
Pagi ini tak seperti pagi sebelum nya , sesuatu yang membuat David harus cepat pergi meninggalkan rumah, meninggalkan semua kenangan yang bersarang di otak nya tentang mendiang sang ayah. Wanita di depan nya membuat ia jauh lebih betah dirumah, bahkan saat Daniel sudah datang menjemput. Pria itu tetap duduk tenang di sofa di depan tempat tidur kekasihnya.
Wanita itu sedang dalam mode merajuk setelah pagi ini terjadi perdebatan antara dirinya dan David di taman belakang.
Flasback on
Aralia berjalan mengelilingi taman di rumah utama, taman asri yang mengarah ke arah danau buatan yang lumayan besar. Sepanjang mata jauh memandang banyak pepohonan rindang dan beberapa bunga yang cantik. Pengawal menyebar di sekitar rumah itu. Seperti sudah mengetahui tempat dan tugas nya sendiri.
" cantik sekali...."
Seorang pelayan wanita menyapa, " pagi Nona muda..."
Aralia tersenyum canggung dengan panggilan barunya. Hampir seluruh pelayan ataupun pengawal yang ditemui, mereka menunduk dan menyapa dengan panggilan Nona muda. Risih...???? , tentu saja ia risih. Tapi mau bagaimana lagi, konsekuesi menjadi kekasih dari pria terkenal dengan sebutan Tuan muda tak terbantahkan. Menolak pun akan percuma, So....senyum saja.
Duduk ditepi danau, memandang rerumputan dan bunga bunga cantik yang bertebaran membuat hati siapa pun yang memandang akan teramat damai.
Seorang pria berjalan lambat, sambil membawa ponsel di tangan nya. Menghampiri, duduk disamping dan memeluk pinggang ramping sang gadis.
" kau senang disini...???" gadis itu hanya tersenyum.
" kita akan ke Paris...???" tanya Aralia.
" hmmm..."
" kapan...???"
" entah...., Daniel yang tau...!!" gadis itu mengerenyitkan dahi. Semua yang berhubungan dengan pria disamping nya pasti ada campur tangan sang Asisten, tak terkecuali..., ARTINYA, APAPUN ITU, ....Aralia menggeleng gelengkan kepala perlahan.
" apa setiap inci dari tubuh mu, atas izinnya...???"
" maybe..." Gadis itu melotot dengan mulut menganga....
" apa nanti, jika dia meminta mu memutuskan hubungan kita, kau akan setuju...????"
" hei...Daniel tak akan bertindak sejauh itu..!!" sanggah David.
" apa kau mencintaiku...???"
" maybe..."
" what....???" Aralia melotot tak percaya, pergi berjalan menuju rumah. Terlihat Daniel berjalan memasuki rumah utama saat ia ingin memasukinya, Aralia memandang Daniel sekilas, lalu masuk dengan wajah kesal.
David terkekeh kecil melihat tampang Daniel yang tiba tiba seperti orang aneh, mengangkat kedua tangan tanda tak tau me nau dan segera masuk ke dalam ruang menuju kamar kekasihnya..
" Dasar pasangan gila..." Daniel.
flashback off
David masih setia di tempat duduk nya sedang kekasih memilih duduk di tempat tidur sambil memain kan ponselnya.
" sudah puas...???" Aralia diam tak menjawab.
David tertawa kecil..., " menjadi kekasihmu sangat menyenangkan ya...???"
" kau pikir lucu...???"
" tentu saja, kau tau...., saat pertama kali aku menyatakan cinta padamu, aku harus melawan dua orang yang sekaligus..., Daniel dan Kesya..."
Aralia memandang wajah itu penasaran.
__ADS_1
" aku harus memaksa Daniel menyetujui pilihanku, dan itu bukan perkara mudah, aku juga harus membuat Kesya yakin bahwa aku pantas menjadi kekasihmu, menjaga mu dan melindungi seluruh hidupmu, walau tanpa sang penjaga..."
" Belum lagi, aku harus menghapus rasa ragu di hati kekasih ku yang sedang merajuk ini, otak nya itu selalu berfikiran aneh..., bahkan sempat membandingkan cinta ku dengan cinta yang dulu..."
" sulit bukan...???" tanya David menatap intens wajah kekasihnya. Aralia hanya diam tak berkomentar.
" Apa aku mencintai mu ...???, pertanyaan kony*l macam apa itu...???, apa semua sikap ini tak bisa menjawab rasa penasaranmu itu...???, aku yang aneh atau kau yang tak peka...???"
David menghela nafas. Berjalan menghampiri sang gadis yang masih setia dengan mode diam di atas kasur. Tangan nya terulur mengelus rambut hitam panjang kekasihnya
" ini pertama kalinya aku berbicara panjang lebar menjelaskan pada seseorang, jika kau ingin pernyataan baiklah, ...( Aralia...Aku mencintaimu...)....., jika kau ingin mengetahui seberapa besar cinta ini, maka jawaban ku adalah.... , aku tak tau, aku hanya merasa seperti orang gila saat ini, itu yang aku tau...."
" jika kau bertanya sama kah cinta ini dengan yang dulu, aku bilang jauh lebih besar, itu mengapa Daniel begitu mencemaskan diriku, dia takut aku akan menjadi benar benar gila jika kau pergi dan menyakiti hati ku sekali lagi sama seperti dia menyakitiku dulu..."
" aku tak bisa mencegah rasa ini, jika selama ini aku selalu bisa membentengi nya, untuk kali ini aku kalah. Kau tau perasaan ini jauh lebih besar dari sekedar orang yang sedang jatuh cinta..., perasaaan ini seperti seorang yang begitu terobsesi ingin memiliki, aku begitu marah saat kau tertawa dan tersenyum dengan pria lain, bahkan aku ingin membunuh siapapun itu..."
