Cowok Cantik Milik Zahra

Cowok Cantik Milik Zahra
Tetaplah Berada Di sisiku!


__ADS_3

“Jangan Pergi!.” Lu Chen menggenggam erat tangan Zahra dengan mata tertutup dan mulut yang meracau.


Zahra yang tadinya hendak menelepon Xiao Feng, mengurungkan niatnya dan memilih menemani kembali Lu Chen di sisi ranjang.


Zahra melihat ke arah jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam. Namun Lu Chen tak kunjung melepaskan genggaman tangan Zahra, hingga dirinya mengantuk dan terlelap di sisi ranjang Lu Chen.


***


Matahari bersinar dari arah balkon apartemen menerobos masuk hingga ke jendela kamar Lu Chen. Zahrapun terbangun karena cahaya matahari tersebut, kemudian ia melihat ke arah telapak tangannya yang sudah tidak ada jemari Lu Chen yang menggenggamnya. Sontak pandangan  Zahra mengedar ke sepanjang kamar mencari keberadaan Lu Chen. Namun ia tak menemukan Lu Chen di dalam kamar tersebut.


Zahra melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Zahrapun teringat bahwa hari ini dia harus masuk ke kantor, karena ada jadwal penting yang tak dapat ditinggalkan. Iapun beranjak dari kamar menuju ruang tamu, sambil mengecek keberadaan Lu Chen sebelum ia meninggalkan apartemen. Namun baru saja dirinya melangkah ke arah ruang tamu, ia mendapati sebuah tangan merangkul pinggangnya dari belakang.


DEG


Dan benar saja dugaannya, tangan tersebut adalah tangan Lu Chen yang merangkul pinggangnya dengan lembut. Sontak membuat Zahra menjadi salah tingkah dan mencoba membalikkan badannya saat itu. Tetapi usahanya sia-sia, Lu Chen menahan tubuhnya agar tidak berbalik.


“Jangan pergi! Tetaplah berada di sisiku!.” Kata-kata Lu Chen dengan nada lirihnya, membuat jantung Zahra semakin tak karuan.


“Lu.. Chen… apa kau sudah sembuh?.” Zahra akhirnya berhasil membalikkan tubuhnya ke arah Lu Chen. Dengan wajah yang memerah ia memberanikan diri untuk menatap wajah Lu Chen.


“Apa kamu khawatir padaku hhmm?.” Lu Chen bertanya dengan tetap merangkul pinggang Zahra.


“Apa yang kamu katakan? Kemarin malam kamu pingsan dan badanmu sangat panas? Apa kamu tidak tahu?.” Zahra mengerutkan keningnya seolah tak mengerti mengapa Lu Chen bertanya seperti itu padanya?. Padahal jelas-jelas kemarin malam kondisi Lu Chen sangat memprihatinkan.


“Mimpi buruk yang selalu terjadi, hal ini sering aku alami setiap hari. Hingga membuat tubuhku terasa lelah.” Lu Chen mengungkapkan yang terjadi setiap hari pada dirinya.


“Apa? Mimpi buruk?. Bagaimana jika aku tidak datang kemarin? Apa kamu akan baik-baik saja?. Bagaimana dengan hari-hari sebelumnya?.”  Zahra berpikir bagaimana Lu Chen yang menghadapi hal itu setiap harinya.


“Seperti biasa Xiao Feng selalu tahu apa yang kubutuhkan. Dan bagaimana kamu bisa di apartemenku?. Dan bagaimana kamu tahu passwordku? Apa Xiao Feng yang melakukannya?.” Lu Chen ingin mendapatkan penjelasan dari Zahra perihal dirinya yang tiba-tiba masuk ke dalam apartemennya.


“Xiao Feng bilang kalau dirimu ingin membicarakan soal kostum untuk konsermu bulan depan. Dan dia yang memberitahu alamat beserta password apartemen ini.” Zahra menjelaskan kedatangannya ke apartemen Lu Chen agar Lu Chen tidak salah paham.


“Ku rasa aku mengerti alasan Xiao Feng memintamu untuk datang kemari?.” Lu Chen berkata sambil tersenyum penuh arti ke arah Zahra. Hingga membuat bulu kuduk Zahra merinding.

__ADS_1


“Hhmm maksudmu?.” Zahra yang pura-pura tidak tahu akan arti senyuman Lu Chen kepadanya, dan berusaha untuk melepaskan rangkulan tangan Lu Chen di pinggangnya.


Lu Chenpun memajukan wajahnya ke wajah Zahra hingga bibir Lu Chen hampir menyentuh bibir Zahra. Dan Zahrapun seketika memejamkan matanya tanpa sadar.


“Terima kasih.” Lu Chen bukannya mencium bibir Zahra justru mengucapkan kata itu dengan tulus.


