
Di Penjara Beijing
“Buka pintunya!.” (bahasa mandarin) Pinta seorang Sipir penjara yang bertugas untuk memberi makan tahanan.
“JeGreKK!.” Suara pintu penjara dibuka.
“GreKK!. GreEkk!." Suara trolly makanan yang melalui lorong penjara.
Sipir tersebut memberikan makanan kepada semua tahanan yang ada. Dan langkahnya berhenti di salah satu sel penjara di mana para penculik Zahra di tahan.
“Akhirnya makanan kita datang juga!.” (bahasa mandarin) Ucap salah satu penculik tersebut. Sipir penjara itu memberikan makanan melalui sela sel yang ada di bagian bawah, dan para penculik itu menarik makanan-makanan mereka seperti orang yang kelaparan.
***
“Ada apa dengan wajahmu?.” Tanya Zahra kepada Lu Chen yang terlihat memiliki memar di wajahnya.
“Tidak, aku hanya sedikit terbentur dinding saat di parkiran tadi.” Jawab Lu Chen yang mencoba menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya habis bertengkar hebat dengan Robby.
“Rasanya aneh melihatmu ceroboh seperti itu Lu. Kamu tahu itu agak sedikit aneh, cerita apa sebenarnya yang terjadi!.. Tolong jangan kamu sembunyikan!.” Sembari menatap manik mata Lu Chen mencoba mendeteksi kebohongan di dalamnya.
“Ah!. Ternyata kamu sangat mengenalku. Baiklah aku akan berkata jujur, tadi aku sempat bertemu Robby di parkiran. Dan aku dihajar olehnya.” Senyum Lu Chen mengiringi setiap ucapannya agar Zahra tak begitu mengkhawatirkannya.
“Bagaimana bisa?. Apa yang kalian ributkan?. Bukan karena aku kan?.” Tanya Zahra masih dengan tatapan menelisiknya.
“Ya, kamu benar kami bertengkar karena dirimu, walaupun ada banyak darinya yang benar bahwa aku tidak menjagamu dengan baik. Aku telah gagal.” Seketika wajah Lu Chen berubah jadi muram mengingat pertengkarannya dengan Robby.
“Sayang, cukup!. Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi!. Aku sudah bilang dari awal kamu sudah berusaha, dan kamu juga tahu kalau aku tidak selemah itu.” Zahra kemudian memeluk Lu Chen agar dirinya tidak lagi memikirkan perkataan Robby.
“Aku tidak peduli Robby mengkhawatirkan ku atau tidak?. Dan yang sekarang aku hanya membutuhkanmu!. Lihat aku!. Adakah kebohongan di mataku ini?.” Zahra yang mengarahkan mata Lu Chen agar menatap dirinya.
“Ya!. Aku sangat percaya hal itu, hanya saja aku masih belum bisa memaafkan diriku yang membuatmu diculik dan lagi hari ini kamu mendapatkan musibah seperti ini. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa?. Masih sedikit bukti yang aku dapatkan dan itu semua belum cukup untuk menjerat pelaku.” Lu Chen yang kembali dengan wajah suramnya, merenungkan seluruh kejadian yang terjadi kepada Zahra kekasihnya.
__ADS_1
Dan malam itu Lu Chen mengantar Zahra hingga ke Mansion Jessica, Lu Chen sudah tidak menginap di Mansion Jessica karena ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda selama mengurus kasus Zahra.
Walaupun sebenarnya ia ingin segera mengikat Zahra dengan ikatan pernikahan agar dirinya tidak perlu berjauhan dengan Zahra. Namun keadaan yang tidak memungkinkan untuk mereka melakukan itu. Tentu saja restu sangat penting untuk sebuah pernikahan, apalagi untuk masa depan yang mereka inginkan.
Zahra berharap kasus ini kelar secepatnya tanpa ada hambatan yang tak berarti. Dan juga kontraknya dalam beberapa bulan ke depan akan segera berakhir yang sebenarnya masih tersisa satu tahun lagi, tapi Zahra memilih mempercepat kontrak dengan GG Group sehingga dirinya bisa cepat pulang ke Jakarta.
***
Perusahaan JF Group Cabang Beijing
“Robby!.” Panggil Nyonya Summer kepada anaknya Robby.
Robby yang terlihat sibuk dengan beberapa dokumen pentingnya memilih tak mempedulikan panggilan Mommy nya itu.
“Robby!. Kamu sudah berani acuh sama Mommy ya!.” (bahasa mandarin) Nyonya Summer yang kemudian menggebrak meja Robby.
Namun Robby tetap tidak beraksi atas sikap Nyonya Summer. Nyonya Summer pun menarik dokumen-dokumen yang tengah di tanda tangani oleh Robby untuk menarik perhatiannya.
“Bisa-bisanya kamu datang ke Beijing tanpa sepengetahuan Mommy?.” (bahasa mandarin) Ucap Nyonya Summer dengan nada tingginya.
“Robby kan udah biasa seperti itu My!. Lagian ada apa sih Mommy ke sini!. Robby lagi sibuk My!.” (bahasa mandarin) Robby yang menarik kembali dokumen yang ada di tangan mommy nya dan mulai melanjutkan pekerjaannya kembali.
