
*Lanjutan*
“Apa aku mengganggumu karena hal ini, Zahra?.” Tanya Robby yang saat itu masih menatap wajah Zahra yang terlihat menegang karena pernyataannya.
“Ohh.. tentu tidak, aku menghargai dirimu. Ku rasa tidak salah sebagai seorang lelaki untuk menyukai seorang wanita. Aku pun pernah mengalaminya, hanya saja ini terlalu mendadak bagiku. Heheh!.” Ucap Zahra sembari menggaruk sedikit wajahnya yang tidak gatal.
“Baiklah!. Aku sudah mengatakan semuanya, sekarang aku harus pergi!. Karena aku harus segera bersiap-siap pulang ke Jakarta.” Ucap Robby yang kemudian berdiri dari tempatnya.
“Apa kamu kemari hanya untuk mengatakan hal itu?.” Tanya Zahra kepada Robby.
“Iya, karena aku takut tidak ada waktu lagi untuk mengungkapkannya. Karena aku tahu sebentar lagi kalian berdua akan menikah. Pastinya aku tidak akan memiliki kesempatan untuk menemui mu seperti ini.” Ucap Robby yang menatap Zahra dengan lekatnya seakan ingin melepas semua perasaannya kepada wanita di hadapannya.
“Rob, aku rasa hanya sekedar mengobrol seperti ini kita masih tetap bisa melakukannya dan ku rasa Lu Chen tidak akan.. Zahra belum menyelesaikan ucapannya Robby sudah menyelanya.
“Tidak!. Aku sangat tahu Lu Chen seperti apa dan aku sangat menghargainya. Walau hubungan kami tidak sebaik dulu tapi aku sangat menghargai dirinya. Dia tidak akan pernah melepas orang yang sangat berharga di hatinya. Dan aku tahu orang itu adalah dirimu.” Robby berkata sembari meraih ke dua tangan Zahra untuk yang terakhir kalinya.
“Aku juga tahu itu, tapi sungguh bila nanti kita berdua bertemu jangan pernah anggap diriku orang asing bagimu!. Aku masih Zahra temanmu yang akan membantumu kapanpun!. Ingat itu!.” Ucap Zahra yang tak ingin Robby berpikir bahwa ini adalah pertemuan terakhir mereka.
“Tenang saja!. Bila Lu Chen menyakitimu seujung jari saja!. Aku pastikan dia akan menyesalinya!. Dan aku akan membuat perhitungan dengannya.” Tegas Robby yang tak Ingin Lu Chen menyakiti hati Zahra karena biar bagaimanapun Zahra adalah wanita yang pernah singgah di hatinya.
Dan perpisahan yang terjadi antara Robby dan Zahra saat itu di selingi canda tawa di mana mereka berdua mengingat masa-masa di mana Robby mengejar cinta Zahra. Dan saat itu mereka berdua masih dalam kesalahpahaman, dimana Robby masih dipandang sebagai Playboy Cap Kupu-kupu oleh Zahra.
Robby akhirnya mengerti awal mula perubahan sikap Zahra kepadanya, dan akhirnya ia tahu bahwa selama ini hanya ada pandangan negatif akan dirinya di mata Zahra. Tapi dirinya bersyukur bahwa akhirnya Zahra mengetahui hal yang sebenarnya.
***
Keesokkan harinya
Mr. Feng dan Lu Chen saat itu bertemu di Perusahaan untuk membicarakan perkembangan kasus penculikan Zahra. Lu Chen memutuskan untuk menemui Mr. Feng langsung ke perusahaannya karena kebetulan Perusahaan milik Mr. Feng tidak jauh dari lokasi syuting dramanya.
Mereka terlihat serius melakukan pembicaraan mengenai hal tersebut, sampai-sampai Mr. Feng rela membatalkan sejumlah meeting nya hari ini hanya untuk membahas hal tersebut berdua dengan Lu Chen di ruangannya.
“Mr. Feng, pasti anda sudah tahu maksud kedatangan ku ke sini?.” (bahasa mandarin) Ucap Lu Chen yang ingin langsung mengatakan maksud dan tujuannya.
“Iya, aku sudah tahu, tapi jujur aku tak ingin mengatakannya kepadamu.” (bahasa mandarin) Tegas Mr. Feng kepada Lu Chen.
“Apa alasannya?.” (bahasa mandarin) Tanya Lu Chen yang ingin mengetahui alasan dibaliknya.
