
Sekitar tiga puluh menit sudah mobil bergerak meninggalkan markas David yang ada di Paris. Sepasang mata lentik memandang keluar jendela seperti sedang memikirkan sesuatu. David meraih telapak tangan sang gadis yang terasa dingin, membuat wanita itu beralih menatap ke arah kekasihnya.
" Selama disana akan banyak pengawalku yang menjaga mu, pelayan yang melayanimu dan koki khusus untuk mu yang akan menyediakan menu berbeda setiap harinya..." tangan nya mengelus rambut panjang terurai kekasihnya.
" waktu mu hanya satu bulan di Paris....!!!"
" satu bulan ya...???"
"akan lebih jika semua aman..., akan kurang jika nyawamu yang menjadi taruhan..."
Ara diam memandang lagi keluar jendela mobil. Pagi tadi setelah sarapan David dan ia kembali ke kamar untuk berganti pakaian. David tiba tiba mendapat pesan jika ia harus berangkat siang ini menuju kota New York untuk menghadiri rapat penting disana, dan tidak tau kapan proyek pengembangan yang ada disana selesai. Itu artinya ia akan sendiri selama satu bulan di Paris, tanpa David yang menjaga. Sebenarnya David sudah meminta Aralia ikut bersama nya saja , tapi jika ia pergi , ia takut akan membuat sedih orang tua kandung yang sudah lama menunggu kedatangan nya kembali ke rumah mereka.
" jika tak yakin lebih baik jangan..., jika kau ragu seperti ini, aku justru jauh lebih cemas..."
" maaf..." cicit Aralia. David menghela nafas menatap manik manik cantik warna coklat kekasihnya. Dirinya kemudian menatap Daniel dari kaca spion ditengah mobil.
" Saya tidak dapat menghadiri rapat itu sendiri, sudah kebijakan sesuai surat perjanjian...." ucap Daniel tegas seperti tau maksud tatapan Tuan mudanya. David kembali menghela nafas.
Ya, peraturan yang sudah harus wajib dipenuhi, jika masalah Perusahaan David sendiri yang harus bertatap muka dan menandatangani surat perjanjian jika kesepakatan telah di setujui. David menyukai Perusahaan yang berfikir ke arah logika. Karena nya David tak pernah menyetujui jika ia bekerja sama dengan perusahaan yang di pegang kendali oleh perempuan. Menurut nya, jika seorang wanita memimpin suatu perusahaan dapat dipastikan Perusahaan itu dibangun dengan ke egoisan dan cinta yang terlalu berlebihan, sehingga saat Perusahaan nya mengalami kekecewaan, dia akan menempuh segala macam cara agar jalannya berhasil, akan tetapi walaupun Perusahaan tersebut dipimpin oleh pria tapi jika pria itu punya maksud terselubung dan memakai cara licik memenangkan tender, David juga akan jelas jelas menolak bekerjasama dengan mereka dan menaruh nama mereka ke dalam daftar blacklist di Perusahaannya. Karena nya hingga kini perusahaan David tetap berdiri kokoh tanpa masalah dan kendala apapun.
Prinsip nya tak ada kesalahan dalam melangkah, jika ia salah, maka banyak manusia yang bergantung padanya akan kelaparan dan pendidikan anak anak mereka akan terputus. Hal tersebut yang selalu David ingin hindari. Itulah alasannya ia selalu ingin langsung bertemu pimpinan Perusahaan yang akan bekerja sama dengan nya nanti.
Namun entah kenapa saat ini hatinya sedang bimbang. David menatap lagi Daniel dengan wajah sendunya. Membuat seseorang yang ditatap dari kaca spion menghela nafas yang begitu panjang........
" Setelah rapat selesai, anda bisa pulang dan menyerahkan semua tugas pada saya, Tuan...." ucap Daniel lagi.
" berapa lama..." tanya David dengan senyum yang merekah.
Daniel diam seperti berfikir..." sekitar 1 minggu , Tuan..."
" itu artinya kekasihku ini harus bersabar selama satu minggu jika ingin aku sampai ke Paris...???" tanya David sambil mata nya melirik gadis yang duduk disamping dengan bibir yang sudah setengah maju. Daniel hanya diam tak menjawab ucapan Tuannya.
" susahnya melawan orang yang sedang jatuh cinta .." Daniel.
deeerrrttt...deeerrrtttt....
Daniel memakai earphone mini nya.
" Ya..."
" kami sudah menemukan orang nya..., mereka ada tiga orang..." Daniel melirik ke belakang.
__ADS_1
" lalu..."
" mereka baru saja di lumpuhkan dan dibawa ke gudang tua seperti perintah..."
" hmmm...., pastikan semua aman...., 15 menit lagi kami sampai ke kediaman Tuan Richard..."
tut...tut...tut...
