
Setelah acara pemakaman Bu Neti selesai, satu persatu yang mengantar Bu Neti menuju peristirahatan terakhirnya, kembali ke rumah masing-masing. Namun, Aisyah terlihat enggan untuk pulang, meskipun Raihan dan Pak Burhan sudah mengajaknya.
"Nak, Aisyah yang sabar ya, Papa tau ini berat untuk Aisyah, tapi Aisyah harus tetap semangat demi orang-orang yang sayang kepada Aisyah. Maaf jika Papa tidak bisa menemani kalian lebih lama lagi tinggal di Kalimantan, karena sekarang Papa bersama Evan dan Gisel harus kembali ke Jakarta," ujar Papa Herdi.
"Makasih banyak ya Pa atas semuanya, maaf jika Aisyah sudah merepotkan karena harus menitipkan Nathan dan Nala. Mungkin Aisyah akan pulang ke Jakarta setelah selesai acara Tahlil Ibu yang ke tujuh hari."
"Tidak apa-apa Nak, Nathan dan Nala juga tidak pernah rewel, jadi Aisyah tidak perlu khawatir. Pak Burhan, Raihan, Papa pulang dulu ya, kalau ada apa-apa Raihan kabari Papa," ujar Papa Herdi dengan menyalami semuanya, begitu juga dengan Gisel dan Evan.
Setelah Papa Herdi, Gisel dan Evan pulang, Aisyah, Raihan dan Pak Burhan memutuskan untuk membaca Surat Yasin terlebih dahulu di makam mendiang Bu Neti.
"Nak Raihan, Aisyah, terimakasih banyak ya Nak, tidak ada kata lain lagi yang bisa Ayah ucapkan selain terimakasih," ucap Pak Burhan ketika mereka bertiga selesai membaca Surat Yasin.
"Ayah kenapa harus mengucapkan terimakasih? Aisyah dan Kak Raihan adalah Anak Ayah, dan sudah menjadi kewajiban kami selalu ada untuk orangtuanya."
"Ayah sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kalian, apalagi sampai saat ini Ratna masih belum bisa memaafkan kesalahan Ayah. Jadi, Ayah sangat bersyukur karena kalian masih mau menemani Ayah," ujar Pak Burhan dengan memeluk tubuh Raihan dan Aisyah.
"Ayah yang sabar ya, nanti Ayah bisa ikut tinggal bersama kami di Jakarta. Ya sudah, kalau begitu sekarang kita pulang ya sayang, Aisyah harus banyak istirahat supaya cepat sembuh, badan Aisyah juga panas begini," ujar Raihan dengan memegang dahi Aisyah.
"Bu, Aisyah pulang dulu ya, semoga Ibu beristirahat dengan tenang. Insyaallah besok Aisyah akan ke sini lagi," ucap Aisyah dengan mengelus batu nisan Bu Neti, kemudian mereka bertiga mengucap Salam sebelum pulang.
Setelah sampai di rumah Pak Burhan, Aisyah dan Raihan memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum mempersiapkan acara tahlil yang akan dilaksanakan nanti sore.
"Yah, kami ke kamar duluan ya, nanti kami turun lagi setelah membersihkan diri supaya bisa membantu persiapan acara tahlil nanti sore," ujar Raihan.
"Nak Raihan dan Aisyah istirahat saja, kasihan Aisyah sedang tidak enak badan, di sini juga banyak Asisten rumah tangga yang akan mempersiapkan semuanya," ujar Pak Burhan.
"Tapi kalau ada apa-apa, Ayah jangan sungkan buat panggil kami ya," ujar Raihan.
"Iya Nak, kalau nanti Ayah perlu bantuan, Ayah bakalan bicara sama Raihan."
Raihan akhirnya menggandeng Aisyah menuju kamar mereka.
"Sayang, sebaiknya sekarang Aisyah langsung mandi, baju Aisyah juga kotor," ujar Raihan dengan mengantar Aisyah yang masih terlihat lemas untuk masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Apa Aisyah bisa sendiri?" tanya Raihan yang merasa khawatir kepada istrinya, apalagi wajah Aisyah terlihat pucat.
"Aisyah gak apa-apa kok Kak. Kak Raihan ke luar aja, kapan mandinya kalau Kakak masih di sini," ujar Aisyah dengan mendorong tubuh Raihan ke luar dari dalam kamar mandi.
"Pintunya jangan dikunci ya," teriak Raihan dari luar pintu kamar mandi, karena Raihan takut kalau Aisyah sampai pingsan lagi.
Setelah beberapa saat, Raihan bisa bernapas lega karena akhirnya Aisyah ke luar juga dari dalam kamar mandi.
"Aisyah masih pusing tidak?" tanya Raihan dengan menggandeng Aisyah menuju tempat tidur.
"Sedikit Kak."
"Kalau begitu Aisyah minum dulu obatnya," ujar Raihan dengan memberikan obat dan juga segelas air untuk Aisyah.