__ADS_1
“Ku rasa tak perlu aku jelaskan kau sudah mengetahuinya.” (bahasa mandarin) Ucap Mr. Feng dengan tatapan seolah-olah mengancam Lu Chen.
“Kalau soal nama baik keluargamu, aku pastikan aku tidak akan membocorkannya. Aku akan menutup mulutku rapat-rapat untuk itu.” (bahasa mandarin) Tegas Lu Chen.
“Kau tahu ada sebuah pepatah. Mulutmu Harimaumu!. Apa bisa aku mempercayai begitu saja perkataan orang lain, bahkan putriku sendiri sulit ku percaya.” (bahasa mandarin) Mr. Feng yang lagi-lagi tak ingin mempercayai ucapan Lu Chen.
“Tapi bagaimana jika semua ini tidak ada kaitannya dengan putrimu Jia Li?. Dan justru ini semua adalah perbuatan orang lain?.” (bahasa mandarin) Ucapan Lu Chen yang langsung menyita perhatian Mr. Feng.
“Hahah!. Ternyata kau memang memiliki pemikiran yang sama dengan diriku!. Aku pikir hanya karena Jia Li adalah putriku maka pikiranku menuju ke sana, tapi ternyata kau…!.” (bahasa mandarin) Mr. Feng yang sangat senang dengan ucapan Lu Chen saat itu menepuk bahu Lu Chen dengan kerasnya sampai Lu Chen sedikit merasakan sakit di bahunya.
“Lalu Mr. Feng, apa aku bisa melihat sendiri sipir itu?. Aku ingin menginterogasinya langsung, bisakah anda membawaku untuk menemuinya?.” (bahasa mandarin) Tanya Lu Chen dengan hati-hati kepada Mr. Feng.
“Oh kalau untuk itu aku sedikit ragu karena baru kemarin aku meminta Shawn untuk membawanya ke penangkaran buaya sebagai umpan buaya di sana.” (bahasa mandarin) Perkataan Mr. Feng yang langsung membuat Lu Chen menelan ludahnya seketika.
Lu Chen berpikir untung saja pertunangannya yang batal lantas tidak membuatnya menjadi makanan hewan buas. Ia pun melihat seluruh anggota tubuhnya, mensyukuri bahwa tubuhnya masih utuh sampai detik ini.
“Ah!. Kamu tenang saja!. Hari ini Shawn tidak bertugas di sana, aku memintanya untuk mengawasi Mansion saat ini, jadi orang itu masih aman sampai saat ini. Dan bila kau ingin melihatnya aku akan meminta anak buahku untuk menemanimu ke sana. Bagaimana?.” (bahasa mandarin) Ucap Mr. Feng yang kembali menepuk bahu Lu Chen.
Ternyata sangat berbahaya bila berdekatan dengan seorang mafia seperti Mr. Feng. Pantas saja Ayahnya Jackson Lu memilih untuk tidak berurusan dengan dunia Mafia dan tidak berteman dekat dengan Mr. Feng karena selain dirinya yang lemah fisik, Jackson Lu juga tak ingin pusing dengan kehidupan di dunia mafia yang harus berhadapan dengan mara bahaya seperti yang di lalui Mr. Feng dan komplotannya.
***
Walaupun sebenarnya itu bukan perbuatannya, tapi apa yang dapat dirinya lakukan bila sejumlah bukti itu justru memberatkannya. Bahkan Daddy nya saja tidak mempercayainya, malah membuatnya terkurung di Mansion.
“Hiks!. Hiks!.” Suara tangisan Jia Li yang terdengar hingga keluar kamarnya.
Shawn yang melihat ke dua pelayan Jia Li berdiri ketakutan di depan kamar Jia Li pun mendekati mereka.
“Bagaimana keadaannya?.” (bahasa mandarin) Tanya Shawn kepada kedua pelayan wanita tersebut.
“Nona masih belum mau makan, Tuan dan sepanjang hari dirinya hanya mengamuk dan menangis. Dan kami berdua tidak diperbolehkan masuk ke kamarnya.” (bahasa mandarin) Jawab salah satu pelayan wanita itu.
“Baiklah saya mengerti.” (bahasa mandarin) Ucap Shawn yang kemudian meminta ke dua pelayan wanita itu untuk segera pergi.
Tak lama ada seorang pelayan wanita yang mendekati Shawn dan membisikkan sesuatu di telinganya.
