Cowok Cantik Milik Zahra

Cowok Cantik Milik Zahra
Perbincangan Yang Tertunda


__ADS_3

Robby pergi terlambat memasuki kantor hari itu, asisten barunya yang bernama Shinta menyambut Robby yang datang ke perusahaan dengan senyuman menawannya . Walaupun Shinta sempat kesal dengan bos barunya itu yang datang sangat terlambat hari ini, tapi ia mencoba tetap merekahkan senyumannya.


“Pagi Shinta!.” Sapa Robby yang seperti lupa kalau hari ini sudah siang.


“Pagi Pak!.” Senyum paksa Shinta lagi-lagi kepada bosnya.


Kalau saja dia bukan pegawai baru saat itu, mungkin ia sudah menegur bosnya itu karena datang sangat terlambat.


“Pak!. Sebentar Pak!.” Shinta yang mencoba untuk berbicara kepada bos barunya, namun Robby berpura-pura tak mendengarnya.


“Pak!.. I..itu… belum juga dirinya berbicara.. Robby masuk ke dalam ruangannya dan langsung disambut oleh seseorang yang sangat tak disangka olehnya.


“Maksud saya ada tamu yang menunggu anda di ruangan, Pak!.” Akhirnya Shinta berhasil menyelesaikan kalimatnya.


“Shinta!. Mengapa wanita ini bisa ada di sini?.” Bisik Robby kepada Shinta.


“Saya baru akan memberitahu anda, Pak!. Tapi anda tidak mau mendengarkan saya!.” Dengan terbata-bata Shinta menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


“Ya sudah kau boleh pergi!. Lain kali jangan pernah kau biarkan ini terjadi lagi!. Ok?.” Shintapun pergi sesuai perintah Robby.


Niki yang saat itu duduk dengan gaya sensualnya sambil menatap setiap inchi tubuh Robby dengan mesumnya.


“Mau apa anda kemari ,Tante?.” Tanya Robby dengan tatapan datarnya kepada Niki.


Lalu Nikipun mulai mendekati Robby dengan gaya menggodanya.


“Aku hanya ingin mengunjungimu.” Masih dengan tatapan menggodanya ke arah Robby dan kemudian meraih pundak Robby.


“Tapi sepertinya Tante salah ruangan, karena ruangan Pamanku berada di lantai 30.” Ucap Robby yang ingin Niki segera pergi dari ruangannya.


“Tidak, hari ini aku tidak berniat ke ruangannya. Kau tahu ruangannya sangat dingin tidak sehangat ruanganmu.” Niki yang mulai menghembuskan nafasnya ke telinga Robby, dan seketika membuat Robby merinding dibuatnya.


“Apa hari ini anda tidak ada jadwal syuting atau lainnya?. Sehingga anda memiliki banyak waktu untuk menggoda lelaki lain?.” Ucap Robby yang mulai berkata dengan kata-kata kasar kepada Niki.


“Robby, apa kau lupa dengan apa yang kita lakukan kemarin malam?.” Niki yang mulai mengatakan omong kosong kepada Robby, karena Niki yakin bahwa Robby tidak akan mengingat kejadian semalam.


“Maksud anda?. Apa yang saya lakukan?.” Tanya Robby yang terkejut dengan pernyataan Niki.


“Kau sangat nikmat sayang!.” Lagi-lagi Niki membisikkan kata-kata menggelikan ke telinga Robby yang semakin membuat Robby jijik terhadapnya.


“Tante!. Saya mohon keluarlah dari ruangan ini!. Sebelum saya memanggil petugas keamanan untuk mengusir anda!.” Robby yang mulai menatap Niki dengan tatapan nyalangnya.


“HHmm!. Tapi aku tidak menyesal dengan apa yang terjadi di antara kita Robby. Malah aku mengharapkan kejadian semalam akan terulang kembali.” Niki yang mencoba meraih lengan Robby namun tangan Niki berhasil ditepis Robby saat itu.

__ADS_1


“Baiklah!. Baiklah!. Tapi aku akan kembali lagi lain waktu!.” Niki yang kemudian pergi dari hadapan Robby dengan meninggalkan kedipan mata dan ciuman jauhnya kepada Robby.


“Heh!. Wanita gila!. Bagaimana bisa aku lupa dengan kejadian semalam?.” Lagi-lagi Robby yang frustasi dengan dirinya yang tak dapat mengingat kejadian semalam.


***


Di Sebuah Restoran


Di siang hari Aaron mengajak Lu Chen untuk berbincang-bincang santai di sebuah restoran yang berada di lantai bawah gedung Light Entertainment. Hari itu mereka makan bersama tanpa embel-embel kerjaan yang membebani mereka.


“Bagaimana liburan tahun barumu?.” (bahasa mandarin) Tanya Aaron kepada Lu Chen.


“Ya, menyenangkan.” (bahasa mandarin) Jawab Lu Chen sambil tersenyum sumringah.


