
Lu Chen keluar bandara menggunakan atribut lengkapnya yaitu jaket biru dan masker tebalnya. Iapun langsung menghubungi Xiao Feng yang berjanji akan menjemputnya di Bandara.
“Kau di mana?. Aku sudah sampai di bandara.” (bahasa mandarin) Pinta Lu Chen kepada Xiao Feng agar segera menjemputnya.
Namun tak lama dirinya keluar dari gate, wartawan menyadari kehadirannya. Langsung saja beberapa wartawan mulai bergerak menghampirinya dari kejauhan. Sontak membuat Lu Chen menjauh dari arah gate untuk menghindar dari kejaran para pemangsa berita.
Lalu tak lama Xiao Feng pun datang dengan beberapa bodyguard yang bersamanya. Xiao Feng beserta para bodyguard itupun membawa Lu Chen keluar gate menuju arah pintu keluar. Para pemangsa berita tak kenal menyerah, mereka tetap mendekati Lu Chen dengan menodong berbagai pertanyaan seputar dirinya yang menghilang secara tiba-tiba. Namun Lu Chen beserta bodyguard tak menanggapi pertanyaan demi pertanyaan yang di berikan para wartawan mereka tetap menerobos para pemburu berita menuju Van.
Akhirnya Xiao Feng pun keluar untuk mengurus para wartawan dan meluruskan berita yang telah beredar selama Lu Chen absen. Xiao Feng berkata kepada seluruh wartawan bahwa Lu Chen memiliki beberapa urusan keluarga di Jakarta, dan seperti yang orang-orang ketahui bahwa tidak heran seorang Lu Chen yang merupakan pewaris JF Group harus mengurus perusahaannya. Hingga akhirnya para wartawan kembali terkendali setelah mendapatkan penjelasan dari Xiao Feng selaku manajer Lu Chen.
***
Sesampainya di kantor agency, Lu Chen langsung disambut Aaron yang sudah dalam posisi bersedekap di hadapannya.
“Aku tak akan bertanya apa-apa lagi. Cukup kamu yang jelaskan sendiri!.” (bahasa mandarin) Tegas Aaron kepada Lu Chen.
“Paman tahu aku ke Jakarta, dan menemui siapa tentunya?. Hanya itu yang bisa aku jelaskan.” (bahasa mandarin) Jawab Lu Chen tak ingin panjang lebar dalam penjelasannya.
“Kamu tahu apa yang terjadi karena dirimu yang absen?.” (bahasa mandarin) Tanya Aaron tentang pinalti atas dirinya yang absen selama beberapa hari.
“Ambil saja dari gajih ku, Paman tidak perlu mengeluarkan uang milik perusahaan. Ku rasa itu sudah cukup.” (bahasa mandarin) Ucap Lu Chen yang ingin bertanggung jawab atas semua kesalahan yang telah dirinya lakukan.
“Aku sudah mengubah beberapa jadwal yang bisa ku ubah!. Namun beberapa klien memilih untuk mengganti dirimu dan meminta pinalti kepada kita. Dan mulai besok kamu harus ikut aku untuk meminta maaf dengan beberapa klien yang ada. Dan bersiap untuk jadwal pengganti yang menumpuk!.” (bahasa mandarin) Ucap Aaron agar Lu Chen bersiap dengan padatnya jadwal yang menantinya.
“Aku akan membereskan secepatnya, untuk klien biar aku yang urus!. Aku sudah cukup mengenal mereka.” (bahasa mandarin) Kemudian Lu Chen membalikkan badannya untuk pulang ke apartemennya.
“Xiao Feng awasi dia kembali!. Aku tahu setelah ini akan ada tindakan nekad lagi darinya. Aku rasa aku membutuhkan beberapa mata-mata untuk mengawasinya!. Tunjuk seseorang untuk itu, aku tak bisa lagi membiarkannya." (bahasa mandarin) Tegas Aaron yang tidak ingin kecolongan untuk ke dua kalinya.
“Baiklah Tuan!. Kalau begitu saya permisi dulu untuk mengantar Lu Chen ke apartemennya.” (bahasa mandarin) Kemudian Xiao Feng segera menyusul Lu Chen ke parkiran mobil.
