
" aku permisi sebentar.." David beranjak dari duduk nya meninggalkan meja makan. David menghampiri Aralia mengusap tangan nya.
" teruskan acara makan malamnya.., aku segera kembali..."
" tapi..."
" Im promise..." sorot mata itu sangat tegas menatap Aralia, membuat sang gadis diam dan menganggukkan wajahnya.
" Mari, Tuan..." Daniel mempersilahkan David berjalan di depan.
Ruang makan kembali hening setelah kepergian David. Tak ada yang membuka pembicaraan, mereka meneruskan acara makan malam dengan suasana hati masing masing.
" Sepertinya mereka tak akan kembali ke meja makan, jadi lebih baik kita ke dalam saja..." kata Nyonya Maya.
" bagaimana kalau kita kebawah , Bu... aku dengar ada pertunjukan musik disana...." ucap Jessi
" ide yang bagus.., ini akhir pekan. Pertunjukan musik nya pasti sangat meriah..." jelas Paman Sam.
" apa boleh aku ikut..???" tanya Aralia.
" kau mengerti soal musik..???" tanya Bibi Cath.
" aku bisa beberapa Dansa klasik, aku suka Opera, aku suka bermain piano, biola, harpa, kecapi dan alat musik klasik lainnya..." jelas Aralia.
Jennika dan Jessika langsung menganga menatap Aralia seperti tak percaya. Calon kakak ipar nya sangat luar biasa.
" waaawww....Amazing...." ucap sikembar bersamaan.
" kalau begitu, ayo kita kebawah..., daripada BT...???" kesal Jessi , membuat semua yang diruang makan tertawa geli.
Aralia terlihat menghubungi seseorang di ponselnya.
" ya.."
" boleh aku kebawah melihat pertunjukan musik...???"
Disebrang diam sejenak tampak berpikir..., " akan ada pengawal yang menjaga, jangan keluar dari jalur pengawasan....."
" hmmm..."
" jawaban apa itu..???"
" baiklah Tuan, aku akan patuhi protokol..."
" kau ingin ku makan ya...???"
" tidak..."
" jawab yang benar.."
" iya sayang, jika sudah selesai jemput aku dibawah...???"
" hmmm...."
tut...tut...tut....
Tanpa disadari Aralia, semua orang sedang memperhatikan dan mendengarkan pembicaraannya.
" hehehe, sebuah peraturan, apapun yang aku lakukan harus izin, daripada para pengawal nt disalahkan olehnya..." menjawab semua mata yang menatap nya dengan penasaran.
" Ooooo....." ber- oooo ria bersama sama.
************
Disebuah Ruangan
" pria itu telah sadar dan saat ini bergerak menuju suatu tempat, Tuan...???"
David diam mendengar penjelasan Daniel. Kemudian Daniel mengambil sesuatu berupa layar kecil dari sakunya, memencet beberapa tombol di layar tersebut dan memberikannya pada David.
" kami memasang kamera mini pada kalung yang dipakai pria itu sama persis seperti yang dipakai Nona Aralia. Kita visa mendengarkan dan melihat siapa lawan main kita dari ponsel mini ini , Tuan..."
Derrrt....deerrtttt.... ponsel David berbunyi menampilkan no.Aralia, David menjawab sejenak lalu langsung menutup sambungan telepon tak ingin kekasihnya curiga denga suara layar mini yang sedikit berisik di depannya.
" kami juga memasang cip di tangan kiri pria tersebut, sehingga kita bisa melacak keberadaannya saat ini.."
" aku ingin musuhku penasaran dan menerka nerka siapa lawan nya nanti..."
" tenang , Tuan... hasil karyaku tak pernah mengecewakan..."
" hmmm..."
David terus melihat pergerakan lawan nya dan mendengar suara nafas pria yang sedikit kencang. Melihat dengan siapa pria itu berbicara dan membicarakan apa..
Tiba tiba tangan David memutar tombol Replay dan off. Layar itu memperlihat kan sebuah logo yang jelas baik David ataupun Daniel kenal.
__ADS_1
" Red Devil..."ucap mereka secara bersamaan.
Layar diputar kembali, menampilan pria itu menemui seseorang. Lalu Daniel memencet sesuatu, dan ......
tiiiiiiiittttttttttttt.....Layar terhenti.