“Apa kau bersama dengan Zahra saat itu?.” (bahasa mandarin) Tanya Aaron melihat dari wajah Lu Chen yang berseri-seri.


“Ya, tentu saja.” (bahasa mandarin) Jawab Lu Chen masih dengan senyumannya.


“Sepertinya ada berita bahagia yang ingin kau sampaikan, Lu?.” (bahasa mandarin) Aaron yang penasaran dengan berita bahagia apa yang hendak di beritahukan kepadanya oleh Lu Chen.


“Aku melamar Zahra.” (bahasa mandarin) Jawab Lu Chen tanpa basa-basi.


Langsung saja Aaron tersedak oleh teh yang diminumnya hingga matanya memerah karena airnya tersumbat sampai ke hidungnya.


“Aku melamarnya saat tahun baru kemarin.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang mengulang kembali perkataannya.


“Apa kau tidak terlalu cepat, Lu?. Baru juga beberapa bulan kalian berpacaran.” (bahasa mandarin) Aaron yang membulatkan matanya ke arah keponakannya itu.


“Tidak, aku malah merasa itu terlalu lama bagiku. Ingin rasanya hari ini juga aku ke catatan sipil mendaftarkan pernikahan kami.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang lagi-lagi dengan ide gilanya berkata kepada Aaron.


“Kau memang sudah gila Lu!. Aku tak akan membiarkan dirimu bertindak sesuka hati!.” (bahasa mandarin) Aaron yang memperingatkan Lu Chen akan tindakannya kali ini.


“Sudahlah Paman!. Aku sudah dewasa aku tahu apa yang aku lakukan!. Aku mengerti dengan semua konsekuensinya dan aku tidak akan gegabah dengan itu. Tapi aku mohon untuk kali ini saja biarkan aku berbuat semauku!.” (bahasa mandarin) Mohon Lu Chen kepada Pamannya Aaron.


“Baiklah!. Tapi tetap dengan ke hati-hatian Lu. Karena banyak pihak yang akan kamu rugikan.” (bahasa mandarin) Aaron mengingatkan kembali konsekuensi yang akan Lu Chen ambil.


“Nah Paman, sebenarnya apa yang akan dirimu katakan kali ini?. Aku tahu kau ingin ngobrol berdua seperti ini, tidak mungkin bila tidak ada sesuatu.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang ingin Aaron langsung pada intinya.


“Baiklah Lu!. Aku langsung pada intinya saja. Kontrakmu dengan Light Entertainment akan berakhir kurang dari empat bulan ke depan. Apa rencanamu selanjutnya?.” (bahasa mandarin) Aaron yang berbicara pada intinya.


“Ah, aku hampir lupa dengan itu. Aku belum memikirkannya Paman.” (bahasa mandarin) Jawab Lu Chen apa adanya kepada Aaron.


“Apa kau tak ingin kembali ke Jakarta dan membantu Ayahmu, Lu?.” (bahasa mandarin) Ucap Aaron dengan sedikit hati-hati dalam ucapannya, karena ia tahu Lu Chen sangat sensitif dengan hal itu.

__ADS_1


Dan benar saja Lu Chen kemudian merubah mimik wajahnya menjadi sedikit suram begitu mendengar kata “Ayah” yang diucapkan Aaron.


“Maaf aku tak bermaksud menyinggungmu Lu, tapi sudah waktunya kau ke perusahaan untuk menempati posisimu. Dan untuk karirmu di sini, kau bisa mengambil beberapa jadwal panggung bila tidak bentrok dengan jadwal kerjamu. Bagaimana?.” (bahasa mandarin) Ucap Aaron yang lagi-lagi dengan kehati-hatian dalam pengucapannya.


Dan Lu Chenpun tak menjawab sepatah katapun perkataan Aaron, Ia hanya terdiam dan  menatap Aaron dengan tatapan datarnya.


“Lu!. Bicaralah!. Aku tahu kau sudah dewasa untuk mengambil sebuah keputusan tapi ingatlah Ayahmu!. Jackson!. Aku hanya sedih melihatnya menderita, Lu.” (bahasa mandarin) Ucap Aaron yang sudah tak tahu harus berkata apa atas sikap diamnya Lu saat itu.


“Sudah?.” (bahasa mandarin) Dan akhirnya Lu Chen membuka suaranya. Dengan masih memperlihatkan tatapan datarnya kepada Aaron.


“Lu, apa kau setuju?.” (bahasa mandarin) Aaron yang masih mencoba meyakinkan Lu Chen.


“Apa Paman sudah selesai dengan perkataan Paman?.” (bahasa mandarin) Tanya Lu Chen kembali dengan ekspresi datarnya.


“Sudah, tapi kamu belum menjawabnya Lu.” (bahasa mandarin) Ucap Aaron yang ingin Lu Chen segera menjawab pertanyaannya.


