
Paris 1 tahun kemudian
POV Zahra
Hari itu aku menjadi salah satu pembicara di sekolah mode yang ada di Paris, dengan berbekal ilmu pengetahuan yang telah aku jalani selama di negeri sendiri. Aku memperkenalkan pentingnya budaya Indonesia dalam dunia fashion di Indonesia.
Aku memperkenalkan beberapa motif yang terkenal di Indonesia, seperti batik, kain songket, dan kain tenun yang terkenal di Indonesia. Aku saat ini sedang menjalani study Fashion di salah satu sekolah design yang terkenal di sana.
Aku memilih program master untuk jurusan design selama 2 tahun, dan selama itu pun aku harus tinggal jauh dari Jason, suami ku. Selama tinggal di sini aku tinggal di apartemen yang disediakan oleh Ibu mertua ku, Jiang Xi. Dan apartemen itu sekaligus rumah dinas ku selama mengurus perusahaan yang ada di Prancis.
Awalnya sangat sulit beradaptasi di lingkungan yang asing bagi ku. Terutama kendala dalam bahasa, aku tidak menguasai bahasa Prancis. Selama pendidikan aku lebih sering menggunakan Bahasa Inggris dibanding Bahasa Prancis, karena agak sulit menguasainya dalam waktu yang singkat. Untung saja itu tidak menjadikan ku kendala, karena Bahasa Inggris merupakan bahasa kedua mereka di sini.
Kali ini aku terpilih sebagai perwakilan dari para mahasiswi Indonesia sebagai pembicara. Dan aku pun berhasil menyelesaikan presentasi ku dengan baik tanpa adanya kendala yang berarti. Akhirnya setelah sekian lama, aku berhasil meningkatkan kemampuan presentasi ku.
Bangga?. Ya, aku bangga karena pada akhirnya aku bisa naik level. Dan setidaknya aku bisa membuat bangga keluarga ku.
Hari itu aku pulang dengan perasaan bahagia, pasalnya hari ini adalah hari di mana Jason akan mengunjungi ku di Paris. Namun sampai aku selesai melakukan presentasi, ia tak kunjung menghubungi ku.
“Apa mungkin dia sedang sibuk?. Jadi hari ini menunda kepergiannya?.” Pikir ku sambil memperhatikan orang yang berlalu lalang di lobi sekolah ku.
“Zahra!!.” Teriak seseorang yang sangat ku kenal.
Aku melihat Jessica yang memanggil ku dari kejauhan. Jessica yang terlihat dengan perut buncitnya. Ya, Jessica sedang hamil 5 bulan saat ini, beberapa bulan setelah acara pernikahan kami, Jessica memberi kabar bahagia bahwa dirinya tengah hamil. Aku pun ikut merasakan kebahagiaan, pasalnya setelah hampir tiga tahun pernikahan mereka, Jessica belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dan kini ia dan suaminya tengah berbahagia karena sebentar lagi akan diberikan momongan. Aku pun yang melihat kebahagiaan mereka juga ikut merasakannya. Apalagi aku dan Jason juga sudah menjadi sepasang suami istri, pastinya keturunan juga menjadi prioritas kami.
“Apa kabar, sayang?.” Aku yang memeluk Jessica karena saking bahagianya dengan kehadirannya.
“Eits!. Hati-hati donk!. Ada debay di sini!.” Jessica yang menunjuk perutnya yang sudah membuncit itu.
__ADS_1
“Ya ampun!. Apa kabar keponakan Onty?.” Aku berbicara sambil mengusap perut Jessica.
Sekejap aku merasakan pergerakan dari anak yang ada di perutnya.
“Wow!. Rupanya keponakan Onty senang juga ketemu Onty ya?.” Ucap ku dan mengusap perut Jessica kembali.
“Mana Jiazhen?.” Tanya ku pada Jessica.
“Ia sedang ke toko es krim, hari ini aku ingin sekali membeli es krim yang ada di gang sana!.” Ucap Jessica sambil menunjuk ke arah gang yang nyaris tak terlihat dari gerbang kampus, karena jaraknya yang sangat jauh.
“Ya ampun Jess, kamu lagi nyiksa suami mu ya?.” Ucapku.
“Ya namanya juga Bumil, harus dituruti dong permintaannya.” Tegas Jessica yang tak ingin disalahkan.
“Ya Ya Ya!. Terserah kamu saja.” Aku yang tak ingin berdebat lagi dengannya.
