
Di sebuah gudang tua yang sangat sempit di Kota Shang Hai.
“PlAAakk!.” Tamparan keras ke wajah lelakiberwajah codet oleh Nyonya Feng.
“Bodoh!. Mengurus satu wanita saja kau tak bisa!.” (bahasa mandarin) Teriak Nyonya Feng pada lelaki itu.
“Maaf Nyonya!. Saat diperjalanan tiba-tiba saja wanita itu nekad melompat dari mobil. Dan kami tidak berhasil mengejarnya karena pada saat itu ada polisi yang berjaga di depan pintu tol.” (bahasa mandarin) Ungkap lelaki itu menjelaskan kronologis kejadiannya.
“Kalian cari tahu di mana wanita itu bersembunyi!. Jangan sampai ia membuka suaranya!.” (bahasa mandarin) Pinta Nyonya Feng kepada anak buahnya.
“Nyonya, terakhir saya sempat melihatnya tertabrak mobil. Karena saya pikir wanita itu sudah mati, maka saya kembali ke mobil.” (bahasa mandarin) Jawab salah satu anak buahnya.
“Bodoh!. Apa kau lihat tubuhnya langsung?. Apa kau sudah memastikan wanita itu sudah mati?.” Teriak Nyonya Feng kembali yang kesal karena kebodohan anak buahnya dan anak buah itu hanya tertunduk ketakutan melihat Nyonya Feng yang geram padanya.
“Nyonya!. Kami berjanji akan mencarinya kembali. Tapi sebelumnya butuh waktu untuk menyebrang kembali ke Beijing, karena Genk mafia Bulldog ada di setiap sudut kota itu.” (bahasa mandarin) Ucap lelaki berwajah codet yang merupakan ketua dari genk yang dipimpin Nyonya Feng.
“Bodoh!. Kalau begitu cari orang baru untuk pergi ke sana!. Dan cukup kau saja yang mengawasi mereka!. Karena aku sudah tak bisa berada di sana!.” (bahasa mandarin) Nyonya Feng yang sadar bahwa dirinya sudah ketahuan oleh Shawn tak berani kembali ke Beijing.
“Baik Nyonya, malam ini kami akan segera bergerak!.” (bahasa mandarin) Tegas lelaki berwajah codet itu.
“BRaAkk!.” Bunyi suara kursi yang di tendang oleh Nyonya Feng karena kesal lagi-lagi rencananya kacau.
“Aku harus pergi secepat mungkin dari negara sial** ini!. Lelaki tua itu pasti dengan cepat dapat menemukanku!.”* (bahasa mandarin)* Gumam Nyonya Feng sembari mengepalkan ke dua tangannya.
Nyonya Feng dan anak buahnya hari itu berhasil melarikan diri ke kota Shang Hai, ia membawa serta tahanannya si pelayan wanita dari Mansion Mr.Feng. Namun sayang di tengah jalan menuju jalan tol, wanita tersebut melompat dari mobil dan berakhir tertabrak mobil milik Jessica yang ditumpangi Zahra dan juga Pak Rahmat.
Dan hari itu mereka tidak tahu bahwa sebenarnya Zahra berhasil menyelamatkan wanita itu. dan sekarang wanita sudah aman berada dalam penjagaan anak buah Lu Chen.
***
__ADS_1
Keesokkan Harinya
Lokasi Syuting Drama Lu Chen
“Lu, apa yang akan kamu lakukan pada wanita itu?.” (bahasa mandarin) Tanya Xiao Feng.
“Aku akan menginterogasinya sama seperti sipir itu.” (bahasa mandarin) Tegas Lu Chen.
“Bagaimana wanita sekarang?.” (bahasa mandarin) Tanya Xiao Feng kembali.
“Ia sudah berada dalam pengawasan anak buahku.” (bahasa mandarin) Jawab Lu Chen.
“Lu, apa kamu yakin dengan keputusanmu?. Kau tahu bagaimana sejarah kakekmu dulu?.” (bahasa mandarin) Tanya Xiao Feng yang mulai khawatir dengan Lu Chen.
“Aku hanya ingin melindungi orang-orang di sekitarku. Dan untuk saat ini aku sedang tidak ingin memikirkannya.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang tak mau ambil pusing dengan pertanyaan Xiao Feng dan memilih untuk fokus kembali dengan naskahnya.
“Lu, apa kau ingat kerabat jauh kakekmu yang tinggal di prancis?.” (bahasa mandarin) Tanya Xiao Feng.
“Lelaki berkumis tebal dengan aura luar biasanya, dia mirip sekali dengan kakekmu!. Waktu itu kita masih SMA, aku hampir saja salah mengenalinya sebagai kakekmu.” (bahasa mandarin) Ungkap Xiao Feng mengingatkan lelaki berkumis yang disebut-sebut sebagai kerabat dekat Mr. Zao Lu, kakek Lu Chen.
