Cowok Cantik Milik Zahra

Cowok Cantik Milik Zahra
Lagu Untuk Kekasihku


__ADS_3

Di backstage Sunny menemani Zahra sambil melakukan sedikit peregangan otot, hal yang selalu dilakukannya sebelum menaiki panggung.


“Apa kamu biasa melakukan itu?.” Tanya Zahra kepada Sunny.


“Yah, ini sangat membantuku agar tidak tegang. Karena terkadang aku sering kehilangan suara saat diriku tegang di panggung. Kau tahu itu sangat memalukan bagi seorang Penyanyi.” Ucap Sunny yang menunjukkan kalau ia adalah penyanyi profesional.


“Zahra, apa kamu tahu sesuatu?. Lagu duet yang aku nyanyikan dengan Lu Chen itu diciptakan khusus untukmu.” Ungkap Sunny yang membongkar rahasia Lu Chen.


“Oh ya?.” Zahra yang terkejut dengan perkataan Sunny, karena Zahra yang tidak mengerti bahasa mandarin itu tidak pernah memperhatikan lirik lagu yang dinyanyikan Lu Chen sehingga ia tidak pernah tahu arti dari lagunya.


“Oh ya ampunnn!. Apa aku membocorkannya?. Kupikir Lu Chen sudah memberitahumu?. Oh maafkan aku, bagaimana ini?.” Sunny yang merasa bersalah karena kejutan Lu Chen telah ia bongkar.


“Tidak apa-apa, anggap saja kamu tak pernah mengungkapkannya. Karena akupun akan berpura-pura tidak tahu.” Zahra yang berkata sambil mengedipkan matanya ke arah Sunny.


“Oh baiklah Zahra, kamu memang wanita yang pengertian!. Coba saja kamu searching di Gu-gle artinya, kamu akan tahu. Aku saja yang menyanyikannya sangat terharu. Andai saja kekasihku nanti menuliskan sebuah lagu untukku. Hatiku pasti… sangat bahagia.” Sunny yang berkata kepada Zahra dengan mata yang berkaca-kaca membayangkannya.


Untung saja mereka berdua berbicara dengan bahasa Indonesia sehingga orang-orang yang berlalu lalang tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Dan Lu Chenpun akhirnya selesai dengan GRnya dan merekapun kembali ke ruangan.


“Lu, aku akan segera kembali!. Aku harus mengurus kontrakmu dengan orang talent. Nona Zahra, aku titip Lu Chen!.” (bahasa mandarin) 


“Dia bilang apa?.” Tanya Zahra kepada Lu Chen.


“Dia bilang habiskanlah waktu kalian selagi bisa!.” Lu Chen yang berbohong untuk mengerjai kekasihnya itu.


“Kamu pasti berbohong!. Aku tahu Bo tidak mungkin mengatakan itu.” Kesal Zahra yang langsung menghadiahkan Lu Chen cubitan mautnya.


Dan Lu Chenpun tak segan-segan menyambar bibir Zahra karena itu, hingga membuat wajah Zahra lagi-lagi memerah. Karena sempat-sempatnya di tempat seperti itu Lu Chen mengambil kesempatan. Dan Zahrapun akhirnya memberi cubitan mautnya kembali kepada Lu Chen, hingga Lu Chen tak dapat menahan rasa sakitnya dan memilih menyerah.


***


Di Mansion Mr. Feng


PRankk!!


Suara benda dibanting


“Ada apa?.” (bahasa mandarin) Tanya Nyonya Feng kepada pelayan yang ada di depan pintu kamar Jia Li.


“Nona menolak makan lagi, Nyonya. (bahasa mandarin) Jawab pelayan itu sambil memperlihatkan wajah ketakutannya.

__ADS_1


“Sudah berapa lama?.” (bahasa mandarin) Tanya Nyonya Feng kembali.


“Baru saja, Nyonya. (bahasa mandarin) Jawab kembali si pelayan.