Saat itu aku pun melihat Jiazhen yang kewalahan membawa es krim yang banyak di tangannya.
Memang Jessica kalau sudah ingin sesuatu pasti harus dituruti, untung saja pasangannya sangat penyabar seperti Jiazhen.
“Apa Jason akan memperlakukan aku seperti itu juga?. Karena Jason bukanlah tipikal lelaki yang pintar memanjakan wanita. Justru yang ada aku yang dibuat kewalahan karena sikap kekanakannya.” Ucap ku dalam hati yang sangat tahu sifat Jason.
***
Hari itu Jessica dan Jiazhen membawa ku pergi makan malam di Menara Eiffel, sudah lama rasanya aku ingin pergi ke sini bersama dengan suami. Namun karena kesibukan hal itu tidak dapat terwujud, apalagi sekarang aku harus tinggal berjauhan dengan Jason.
“Ra, kamu kenapa kok bengong?.” Tanya Jessica yang melihat ku sedikit muram.
“Tidak, hanya saja aku merasa canggung karena aku terlihat seperti lalat yang mengganggu makan malam kalian.” Ucap ku yang merasa seperti pengganggu diantara Jessica dan suaminya.
__ADS_1
“Kamu kepikiran Jason ya?. Bukannya hari ini kalian janjian?.” Tanya Jessica.
“Iya seharusnya, tapi sampai saat ini ia belum juga menghubungi ku.” Ucap ku sambil memperlihatkan wajah kecewa ku pada mereka berdua.
Tiba-tiba saja suara kembang api menyala di luar Menara Eiffel. Seketika suara riuh di luar restoran, membuat diri ku ikut penasaran, pasalnya hari ini bukan lah tahun baru.
Aku dan Jessica ikut keluar melihat kembang api yang menyala dan aku melihat tulisan "I MISS U" yang ikut menyala beriringan dengan kembang api lainnya, lalu disusul dengan tulisan "ZAHRA" setelah tulisan tersebut.
Aku pun terkejut bukan main, akhirnya aku menyadari siapa yang membuat kembang api itu. Aku pun langsung pergi dan mencari sosok yang ada di baliknya, aku yakin Jason lah yang ada di balik ini semua.
Aku berlari menuju taman yang ada di bawah menara Eiffel, namun aku tak menemukannya.
“Zahra!.” Aku mendengar seorang laki-laki memanggil namaku. Namun lelaki itu ternyata bukan Jason, ia hanya memanggilku karena ingin menyampaikan sebuah surat dari seseorang.
Aku membuka surat tersebut yang di dalam suratnya hanya bertuliskan kata "Maaf". Dan di surat itu tidak terdapat nama pengirimnya. Aku pun kecewa dan kembali ke dalam restoran tempat di mana Jessica dan Jiazhen berada.
“Ra, kamu dari mana aja?.” Jessica yang mengkhawatirkan diri ku yang tiba-tiba menghilang.
Rasanya aku masih yakin bahwa Jason ada di sini, di Paris. Hati ku merasakan kehadirannya, entah bagaimana aku sangat yakin itu. Sampai suara seseorang bernyanyi yang membuat diri ku mengalihkan pandangan ke arah stage yang ada di dalam restoran mewah itu.
Aku melihat sosok yang sangat aku rindukan memainkan piano dan menyanyikan lagu "A Thousand Years" oleh Christina Perri. Saat itu mata ku berkaca-kaca saking bahagianya, melihat suami ku Jason yang bernyanyi untuk diri ku.
Dan begitu lagu selesai ia menghampiri ku dengan membawa hand bouquet mawar merah. Semua mata yang ada di restoran itu semua tertuju pada kami.
Perlakuan romantis Jason yang saat itu membuat ku bahagia sekaligus membuat ku tersipu malu. Aku menutup wajah ku karena terlalu malu, namun Jason tetap menghampiri ku dan mencium kening ku saat itu. Dan seketika semua orang bertepuk tangan meriah untuk kami, ini ke dua kalinya Jason berbuat romantis di hadapan semua orang setelah pengakuannya di konser terakhirnya dulu.
Lalu aku pun memeluknya dan mengucapkan ucapan terima kasih yang tak terhingga karena telah membuat ku bahagia dengan perlakuannya.
“Terima kasih.” Bisik ku di telinga Jason saat itu.
__ADS_1
“Maafkan aku yang tidak bisa datang di presentasi mu, Sayang.” Ucap maaf Jason kepada ku, namun aku merasa ini semua sudah terbayar lunas.