“Tuan, wanita yang kemarin memberikan bukti di kamar Nona Jia Li sudah pergi dari Mansion ini secara misterius.” (bahasa mandarin) Ucap pelayan wanita tersebut.
__ADS_1
“Apa?. Apa kamu sudah memastikan dia pergi ke mana?.” (bahasa mandarin) Tanya Shawn.
“Tidak ada yang tahu, Tuan. Dan dia tidak meninggalkan satupun petunjuk.” (bahasa mandarin) Ucapan pelayan wanita itu yang kemudian membuat Shawn sedikit membulatkan matanya.
“Baiklah!. Kamu boleh pergi sisanya biar aku yang urus!.” (bahasa mandarin) Ucap Shawn yang kemudian pergi dari kamar Jia Li.
Namun di tengah perjalanannya ia bertemu dengan Nyonya Feng yang sedang menuju ke kamar Jia Li membawa sejumlah makanan di trolly bersama beberapa pelayan.
“Shawn!. Bukankah harusnya kamu bersama suamiku?. Kenapa masih di sini?.” (bahasa mandarin) Tanya Nyonya Feng dengan raut wajah yang menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Shawn.
“Saya ditugaskan Tuan Besar untuk mengawasi Mansion ini Nyonya.” (bahasa mandarin) Jawab Shawn apa adanya.
“Bukankah di sini sudah ada aku Nyonya di rumah ini, lebih baik kamu urus urusan kantor saja!.” (bahasa mandarin) Tegas Nyonya Feng yang ingin Shawn segera menuruti perintahnya.
“Maaf Nyonya, ini tugas yang diperintahkan langsung oleh Tuan kepada saya. Dan saya harus menurutinya.” (bahasa mandarin) Jawab Shawn dengan tegasnya.
“Oh!. Jadi kau mau mencoba melawanku?. Aku juga Nyonya di rumah ini dan istri dari Tuanmu!. Apa kau tidak takut Shawn?.” (bahasa mandarin) Ancam Nyonya Feng.
Namun Shawn tak bergeming pada setiap perkataannya ia tetap teguh pada pendirian untuk menuruti perintah Mr. Feng untuk mengawasi Mansion hari itu.
“Maaf sekali lagi saya tidak bisa menuruti perkataan anda, Nyonya. Bila tidak ada lagi yang anda katakan kepada saya, saya permisi dulu!. Karena masih ada urusan yang harus saya urus.” (bahasa mandarin) Ucap Shawn sembari menundukkan sedikit tubuhnya ke hadapan Nyonya Feng.
Namun Nyonya Feng tak menjawab sepatah katapun perkataan Shawn dan memilih mengacuhkannya begitu saja dan kembali berjalan menuju kamar Jia Li. Namun langkahnya terhenti dengan ucapan Shawn saat itu.
“Tunggu Nyonya, ada hal yang ingin saya tanyakan pada Nyonya.” (bahasa mandarin) Tanya Shawn yang sembari membalikkan pandangannya kembali ke arah Nyonya Feng.
“Apa itu?.” (bahasa mandarin) Dengan mengangkat wajah angkuhnya ke hadapan Shawn.
“Pelayan yang memberikan bukti kemarin telah menghilang, Nyonya. Saya hanya ingin bertanya, apa Nyonya tahu ke mana perginya pelayan itu?.” (bahasa mandarin) Tanya Shawn sembari menelisik raut wajah Nyonya Feng.
“Apa?. Menghilang?. Eh… dan kau saja tidak tahu apalagi diriku?.” (bahasa mandarin) Ucap Nyonya Feng yang mencoba menyembunyikan ekspresinya.
“Oh baiklah Nyonya, saya hanya ingin mengetahui hal ini dari Nyonya saja. Karena para pelayan tidak mengetahui keberadaannya dan saya berpikir bahwa Nyonya mengetahuinya karena Nyonya adalah Nyonya di rumah ini.” (bahasa mandarin) Perkataan Shawn yang sedikit seperti sindiran halus untuk Nyonya Feng saat itu dan Nyonya Feng segera menghindar dari Shawn dan mempercepat langkahnya menuju kamar Jia Li.
Selepas kepergian Nyonya Feng, Shawn sedikit melepaskan senyumannya seolah ia sudah menemukan hal yang menarik di sana. Apa ular yang bersembunyi sudah tertangkap?.
Bersambung…
__ADS_1