
Kantor Cabang GG Group
Jessica dan Amber berkunjung ke kantor Zahra dalam rangka membantu Zahra untuk menyeleksi model baru GG Group. Terlihat ratusan calon model memenuhi salah satu aula yang ada di GG Group.
Semua calon model telah mencoba memberikan yang terbaik kepada perusahaan. Dan keputusan ada pada Zahra dan tentu saja juga Jiang Xi sebagai bos besar dari GG Group. Sebenarnya hubungan Zahra dengan bos besarnya itu masih tampak berjarak. Karena Zahra berusaha untuk profesional dalam pekerjaannya, jadi untuk berbicara dan menemui Jiang Xi hanya dalam situasi penting saja. Untuk urusan pribadinya dengan Lu Chen, Jiang Xi sampai saat ini tidak pernah menanyakannya lagi. Dan Zahra bersyukur untuk hal itu, sebab dirinya tidak perlu beradu argumen dengan Jiang Xi kembali.
***
Tiga jam lebih akhirnya acara seleksi model GG Group selesai, Jessica, Amber beserta Zahra memutuskan untuk makan siang ke salah satu restoran terkenal di daerah Beijing sembari melepas penat akibat rasa lelah.
“Hei Amber, ke mana Robby? Udah hampir dua minggu ‘gak ketemu. Sibuk apa dia?.” Jessica menanyakan keberadaan Robby yang lama menghilang, karena biasanya tanpa di suruhpun Robby selalu muncul diantara mereka.
“Ah ‘gak taulah Jess, mungkin sedang sibuk fotografinya. Dia kan fotografer profesional. Dan mungkin sedang bersenang-senang dengan model-modelnya.” Amber menerka-nerka ke mana perginya Robby, sambil melirik ke arah Zahra yang terlihat sedang melamun.
“Trus gimana kamu sama Lu Chen? Apa dia sudah hubungin kamu? ‘Kan terakhir dia antar kamu pulang. Hoy! Ra! Ra! Dia malah bengong.” Jessica menepuk-nepuk lengan Zahra untuk menyadarkannya dari lamunan.
“Hah? Apa? Maaf ‘gak denger!.” Zahra bertanya ke arah Jessica untuk mengulangi pertanyaannya.
“Bodo ah! Percuma sama yang lagi bengong mikirin kencan sama ayank!.” Jessica bernada ketus ke Zahra, karena kesal pertanyaannya tidak didengar.
“Ya ampun, jatuh cinta itu emang berjuta rasanya! Yang lain cuma jadi nyamuk jadinya. Hahaha!.” Ledek Amber yang langsung saja merubah wajah bingung Zahra menjadi ditekuk. Seperti biasa, ulah jahil Amber selalu sukses membuat Zahra kesal.
Tiba-tiba suara dering ponsel Zahra berbunyi
__ADS_1
“Ya, Halo!”. (bahasa inggris) Zahra mengangkat telpon dari nomor yang tidak dirinya kenal. Ia takut kalau itu adalah telepon dari kolega barunya di Beijing.
“Nona Zahra, saya Xiao Feng. Saya ingin menanyakan soal rencana kostum untuk konser Lu Chen bulan depan. Apa anda sudah menyiapkannya? Karena jujur untuk saat ini, Lu Chen tidak dapat menemui anda karena suatu hal.” (bahasa inggris) Xiao Feng mengingatkan kepada Zahra soal konser Lu Chen bulan depan. Dan sontak membuat Zahra sedikit terkejut, karena ia sama sekali belum ada persiapan untuk itu. Zahra lupa melihat jadwalnya kali ini, karena pekerjaan yang semakin padat setiap harinya.
“Oh tuan Xiao Feng, saya hampir melupakannya. Maafkan saya, jadi apa yang bisa saya bantu? Kebetulan saya sedang ada waktu luang hari ini.” (bahasa inggris) Zahra meminta maaf kepada Xiao Feng karena telah melupakan jadwal mereka.
“Nona Zahra, saya hanya ingin memberitahu anda bahwa saat ini Lu Chen memiliki waktu luang untuk membicarakan soal rancangan nanti. Apakah anda dapat menemui Lu Chen di apartemennya hari ini? Karena jadwalnya hanya bisa hari ini saja. Bagaimana?” (bahasa inggris) Xiao Feng minta Zahra untuk menemui Lu Chen hari ini, dan memastikan agar Zahra dapat membicarakan perihal kostum konsernya hari ini.
DEG
“Hah? Bagaimana? Hari ini? Ba.. baiklah tuan Xiao Feng. Tapi saya tidak tahu alamatnya?.” (bahasa inggris) Jantung Zahra tiba-tiba berdegup sangat kencang. Entah perasaan apa yang saat ini Zahra rasakan? Apakah kaget? Atau berdebar-debar karena akhirnya dia dapat bertemu dengan Lu Chen kembali setelah hampir dua minggu lamanya hilang kontak.
