
Ara menyeka air mata di pipi, wajahnya mengadah keatas, menarik nafas dan menghembuskan nya secara perlahan. Kemudian ia menoleh pada pria disampingnya. Pria itu sedang menatapnya, diam tak bersuara seolah sedang meresapi kisah yang Aralia ceritakan.
Aralia tersenyum, " maaf, "
" untuk???" David bertanya.
" waktu anda yang tersita karena ocehan saya..."
" hehehe, oke..., tapi jika lain kali kau ingin bercerita sedih seperti ini, siapkan tissu dan jangan lupa , aku membandrol tarif mulai sekarang..."
Aralia tersenyum kecut, " anda menyebalkan, Tuan..."
David kemudian diam, pandangannya sudah tertuju ke depan.
" kadang yang terlihat indah dari luar belum tentu terjadi saat kau menengok ke dalam. Aku kehilangan sang ayah saat usia ku 23tahun, ayahku dan ayah Daniel meninggal karena kecelakaan tunggal. Aku terpaksa harus menggantikan posisi ayah di umurku yang masih muda. Bersyukurnya aku sudah dibekali ilmu bisnis dari baru belajar membaca..."
" kau tau Aralia, sebagai anak laki laki yang lahir dari keluarga kaya dan pebisnis yang hebat, tidak membuat hidupku bahagia. Sejak dini aku sekolah ditempat khusus tentang management Perusahaan, jika anak seumuran ku masih asyik bermain robot, tapi disana aku harus membaca buku buku yang halaman judulnya saja sangat tebal. Berteman pun tidak bisa seperti anak kebanyakan, karena wajah wajah penjilat selalu saja berkeliaran disekitar kami..."
" Orang yang sedang bekerjasama denganku disini, dia bernama Paman Sam adalah orang yang berjasa dan berperan penting dalam keluarga ku. Paman Sam dan Istrinya yang selalu menjaga dan menemani ibu serta duo J saat aku harus berjuang mempertahankan Perusahaan dan ribuan karyawan Ayah. Paman sam juga yang meyakinkan semua orang serta semua pemegang saham bahwa aku mampu memegang bangku kepemimpinan sang ayah. Paman Sam dan Ayah ku tidak ada pertalian darah, namun kasih sayangnya melebihi ikatan saudara..."
" sama seperti aku dan Kesya???"
" Maybe.... soal Kesya seperti apa, semua itu hanya kau yang tau.." jawab David sambil mengangkat bahu nya.
" bagaimana dengan Daniel, kenapa dia bisa begitu dekat dengan Anda????" tanya Aralia.
" Daniel selalu mendampingiku, menjadi teman setiaku bahkan terkadang sikap nya terlalu overprotektif seperti Kesya mu.., entah karena kami senasib atau karena sumpah yang sempat dia ucapkan sebelum ayah kami pergi...kadang Daniel sangat menjengkelkan, sikapnya tak bisa dibantah saat ia berperan sebagai ayah atau kakak, Daniel yang selalu memapahku saat aku jatuh, menemaniku saat ku sendiri, mengusap punggungku saat aku sedih, dan mengacak acak rambutku saat ia kesal, tapi bagiku Daniel tetap yang terbaik." David tersenyum tipis sambil membayangkan sosok Daniel.
Aralia memandang wajah David, sedang yang dipandang hanya tersenyum melihatnya.
" anda sekarang ini jauh lebih banyak tersenyum, saya suka...anda terlihat jauh lebih tampan" ucap Aralia sambil tersenyum memandang David.
" uhuukk...uhuukk..., kau serius??? apa selama ini wajah ku jelek???" ucap nya sambil cemberut.
" Dasar Tuan sensitif..." senyum Ara.
" tidurlah, ini sudah malam. Bukan kah esok pagi kita akan bermain air???" ujar David.
" kenapa anda sangat baik , Tuan???" tanya Ara
" entah lah, hanya saja setiap di dekatmu aku merasa nyaman, aku bisa menjadi diriku sendiri, aku merasa punya kawan selain Daniel..."
__ADS_1
" kau tau, bagi kami orang kaya yang punya segalanya, teman salah satu hal yang sulit untuk kami dapatkan...bahkan seorang kekasih pun akan menjelma menjadi orang lain saat melihat tumpukan uang kami yang banyak. Harta dan tahta bisa mengubah hati seseorang dalam sekejap.." ucap David
" kau bilang dulu pernah pacaran??? apa kau masih ingat wajahnya???"tanya David.
" entahlah , Tuan. Aku rasa mungkin saat nanti melihatnya lagi aku akan ingat.., Mungkiiinnn....dia yang akan lupa wajahku.., karena setelah kejadian itu kudengar dia pindah sekolah, tapi ada yang bilang kalau dia meninggal karena kecelakaan, ada yang bilang juga dia kabur dari rumah...saya tidak tau mana yang benar , tapi... saya juga tidak mau tau..." ucap Ara menjawab pertanyaan David dengan santai.