Zahra membuka mata kirinya untuk mengintip apa yang ada di depannya. Dan seketika membuka kedua matanya, seakan kaget dengan apa yang Lu Chen katakan. Wajahnya terlihat memerah menahan malu, karena prasangkanya yang berpikir kalau Lu Chen akan menciumnya. Tapi ternyata dugaannya salah, Zahra sungguh merutuki kebodohannya saat itu.


“Mau disembunyikan ke mana wajah ini?.” Bathin Zahra.


Lu Chen yang melihat tingkah Zahra saat itu tersenyum simpul seolah tahu apa yang ada dipikiran Zahra.


“Apa yang kamu pikirkan?” Lu Chen menatap dengan lekat manik mata Zahra seolah ingin mengetahui isi pikirannya saat itu.


“Hah? Ti.. tidak, bukan apa-apa.” Zahra berusaha membohongi Lu Chen dengan kata-katanya.


Tiba-tiba… 


Terdengar suara perut Zahra yang kelaparan


Lu Chen yang mendengarnya pun tertawa kecil seketika.


“Hadeuuhh… kenapa nih perut ‘gak bisa kompromi? Tambah bikin malu aja!.” Bathin Zahra yang kesal dengan keadaan, karena tanpa sadar ia lupa sedari kemarin malam ia belum makan dan minum apapun.


“Aku tahu dari kemarin kamu belum sarapan. Aku sudah memesan sarapan di kantin bawah. Dan aku memang menunggumu untuk sarapan bersama. Ayo!.” Lu Chen menarik tangan Zahra menuju arah dapurnya.


Zahra memakan menu sarapan dengan lahapnya. Zahra melahap habis tanpa tersisa, ia seolah lupa di mana ia sedang berada. Sampai akhirnya suara sendawa keluar dari kerongkongannya.


“Aarkkhh….!!.” Zahra bersendawa tanpa sadar, hingga saat ia membuka matanya dan tersadar kalau sekarang di hadapannya ada Lu Chen yang sedang menahan tawa.


“Apakah sungguh enak?.” Sambil menatap Zahra yang wajahnya memerah karena malu.


“Maaf, aku kelepasan. Heheh!.” Zahra lalu mengangkat jarinya dan memberi simbol dua jari sebagai tanda maafnya.

__ADS_1


Namun Lu Chen tidak mempermasalahkan hal itu, ia justru menarik kursinya hingga bersebelahan dengan Zahra.


“Ma.. mau apa kamu?.” Zahra salah tingkah saat Lu Chen mendekat ke arahnya.


“Menuntaskan yang belum dituntaskan.” Lu Chen langsung menarik leher Zahra dan mencium bibir Zahra dengan lembut, namun Zahra tidak berani menutup mata dan membalas ciuman Lu Chen. Dirinya sangat terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari Lu Chen.


“Ini sungguh manis!.” Lu Chen mengusap dan menjilati bibirnya sehabis mencium bibir Zahra yang ternyata masih ada sisa pancakenya itu.


DEG 


Zahra yang melihat itupun membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Ia menatap nafsu bibir manis Lu Chen yang sudah menjadi candunya itu, sambil menelan salivanya Zahra secara spontan juga mengusap bibirnya yang telah disentuh bibir manis Lu Chen itu.


Lu Chen kembali menatap mata Zahra seakan ingin mengatakan sesuatu.


“Bunga, apa kamu sudah bisa memberikanku jawaban?.” Lu Chen yakin hari ini Zahra sudah dapat memberikannya jawaban, karena dirinya yakin Zahra memiliki perasaan yang sama terhadapnya.


“Ku mohon jujurlah padaku, tanpa kau sembunyikan. Apabila kali ini kamu menolakku, aku pastikan aku akan menyerah saat ini juga. Jadi berikan aku sebuah jawaban hhmm?.” Lu Chen berharap bahwa Zahra tidak akan menolaknya kali ini.


Zahra yang masih diliputi keraguanpun memejamkan matanya untuk memantapkan hatinya saat ini. Dan tanpa beban yang ada dipikirannya, iapun menganggukkan kepalanya pertanda dirinya setuju dengan permohonan Lu Chen.


Lu Chen yang melihat itu, langsung memeluk Zahra dengan erat. Dan mencium Zahra kembali, namun kali ini ciumannya begitu dalam dan menuntut. Zahrapun ikut terbuai bibir manisnya Lu Chen yang seperti kembang gula baginya. Dan pagi itu seolah menjadi simbol pelepasan Zahra dari kejombloannya selama 24 tahun hidupnya.


 


Author


Akhirnya Zahra pecah telor juga guys!


 


Guys! Dukung othor ya! Dengan cara like, vote dan kasih gift!!


Biar othor nulisnya semangat 45!! 😘😘

__ADS_1


__ADS_2