" So...., apa lagi yang ingin kau dengar dari mulutku..., hmmmm....???"
Mata lentik itu mengerjap berkali kali menatap pria yang duduk persis di depannya. Otaknya masih mencerna setiap kata yang keluar dari mulut kekasihnya itu. diri nya terlalu terkejut mendengar pernyataan cinta sekaligus penegasan isi hati sang kekasih.
Seperdetik kemudian dia menatap wajah itu dengan tatapan bersalah, lalu menunduk kan kepala tanda menyesal.
" maaf..." cicitnya.
David tersenyum dan mengusap kepala itu pelan, " jangan pernah meragukannya lagi..." mengangkat dagu kekasih menhadap tepat di depan wajahnya.
Aralia mengangguk lalu tersenyum.
David bangun dari duduknya , mengulur tangan kanan menghadap ke arah kekasih.
" ayo kita sarapan..., pasti lelah kan, berjalan tergesa gesa dari danau menuju kamar mu, belum lagi perut yang lapar setelah kenyang mendengar petuah ku..." Aralia terkekeh kecil.
Kini pasangan itu duduk di tempat yang seharusnya, dengan Daniel yang selalu mengambil posisi di belakang Tuannya.
" kau mau makan apa...???"
" sandwich, dan sosis saja..." Aralia mengambil pesanan David dan menaruhnya di piring. Sedang Aralia mengambil nasi goreng, telur mata sapi dan juga beberapa sayuran rebus di dalam piringnya.
" Tuan Daniel, anda ingin sarapan...???" tanya Aralia.
" tidak , Nona. Terima kasih.."
David terkekeh mendengar suara itu, ia tau jika Daniel saat ini sedang menahan esmossi...., mood nya sedang buruk. Bagaimana tidak, jadwal penerbangan yang seharusnya sudah lepas landing dua jam yang lalu, buyaaarrr tak terealisasi hanya karena gadis di depannya itu ngambek...
" Sejak anda mengenal cinta ini, anda semakin menjadi orang bodoh, Tuan..." Daniel.
Daniel tetap setia menunggu Tuan nya menyantap makanan. Datang kepala koki, menunduk di depan Daniel, memberi isyarat mata, kemudian baik Daniel dan kepala koki meninggalkan ruang makan setelahnya.
Dipekarangan belakang, kepala koki mempersilahkan Daniel duduk. Disana sudah terdapat beberapa orang berdiri menyambut mereka, menunduk memberi hormat.
" mereka sudah siap...???"
" jauh lebih dari siap , Tuan..."
Daniel memandang wajah mereka satu persatu. Tangan nya memegang berkas berisi biodata mereka secara seksama. Daniel tak ingin mengecewakan Tuan muda nya, ini kedua kalinya bagi Tuan mudanya jatuh cinta. Tak ada kegagalan kedua. Jika sesuatu hal buruk terjadi pada Tuannya, Daniel tak akan memaafkan diri nya seumur hidupnya. Pria itu menghela nafas panjang.
" kalian sudah tau tugas kalian...???"
" sudah Tuan..." jawab serempak.
__ADS_1
" selama 1 bulan kalian akan di tempatkan disana..., gaji kalian akan dibayar 3 kali lipat dari gaji yang seharusnya..., tak ada kata gagal. jika gagal kalian MATI..., PAHAM..."
" siap , Tuan..." jawab serempak.
Daniel diam , matanya sendu menatap sang kepala koki.
" bubar dan bersiaplah.." ucap kepala koki pada mereka.
Kepala koki mengelus kepala itu, menatap mata yang selalu resah setiap tugas yang di terimanya begitu berat.
" Jika Tuan muda tak bisa mundur, maka itu artinya kita tetap harus maju. Bukan kah itu prinsip yang sudah mendarah daging...???"
" aku benci mengatakan ini, tapi entah mengapa kali ini aku ragu , paman Zen...."
" Jika tiang nya rapuh, seluruh istana akan roboh, Tuan...." Pria tua itu menatap Daniel penuh arti.
" Ya, kau benar Paman...., aku harus kuat. Istana ini tak bisa berdiri sendiri..." Menatap kedepan sejauh mata memandang.
" setelah ini, sepertinya anda harus berfikir tentang hidup anda..." Daniel menatap tajam ke arah pria tua.
" kau menyebalkan paman..." Pria tua itu tertawa.
" kalian sudah sama sama dewasa, aku ingin cepat memiliki banyak cucu, aku bosan selalu harus melihat wajah kaku kalian dirumah ini...." Pria tua itu tertawa semakin keras..., Daniel hanya tersenyum tipis menanggapinya....
" mungkin...., tapi sepertinya hal itu masih sangat lama..."
" jodoh seseorang tak ada yang tau, Tuan..., baiklah, saya bersiap siap dulu..."
" hmmm..." Pria tua itu berbalik meninggalkan Daniel yang masih termenung di pekarangan belakang dekat dapur utama.
Balik kembali ke meja makan....
" kesya menikah saat kita menginjakkan kaki di Paris, nanti..."
" uhuukk, uuhhuuukk..."
David mendekatkan minum ke arah kekasihnya.
" seriously....???"
" of course..."
Aralia tersenyum ceria..., " ach..., aku tak sabar tiba di Paris..." David tersenyum lalu mengacak acak poni kekasihnya.
Daniel bergerak kembali kemeja makan, melihat keadaan, berharap sesi sarapan pagi ini telah selesai. Tanpa sengaja melihat pemandangan di meja makan, hal itu membuat nya tersenyum.
" Anda berhak bahagia...." Daniel.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
@ara❤