" Misi selesai, Tuan. Sepertinya anda harus kembali pada Nona dan yang lain sebelum mereka curiga..."
" itu..."
" saya memasang beberapa bom dalam tubuh pria itu dan juga dalam kamera pelacaknya, ketika saya memencet tombol yang tertutup ini, tubuh pria itu akan Meledak, hancur berkeping keping tak tersisa......" Daniel tersenyum, sementara Tuan mudanya , tersenyum puas.
" kau memang bisa diandalkan....." David menepuk bahu Daniel beberapa kali sebelum beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
" Tuan..., Mereka di lantai bawah di halaman terbuka menonton musik Live..." Daniel memberitahu letak keluarganya.
" Ck..." Berjalan lambat setelah Daniel membukakan pintu.
Ya, setiap akhir pekan memang selalu ada pertunjukan Musik Live di hotel tersebut, siapapun yang memiliki bakat musik bisa menyumbangkan suara ataupun ketikan gitar mereka, bagi yang tidak punya keahlian khusus, cukup duduk dan menikmati, karena semua itu gratis.
Mereka tiba di halaman terbuka di belakang Hotel, David melihat seseorang wanita memegang gitar klasik di atas podium sedang tangan yang satu membetulkan mikrofon di depannya. Setelah dirasa siap, wanita itu mulai memetik gitar, menciptakan sebuah nada sendu dan mengalunkan beberapa bait syair dari sang pujangga kesukaannya.
Tepuk tangan riuh penonton dan sebuah senyuman manis dari sang gadis mengiring nya turun dari podium.
Baru ingin berjalan ke arah belakang seseorang menghalangi jalannya.
" apa aku mengenalmu...???"
" ya..?" Ara bingung.
" apa kau temanku saat masih di sekolah ........., Alaria Zahra...???"
"Diego si tukang pindah....???"
" hei...., aku pindah karena terpaksa..."
Aralia tersenyum, mengacak acak rambut Diego seperti dulu saat mereka masih akrab. Diego pria yang baik karena itu Kesya tidak melarang Ara menjauhinya , ditambah lagi, Diego pernah menyatakan cinta pada Aralia , namun sebelum terjawab ia harus pergi dan meninggalkan Ara, setelah berteman sekitar 2tahun lamanya, Diego harus pulang mengikuti sang ayah ke Bali.
" kau ini, senang sekali mengacak rambut ku, aku jadi merasa tidak ganteng lg kan...???" ucapan Diego itu membuat Aralia tertawa.
" manis..."
" ah , tidak apa apa. o iya, kau disini sama siapa....???" pertanyaan Diego membuat Aralia melirak lirik tapi tak menemukan siapa pun di tempat duduk yang tadi mereka tempati.
" sepertinya kau butuh bantuan sayang..." seseorang menarik pinggangnya dan mencium pipinya membuat Ara refleks melihat ke samping.
" kak David..." bukan Ara yang bicara, malah temannya Diego yang bicara...
" Paman sudah pulang , kenapa kau baru datang...???"
" aku ada undangan pernikahan teman..., kak....kau kenal Zahra...???" Aralia tersenyum kikuk, menatap David yang saat ini matanya memancarkan kemarahan.
" di...dia....kekasih ku..." jawab Ara terbata.
" wah...., berarti aku kalah star..., kau tau Zahra, aku selalu menghubungi no.ponselmu saat aku tiba disini, tapi no ponselmu tak aktif. Jadi Aku hanya bisa berdoa pada Tuhan agar nanti bertemu lagi dengan mu..., tapi sayang nya setelah bertemu, kau sudah punya pacar...Kak David lagi pacarmu..., aku jadi down...!!"
" memangnya, kalau bukan David...., kau ingin apa...???" Aralia polos bertanya, tanpa disadari kata katanya seperti menyiram bensin pada api.
" tentu saja merebut hati mu...hehehe" ujar Diego.
" lebih baik kau pulang..., Paman pasti cemas..."
" ok kak, tolong jaga Zahra, bye Zahra..." melambai tangan lalu segera pergi begitu melihat wajah marah Daniel. Diego tidak begitu akrab dengan David, karena David selalu di kelilingi orang orang hebat tapi biar pun begitu setiap dia kesulitan, selalu ada tangan David yang menjaga nya...., hanya saja, dia tau dan mengenal baik siapa pria yang selalu berada di belakang kakak sepupu nya itu...., pria itu Daniel, Pria dingin yang selalu menyelesaikan jalan dengan sebuah kematian. Karena Saat remaja Diego pernah melihat Daniel menembak orang langsung tepat dikepalanya, membuat orang itu mati seketika.
