
“Tet!. Tet!.” Suara bel yang terdengar dari apartemen Robby.
Robby melihat Amber di balik pintu melalui camera intercomm-nya. Dan iapun membukakan pintu tersebut.
“Hai Amber!. Ada apa kemari?.” Tanya Robby pada Amber.
“Tidak, aku hanya ingin berkunjung.” Jawab Amber sambil memandangi apartemen Robby.
“Ternyata di Jakarta kamu tinggal di apartemen sederhana ini?.” Ucap Amber sambil bersedekap.
“Hhmm ya, begitulah. Di sini aku membuang statusku sebagai anak orang kaya. Seperti yang kamu tahu sebelumnya aku adalah seorang fotografer.” Ucap Robby sambil mengangkat sedikit bahunya.
“Kau memang penipu, Rob!.” Amber yang tiba-tiba membulatkan matanya ke arah Robby.
“Maksudmu?.” Tanya Robby yang bingung dengan perkataan Amber.
“Ya!. Kita sudah kenal lebih dari setahun tapi kamu tidak jujur padaku?. Dan kenapa Zahra duluan yang tahu?.” Tanya Amber kembali masih dengan tatapan menilisiknya.
“Yah, tak perlu aku jelaskan Amber kamu sudah tahu alasannya.” Jawab Robby yang tak ingin menjelaskan lebih jauh.
“Ya!. Ya!. Zahra dan Zahra lagi!. Aku tahu!. Hhmm tapi kau juga harus tahu, bahwa Zahra sudah milik Lu Chen!.” Tegas Amber yang tak ingin lagi Robby berharap kepada Zahra.
“HHmm ya aku sangat tahu itu. Mau bagaimana lagi hati ini tak dapat berbohong, aku sudah coba melupakannya. Bahkan aku mencari kesibukkan untuk melupakannya, tapi tetap saja tidak bisa.” Jawab Robby yang mulai frustasi dengan kenyataan itu.
“Heh!. Mungkin ini gila tapi aku tetap berharap suatu hari Zahra sadar akan kehadiranku.” Ucap Robby sambil memijat dahinya dan tersenyum miris.
“Sudah!. Sudah!. Hari ini aku mau ajak kamu ke suatu tempat!. Pasti kamu bakal suka!. Ok?.” Ajak Amber kepada Robby.
“Ok!. Kebetulan aku sedang tidak ada jadwal hari ini. Tunggulah!. Aku bersiap-siap dulu!.” Pinta Robby agar Amber menunggunya berganti pakaian.
“Bawa baju olahraga karena kita akan membakar kalori!.” Teriak Amber.
“Apa kita akan berolahraga?.” Teriak Robby dari kamarnya.
“Bukan hanya sekedar olah raga.” Jawab Amber masih dengan teriakkan karena jarak antara kamar dan ruang tamu Robby lumayan jauh.
***
Rumah Zahra
__ADS_1
Zahra meraih sebotol air minum yang ada di kulkas, iapun mulai menuang air itu ke dalam gelasnya. Namun tangan Zahra terlihat gemetar memegang gelas tersebut, Zahrapun tak tahu mengapa tangannya itu tiba-tiba gemetaran. Ia berpikir, Apa akibat mimpi yang dialaminya?. Sepertinya ia harus menjernihkan pikirannya kembali.
Iapun teringat janjinya dengan Robby.
“Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menepati janjiku padanya.” Bathin Zahra.
Dan Zahrapun mulai mencari ponselnya di dalam kamar dan mulai mengetikkan sebuah pesan untuk Robby.
Pengirim : Zahra
Pesan:
“Hey Rob!. Apa kamu sibuk?. Hari ini bisa luangkan waktu?.”
Selang beberapa menit kemudian Zahrapun menerima balasan dari Robby.
Pengirim : Robby
Pesan :
“Tidak sama sekali!. Hari ini aku bersama Amber sedang di Sasana. Kabarnya kalian sering menghabiskan waktu di sini. Kemarilah!. Lumayan bisa mendapat tambahan lawan. Hehe!.”
Zahra yang melihat menjadi bersemangat, karena sudah lama dirinya tidak berlatih beladiri. Sepertinya hal ini sangat tepat untuk melepaskan penat. Dan tak lama Zahrapun membalas pesan dari Robby.
Pengirim : Zahra
Pesan :
Zahrapun langsung menenggak minumannya hingga habis dan langsung bersiap-siap pergi menemui Robby dan juga Amber.