“Ah, tapi anda harus ke sana sendirian nona. Karena Lu Chen tidak suka banyak orang di apartemennya. Dan satu lagi saya tidak dapat menemani anda, karena masih ada yang harus saya urus di Shang Hai. saya akan memberikan nomor password apartemen Lu Chen melalui sms nanti, anda langsung masuk saja tidak perlu menekan bel. Karena Lu Chen tidak pernah membukakan pintu.” (bahasa inggris) Xiao Feng membuat Zahra tak bisa berkata-kata, dengan perkataan Xiao Feng yang seakan-akan emergency itu membuat Zahra hanya dapat menganggukkan kepalanya mendengarkan setiap ocehan manajer Lu Chen tersebut.
“Baiklah tuan Xiao Feng. Saya akan segera ke sana. Terima kasih atas informasinya.” (bahasa inggris) Zahra langsung menutup telepon dari Xiao Feng.
“Siapa yang telepon Ra? Kok kamu jadi tegang gituh kayak abis terima telepon dari renternir aja?.” Jessica bingung dengan Zahra yang terlihat bingung itu.
“Ah, ini manajer Lu Chen hubungin aku agar hari ini membicarakan soal rancangan kostum untuk konsernya nanti.” Zahra menjelaskan agar Jessica tidak khawatir dengan ekspresinya saat ini.
“Ya ampun, ku kira apa? Tapi bagus ‘kan akhirnya kamu bisa ketemu sama ayang beib ya ‘kan?.” Jessica akhirnya tahu mengapa Zahra berubah ekspresi seperti itu, dan dia yakin kalau sahabatnya itu sedang berbunga-bunga karena akan bertemu dengan Lu Chen sang pujaan hati.
“Hadeuhhh…. pergi kau galau! hush! hush! Jiee.. yang udah nemuin obat galaunya?.” Ledek Amber.
__ADS_1
“Apaan sih kalian! Tapi maaf ya guys! Kayaknya aku ‘gak bisa nemenin kalian lama-lama. Karena harus siap-siap ketemu Lu Chen.”
“Ahay! Berjuang ya sayangku! Cuitt!! Cuitt!!.” Teriak Amber hingga membuat Zahra malu dihadapan semua orang yang ada di restoran tersebut.
***
Apartemen Lu Chen
Zahra sudah sampai di depan apartemen Lu Chen saat itu. Dengan hati-hati ia memijit tombol password yang ada di pintu apartemen. Dan pintupun terbuka terlihat interior apartemen mewah Lu Chen yang di dominasi dengan warna kuning itu.
Zahra masuk dengan hati-hati sambil mencari keberadaan Lu Chen. Perlahan kakinya melangkah menuju ruang tamu mewah milik Lu Chen terlihat jelas banyaknya penghargaan yang terpajang. Begitu kaki Zahra melangkah menuju arah sofa milik Lu Chen, tiba-tiba saja terdengar…
Prankkk…!!
Suara pecahan gelas menggema dari arah dapur
Sontak Zahra mempercepat langkahnya menuju arah dapur, dan tampak Lu Chen yang terlihat lemas dan terjatuh ke lantai. Zahra mencoba menangkap Lu Chen, namun sayang Lu Chen tidak berhasil ditangkap Zahra, ia terjatuh ke lantai.
Zahra langsung membawa Lu Chen ke kamar yang diyakini Zahra adalah kamar milik Lu Chen. Karena melihat bingkai foto LuChen dengan Jiang Xi di dinding kamar. Zahra merebahkan Lu Chen ke kamar tidurnya dengan hati-hati. Dan mengecek suhu badan Lu Chen dengan punggung tangannya. Zahrapun tercengang dengan suhu badan Lu Chen yang sangat tinggi saat itu. Zahrapun mencari alat pengukur suhu yang ada di kamar tersebut namun ia tak menemukannya. Zahra dengan cepat mencari baju kaos milik Lu Chen di lemarinya dan membasahinya dengan air hangat lalu mengompres dahi Lu Chen.
Zahra saat itu teringat dengan dahi Lu Chen yang terluka saat dirinya menyelamatkan Zahra dari terjangan sekelompok anak SMA. Saat ini Zahra memandangi bekas luka yang ada di sudut dahinya Lu Chen. Zahra berpikir kenapa lukanya belum juga hilang? Padahal dengan uang berlimpah Lu Chen bisa menghilangkannya dengan mudah. Namun segala pikiran itu ditepis oleh Zahra, kemudian Zahra mengambil ponselnya bermaksud untuk menghubungi Xiao Feng soal ini. Baru saja Zahra beranjak dari sisi ranjang, tangan Lu Chen menahan tangan Zahra seolah-olah Zahra tidak boleh pergi dari sisinya.
__ADS_1
Author
Udah kayak di drama-drama belom?