
...Maaf ya pecinta novel kalo baru up lagi, lagi kurang konsentrasi menulis beberapa hari kemarin karena banyak sesuatuπ di dunia nyata, jadi galfok di dunia halu. Moga tetep semangat baca novelnya, kasih likeππππππ dan voteπΉπΉπΉπΉπΉ biar aku tetep semangat, makasih ya buat komentar2 nya, bukan ga mau bales tapi aku bingung mau bales apaπππππππ...
...LANJUT...
Suasana di mobil sedikit senyap, hanya ada nafas tak beraturan dan tubuh yang sedikit gemetar di tempat duduk belakang kemudi, James terus mengeluarkan keringat dingin.., Queen memeluk tubuh James yang sedikit berubah dingin....., Jack masuk ke dalam mobil.
" kau tertembak..., uncle...???" ucap Jack. James mengangguk lemah, Jack mengambil sebuah sapu tangan di saku celananya.
" lihat aku Queen...., ambil ini, dan tekan di daerah lukanya...., Now...." Queen mengambil benda itu dan melakukan sesuai perintah Jack.
" Mark pindah posisi biar aku yang pegang kendali kemudi..." Jack maju ke depan kemudi dan Mark menyingkir dari sana.
" kita kemana...???"
" markas bos yang di Paris saja, lokasinya jauh lebih dekat..." ucap Mark, disetujui oleh ketiga orang di belakangnya. Jack menjalankan mobil dengan kecepatan penuh melintasi jalanan yang sedikit sepi...
" Queen..., are you okay, honey..." James yang melihat wajah Queen sedikit pucat dan tubuh yang sedikit gemetar mulai merasa cemas, tangan nya menyentuh wajah istrinya.
" James...." Queen memeluk tubuh pria itu dan menangis.
" hei...came on baby..., I'm fine..., okay...." James mengusap punggung istrinya pelan. James terkejut melihat Queen menangis histeris sambil memeluk dirinya.
" I'm Fine , Honey..." ucap nya lg menenangkan.
Mobil telah memasuki area markas, Jack memapah James. Mereka memasuki ruangan yang sedikit gelap disana. memencet saklar dan tampak terlihat jelas isi di dalam ruangan tersebut.
" Jack, bantu aku keluarkan peluru nya..." Mark memasang infus ditangan James, merobek baju yang berlumuran darah. Memakai kacamata putih mengamati luka tembak. Menyuntikkan sesuatu cairan ke tubuh James, memasukkan sedikit pencapit di dalam daging James mengeluarkan peluru di dalamnya, Darah keluar deras , menyiram alkohol di titik luka, menekan luka mempersempit aliran darah yang keluar, kemudian menjahitnya dan memasang kain kasa panjang menutupi luka.
" Semua aman , James..."
" Thank's..., boy..., Queen..." James melirik wanita yang tak berkedip menatap mereka dari awal peluru itu keluar hingga tertutupnya luka, entah kenapa di mata pria bertiga di depannya seolah hal itu adalah sebuah mainan yang begitu biasa saja. tak ada tangis disana ataupun kepanikan hanya ada fokus dan suara senyap.
" Queen...." lagi lagi James memanggil istrinya.
"Queen..., James memanggil..." Mark menyentuh pundak Kesya pelan.
Kesya terlonjak kaget, memandang ke arah Mark , Jack lalu kemudian James.
" Sayang, kemarilah...." pinta James. Saat Queen berdiri mendekat, Jack menyiapkan sebuah bangku di samping tempat tidur yang masih berlumuran darah.
__ADS_1
" Queen lebih baik kau bawa , James ke kamar atas tempat kau dan James pertama kali ke markas ini..., Semua kotoran ini serah kan pada para pelayan disini..." pinta Jack. Queen hanya mengangguk, tak ada suara disana , bibir itu masih terkunci.
Queen membawa James keluar ruangan, membantunya menaiki tangga , membuka pintu kamar dan membaringkan tubuh James disana. Mark masuk memberikannya sebuah pil berwarna kuning sedikit mungil dan segelas air putih diatas nampan.
" jika ini kali pertama kau tertembak, kau harus minum obat pereda nyeri ini, uncle..." James mengambil obat itu dan meminumnya. Queen membaringkan tubuhnya kembali di atas kasur yang empuk.
Mark menepuk pundak Queen pelan, seperti hendak menyadarkan kakak perempuannya dari syok atas peristiwa yang baru di alaminya.
" Queen..., are you okay, my sister..." Queen menatap Mark sendu, seperdetik kemudian tangis nya pecah.
Queen, selalu berurusan dengan suara tembakan dan juga bau anyir darah. Tapi entah mengapa saat melihat orang yang disayanginya tertembak hatinya menjadi seperti tertusuk benda tajam, apalagi saat melihat banyak darah keluar dari tubuh James ketika peluru dikeluarkan dari sana. Wanita itu tak bisa menyembunyikan ketakutannya, ditambah lagi kini Queen sedang berbadan dua, jika ia kehilangan James, apa yang akan terjadi nanti dengan dirinya ataupun janin dalam perutnya. Queen menangis sejadi jadinya di pundak Mark tanpa jeda. Saat hatinya sudah lebih lega dan tangisnya mereda. Queen menatap James yang setengah sadar dengan kondisi tubuhnya akibat obat bius dan juga obat pereda nyeri yang baru diminumnya.
