
Brakk!!. Suara barang terjatuh.
“Apa ini?.” Gumam Zahra yang melihat sebuah buku terjatuh.
Iapun mengambil buku tersebut, lalu mulai membuka halaman demi halamannya. Sebuah buku seperti sebuah diary dengan bingkai tanaman yang dikeringkan di depan covernya. Buku tersebut hanya berisi beberapa gambar yang sepertinya di gambar oleh seorang anak kecil terlihat dari bentuk guratannya.
Gambar tersebut merupakan sebuah gambar anak laki-laki dengan anak perempuan. Di mana di bawah gambar masing-masing terdapat nama Jason dan Aurora. Hal itu langsung membuat Zahra penasaran.
"Siapakah Aurora?. Apakah dia adalah cinta pertama Lu Chen?." Pertanyaan itu berputar di kepala Zahra.
Hingga panggilan Lu Chen membuyarkan pikirannya. Iapun tanpa tersadar telah membawa buku diary tersebut di tangannya.
“Apa yang kamu lakukan?.” Tanya Lu Chen yang melihat Zahra seperti tergesa-gesa.
“Oh tidak hanya saja…” Zahra yang mulai menyadari bahwa buku diary yang ia temukan terbawa olehnya. Iapun ingin menyembunyikan diary tersebut namun sudah tertangkap basah oleh Lu Chen.
“Apa yang ada di tanganmu?.” Tanya Lu Chen yang curiga dengan sikap Zahra.
“Ehhmm.. maafkan aku, Lu. Aku hanya tak sengaja menemukan ini di sana.” Zahrapun memberikan buku diary itu kepada Lu Chen.
Sekilas Lu Chen penasaran dengan buku apa yang di bawa oleh Zahra, begitu melihatnya senyuman Lu Chen seketika menghilang dari wajahnya. Zahra mulai terlihat panik dengan itu, iapun berpikir ini adalah kesalahannya yang telah sembarangan mengusik barang orang.
“Lu, sekali lagi maafkan aku!. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya!.” Permintaan maaf Zahra yang kedua kalinya karena rasa bersalahnya.
“Oh ini hanya sebuah buku kamu tak perlu mencemaskannya.” Reaksi Lu Chen ternyata di luar dugaan Zahra. Lu Chen yang hanya berekspresi datar dan meletakkan buku itu di meja makan.
“Kau benar tidak marah?.” Tanya Zahra kembali yang masih tidak yakin dengan reaksi Lu Chen.
“Ya, apalagi memang yang harus ku katakan?.” Tanya Lu Chen dengan tatapan menelisiknya ke arah Zahra.
__ADS_1
“Oh tidak…tidak..!. Aku hanya takut kamu marah karena aku mengambil barangmu.” Ucap Zahra berbohong untuk menutupi kecurigaan Lu Chen.
“Ya sudah kita makan dulu!. Setelah ini aku akan mengantarkanmu ke kantor.” Pinta Lu Chen kepada Zahra.
Merekapun makan dengan kondisi yang canggung, Zahra sedikit-sedikit memperhatikan gerak gerik Lu Chen yang terlihat aneh. Entah mengapa ia merasa bahwa kekasihnya itu menyimpan banyak rahasia. Namun lagi-lagi mulut Zahra terkunci dan tak mampu bertanya kepadanya.
“Apa yang kamu pikirkan?.” Lu Chenpun menghentikan kegiatan makannya karena melihat tatapan aneh dari Zahra.
“Jujurlah sayang!. Aku tahu banyak pertanyaan didalam benakmu kepadaku. Katakanlah!.” Akhirnya Lu Chen membuka suaranya.
“Tapi janji kamu tidak akan marah!.” Pinta Zahra.
“Ya, aku janji!.” Jawab Lu Chen.
“Siapa Aurora?.” Tanya Zahra yang seketika membuat Lu Chen sedikit terperangah.
“Apa kau membaca buku itu?.” Tanya Lu Chen kembali.
“Baiklah akan aku ceritakan semuanya kepadamu. Tanpa aku tutup-tutupi.” Ucap Lu Chen yang tidak ingin ada kecurigaan diantara mereka.
Akhirnya Lu Chen menceritakan pertemuannya dengan teman masa kecilnya Aurora, dimana ia dan Aurora selalu bermain bersama. Dan bagaimana pertentangan Ayahnya soal dirinya yang berteman dengan orang biasa seperti Aurora. Hingga kematian yang merenggut Aurora dan keluarganya akibat ulah Ayahnya Jackson. Sampai penyakit yang di deritanya akibat trauma masa kecilnya.
Lu Chenpun mengatakan sejak kejadian itu, ia sulit berhadapan dengan anak perempuan sebayanya. Rasa takut kehilanganlah yang membuat dirinya menderita penyakit itu selama bertahun-tahun lamanya. Sampai iapun tak bisa masuk sekolah seperti anak-anak lainnya sampai usianya menginjak 14 tahun.