“Baiklah!. Biar saya yang urus. Kalian pergilah!.” (bahasa mandarin) Nyonya Fengpun kemudian meraih handle pintu lalu membukanya perlahan.


Di kamar itu tampak berantakan, piring beserta lauk pauk berserakan di dekat tempat tidur milik Jia Li. Jia Li terlihat meringkuk sambil menangis. Nyonya Fengpun mendekati putri tirinya itu yang berada di bawah tempat tidurnya.


“Tenanglah!. Semua sudah berakhir!. Kau sudah bebas sekarang.” (bahasa mandarin) Ungkap Nyonya Feng yang memberitahu soal keputusan daddynya.


“Mau apa kau kemari?.” (bahasa mandarin) Kesal Jia Li yang tak ingin Nyonya Feng ikut campur urusannya.


“Aku tahu kau tersiksa. Aku memohon kepada daddymu untuk membebaskanmu segera. Apa kau senang?.” (bahasa mandarin) Ucap Nyonya Feng sambil mengusap pucuk kepala Jia Li.


“Minggir kau!. Kau pasti bercanda!. Tidak mungkin daddy secepat itu merubah keputusannya.” (bahasa mandarin) Ucap Jia Li yang tak percaya kata-kata Nyonya Feng.


“Kau bisa bertanya langsung kepada daddymu.” (bahasa mandarin) Ucap Nyonya Feng yang meminta Jia Li untuk menemui daddynya.


Dan Jia Lipun beranjak pergi menuju ruangan Mr. Feng. Sesampainya di ruangan, Jia Lipun langsung mempertanyakan hal tersebut.


“Daddy, apa daddy tidak akan mengurungku lagi?.” (bahasa mandarin) Tanya Jia Li.


“Ya, itu benar.” (bahasa mandarin) Jawab Mr. Feng yang langsung berdiri dari kursi melihat kedatangan Jia Li.


“Benar, tapi aku akan tetap mengawasimu dan bila kau tak juga berubah. Aku tak akan memberikan kesempatan ke dua.” (bahasa mandarin) Tegas Mr. Feng kepada putrinya itu.


“Berterima kasihlah kepada Mommymu!. Karena dia yang memohon kepadaku untuk membebaskanmu!.” (bahasa mandarin) Pinta Mr. Feng.


“Tidak perlu sayang!. Ini adalah tugas seorang Ibu kepada anaknya.” (bahasa mandarin) Ucap Nyonya Feng dengan wajah sendunya.


Dan Jia Lipun memeluk daddynya dan tangispun pecah di ruangan itu.


“Daddy, terima kasih.” (bahasa mandarin) Jia Li menghujani peluk dan cium kepada Mr. Feng.


Dan Jia Lipun akhirnya memeluk Mommynya itu dengan wajah sedih dibuat-buatnya karena dia harus bersikap seolah-olah ibu dan anak yang saling menyayangi di depan daddynya. Lalu Jia Li memasang tatapan bencinya kembali terhadap Nyonya Feng dan pergi dari ruangan tersebut.


***


Selepas mengisi acara di stasiun TV, Lu Chen beserta Zahra kembali menuju apartemen. Di sepanjang perjalanan Lu Chen menggenggam erat jemari Zahra dan enggan untuk melepasnya. Lu Chen tak malu-malu menunjukkan hubungannya itu dengan Bo manajer barunya dan untungnya Bo bersikap professional dan memilih tak bertanya soal itu.

__ADS_1


“Bunga, apa kamu tahu arti lagu yang ku nyanyikan?.” Tanya Lu Chen kepada Zahra.


“Tahu.” Jawab Zahra yang membuat Lu Chen terkejut akan perkataannya.


“Darimana kamu tahu?. Sedang aku baru memberitahumu?.” Lu Chen yang bingung dengan ungkapan Zahra.


