
Satu Minggu Kemudian
Bu Mirna dan Pak Sulam tampak sedang bersih-bersih di rumahnya karena putri semata wayangnya akan di jadwalkan pulang ke Jakarta hari ini. Pak Sulam sibuk menyapu kamar tidur Zahra sedang Bu Mirna sibuk menata tempat tidur milik Zahra.
“Yah!. Lihat sudah rapih belum?.” Bu Mirna yang bertanya soal dekorasi tempat tidurnya dengan Pak Sulam.
“Udah bagus, Bu!.” Jawab Pak Sulam dengan tegas.
“Yaudah kalau sudah Ibu mau ke dapur dulu periksa masakan, Yah!.” Ucap Bu Mirna yang dengan cepat berlalu menuju dapur rumahnya.
“Ting Tong!.” Suara bel pintu rumah berbunyi.
“Hadeuhhh siapa pagi-pagi?.” Kesal Bu Mirna yang mana baru saja hendak ke dapur namun sudah dikejutkan dengan suara bel pintu.
Lalu Bu Mirna pun melangkahkan kakinya menuju arah pintu untuk menyambut tamunya.
“Tadaaa!!!.” Baru saja Bu Mirna membuka pintu sudah dikejutkan dengan kedatangan Zahra yang tiba-tiba.
“Loh kamu sudah pulang saja?. Baru Ibu sama Ayah beres-beres.” Bu Mirna yang sontak terkejut dengan kedatangan Zahra dan iapun langsung memeluk putrinya itu yang beberapa bulan ini mereka rindukan.
“Ayah mana?.” Tanya Zahra.
“Ayah lagi sibuk membersihkan kamarmu. Soalnya kamu dadakan kasih tahu kalau mau pulang.” Ucap Bu Mirna sembari membantu Zahra membawakan beberapa barangnya.
“Sudah biar Zahra aja!.” Zahra yang menghempaskan tangan Bu Mirna lalu mengambil alih kembali barang bawaan yang Bu Mirna sempat pegang.
Zahra pun bergegas masuk ke dalam rumah dan memasukkan barang bawaannya dan menemui Ayahnya.
“Ada siapa Bu pagi-pagi?.” Tanya Pak Sulam yang hendak menghampiri Bu Mirna dan tamunya.
“Tadaa!!.” Teriak Zahra yang melihat Pak Sulam menghampirinya.
“Waduhh!. Kamu sudah pulang, Nak?.” Pak Sulam yang ikut terkejut dengan kedatangan Zahra.
“Iya dong!. Karena Zahra udah gak sabar ingin ketemu Ayah sama Ibu.” Zahra yang langsung memeluk Ayahnya itu.
“Hadeuuhh!. Mana Ayah belum mandi ini, nanti kamu tercium baunya.” Pak Sulam yang risih dengan pelukan Zahra.
“Ah Ayah!. Biasanya juga jarang mandi!.” Ledek Zahra yang tahu kebiasaan Ayahnya kalau mandi suka ditunda.
“Hussh!!. Gak usah di tegaskan!.” Pak Sulam yang malu karena Zahra tahu kebiasaannya.
“Eh mana Lu Chen?.” Pak Sulam yang mencari keberadaan Jason.
__ADS_1
“Oh Lu masih ada urusan, ia langsung pulang ke rumahnya.” Ucap Zahra.
“Oh, sekarang ia sudah tinggal di sini kan?. Maksud Ibu sekarang dia sudah resmi jadi penerus perusahaannya?.” Tanya Bu Mirna yang tahu kabar terkini dari Jason.
“Iya, namun sebelum itu ia harus bertemu dengan Ayahnya terlebih dahulu.” Ucap Zahra.
“Oh begitu?. Kira-kira kapan dia kemari?.” Tanya Bu Mirna yang sudah tidak sabar ingin melihat Zahra dilamar.
“Eh Ibu!. Baru aja anaknya pulang udah ditanya ini itu!. Udah ayo masuk dulu!.” Pak Sulam yang tahu maksud Bu Mirna langsung mengalihkan pembicaraan.
Hari itu Pak Sulam tak ingin Zahra terbebani dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan Bu Mirna. Ia pun menyuruh anaknya itu untuk mencicipi hidangan yang sudah dia siapkan untuknya. Dan hari itu Zahra kembali merasakan kehangatan keluarga yang telah berbulan-bulan tak ia rasakan karena tuntutan pekerjaannya.
***
Mansion Keluarga Lu
“Tuan Muda!.” Sambut Mr. Lucas kepada Jason Lu yang baru saja sampai di Mansion.
“HHmm..” Sebuah dehaman dari Jason karena sebenarnya ia masih enggan membalas sapaan Mr. Lucas.
“Tuan Besar sudah menunggu anda di taman belakang.” Ucap Mr. Lucas yang kemudian mengantar Jason hingga ke taman belakang.
Di taman itu terlihat Jackson Lu yang sedang asik menyesap teh sambil membaca koran pagi itu. Dengan di dampingi pelayan yang siap melayaninya kapan pun saat dirinya menghabiskan waktu di taman.
Jackson yang melihat Jason mendekatinya iapun menghentikan kegiatannya membaca koran dan menaruh kembali cangkir tehnya di meja.