"itu berarti Kesya mu sudah memenggal kepala nya, bodoh..., ternyata gadis ini benar benar polos." David.
" sudah lah , Tuan saya ngantuk...saya ingin tidur..."
" mau kutemani..????"
Aralia memicingkan matanya menatap David.
" hehehe...oke..aku keluar.." David bangun dari duduk nya berjalan keluar kamar..
GLUDUUUKKK...GLLUUDDUUKK...
" achhhh....." Aralia teriak menutup kuping dan mata nya. David yang melihat Aralia ketakukan langsung berlari memeluk tubuhnya.
" ada petir Tuan...kilat...Ayaaahhh....Kesyaaa...."
Nafas Aralia berburu, jantung nya berdetak kencang...David masih memeluk gadis itu, mengusap punggung nya.
" Ayaaaahhh...mereka menembak nya ..mereka menembak ayahku...hiks..hiks..."
David mengangkat tubuh Aralia, menggendongnya dan meletakkan perlahan ke ranjang pelan pelan.
" aku takut petir Tuan, aku takut kilat nya..."
" lihat aku.." tangan David menangkup wajah Aralia, " tenanglah..diam disini, aku akan menutup tirainya..."
David baru hendak berbalik , tapi tangan nya di genggam erat.David menoleh ke ranjang, Aralia tampak sangat ketakutan, tubuh nya bergetar, wajahnya pucat.
" jangan pergi , Tuan.." lirihnya
" tutup matamu, sebentar saja, aku hanya ingin menutup tirai nya agar kau tidak takut melihat kilat dan petir itu..."
" percaya padaku, setelah itu aku akan menemanimu lagi,....sekarang tutup matamu.."
Aralia menutup matanya, menekuk kedua kakinya dan menyilangkan tangan ke dada . Melihat Aralia sudah menutup mata, David segera bergerak cepat menutup semua tirai jendela. Setelah semua tertutup, David menghampiri Aralia di ranjang. Saat tangan nya memegang pundak, Aralia kaget dan menutup kuping dengan kedua tangan serta menutup matanya.
__ADS_1
" hei, ....tak apa , sekarang kau aman"
" Tuan..., maaf.." ucap Aralia.
" tidur lah, aku akan disini hingga kau tertidur...!" David menatap manik manik itu, sangat terlihat gadis itu masih ketakutan.
David menarik selimut, memposisikan tubuhnya sejajar dengan Ara, menutupi tubuh mereka kembali, David memeluk tubuh gemetar itu sambil mengusap punggung nya.
" tidurlah, pejamkan matamu, aku akan selalu disini menemani, tidak akan terjadi apa apa, tidurlah.." ucap David menenangkan gadis itu.
Tak berapa lama, terdengar hembusan nafas teratur dari balik selimut, menandakan sang gadis sudah memasuki alam mimpi, entah apa yang dimimpikannya, David membetulkan posisi tidur sang gadis agar tidak sakit saat bangun nanti, menyelipkan rambut Aralia ke telinga, David menatap wajah gadis itu , kemudian tersenyum.
" cantik..."
Tak berapa lama , David pun menyusul sang gadis ke alam mimpi.
*******************
Pagi itu Daniel masuk ke kamar David bersama pelayan pengantar makanan, dia membuka pintu menggunakan ID CARD yang ia pegang.
" taruh saja disana, lalu kau keluar..." ucap nya pada pelayan sambil menunjuk meja makan.
Pelayan itu menggangguk kan kepala tanda mengerti, pelayan tersebut menata makanan lalu keluar dari sana. Daniel berjalan menuju kamar David, mengetuk pintunya namun karena tak kunjung mendapat jawaban, Daniel membuka pintu tersebut.
Tidak ada Tuan mudanya disana, mengecek ke kamar mandi juga tak di temukan. Daniel keluar dari kamar David, menutup pintu pelan, mengambil ponsel nya hendak menghubungi nomor yang bersangkutan. Tapi tiba tiba niat nya terhenti, Daniel menatap pintu kamar Aralia.
' tidak mungkin kan...??? tapi harus kucoba' Daniel.
Daniel membuka pintu Aralia, tidak terkunci, membuka nya sedikit tanpa mengeluarkan suara berisik. Daniel terdiam di depan pintu. Tampak 2 orang dengan posisi tertidur di ranjang saling berpelukan. Daniel yakin itu wajah Tuannya. Tapi bagi Daniel , apa yang dia liat adalah hal yang aneh. Selama berhubungan dengan mantan pacarnya saja Tuan mudanya tidak pernah mencium RAIHANA, tapi ini .... Daniel melihat Tuannya masuk ke kamar seorang wanita dan tengah memeluk nya.
" hmmmm, ini sulit..." Daniel.
*
*
*
*
@ ara ❤
__ADS_1