“Bila Paman sudah selesai mengatakannya, aku segera permisi kalau begitu karena banyak hal yang harus aku kerjakan!.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


Aaron Lu yang terkejut dengan sikap Lu Chen langsung ikut berdiri dan berusaha mencegah Lu Chen pergi dari tempat duduknya.


“Apa yang kau lakukan Lu?. Apa kau tidak tahu aku sedang bertanya kepadamu?. Dan bahkan kamu belum menjawabnya.” (bahasa mandarin) Pinta Aaron agar Lu Chen tetap duduk di tempatnya.


“Ku rasa aku tidak perlu menjawabnya.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang tetap memilih berdiri dari tempatnya dan mulai menjauh dari Aaron.


“Lu!. Ku perintahkan agar kau tetap di sini!.” (bahasa mandarin) Aaron yang mulai berteriak kepada Lu Chen.


Untung saja keadaan restoran saat itu sedang sepi dan mereka berada di ruang VIP, sehingga kejadian diantara mereka tak terlihat oleh siapapun.


“Aku tak ingin membicarakan hal ini, Paman!. Dan apa ini?. Aku harus memikirkan Ayahku?. Lantas apa ia memikirkan diriku?.” (bahasa mandarin) Tanya Lu Chen dengan menahan amarahnya tanpa menoleh ke arah Aaron saat itu.


“Lu!. Aku tahu kau akan berkata seperti itu. Tapi apa kau tahu saat ini ia sedang sakit keras, ia pingsan saat terakhir bertemu denganmu. Dan dia berkata kepadaku mungkin saja hidupnya tak akan lama lagi. Apa kau tak bisa sedikit saja memberikan simpatimu padanya?.” (bahasa mandarin) Aaron yang memberitahukan kondisi Jackson yang sebenarnya kepada Lu Chen. Dan seketika membuat Lu Chen menoleh kepadanya.


“Apa?. Mengapa Paman tidak memberitahukan hal itu kepadaku?.” (bahasa mandarin) Tanya Lu Chen kepada Aaron dengan wajah yang sedikit berkaca-kaca.


“Percuma Lu!. Aku tahu kau sangat benci pada Ayahmu. Tapi yang aku tahu dia sangat merasa bersalah kepadamu. Dan kau juga tahu bahwa kesalahan 15 tahun silam bukan semua kesalahannya, yang terjadi dengan anak itu murni sebuah kecelakaan!. Dan kau tahu darimana sifat keras ayahmu itu berasal?. Dan aku tahu pasti Jackson menahannya seorang diri. Bahkan Jiang Xipun tidak tahu hal tersebut. Sudah Lu!. Ayahmu sungguh sangat menderita!. Bila kau masih ingin melihatnya lebih lama lagi di dunia ini!. Inilah kesempatanmu Lu!. Jadi Ku mohon!. Mengertilah dia sedikit saja!.” (bahasa mandarin) Pinta Aaron yang ingin Lu Chen mendengarkannya.


Lu Chen yang tidak tahu harus berkata apa saat ini hingga matanya mengeluarkan lelehan airmata yang tak dapat di bendungnya lagi. Lu Chen ingin memeluk Ayahnya sedari dulu, tapi jarak yang membuatnya seperti sekarang ini. Ia ingin merasakan kasih sayang seorang Ayah namun tak dapat dirinya rasakan karena sebuah tekanan yang dibuat Ayahnya untuk mendidiknya menjadi seorang pewaris.


Dan tekanan itu membuatnya semakin memiliki rasa benci terhadap Ayahnya, ditambah dengan sikap kasarnya selama ini yang selalu terngiang-ngiang di pikirannya bahkan merasuk ke dalam mimpinya dan membuatnya sangat tersiksa. Bagaimana seorang Lu Chen dengan mudahnya memaafkan Ayahnya itu?. Lu Chen tidak tahu harus bagaimana, biarlah Lu Chen menangisi dirinya saat ini. Mungkin ia hanya butuh waktu untuk mencerna semua perkataan Aaron. Dan Aaronpun datang kepadanya dengan pelukan dan belaian hangat kepada keponakkan kesayangannya itu.


“Maafkan aku Lu, aku tidak ingin membuat dirimu terbelenggu terhadap kebencian. Lepaskanlah semua kebencianmu yang aku yakin dapat membuat bebanmu menjadi ringan.” (bahasa mandarin) Pinta Aaron sembari menenangkan Lu Chen dengan pelukannya.


Hari itu Lu Chen dan Aaron berada lama di ruangan tersebut, mereka berbicara dari hati ke hati. Karena sudah agak lama mereka tak berbicara dengan serius beberapa bulan ini, terlebih Lu Chen sudah sering tak meluangkan waktu  untuknya semenjak dirinya berpacaran dengan Zahra. Dan ruangan itu menjadi saksi bagaimana Lu Chen menangisi kondisi Ayahnya, Jackson Lu, karena Aaron memberitahukan semua keadaan Ayah Lu Chen tanpa ada yang disembunyikan.

__ADS_1


__ADS_2