“Ya, seperti yang aku janjikan bahwa setelah urusan ku selesai di Beijing aku akan menemui mu di Jakarta.” Ucap Jason kemudian duduk berhadapan dengan Jackson.
“Dan!. Tuangkan teh untuk Jason!.” Pinta Jackson kepada pelayan di sebelahnya.
“Jadi apa rencana mu kemudian?.” Tanya Jackson.
“Aku ingin kau mengumumkan kedatangan ku kepada seluruh karyawan JF Group!.” Pinta Jason.
“Tentu saja itu akan aku lakukan secepatnya, kau tidak perlu memberitahuku.” Ucap Jackson tegas.
“Tapi sebelum itu ada sesuatu yang ingin aku lakukan.” Jason yang langsung mengutarakan maksud dan tujuannya bertemu Jackson.
“Apa itu?.” Jackson yang ingin Jason langsung mengutarakannya.
“Aku ingin menikahi Zahra, kekasihku.” Tegas Jason.
“Apa dia wanita yang kau perkenalkan saat konser perpisahan mu?.” Tanya Jackson yang ingin melihat reaksi Jason.
__ADS_1
“Kau sudah tahu untuk apa aku jelaskan?.” Ucap Jason yang tak ingin Jackson membalikkan pertanyaan.
“Apa kau tahu kalau aku sudah menyiapkan pertunangan mu dengan Isabelle?. Dan tentunya kau sudah tahu sebagai seorang penerus keluarga kau harus memenuhi persyaratan?.” Tegas Jackson.
“Heh!. Aku sudah tahu kau akan mengatakan hal ini. Tapi aku tak ingin menikahi seseorang yang bahkan aku tak kenal. Aku tak ingin mencampur adukan pekerjaan dengan hal pribadi.” Ucap Jason kesekian kalinya.
“Kau pikir pernikahan politik adalah sebuah hal yang pribadi?. Kau tahu itu merupakan bagian dari tugas mu sebagai seorang penerus keluarga. Dan kau juga tentunya tahu berapa banyak kerugian jika sampai hal itu tidak terwujud?.” Ucap Jackson yang lagi-lagi menuntut Jason akan tugas-tugasnya.
“Aku sudah dewasa untuk memutuskan sesuatu, dan bila kau sudah mempercayakan perusahaan ini di tangan ku. Maka biarlah aku yang membuat keputusan. Dan jika kau masih tidak percaya dengan keputusan ku, kalau begitu aku akan kembali ke Beijing dan melepas hak waris ku.” Ancam Jason kepada Jackson.
“PrAakk!!.” Suara cangkir teh yang ditaruh secara kasar oleh Jackson.
“Aku tahu kau pasti akan mengancam ku seperti ini?.” Jackson yang mulai tak bisa menahan amarahnya.
“Aku tak akan melakukan hal yang sama dengan mu!. Aku tak ingin terkekang oleh sebuah pernikahan politik hingga berakhir perceraian seperti dirimu.” Ucap Jason mengingatkan Ayahnya akan kesalahannya di masa lalu.
“Kau berani membandingkan aku dengan dirimu?.” Jackson yang bangkit dari duduknya karena kesal dengan ucapan Jason.
“Aku lah salah satu korban dari keegoisan mu!. Aku tak ingin anak ku kelak akan merasakan hal yang sama seperti diriku.” Tegas Jason.
“Kau!.” Teriak Jackson.
“PRanGg!.” Suara cangkir teh yang terjatuh dari meja karena tersenggol tangan Jackson.
“Aku akan bekerja sama dengan JF Group!.” Teriak seorang wanita dari kejauhan.
Ternyata orang tersebut adalah Jiang Xi yang datang menyusul Jason ke Jakarta.
“Xixi?.” Jackson yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Aku akan bergabung dengan perusahaan mu!. Dengan begini kau tidak perlu takut dengan pasar Eropa karena Josephine sudah terikat kerjasama dengan ku.” Ucap Jiang Xi.
“Apa?.” Jackson yang terperangah dengan pernyataan Jiang Xi.
“Kau tenang saja, aku pastikan JF Group akan berkembang nantinya. Dan Josephine tak mungkin membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan ku hanya karena pertunangannya yang batal.” Tegas Jiang Xi.
“Mommy?.” Jason yang ikut terperangah karena ucapan Jiang Xi.
“Tapi dengan satu syarat!.” Ucap Jiang Xi yang membuat Jackson mengerutkan dahinya.
“Apa itu?.” Ucap Jackson penasaran.
“Setujui pernikahan Lu dengan Zahra!.” Ucapan Jiang Xi yang langsung membuat Jackson kembali pada ekspresi kesalnya.
__ADS_1
“Heh!. Tanya anakmu!. Dia yang selalu berkata bahwa ia tak ingin mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan.” Ucap Jackson membalikkan perkataan Jiang Xi.
“Ini bukan hal pribadi, ini ada hubungannya dengan GG Group karena Zahra adalah pemilik selanjutnya dari GG Group!.” Ucapan Jiang Xi yang langsung membuat Jackson dan Jason membelalakkan mata.