
Gisel terlihat melamun ketika hendak masuk ke dalam kamarnya, sampai akhirnya Evan mengajak Gisel ke balkon untuk berbicara terlebih dahulu.
"Sayang, apa ada yang masih mengganjal dalam pikiranmu saat ini? sepertinya setelah bertemu dengan Nona Aisyah dan Tuan muda Raihan, kamu terlihat melamun?" tanya Evan.
"Entahlah Van, tapi setelah aku mengetahui kalau Ibuku adalah dalang dari penculikan Kak Raihan, aku menjadi malu dan merasa bersalah kepada keluarga Sanjaya, apalagi selama ini Tante Neti selalu disalahkan oleh Papa dan Kak Raihan atas semua ini. Apa aku bilang saja yang sebenarnya kepada Papa dan semuanya bahwa aku adalah Anak kandung dari perempuan yang selama ini telah menculik Kak Raihan?" ujar Gisel dengan airmata yang terus menetes dari pipinya.
Evan membawa tubuh Gisel yang saat ini terlihat rapuh ke dalam pelukannya.
"Apa kamu sudah siap jika melihat Ibu kandungmu sendiri mendekam dalam penjara?" tanya Evan.
"Siap atau tidak, Mama harus tetap mempertanggungjawabkan semua kesalahan yang telah ia perbuat, apalagi Tante Neti adalah Ibu kandung Aisyah, dan ternyata Aisyah masih saudaraku juga," ujar Gisel.
"Ternyata Nenek sihir sekarang sudah berubah menjadi Ibu Peri ya," goda Evan, sehingga membuat Gisel tersenyum malu.
"Van, aku tidak akan berdosa kan jika tidak menuruti semua kemauan Ibu kandungku sendiri?" tanya Gisel.
"Kamu tidak akan berdosa sayang, karena yang Mama kamu suruh bukanlah perbuatan baik, justru kamu akan mendapatkan pahala karena sudah menolak keinginan Mama kamu yang nantinya akan menghancurkan hidup oranglain. Aku bangga sama kamu, karena sekarang kamu sudah mempunyai pikiran yang lebih dewasa," ujar Evan.
"Makasih ya Van, aku berubah menjadi diriku yang sekarang ini, itu semua juga berkat kamu," ujar Gisel dengan tersenyum.
"Ya sudah sebaiknya sekarang kamu istirahat dulu, kasihan pasti kecapean, kita kan baru pulang dari luar kota. Nanti, kita cari waktu yang pas untuk membicarakan semua ini kepada Tuan," ujar Evan, kemudian melepas pelukannya pada tubuh Gisel.
Gisel dan Evan akhirnya masuk ke dalam kamar masing-masing dengan perasaan yang lebih tenang pada keduanya.
......................
Malam kini telah tiba, Nenek Rose sengaja membuat kamar untuk Nathan dan Nala dengan dijaga oleh dua Asisten Rumah Tangga yang sudah lama bekerja di kediaman Sanjaya, supaya Aisyah dan Raihan bisa mempunyai waktu bersama, meski pun malam sebelumnya Aisyah meminta untuk tidur dengan kedua Anaknya, tapi Aisyah tidak mungkin terus menerus menghindari Raihan, karena bagaimana pun juga Raihan adalah Suaminya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa Aisyah masih duduk di sofa?" tanya Raihan ketika ke luar dari dalam kamar mandi.
"Aisyah sedang_" Aisyah mencoba mencari alasan karena tidak mungkin dia mengatakan kepada Raihan kalau Aisyah takut jika sampai Raihan meminta hak nya sebagai seorang Suami.
"Sekarang sebaiknya Aisyah tidur, ini sudah malam. Kak Raihan tau kalau Aisyah masih takut jika Kakak meminta hak sebagai seorang Suami, karena Aisyah belum mengingat semuanya. Aisyah gak usah takut, karena Kak Raihan gak bakalan maksa Aisyah," ujar Raihan dengan menggandeng Aisyah menuju tempat tidur.
"Kenapa Kak Raihan bisa tau tentang semua itu?" tanya Aisyah yang merasa heran.
"Aisyah selalu bilang kalau Kak Raihan adalah Ibu sekaligus Ayah untuk Aisyah, jadi Kak Raihan tau semuanya tentang Aisyah karena Aisyah sudah Kak Raihan rawat dari semenjak bayi. Ya sudah sebaiknya sekarang kita tidur," ujar Raihan dengan memeluk tubuh Aisyah.
"Makasih banyak Kak, Kak Raihan selalu mengerti Aisyah, ujar Aisyah, yang tiba-tiba sekilas mencium bibir Raihan, kemudian Aisyah bersembunyi pada dada bidang Raihan karena malu dengan perbuatannya sendiri.