Dan sejak saat itupun Jiang Xi Mommy Lu Chen, berusaha melindungi anak semata wayangnya itu dari tekanan Jackson suaminya. Jiang Xi memisahkan Lu Chen dari Ayahnya Jackson, untuk menghilangkan traumanya. Selama bertahun-tahun Lu Chen tinggal terpisah oleh ayahnya sendiri. Dan di rumah inilah dirinya tinggal selama di Jakarta, ia tak pernah tinggal bersama Jackson di mansionnya. Hanya Jiang Xi yang selalu bolak-balik untuk mengurus kebutuhan suaminya.
Dan karena itulah hubungan Jiang Xi dengan Jackson perlahan menjadi retak. Karena pada dasarnya keutuhan keluarga berawal dari adanya kebersamaan. Jiang Xi lebih memilih bersama dengan Lu Chen dibanding suaminya Jackson dan karena hal itu pula Jackson mulai melampiaskan kemarahannya kepada istrinya tersebut. Memang Jackson memiliki temperamental yang tinggi, itu diakibatkan karena didikan keras keluarganya, juga penyakit jantung dan darah tinggi yang di deritanya.
Dan Lu Chenpun teringat dengan semua perlakuan Ayahnya kepada Jiang Xi saat Jackson mengunjungi rumah lamanya. Jackson kerap kali terlihat berbuat kasar kepada Jiang Xi, dan itu membuat pukulan berat bagi mental Lu Chen yang sedang tumbuh. Dan sering kali Lu Chen mencoba mengurung dirinya di gudang sebagai rasa bersalah kepada Mommynya Jiang Xi.
__ADS_1
Dan Lu Chenpun menceritakan semua mimpi buruk yang dialaminya hampir setiap hari. Setelah dirinya menceritakan semuanya, Lu Chen tiba-tiba membisu dan tak dapat berkata-kata lagi. Hanya tetesan air mata yang mulai keluar dari pelupuk matanya, namun ia coba sembunyikan dari Zahra kekasihnya.
“Keluarkan saja semua!. Aku tahu perasaanmu!.” Peluk Zahra menghampiri Lu Chen dari balik tubuhnya.
“Maafkan aku yang baru bisa menceritakan hal ini kepadamu.” Lu Chen membalikkan badannya ke arah Zahra.
“Aku tahu sangat sulit bagimu untuk menceritakan hal ini. Ke depannya jangan biarkan dirimu menanggung sendiri beban ini!. Ingat selalu ada diriku bersamamu!.” Zahrapun meraih wajah Lu Chen dan menatap mata Lu Chen yang terlihat basah oleh air mata.
“Terima kasih sayang!.” Lu Chenpun meraih pucuk kepala Zahra dan mulai membelainya.
Hari itu pertama kalinya Lu Chen jujur tentang semua yang dialaminya kepada Zahra. Ia tak menyangka setelah kejujurannya itu justru membuat hatinya menjadi lega karena bisa membagi bebannya kepada seseorang. Apalagi orang tersebut adalah orang yang berharga baginya, Lu Chenpun sangat merasa bersyukur dengan hadirnya Zahra di dalam hidupnya. Karena selain cantik dirinya adalah orang yang sangat pengertian dan juga dewasa.
***
Akhirnya siang harinya Lu Chen memutuskan untuk mengantar Zahra sampai ke kantornya.
“Lu, apa kamu bisa sampaikan kepada Mr. Lucas kalau aku akan pergi bersamamu?.” Pinta Zahra yang sedari tadi tak melihat keberadaan Mr. Lucas.
“Hah?. Mr. Lucas?.” Bingung Lu Chen yang memang tak tahu jika Mr. Lucas ada di rumahnya.
“Bukankah kamu yang memintanya untuk menjemputku pagi tadi?” Heran Zahra yang melihat ekspresi bingung Lu Chen.
“Aku baru ingin bertanya kepadamu, bagaimana kamu bisa sampai di sini?.” Tanya balik Lu Chen kepada Zahra.
“Ini sangat aneh, sewaktu aku hendak pergi ke kantor pagi tadi. Aku menemukan Mr. Lucas yang berdiri di depan rumah. Dan beliau berkata bahwa kamu memintanya untuk menjemputku.” Ucap Zahra yang masih dengan tatapan bingungnya.
“HHmm.. sepertinya Mr. Lucas sudah tahu tentang dirimu. Ternyata Ayahku tidak berbohong soal itu.” Gumam Lu Chen namun membuat Zahra semakin penasaran dibuatnya.
“Maksudmu?.” Tanya Zahra yang memasang wajah keponya.
__ADS_1
“Sudah nanti aku jelaskan ketika sudah sampai di kantormu!.” Lu Chen yang langsung meraih lengan Zahra dan menariknya hingga ke parkiran mobil.