***
Di lobby Light Entertainment sudah dipenuhi para pemburu berita, terlihat sebuah mobil mewah masuk ke dalam lobby tersebut. Mobil tersebut adalah mobil Aaron Lu pemilik Light Entertainment. Begitu Aaron Lu keluar dari mobilnya, para pemburu berita langsung menodongkan hand mic dan mengarahkan kamera kepadanya. Mereka sangat ingin tahu klarifikasi dari berita yang santer beredar mengenai Lu Chen dengan kekasih asal Indonesianya.
Aaronpun tak ingin mengklarifikasi apapun mengenai hal tersebut, ia tetap berjalan lurus ke depan dengan ditemani beberapa asisten dan juga bodyguardnya masuk ke dalam perusahaan.
Di sisi lain terlihat Xiao Feng yang sedang menatap kesal kepada seseorang di hadapannya. Siapa lagi kalau bukan Lu Chen yang selalu membuat hari-harinya berwarna. Bukan berwarna karena kebahagiaan, melainkan berwarna karena banyaknya skandal yang harus dia urus karena orang dihadapannya.
Xiao Feng harus terpenjara bersama Lu Chen karena hal tersebut, hingga kini ia harus membuntuti Lu Chen sampai ke ruangan kerjanya.
__ADS_1
“Apa kamu bahagia, Lu?.” (bahasa mandarin) Tanya Xiao Feng yang muak dengan sikap Lu Chen yang seolah-olah tidak terjadi apapun. Padahal di luar kantor ia tengah menjadi mangsa wartawan.
“Hhmm... begitulah!.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang masih asik bermain dengan gadgetnya.
Tiba-tiba saja.
“BRaakkK!!.”
Suara pintu dibuka paksa. Ternyata Aaron Lu yang masuk tanpa permisi ke ruangan Lu Chen seperti biasanya.
“Lu, apa kau tidak ingin menyelesaikan masalahmu?. Kau tidak lihat wartawan di bawah sana?.” (bahasa mandarin) Aaron yang menatap Lu Chen dengan mata nyalangnya.
“Baiklah!. Aku akan mengaku pada mereka semua kalau benar itu pacarku. Lagipula aku sudah lelah dengan semua drama ini.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang menghentikan kegiatan bermain gamenya dan mulai memiliki ide gila.
“Kau gila!. Apa semudah itu Lu?.” (bahasa mandarin) Aaron yang bersedekap dan mengetukkan jari telunjuk di kepalanya, tanda Lu Chen harus berpikir sebelum bertindak.
“HaissHh!. Apa kau punya cara lain Paman?. Aku sungguh lelah!.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang mulai kehabisan energi dan pikirannya.
“Aku sarankan bawalah serta Sunny partnermu dalam drama ini.” (bahasa mandarin) Ide Aaron yang ingin Sunny terlibat.
Aaron berpikir untuk memplotting skenario menjadi kedekatan Lu Chen bersama Sunny Chen dalam duet terbarunya.
“Pertama-tama pihak kita akan membantah gosip tersebut, dan angkat berita kedekatan dirimu dengan Sunny Chen. Ini dapat membuat single kalian yang akan di rilis menjadi laris dan booming di pasaran. Bagaimana?.” (bahasa mandarin) Tanya Aaron yang mulai merancang skenario dengan teratur.
“Tapi apa Sunny akan setuju dengan ini?.” (bahasa mandarin) Tanya Xiao Feng yang sedikit ragu dengan ide bosnya.
“Pasti dia akan setuju, apalagi hal ini dapat membuat karirnya menjadi semakin menanjak. Sudah percayakan saja padaku!.” (bahasa mandarin) Pinta Aaron yang yakin akan keputusannya.
“Tapi Paman, itu akan merugikan Sunny. Paman tahu konsekuensinya?.” (bahasa mandarin) Ucap Lu Chen yang tak ingin kejadian dulu terulang kembali pada Sunny.
“Kamu tenang saja, aku akan memperketat keamanan untuk dirinya. Hingga tak akan ada seekor lalatpun yang dapat mengusiknya.” (bahasa mandarin) Ucap Aaron meyakinkan Xiao Feng dan Lu Chen.
"Tapi alangkah lebih baik bila kita memberitahu Sunny terlebih dahulu tentang hal ini." Pinta Lu Chen yang tak ingin Sunny salah paham.
Setelah ditimbang kembali akhirnya Xiao Feng dan Lu Chen menerima ide Aaron untuk melibatkan Sunny dalam skenario mereka.
Dan kemudian merekapun merembukkan hal itu kepada Sunny Chen. Meski awalnya Sunny menolak rencana ini, karena hutang budi dirinya kepada Lu Chen, iapun akhirnya setuju.
__ADS_1
Author
Apakah rencana mereka berhasil?