David menatap Daniel namun tak mengeluarkan suara apapun.
" apa terjadi sesuatu Tuan Daniel....???" tanya Aralia
" bukan hal yang terlalu penting Nona, hanya pengamanan Area saja..." ucap Daniel seperti mengerti tatapan David.
" kau tidak perlu terlalu cemas, Daniel tau apa yang harus dilakukannya, pengawal ku akan menjagamu selama aku jauh..." Aralia hanya mengangguk.
" sayang..."
" hmmm...."
" apa nanti mereka akan menyayangiku seperti Kesya....???"
" Daniel...???" David bukan menjawab justru bertanya pada Daniel.
" benarkah...???"
" sebenarnya apa yang kau takutkan...???"
" aku hanya belum percaya semua ini adalah hidup ku yang asli..., bagaimana jika nanti aku bertemu paman Alex...???"
"bersikaplah biasa seperti kau menyambut seorang paman..., jika kau ragu justru akan membahayakan keselamatan mu, yang harus kau ingat, kemanapun kau pergi, pengawalku harus tau agar mereka bisa saling koordinasi dan sebisa mungkin hindari kontak dengan orang yang baru kau kenal..., mengerti...??" Aralia kembali menggangukkan kepalanya.
" terima kasih..."
" untuk..."
" semua nya..."
" hmmm..."
" setelah kita sampai aku tak bisa terlalu lama disana, pesawatku harus berangkat menuju kota New York..., apa tak apa apa????"
__ADS_1
" Ya, jujur saja aku ingin kau tinggal disini , di Paris selama aku melakukan pengenalan pada orang tua kandung ku nanti..., tapi...., aku tau banyak hal yang harus kau pikirkan selain tentang ku..., jadi cepat selesaikan tugasmu dan segera kembali ke Paris...." pinta Aralia. David menghela nafas, ucapan kekasihnya itu benar, banyak hak orang lain berada dipundaknya, membuatnya tak boleh egois dan hanya memikirkan hatinya.
" aku pasti segera kembali..." ucap David tersenyum dengan tangan mengelus pipi kekasihnya.
Mobil mereka sudah memasuki area pekarangan istana Tuan Richard, sejauh mata memandang banyak bunga cantik berwarna warni, beberapa taman kecil dengan gazebo dan jalan satu arah menuju istana utama.
Terdapat juga lapangan golf mini, lapangan bola, dan sebuah rumah kaca yang terlihat di tumbuhi beberapa bunga langka disana. David membuka pintu mobil,mengulur kan tangan ke arahnya namun Aralia tetap diam tak bergerak.
" mereka menunggu mu..." ucap David dengan mata menunjuk ke pintu utama yang sangat besar.
Tampak sepasang wanita dan pria paruh baya berdiri di depan pintu besar itu. Aralia tetap diam , matanya menatap David dengan tatapan yang tidak terbaca. Ada ketakutan disana, rasa cemas dan rasa sedih yang terlalu besar nampak terlihat dari mata kekasihnya.
David berjongkok mensejajarkan tubuhnya sama tinggi dengan wanita di dalam sana.
" lebih baik kau ikut aku ke New York..., bagaimana...???" Aralia menggeleng.
" astaga, bertemu mereka ragu, ikut aku tak mau..., jadi kau ingin apa...???" Aralia kembali menggeleng.
" ayo menikah saja..." ucap David. Aralia membulatkan mata menatap tajam kekasih nya.
David terkekeh geli..., " sayang..., ayo kita turun, kasihan mereka..., lihat tatapan mata mereka, mereka tampak kecewa karena kau tak kunjung turun dari mobil ini..., seolah kau membenci atas semua tindakan yang mereka lakukan kepadamu..." Aralia memandang jauh ke arah pintu. Pasangan tua itu saling⁷ menggenggam tangan seolah cemas menunggu sesuatu. Aralia menarik nafas panjang dan membuang nya dengan kasar. Jujur saja ini tak mudah , ia masih belum bisa menerima jika selama ini dirinya di asingkan hanya untuk satu alasan... "sebuah kehidupan"...
Aralia menyambut tangan David dan keluar dari mobil dengan langkah pelan.Memandang lurus kedepan , berjalan menuju pintu tempat sepasang wanita dan pria tua berdiri.
Rebbeca berlari ke arah mereka, tampak ia begitu tak sabar menatap dari jauh langkah putrinya yang sangat pelan. Saat mata itu mendekat, kedua pasang mata itu berkaca kaca, kedua nya diam membisu..., lalu Rebbeca tersenyum. Tangan nya meraih tubuh Aralia.
" putriku...." Rebbeca memeluk dengan kencang.
" anak ku....anakku kembali, ia pulang..." Richard
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
@ara❤