Lu Chen mencoba mengingat siapa lelaki yang dimaksud Xiao Feng, dan seketika ia teringat dengan seseorang yang muncul saat ulang tahun Mr. Zao Lu di Beijing 8 tahun yang lalu.
Lelaki dengan kumis tebal dan berwajah tampan dan memiliki aura kuat persis seperti Kakeknya Mr. Zao Lu. Lelaki itu datang untuk menghadiri pesta ulang tahun Kakeknya saat itu. Dan ia menghadiahkan sebuah villa mewah kepada kakeknya di sebuah pulau terpencil di semenanjung Hawai yang sampai saat ini belum pernah di lihat oleh Lu Chen, padahal sepeninggal kakeknya Villa itu jatuh ke tangan Lu Chen.
“Ku dengar ia merupakan ketua mafia di negaranya, dan anak buah kakekmu juga tunduk kepadanya.” (bahasa mandarin) Ucap Xiao Feng.
“Apa maksud dari perkataanmu ini Xiao Feng?.” (bahasa mandarin) Tanya Lu Chen.
“Maksudku, mengapa kau tak mencoba untuk mencari dirinya dan meminta bantuan?.” (bahasa mandarin) Ide Xiao Feng yang seperti angin segar bagi Lu Chen.
__ADS_1
“Benar juga!. Tapi masalahnya aku tak memiliki kontaknya.” (bahasa mandarin) Jawab Lu Chen yang seketika kembali lesu.
Lu Chen tidak mengenal jelas kerabat jauh kakeknya itu bahkan namanya saja ia tak tahu. Yang dirinya tahu lelaki itu adalah rekan kerjanya saat sama-sama masih dalam dunia gelap. Di saat Mr. Zao Lu memutuskan untuk pensiun dari dunia itu, justru kerabatnya itu semakin memperluas jaringannya hingga ke negara Eropa. Bahkan sejak 12 tahun yang lalu dirinya sudah resmi menjadi warga negara Prancis dan sudah jarang kembali ke Beijing, kecuali saat Mr. Zao Lu memanggilnya. Dan sepertinya kematian Mr. Zao Lu belum sampai ke telinga nya sampai saat ini.
Lu Chen mencoba mencari cara untuk mendapatkan informasi tentang lelaki tersebut, dan sepertinya ia sudah memiliki cara untuk mendapatkannya.
***
Zahra hari itu memilih untuk bekerja dari rumah karena dirinya tak diperbolehkan untuk keluar Mansion oleh Lu Chen. Sejak kejadian berbahaya yang bertubi-tubi di alami Mr. Feng, membuat Zahra di awasi ketat oleh Lu Chen dan Jessica saat ini.
Selagi Zahra yang tak dapat ke kantor, Jessica pun menggantikannya untuk mengisi posisi Zahra sementara. Dengan tetap melaporkan setiap detail kepada Zahra, agar Zahra tetap tahu perkembangan yang ada di sana.
Namun tiba-tiba suara telepon menganggu konsentrasi Zahra saat itu, yang tengah sibuk dengan rancangannya.
“Halo!.” (bahasa inggris) Sapa Zahra pada seseorang di sebrang telponnya.
“Halo, ini dengan Nona Zahra?.” (bahasa inggris) Tanya orang tersebut yang terdengar seperti suara laki-laki.
“Iya, saya Zahra. (bahasa inggris) jawab Zahra.
“Maaf saya, petugas penyidik dari kepolisian Beijing. Ingin memberitahukan bahwa wanita yang anda selamatkan sudah siuman, dan kami minta partisipasi anda untuk membantu mewawancarainya.” (bahasa inggris) Pinta petugas penyidik tersebut kepada Zahra.
“Tapi saya tidak bisa keluar rumah saat ini.” (bahasa inggris) Ucap Zahra.
“Maaf Nona, ini penting sekali. Karena kehadiran Nona sebagai saksi dapat membuat pekerjaan kami lebih cepat terselesaikan. Saya mohon Nona!.” (bahasa inggris) Pinta petugas kepolisian tersebut.
“Baiklah saya akan usahakan, tapi sebelum itu saya harus berunding dulu dengan teman saya. Nanti akan saya kabarkan kembali.” (bahasa inggris) Ucap Zahra.
Dan Zahra pun memutuskan sambungan telepon dari petugas penyidik tersebut. Zahra merasa tidak enak untuk menolak permintaan petugas penyidik tersebut. Namun ia juga tak ingin melanggar amanat yang sudah diberikan Lu Chen kepadanya. Tapi ia harus membantu petugas tersebut sebagai saksi, untuk itu ia harus mendiskusikan hal tersebut bersama dengan Lu Chen dan juga Jessica.
__ADS_1
Dan untung saja Lu Chen maupun Jessica mengizinkannya untuk menemui petugas dan korban tersebut di Rumah Sakit. Namun dengan syarat Jessica ikut menemaninya ke sana, dan mereka pun berangkat sore harinya.