“Robby!. Kamu tahu Jackson sedang mencari seorang penerus!. Dan ia sudah mulai percaya dengan dirimu!. Bisa-bisanya kamu meninggalkannya di saat-saat yang penting seperti ini?.” (bahasa mandarin) Ucap Nyonya yang lagi-lagi tak di pedulikan oleh Robby.
“Apa karena wanita rendahan itu?.” (bahasa mandarin) Ucapan Nyonya Summer yang langsung membuat Robby geram.
“BrAakk!. Cukup My!.” (bahasa mandarin) Gebrakan meja sekaligus teriakkan Robby yang membuat Nyonya Summer membulatkan matanya.
“Tak bisakah Mommy memberiku ketenangan walau hanya sekejap?. Bisakah Mommy membiarkan aku menjalani kehidupan atas pilihanku sendiri?. Robby capek My!.” (bahasa mandarin) Robby yang mulai meneteskan air matanya di hadapan Nyonya Summer.
Saat itu pertama kalinya Nyonya Summer melihat genangan air mata yang keluar dari mata anak semata wayangnya. Karena selama ini Robby tak pernah sedikitpun memperlihatkan rasa sedihnya di hadapan Mommy nya itu.
__ADS_1
Nyonya Summer seketika membisu melihat anaknya yang mulai menangis sesenggukan. Ia sadar bahwa selama ini dirinya tak pernah menjadi sosok Ibu yang hangat terhadap anaknya, ia hanya bisa menuntut anaknya agar selalu sempurna di matanya. Karena selama ini Nyonya Summer selalu menganggap dirinya sebagai seorang korban yang harus melahirkan anak yang merupakan aib dari keluarga.
Ia merasa dirinya dipandang rendah oleh keluarganya sendiri karena lahir sebagai anak haram dan juga berakhir memiliki anak haram. Robby lah anak haram yang dilahirkan oleh Mommy nya, dan sejak kecil Robby tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Ia dibesarkan oleh pelayan keluarga. Dan Robby selalu melihat Ibunya itu pulang dengan mabuk-mabukkan dan menangis meraung-raung dikamar nya seperti orang gila.
Dari situlah Robby bertekad untuk membahagiakan Mommy nya dengan apapun itu. Namun sikapnya yang selalu luluh di depan Mommy nya menjadikan dirinya sebagai pion untuk mewujudkan obsesi dari Mommy nya itu. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Zahra yang membangkitkan keinginan terpendam yang selama ini tak pernah dimilikinya.
Dan sejak saat itupun hati Robby mulai menentang Mommy nya, ia ingin memiliki keinginan sendiri. Namun yang ada Mommy nya semakin menekannya. Hingga akhirnya Robby tak dapat menahannya lagi, ia harus melepaskan semua yang ia pendam selama ini. Kalau sebenarnya dirinya adalah anak yang berharga dan suci, bukan seorang anak haram yang merupakan aib keluarga. Apa salahnya kalau ia lahir tanpa seorang Ayah?. Dan itu bukanlah kesalahannya, ia pun menyalahkan Nyonya Summer yang tidak bisa menjaga dirinya hingga ia harus hamil di luar nikah.
Nyonya Summer tak tahu harus berkata apalagi?. Robby seperti meledak saat itu, ia sudah tak ingin dikurung oleh sangkar emas yang dibangun oleh Mommy nya. Ia ingin sepenuhnya menjadi pribadi yang bebas, yang bisa mengutarakan pendapat sesuai keinginannya.
Nyonya Summer merasa bersalah atas sikapnya selama ini, ia berusaha meminta maaf atas perbuatannya kepada Robby. Namun yang ada Robby malah pergi dari kantor entah ke mana saat itu.
***
“Buka Pintu!.” (bahasa mandarin) Pinta seorang sipir penjara yang ingin memasuki sel tahanan untuk mengecek kondisi.
Saat itu sudah masuk jam 12 malam, dan lorong penjara terlihat sunyi dan sepi seperti tak berpenghuni saja. Sipir itu pun menyalakan lampu senternya untuk memeriksa masuk ke sel tahanan tersebut, karena beberapa penerangan yang ada di sana tidak berfungsi. Selangkah demi selangkah ia mengecek setiap sel tahanan yang ada. Rata-rata dari mereka sedang tertidur di dalam tahanan dengan pulas nya.
Hingga ia berhenti di sebuah sel tahanan yang terlihat sedikit mencurigakan.
“PraNKK!!.” Terdengar suara piring terjatuh dan tak lama keluar beberapa tikus besar dari sel tahanan itu.
“Ini sangat aneh, padahal sel tahanan ini memiliki beberapa penghuni di dalamnya?. Kenapa bisa ada tikus berkeliaran?.” (bahasa mandarin) Gumam sipir itu yang kemudian mengarahkan lampu senternya ke dalam sel tahanan.
Dan pemandangan yang dilihatnya sungguh sangat menyeramkan. Terlihat empat orang tahanan sudah terkapar tak bernyawa dengan mata yang melotot dan mulut yang mengeluarkan busa. Dan mereka tampak sedang digerogoti oleh tikus yang keluar dari lubang got yang ada di dekat sel.
“AARGgHH!!.” Suara sipir tersebut yang tak bisa menahan diri melihat kejadian yang mengerikan di hadapannya.
***
Bersambung
__ADS_1