
*Lanjutan*
Zahra meminta bala bantuan saat itu, iapun menelpon unit gawat darurat untuk memeriksa korban. Dan tepat 45 menit kemudian bala bantuan pun datang untuk menyelamatkan wanita itu. Dan ternyata wanita itu masih bernafas dan segera di bawa ke rumah sakit untuk ditangani lebih lanjut.
Zahra mengabari kliennya untuk membatalkan pertemuannya karena adanya urusan mendesak. Ia ikut membawa wanita tersebut sampai ke rumah sakit dengan di dampingi Pak Rahmat drivernya yang mengikuti dari belakang ambulance menggunakan mobil.
Di rumah sakit Zahra pun ikut menunggu jalannya operasi yang di lakukan untuk menyelamatkan wanita itu. Dan syukurnya wanita tersebut terselamatkan setelah menempuh satu jam operasi yang melelahkan.
Dan akhirnya wanita tersebut dapat dipindahkan di ruang rawat inap kemudian. Kasus yang menimpa Zahra dan drivernya ditangani oleh pihak kepolisian setempat dan sedang diselidiki. Untuk kasus ini Zahra masih ditempatkan sebagai saksi oleh pihak Polisi, sampai kesaksian dari wanita itu yang dapat merubah segalanya. Dan Pak Rahmat saat ini juga masih ditempatkan sebagai saksi, namun bila wanita itu benar adalah korban maka status Pak Rahmat akan berubah menjadi seorang pelaku.
Zahra pun yakin Pak Rahmat tidak bersalah dalam hal ini, karena bila dilihat dari wanita itu yang tiba-tiba saja berada di tol, padahal jalan tol bukan fasilitas untuk pejalan kaki. Zahra berusaha untuk menghibur Pak Rahmat yang masih dalam keadaan panik. Pak Rahmat adalah driver asal Indonesia yang di recruit oleh Jessica khusus untuk Zahra, karena tahu Zahra tidak bisa bahasa mandarin dan pastinya ia butuh seseorang yang dapat membantunya selama bekerja di Beijing.
Kebetulan Pak Rahmat adalah salah satu driver di perusahaan Jiazhen saat itu, dan ia memang seorang TKI yang sudah bekerja di Beijing selama 5 tahun. Dan dari situlah Jessica sengaja mengajak Pak Rahmat untuk bekerja di Mansion sebagai driver Zahra saat ini.
Sebagai sesama orang Indonesia sudah sepatutnya Zahra menolong Pak Rahmat agar tak terlibat dalam kasus ini. Dan Zahra pun sudah memberitahukan Jessica, dan seperti biasa Jessica sudah memarahinya habis-habisan atas insiden yang terjadi.
Tak lama Jessica pun datang bersama dengan Lu Chen yang terlihat tergesa-gesa menghampirinya. Sangat terpampang jelas wajah panik Lu Chen dan Jessica saat datang.
“Sayang!. Kamu gak apa-apa kan?.” Peluk Lu Chen yang tak mempedulikan lirikan orang-orang disekelilingnya.
“Lu, banyak orang-orang di sini!. Lebih baik kita masuk ke dalam!.” Ucap Zahra yang menggiring Lu Chen dan Jessica menuju kamar rawat inap wanita itu.
Lu Chen dan Jessica pun menuruti perkataan Zahra lalu mengikutinya. Sesampainya di sana Zahra membawa mereka ke ruangan kecil yang berada di dalam ruang rawat inap tersebut. Zahra sengaja memesan Suite Room agar dapat dengan mudah mengawasi wanita itu tanpa harus menganggu nya, karena di dalam kamar tersebut terdapat ruangan khusus untuk para tamu.
“Ra, kejadiannya bagaimana sampai Pak Rahmat bisa menabrak wanita itu?.” Tanya Jessica sembari menatap ke arah wanita yang sedang tertidur pulas di tempat tidur.
“Aku sungguh tak mengerti bagaimana detail kejadiannya. Tapi yang jelas tiba-tiba saja mobil kami ada yang menabrak dan Pak Rahmat mengeceknya ternyata wanita itu sudah terguling jatuh di pinggir tol." Ungkap Zahra.
“Berarti bukan Pak Rahmat yang menabraknya kan?.” Tanya Jessica.