"Aisyah nakal juga ya," ujar Raihan dengan tersenyum, kemudian Raihan mengeratkan pelukannya kepada Aisyah, sampai akhirnya mereka terlelap memasuki alam mimpi.
Dalam mimpinya Aisyah bertemu dengan seorang perempuan paruh baya yang terus saja memanggil namanya.
Aisyah secara perlahan mendekati asal suara, dan Aisyah begitu terkejut ketika melihat bahwa perempuan paruh baya tersebut adalah Bu Neti.
"Ibu kenapa harus meminta maaf kepada Aisyah? Ibu tidak pernah melakukan dosa apa pun kepada Aisyah."
"Tidak Nak, Ibu mempunyai dosa besar, Ibu telah meninggalkan Aisyah dari semenjak bayi, karena Ibu adalah Ibu kandung Aisyah," ucap Bu Neti dengan menangis, kemudian tubuh Bu Neti terus menjauh dari jangkauan Aisyah, sampai akhirnya Aisyah terus memanggil namanya.
"Bu Neti, Bu Neti, jangan pergi Bu," ucap Aisyah dalam tidurnya, dan Raihan yang mendengar Aisyah terus saja mengigau mencoba membangunkan Aisyah.
"Sayang, bangun sayang, Aisyah kenapa?" ujar Raihan dengan menggoyangkan tubuh Aisyah.
"Bu Neti," teriak Aisyah dengan terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Raihan mengambil segelas air dari atas nakas, kemudian membantu Aisyah untuk minum, apalagi keringat dingin terus saja menetes dari dahi Aisyah.
"Sayang, apa Aisyah sudah mengingat nama Ibu kandung Aisyah?" tanya Raihan karena tadi Raihan mendengar Aisyah memanggil nama Neti.
"Aisyah mimpi bertemu Bu Neti istrinya Pak Burhan Kak, tapi anehnya dalam mimpi Aisyah, Bu Neti meminta maaf dan Bu Neti juga bilang kalau Aisyah adalah Anak kandungnya. Kenapa Aisyah bisa bermimpi seperti itu ya?" tanya Aisyah kepada Raihan.
"Mimpi adalah bunga tidur, mungkin Aisyah kepikiran Bu Neti terus karena saat ini beliau sedang sakit, makanya sampai kebawa mimpi," ujar Raihan yang sebenarnya mempunyai kecurigaan terhadap Bu Neti yang berstatus istri Pak Burhan tersebut, tapi Raihan berusaha untuk menyembunyikannya terlebih dahulu dari Aisyah, karena Raihan tidak mau Aisyah sampai kepikiran, dan Raihan akan memastikan semua kebenarannya terlebih dahulu.
Apa mungkin Bu Neti istrinya Pak Burhan adalah Ibu kandungnya Aisyah? semuanya begitu kebetulan karena istri Pak Burhan mempunyai nama yang sama dengan Ibu kandungnya Aisyah. Aku harus mencari tahu semuanya terlebih dahulu, ucap Raihan dalam hati.
......................
Pak Burhan yang baru sampai Kalimantan langsung menuju Rumah Sakit setelah mendapat kabar bahwa Mama Neti kembali masuk Rumah Sakit.
Setelah kepergian Aisyah, Mama Neti pingsan, kemudian di bawa ke Rumah Sakit oleh Supir dan Asisten Rumah tangga nya, tapi Mama Neti melarang mereka untuk memberitahukan semuanya kepada Pak Burhan.
"Ma, kenapa Mama tidak langsung memberitahu Papa kalau Mama kembali masuk Rumah Sakit?" tanya Pak Burhan ketika sampai di kamar perawatan Bu Neti.
"Pa, Mama tau kalau Papa berat untuk meninggalkan Aisyah, kalau Mama memberitahukan semuanya kepada Papa, nanti Papa pasti akan cepat-cepat pulang."
"Papa sekarang sudah tenang meninggalkan Aisyah, karena Aisyah sudah bersama dengan orang-orang yang sangat menyayanginya, padahal mereka tahu kalau Ibu kandung Aisyah yang telah menculik Raihan. Kenapa Mama tidak berusaha menjelaskan kepada mereka kalau Mama hanya disuruh oleh Mbak Rita?" tanya Pak Burhan.
"Keluarga Mbak Rita sudah banyak membantu hidup Mama, dan Mama hanya membalas hutang budi kepada mereka."
"Tapi tidak dengan melakukan kejahatan yang membuat hidup kita menjadi tidak tenang Ma, bahkan Mama sampai meninggalkan Aisyah karena takut jika Aisyah akan malu mempunyai Ibu seorang penculik."
"Sudahlah Pa, semuanya sudah terjadi, mungkin itu semua sudah nasib Mama. Oh iya, bagaimana dengan Ima dan Ratna, apa Papa sudah bertemu dengan mereka?"
__ADS_1