“Dari internet, nih!.” Zahra yang memperlihatkan lirik lagu yang sudah di translate dengan bahasa inggris di dalamnya.


“Oh dan apa kamu tahu lirik itu kutujukan untuk siapa?.” Tanya Lu Chen kembali.


“Siapa memang?.” Zahra yang pura-pura tidak tahu dengan jawabannya.


“Ya tentu saja untuk kekasihku, yaitu kamu Bunga.” Lu Chen yang kemudian memeluk dan mengecup bibir Zahra seketika.


“Sayang kamu tak lihat di sini masih ada Bo?. Tak bisakah kamu sedikit menjaga imagemu?.” Kesal Zahra yang sulit mengendalikan Lu Chen yang sudah seperti Soang.


“Bo, apa kau keberatan dengan aku yang bermesraan?.” (bahasa mandarin) Teriak Lu Chen dari balik kemudi Bo.


“Lakukanlah sesuka hatimu!. Aku akan berpura-pura tidak melihat apapun!.” (bahasa mandarin) Jawab Bo.


“Dengarlah!. Dia tidak keberatan dengan itu.” Lu Chen yang lagi-lagi memeluk dan mencium Zahra semaunya di dalam Van.


Sesampainya di apartemen Lu Chen, Zahra langsung merapihkan barang-barangnya untuk dipindahkan ke mansion Jessica.


“Tidak bisakah kamu tinggal di sini bersamaku?.” Tanya Lu Chen sembari memeluk pinggang Zahra.


“Lu, kita ini bukanlah pasangan suami istri. Bagaimana kata orang tuaku nanti?.” Jawab Zahra yang ingin menghormati ke dua orang tuanya.


“Kalau kamu tinggal di mansion Jessica, kamu hanya menganggu mereka saja sayang. Mereka itu sedang bulan madu ke dua. Lebih baik kamu tinggal di sini bersamaku, aku janji tidak akan berlaku macam-macam kepadamu!.” Lu Chen yang mengacungkan dua jarinya ke atas tanda janji darinya.


“HHmm apa kamu yakin?. Kemarin saja kamu sudah berani memasuki kamarku tanpa izin. Apa kamu yakin bisa menahannya?.” Ucap Zahra yang memang benar adanya.


“Apa kita menikah saja secepatnya?. Kita tinggal melakukannya di catatan sipil.” Pinta Lu Chen sembari meraih ke dua tangan Zahra.


“Sayang, mansion jessica itu luas. Aku tak mungkin berseberangan langsung dengan kamar mereka. Dan lagi Jiazhen sering pergi ke luar kota, Jessicapun sering ikut bersamanya. Jadi bisa dibilang aku tak mungkin mengganggu mereka dengan kehadiranku. Lagipula aku tidak akan lama di Beijing, setelah kontrakku selesai aku akan pulang ke Indonesia.” Ucapan Zahra yang seketika membuat Lu Chen menjadi sedih.


“Kamu tidak memiliki niat sedikitpun untuk tinggal bersamaku di Beijing?.” Lu Chen yang masih dengan wajah sendunya menatap mata Zahra.


“Bukan begitu, kita tidak akan tahu hubungan kita bagaimana ke depannya?. Akupun sangat mengharapkan hal itu sayang, tapi ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di Indonesia. Kamu tahu aku memiliki perusahaan yang harus ku kelola di sana. Aku janji akan ada banyak cara untuk kita bersama. Percayalah!.” Ucap Zahra meyakinkan kekasihnya itu.

__ADS_1


Lu Chen ingin kekasihnya Zahra bersama dengannya di Beijing, tapi apa daya kekasihnya itu adalah warga negara Indonesia dan memiliki keluarga dan usaha di sana. Ia tak bisa mementingkan keegoisannya hanya untuk memiliki Zahra.


Iapun memilih mengalah dan tetap menjalankan hubungan LDR terhadap Zahra walapun sangat sulit ia jalani.


__ADS_2