***
Di sebuah mansion mewah di daerah elite Beijing, terlihat lelaki paruh baya sedang menatap nyalang lelaki yang tampak berlutut di hadapannya. Tampak lelaki yang berlutut tersebut meminta ampunan kepada lelaki paruh baya tersebut. Namun yang terjadi lelaki paruh baya itu malah mengambil pistol dari anak buah yang berada di sebelahnya dan menodongkannya ke hadapan lelaki yang berlutut kepadanya.
“Kau pikir aku dengan mudahnya bisa memaafkan mu begitu saja?.” (bahasa mandarin) Tegas lelaki paruh baya tersebut dengan tatapan kejam ke arah lelaki di bawahnya.
“Ma.. maafkan saya Tuan!. Saya tidak tahu polisi ada di sana saat itu.” (bahasa mandarin) Dengan ucapan yang terbata-bata keluar dari mulut lelaki itu, kepada orang yang menodongkan pistol kepadanya.
Namun lelaki paruh baya itu mulai menarik pelatuk seperti benar-benar akan menembak lelaki yang ada di hadapannya. Tetapi tindakannya dihalangi oleh anak buahnya yang datang membawa kabar.
__ADS_1
“Tuan, saat ini ada nona muda datang ke rumah.” (bahasa mandarin) Perkataan lelaki yang terlihat seperti anak buahnya itu seketika menghentikan tindakannya dan langsung membuatnya meletakkan kembali pistol yang hampir iya tarik pelatuknya. Dengan secepat kilat lelaki paruh baya tersebut beralih menuju keluar pintu.
Lelaki paruh baya itu menuju ruang tengah rumah mewahnya dan dilihat olehnya seorang wanita cantik yang berbalik arah menatapnya dengan senyuman indahnya. Dan wanita itu adalah Jia Li, wanita cantik dengan body semampai yang merupakan model internasional dan mantan tunangan Lu Chen.
“Putriku!!.” (bahasa mandarin) Panggilan dari lelaki paruh baya tersebut sambil membuka lebar-lebar kedua tangannya ke samping lalu memeluk Jia Li yang ternyata adalah putrinya.
Ya, lelaki paruh baya tersebut adalah Mr. Feng, pengusaha sekaligus pemilik jaringan mafia yang ada di Cina. Banyak pengusaha yang ingin sukses bekerja sama dengannya, karena kuatnya jaringan mafia miliknya sehingga para pengusaha tidak segan-segan bergabung dengan perusahaan miliknya. Tak terkecuali Mr. Zao Lu kakek Lu Chen yang memang sudah merupakan kawan lama dari ayahnya Mr. Feng. Namun beberapa tahun ini Jackson Lu memutus kerjasama dengannya karena pertunangan kedua anaknya yang batal.
Walaupun Mr. Feng terkenal kejam dan tanpa ampun terhadap orang lain. Tapi untuk urusan bisnis apalagi terhadap keluarga Lu ia tak bisa berbuat seenaknya, karena mengingat pertemanan ayahnya dengan kakek Lu Chen.
“Daddy!. Di mana Nyonya Feng?.” (bahasa mandarin) Tanya Jia Li yang mengarah kepada Nyonya Feng ibu sambungnya.
“Dia ada di taman bunga belakang. Seperti biasa, ia selalu menghabiskan waktunya di sana.” (bahasa mandarin) Jawab Mr. Feng kepada anaknya.
“Aku kangen padamu, Daddy!. Apa Daddy tidak kangen pada putrimu yang cantik ini?.” (bahasa mandarin) Tanya Jia Li kepada ayahnya.
“Pastilah sayang!. Daddy selalu merindukanmu, apalagi dua tahun ini kamu jarang sekali telpon Daddy!. Kapan kamu datang?.” (bahasa mandarin) Ucap Mr. Feng yang sangat merindukan putri satu-satunya itu.
“Aku baru saja datang kemarin Dad, lihat aku bawa sesuatu untukmu.” (bahasa mandarin) Jia Li membawa beberapa syal dan parfum oleh-oleh dari New York untuk Mr. Feng.