Queen berjalan pelan menuju tempat tidur..., " Sayang...., aku baik baik saja..." ucap James mengelus telapak tangan Queen. Queen mengangguk dan tersenyum.
" tidurlah, James..., aku akan disini hingga kau bangun nanti..." ucap Queen mengelus puncak kepala suami nya dan tersenyum manis padanya.
James memejamkan mata dan mulai tertidur pulas. Queen berbaring disamping James dan Mark pergi meninggalkan kamar, menutup pintu pelan menuju ruang komputernya.
" mereka benar benar mengincar Queen, Mark...."
" aku rasa mereka ingin langsung bertemu singa betina yang menghancurkan gudang mereka dan menghabisi pasukan mereka saat itu, Jack..."
" kenapa tidak langsung mengincarnya saja...???"
" pengawalan Nona muda jauh lebih ketat daripada Queen, ditambah lagi Tuan muda dan Bos Daniel sudah ada disamping nya saat ini...."
" oh...ya....???, kapan mereka...???"
" tadi pagi..., dan langsung menuju kediaman Richard...." ucap Mark tanpa menunggu kelanjutan pertanyaan kawannya.
" apa kita harus kesana..."
" sesuai perintah, kita akan tetap di samping Queen, sampai pernikahan itu tiba..."
" kira kira kapan itu...???"
" setelah penobatan sang pewaris satu minggu lagi..."
" Well..., kerja keras sepertinya, Mark...." Mark hanya terkekeh geli mendengar Jack mengeluh.
__ADS_1
" Came on..., boy..., kau tak sendiri..., aku akan selalu disini, okay...."
" aku ingin menuju dunia bebas lagi Mark...., Clubbing, berdansa, minum sedikit penghangat dan yah kau tau kan...????, samurai* ku sudah lama tidak di asah...."
Mark menggelengkan kepala..., Dari semua orang baik disana Mark, Daniel dan David hanya Jack saja yang suka bermain dengan para gadis berlebel premium atau pun kelas VVIP. Masa lalu Jack yang membuat nya menjadi pecandu minuman keras dan juga seorang cassanova ulung.
Keluarga broken home, ayah seorang penjudi, pemabuk dan suka dengan pelacur membuat Jack benci kehidupannya sendiri. Mencuri dan memukul orang lain dulu adalah hobby baginya tapi berangsur hilang saat Jack bertemu Mark yang notabennya seorang kutubuku dan seorang hacker, Mark membuat Jack melanjutkan study nya hingga ke bagian kemiliteran, ternyata dunia tembak menembak merupakan hal yang paling mengasyikkan. Bertemu dengan seorang Daniel Samantha semakin membuat nya bersemangat. Bergelut dengan dunia bawah tanah, menghabisi nyawa orang brengs*k, dan melakukan sedikit pemanasan perang dengan beberapa musuh mereka dibawah tanah membuat hidupnya terasa lebih nyaman dan menyenangkan.
Tapi jauh di dalam hati nya terdapat sekeping kekosongan disana. Sesuatu yang harusnya menjadi hangat kini telah membeku dan jadi batu. Jack tak pernah bisa merasakan cinta, menurutnya tak ada cinta abadi di dunia ini, semua bohong...., setiap malam dia selalu mendengar para wanita memuja nya saat bayaran telah diterima, mereka hanya akan memberi kecupan dan melayani pria yang lainnya. Dunia ini begitu kejam bagi pria kesepian.
" kau sudah tua, boy...., berusahalah jatuh cinta..."
" kemudian akan ditinggal, begitu hidup kita tak sesuai fakta....???" senyum nya.
" Came on, Boy...., ga semua wanita sama seperti ibu mu...., Jack..."
" aku males membicarakannya...."
" kau mau kemana...???, kau dilarang minum Jack, Dokter Rey akan membunuhku kalau kau sampai minum lagi..." ancam nya.
Ya, setahun yang lalu karena terlalu sering mengkonsumsi alkohol ada masalah pada bagian dalam hati Jack. Dokter yang menangani Jack langsung adalah sahabat Daniel saat di University dulu, dia juga adalah kakak angkat Mark yang notabennya teman seperjuangan Jack. Dokter melarang keras Jack meminum barang haram tersebut, jika tidak kerusakan hatinya akan menjadi fatal dan harus di angkat. itu sama saja Jack hidup tapi seperti mayat pada akhirnya.Karena nya Mark selalu bersama Jack kemanapun ia pergi, alasan paling logis adalah agar Mark bisa memantau Jack dari minuman setan yang membahayakan itu. Bahkan Mark harus menunggu Jack memuaskan nafs*unya pada banyak wanita penghibur agar setelah nya, Jack bisa pulang dan tidur di markas tanpa harus mabuk mabukan nantinya. Hal yang melelahkan untuk Mark tapi harus dia lakukan demi satu kata..." persaudaraan"....
Kini Mark memandang lurus ke arah Jack yang masih terus berjalan membelakangi tubuhnya.
" jangan keluar Jack..." perintah Mark...
" aku hanya ke pantry untuk membuat susu, biar aku menjadi anak yang baik sepertimu..., Mark..." ocehnya.
" Dasar pria gila...." teriak Mark disusul tertawa Jack yang keras.
" Semoga juga ada seorang wanita yang nanti nya menangisi dan mendoakanmu, Jack..., sama seperti James saat ini..." Mark.
*
*
*
*
__ADS_1
@araβ€