"Aisyah jangan kemana-mana ya, Kak Raihan mau mandi dulu," ujar Raihan, yang selalu merasa ketakutan semenjak Aisyah dan Nala hilang.
Alhamdulillah Ya Allah, karena telah memberikan Suami yang begitu perhatian dan pengertian kepada Aisyah. Kasihan Kak Raihan, semenjak kejadian aku dan Nala hilang, Kak Raihan selalu terlihat ketakutan, ucap Aisyah dalam hati.
......................
"Ma, rasanya hanya keheningan yang sekarang Papa rasakan, biasanya Mama selalu menunggu Papa pulang, biasanya Mama yang selalu menemani hari-hari Papa, tapi sekarang semuanya sudah berbeda," ucap Pak Burhan dengan menitikkan airmata.
Pak Burhan mengambil bingkai fhoto dirinya dan Bu Neti yang ada di atas nakas, kemudian beliau menatap lekat wajah istrinya.
Pak Burhan memutuskan untuk berbaring terlebih dahulu dengan memeluk bingkai fhoto tersebut sebelum membersihkan diri, tapi akhirnya Pak Burhan tertidur, apalagi semalam beliau tidak tidur sama sekali.
......................
Aisyah yang sudah merasa lebih baik, mengajak Raihan untuk turun ke bawah melihat persiapan acara tahlil.
"Memangnya Aisyah udah gak pusing lagi?' tanya Raihan dengan memegang dahi Aisyah.
"Alhamdulillah Aisyah sudah lebih baik Kak."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita ke bawah, tapi Aisyah jangan bantu-bantu ya, Kak Raihan takut kalau Aisyah sampai kecapean."
"Iya Kak, Aisyah cuma mau lihat-lihat saja, sama lihat Ayah juga. Meskipun Ayah terlihat tegar, tapi Aisyah tau kalau Ayah lebih rapuh dari Aisyah, apalagi selama ini hanya Ibu yang selalu menemani hari-hari Ayah, dan pastinya Ayah akan merasa sangat kehilangan Ibu."
Aisyah dan Raihan melihat persiapan tahlil yang ternyata sudah selesai, tapi mereka tidak melihat Pak Burhan berada di sana.
"Bi, Ayah kemana?" tanya Aisyah.
"Tadi Tuan ke kamar, mungkin mau membersihkan diri, tapi sampai sekarang Tuan belum ke luar juga dari dalam kamar," jawab Bi Ijah.
Aisyah dan Raihan memutuskan untuk melihat Pak Burhan di dalam kamarnya, tapi setelah beberapa kali mengetuk pintu, tidak ada jawaban dari dalam kamar, sehingga Raihan dan Aisyah langsung masuk karena mencemaskan kondisi kesehatan Pak Burhan.
Ternyata Pak Burhan saat ini sedang tertidur dan masih menggunakan pakaian yang tadi beliau pakai saat pergi ke pemakaman.
Aisyah secara perlahan mendekati tubuh Pak Burhan, kemudian Aisyah memegang dahinya.
"Kak, ternyata badan Ayah sangat panas."
"Mama, Mama, kenapa Mama tinggalin Papa," ucap Pak Burhan dalam tidurnya.
Aisyah melihat bingkai fhoto yang Pak Burhan peluk dan ternyata itu adalah fhoto Bu Neti dan Pak Burhan.
"Kasihan Ayah, pasti Ayah sangat kehilangan Ibu, sampai-sampai tidur pun Ayah memeluk fotonya," ujar Aisyah dengan meneteskan airmata.
"Kalau begitu sebaiknya kita telpon Dokter untuk memeriksa kondisi Ayah," ujar Raihan, kemudian Raihan ke luar untuk menanyakan nomor telpon Dokter keluarga kepada Bi Ijah.
Setelah Raihan menelpon Dokter, Raihan kembali ke dalam kamar Pak Burhan dengan membawa air hangat dan handuk kecil untuk mengompres dahi Pak Burhan.
Beberapa saat kemudian, Dokter datang untuk memeriksa kondisi Pak Burhan.
"Dok, bagaimana kondisi Ayah saya?" tanya Aisyah setelah Dokter selesai memeriksa kondisi Pak Burhan.
"Tuan sepertinya sangat terpukul atas kepergian Nyonya, sehingga menyebabkan kondisi kesehatan beliau menurun. Saat ini saya hanya akan memberikan obat penurun panas dan anti nyeri saja kepada Tuan, tapi jika panasnya tidak turun juga, kita harus membawanya ke Rumah Sakit supaya bisa mendapatkan perawatan secara intensif. Kalau begitu saya permisi dulu, kalau ada apa-apa Nona telpon saya saja," ujar Dokter kemudian ke luar dari dalam kamar Pak Burhan.
__ADS_1
"Sayang, sebaiknya Aisyah di sini saja ya buat jaga Ayah, biar Kak Raihan yang mewakili Ayah untuk menghadiri acara Tahlil Ibu," ujar Raihan dengan mencium kening Aisyah, kemudian ke luar dari dalam kamar Pak Burhan untuk menghadiri acara Tahlil.