__ADS_1
“Aku yakin bukan, karena pada saat itu tol sedang sepi dan rasanya agak aneh jika tiba-tiba orang menyebrang sembarangan di sana. Sebaiknya kita tunggu wanita itu bangun, terlebih dahulu.” Ucap Zahra dengan yakin bahwa Pak Rahmat tidak menabrak wanita itu.
Lu Chen saat itu menelisik wanita yang tertabrak di tempat tidurnya, sepertinya ia mengenal wanita itu. Dan benar saja ia menemukan ciri-ciri wanita yang sedang ia cari beberapa minggu ini, dan ia pun memastikannya lewat gambar bukti CCTV yang diberikan Xiao Feng kepadanya.
Lu Chen pun akhirnya mencoba mengambil foto wanita yang tengah tertidur itu, ia mengambil foto tahi lalat yang ada di leher wanita yang sama persis dengan foto yang ada di CCTV. Dan ia pun mengirimkan foto wanita tersebut kepada Xiao Feng agar segera diselidiki, namun kali ini ia meminta Xiao Feng agar tak melibatkan polisi di dalamnya karena Lu Chen sudah berjanji pada Mr. Feng.
“Lu, apa yang sedang kamu lakukan?.” Melihat gerak-gerik Lu Chen yang mencurigakan dengan mengamati korban wanita yang sedang tertidur.
Dan Lu Chen membawa Zahra kembali ke ruang istirahat agar jauh dari wanita tersebut.
“Wanita ini sepertinya orang yang telah meracuni para penculik itu, dan aku sudah menemukan bukti-bukti yang mengarah padanya dan saat ini sedang di selidiki kembali oleh Xiao Feng.” Ucap Lu Chen kepada Zahra, dan Zahra yang mendengar itu langsung membulatkan matanya karena terkejut.
“Apa kamu tak salah?.” Ucap Zahra yang masih tak percaya dengan perkataan Lu Chen.
“Aku yakin seratus persen bahwa dia orangnya.” Tegas Lu Chen.
“Berarti kita harus melindunginya!. Jangan sampai ada orang lain yang menemukannya, bisa jadi ia akan terbunuh sebelum hal itu terjadi.” Jessica yang mencemaskan wanita itu.
“Baiklah aku akan memerintahkan beberapa orang-orang ku untuk berjaga di sekitar rumah sakit ini. Dan kamu sayang, segeralah pulang!. Aku tak ingin kamu terlibat kasus ini lebih jauh, kamu sudah tahu resikonya?.” Lu Chen yang tak ingin sesuatu terjadi kepada Zahra.
“Lu Chen benar Ra!. Kita lebih baik menunggu di rumah saja, masih banyak yang harus kamu selesaikan selain hal ini.” Pinta Jessica yang langsung membawa Zahra meninggalkan rumah sakit itu.
***
Malam itu Shawn dan anak buahnya menggerebek rumah tua yang disinyalir tempat persembunyian Nyonya Feng dan antek-anteknya. Ia dan beberapa anak buahnya memeriksa rumah yang ada di pemukiman kumuh tersebut, tapi hasilnya nihil Shawn dan anak buahnya tidak menemukan sedikitpun jejak peninggalan mereka di sana.
“Sial!. Ke mana perginya mereka?. Sepertinya mereka sudah tahu sepak terjang ku!.” (bahasa mandarin) Gumam Shawn yang kesal karena tak menemukan keberadaan mereka.
“Tuan, sepertinya mereka sudah tahu bahwa kita akan kemari bila dilihat dari tempat ini yang sudah tidak memiliki jejak sama sekali.” (bahasa mandarin) Ucap salah seorang anak buah Shawn.
__ADS_1
“Cari kembali sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk!.” (bahasa mandarin) Pinta Shawn yang masih yakin ada sebuah petunjuk untuk mengejar keberadaan mereka.
Dan salah seorang anak buah Shawn menemukan sebuah sapu tangan wanita yang terjatuh di sudut pintu rumah kumuh itu. Dan sapu tangan itu memiliki sebuah bordiran yang hanya dimiliki keluarga Feng saja. Bordiran anjing Bulldog di sudut sapu tangan tersebut.
Dan dugaan Shawn tak mungkin salah, bahwa Nyonya Feng lah pemilik sapu tangan itu. Dan hal ini dapat dijadikan bukti bahwa selama ini Nyonya Feng dan komplotannya memiliki keterlibatan dengan berbagai kasus yang terjadi hanya saja Shawn belum memiliki bukti yang kuat untuk itu.
