aku gak mungkin pergi sendiri" bingung Alica mondar-mandir ke sana kemari memikirkan keluarga Anna yang lagi-lagi terkena musibah.
"Apa aku bangunin ayah aja ya dan minta tolong buat anterin ke sana, tapi kalau aku minta tolong sama ayah dan ayah liat keadaan asli keluarga Anna, aku jamin 100 persen ayah gak akan izinin aku" tutur Alica yang akan mendapatkan masalah besar jika membawa ayahnya ke sana.
"Apa yang harus aku lakukan, aku pengen ke sana, tapi gak ada yang bisa aku ajak kompromi" ujar Alica.
Alica tak bisa tenang di tengah malam yang sepi, mata yang tadinya kantuk berat kini terang benderang, semua rasa kantuk itu menghilang bersamaan dengan berita bahwa ibu Anna telah meninggal dunia.
"Nofan! yah Nofan, aku bisa ajak dia ke sana sekarang" gembira Alica teringat pada sahabatnya.
"Tapi dia mau gak ya aku ajak ke sana malam-malam begini?" Alica mikir keras, mengajak Nofan ke sana kembali akan lebih sulit, jelas-jelas tadi siang Nofan sudah melarang keras Alica untuk kembali mendatangi rumah Anna.
"Dia pasti gak akan mau, dia nantinya akan ember dan ngasih tau ayah yang bukan-bukan sehingga ayah gak akan izinin aku bantu keluarga Anna lagi. Apalagi dia masih marah sama aku, gimana ini, apa yang harus aku lakukan" gelisah Alica tak memiliki cara apapun.
"Apa aku tunggu pagi aja ya?" tanya Alica pada dirinya sendiri sembari menatap jam yang terpampang di dinding.
"Tapi ini masih jam dua belas, masih lama paginya"
Alica tak diam sama sekali, ia kocar-kacir ke sana kemari menunggu matahari terbit. Tak ada cara lain yang bisa Alica lakukan selain menunggu matahari terbit, kalaupun ia nekat ke sana sendirian malam ini juga ia akan di marahi dan tidak di perbolehkan lagi membantu orang-orang yang kesulitan.
"Ya Allah kapan paginya, aku ingin cepat-cepat pagi, aku mau ke rumah Anna, aku mau bantu keluarga mereka sebelum terlambat"
Alica tak sabar menunggu hari berganti, keresahan terus terpancar di wajahnya, namun yang dapat ia lakukan hanyalah mondar-mandir ke sana kemari sambil terus memikirkan keluarga Anna yang lagi-lagi terkena musibah.
"Ini gak bisa di biarin, dukun itu harus di musnahkan, udah ada banyak korban yang jatuh, aku gak bisa diam aja, besok aku akan datangin rumahnya, aku akan hadapi dia dengan tangan ku sendiri" geram Alica tak bisa tenang sama sekali.
__ADS_1