Sepeninggal David.. " kau senang ya, jika membuat ku marah...???"
" kenapa kau harus marah...????"
David menggendong Aralia , membuat Aralia kaget dan langsung mengalungkan tangan ke leher sang kekasih.
Mereka memasuki lift khusus, Daniel memencet tombol dan lift melesat. Mereka keluar di sebuah lorong hotel yang hanya ada 1 kamar besar disana.
Daniel membukakan pintu, David masuk lalu Daniel menutup pintu kembali.
" Sayang, kenapa kita kesini...???"
" kenapa...???, kau takut...???"
" bukan begitu tapi nanti ibu dan yang lain, mencari dan cemas..."
David menaruh tubuh kekasih nya ditempat tidur.
" aku sudah menyuruh mereka semua istirahat kembali ke kamar..." Tangannya mulai membuka gaun.
__ADS_1
" sayang..."
" hmmm..."
" apa yang kau lakukan...??" Aralia kaget melihat Wajah David yang memerah kesal sembari tangan nya masih berusaha melepas gaun miliknya.
" aku ingin memakanmu..."
" aku tidak mau..., lepaskan..."
Bukan melepaskan Aralia, David malah menciumnya, melihat Ara tak merespon David menggigit kecil sudut bibir kekasihnya. Setelah mulut terbuka, David menyesap dan mel*mat bibir itu secara bergantian.
Aralia mendorong dada David dengan kedua tangan nya. Tapi David malah menarik kedua tangan itu ke atas kepala gadis dan tetap melakukan apa yang dia mau.
" Kau kenapa..???" Aralia bertanya setelah David melepas ciumannya.
" aku cemburu..., aku tidak suka dirimu akrab dan tertawa lepas pada pria lain..."
" tapi..." David menyesap bibir itu lagi saat Aralia ingin bicara. Kali ini Aralia membalas ciuman itu dan membiarkan David melakukannya sepuasnya. Aralia sadar, jika David seperti ini pasti karena pertemuannya dengan Diego. Jika Aralia menolak pasti David akan merasa terhina dan bisa jadi , dia melakukan hal yang lebih.
" sayang, maaf..." cicit Ara begitu tautan mereka terlepas.
" hmmm..."
" kau masih marah...???"
" hmmm..."
Astaga jawaban apa itu..., bagaimana cara nya merubah posisi sekarang. Tapi...Semoga..
Aralia memberanikan diri memegang tekuk David dan mencium bibir itu lebih dahulu. David kaget mendapat reaksi seperti itu namun seperdetik kemudian tersenyum.
Gaun dan toxedo itu sudah berantakan tak karuan dimana, di atas kasur hanya ada seorang pria dan wanita yang sedang saling memeluk mencari kehangatan.
" kau masih marah...???"
" jangan ulangi lagi...!!!"
" iya..., maaf..."
David memeluk wanitanya yang tengah polos...., pelukannya sangat erat membuat yang dibawah sana terbangun.
" sayang...."
" tenanglah, aku tak akan meminta lebih...."
" janji....."
" hmmm, tidurlah....!!" perintah David pada Aralia.
Setelah kekasih nya tidur, David bangun, menatap wajah yang terlelap disampingnya,tersenyum melihat tanda maha karya di tubuh gadis itu yang terukir disetiap inci, kemudian menuju kamar mandi, mencari air dingin. Karena sepertinya miliknya tak mau tidur juga jika tak di beri sabun mandi.
derrrttt...deerrrttt....
" ya..."
" sepertinya, lokasi mereka tak jauh dari markas kita disini..."
" biarkan saja mereka, besok kita pulang ke Jakarta...."
" baik ,Tuan..."
"Daniel....siapkan keberangkatan kita ke Paris, sudah saat nya bertemu mereka..."
tut..tut...tut...
David menghentikan teleponnya, meraih selimut dan masuk kedalamnya kembali memeluk tubuh kekasihnya. mengecup bahu dan membalik tubuh itu menuju dada bidangnya.
" apa reaksi mu, jika tau kedua orang tua mu masih hidup..."David.
*
*
*
*
*
*
*
@ara❤
__ADS_1