Ia pun memilih untuk melaporkan hal ini kepada Tuannya Mr. Feng agar dapat menyelidikinya lebih lanjut.
“Halo Shawn!.” (bahasa mandarin) Jawab Mr. Feng dari sebrang telponnya.
“Tuan, saya sudah memiliki bukti keterlibatan orang terdekat Tuan atas kasus yang menimpa Nona muda Jia Li.” (bahasa mandarin) Ucap Shawn kepada Tuannya.
“Baiklah!. Siapa dia?.” (bahasa mandarin) Tanya Mr. Feng.
“Hhmm.. Nyonya Feng, Tuan. Bila anda tidak percaya saya dapat membawakan sejumlah bukti kepada anda.” (bahasa mandarin) Jawab Shawn yang merasa tidak enak karena harus menyebutkan wanita yang dicintai Tuannya itu sebagai tertuduh.
“Aku sudah menduganya, Shawn kau tak perlu sungkan pada ku. Aku mempersiapkan hal ini dari jauh-jauh hari, karena seorang mafia seperti ku tak bisa benar-benar mencintai seseorang.” (bahasa mandarin) Ucap Mr. Feng yang tak lagi mengatas namakan cinta untuk siapapun.
“Tapi Tuan, Nyonya sudah berhasil kabur saat saya hendak menangkapnya.” (bahasa mandarin) Ucap Shawn yang merasa gagal akan tugasnya.
“Tenanglah!. Biar aku yang tangani semuanya!. Biarlah dia menjadi urusan ku dan tentunya aku harus memberikan salam perpisahan yang terbaik untuknya. Benar bukan?.” (bahasa mandarin) Ucap Mr. Feng sambil menampilkan senyum iblisnya, seolah-olah dirinya sudah mempersiapkan sebuah pemakaman yang indah untuk istrinya itu.
Bagaimana tidak?. Mr. Feng bertemu dengan Sharon aka Nyonya Feng di sebuah bar di mana ia tak sengaja menghabiskan satu malam dengannya karena suatu kesalahan. Dan saat itu dirinya masih berstatus suami dari Mommy Jia Li yaitu Vanessa.
Saat itu Mr. Feng adalah lelaki yang sangat mencintai keluarganya dan ia sangat mencintai istrinya Vanessa. Namun karena suatu kesalahan di malam itu, Mr. Feng terpaksa menikahi Sharon atas permintaan istrinya Vanessa. Sharon datang ke Mansion dengan membawa sejumlah bukti pelecehan Mr. Feng terhadapnya, dengan kelemahan Vanessa yang memang seorang wanita berhati mulia ia tak tega dengan penderitaan Sharon yang harus menanggung malu karena aib pada malam itu.
Dan Sharon pun akhirnya hidup sebagai istri muda dari Mr. Feng berdampingan dengan Vanessa yang merupakan istri tua Mr. Feng. Sampai suatu hari Vanessa harus meninggalkan dunia ini karena sebuah kecelakaan di mana pada saat itu di dalam mobil tersebut hanya Jia Li yang selamat.
Dan sejak saat itu Jia Li diasuh oleh Sharon yang telah menjadi Nyonya utama di Mansion milik Mr. Feng. Selama ini Sharon selalu menunjukkan wajah malaikatnya di hadapan Mr. Feng hingga Mr. Feng tak pernah mencurigai gerak geriknya selama ini.
__ADS_1
Dan Mr. Feng pun juga tidak tahu bahwa sebenarnya kecelakaan yang menewaskan istrinya Vanessa adalah karena ulah Sharon dan anak buahnya. Dan Jia Li sudah mengetahui ini sejak lama, Jia Li diam-diam mendengar Sharon, Ibu tirinya berbicara dengan seseorang melalui ponselnya soal dirinya yang membunuh Ibunya Vanessa. Tapi karena ia tidak memiliki bukti sampai saat ini maka Jia Li memilih diam dan menunggu hari yang tepat untuk mengungkapkannya.
Namun justru hal itu membuat Sharon berusaha mati-matian untuk menyingkirkan Jia Li dari dunia ini dengan cara membuat Jia Li dibenci oleh Ayahnya sendiri. Dengan ini Mr. Feng akhirnya tahu siapa orang yang ingin mengusik ketenangannya selama ini.