Sebenarnya Jia Li sudah berbulan-bulan lamanya kembali ke Beijing, hanya saja ia tidak menemui Daddy nya dan memilih bersembunyi di apartemennya. Karena takut Daddy nya curiga dengan setiap tindakannya. Seperti yang Jia Li tahu bahwa Daddy nya tidak akan membiarkan orang lain mengusik keluarga Lu, termasuk putrinya sendiri.
Sesampainya di taman bunga mawar kesukaan Nyonya Feng, Jia Li memanggil Ibu sambungnya tersebut dan memeluknya dengan penuh kehangatan.
“Apa kabarmu Mommy!. Aku datang!.” (bahasa mandarin) Dengan senyuman Jia Li yang tak lepas di saat Mr. Feng melihat kepada putri dan istri mudanya itu yang terlihat akrab dihadapannya.
“Daddy, bisakah Daddy memberikanku waktu berdua dengan Mommy!. Aku ingin melepas rindu dengannya. Ya kan My?.” (bahasa mandarin) Masih dengan senyuman cantiknya memohon kepada sang Daddy agar mau menuruti permintaannya.
Akhirnya Mr.Fengpun menuruti permintaan putrinya tersebut dan kembali ke ruangannya. Selepas kepergian Mr. Feng, seketika senyuman indah nan menawan berubah menjadi senyuman rubah betinanya ke arah ibu sambungnya itu. Nyonya Feng pun yang melihat hal tersebut tersenyum dengan sedikit wajah cemasnya.
“Halo nyonya Sharon?. Aku t’lah kembali, apa kau bahagia dengan kembalinya aku?.” (bahasa mandarin) Tanya Jia Li dengan wajah menakutkannya.
“Tentu saja Jia, aku selalu menunggu kedatangan mu.” (bahasa mandarin) Masih dengan senyum terpaksa nya.
“Ingat kau tidak akan pernah bisa menjadi nyonya di rumah ini!. Dan aku tidak akan pernah sudi memanggilmu Mommy!. Hal itu akan ku lakukan hanya dihadapan Daddy saja!. Karena hal itu hanya berlaku untuk mendiang ibuku.” *(bahasa mandarin) *Ancam Jia Li kepada Nyonya Feng sambil berjalan mendekatinya.
“Karena aku tahu perbuatan mu terhadap Ibuku!.” (bahasa mandarin) Jia Li berbisik di telinga Nyonya Feng, yang langsung membuat Nyonya Feng sedikit ketakutan.
Jia Li kemudian memberikan sebuah oleh-oleh untuk ibu sambungnya itu, sebuah syal cantik dari New York. Jia Li lalu memakaikannya ke leher Nyonya Feng sambil berkata.
__ADS_1
“Jika kau berani macam-macam denganku dan keluargaku. Akan ku pastikan syal ini yang akan aku gunakan untuk menggantung lehermu ini!.” (bahasa mandarin) Ancaman Jia Li yang lagi-lagi membuat Nyonya Feng menelan ludahnya.
Hingga akhirnya Jia Li pergi dan meninggalkan Nyonya Feng dalam keadaan yang ketakutan. Nyonya Feng terlihat mencengkram tangkai bunga mawar hingga kulit tangannya menusuk ke dalam duri-duri bunga mawar tersebut hingga mengeluarkan darah segar.
Author
Ada dendam apa diantara keduanya?
***
Apartemen Lu Chen
Lu Chen sudah sampai ke apartemennya, iapun langsung men-dial nomor Zahra untuk menepati janjinya.
“Halo?.” Suara Zahra yang menerima panggilan dari Lu Chen.
“Sayang, aku sudah sampai dengan selamat sampai di tujuan!.” Ucap Lu Chen kepada Zahra yang langsung mengubah panggilan suaranya menjadi panggilan video.
Dan terpampang lah dengan jelas wajah Zahra yang sedang mengenakan pakaian tidurnya. Lu Chenpun memasang senyumannya ketika melihat Zahra yang mengenakan pakaian tidurnya yang bermotif Winnie The Pooh itu. Tapi senyuman Lu Chen seketika hilang dengan pertanyaan yang diberikan secara beruntun oleh Zahra.
“Apa para wartawan mengganggumu? Bagaimana dengan Pamanmu? Apa dia marah?.” Khawatir Zahra yang mulai terdengar berlebihan itu.
“Kamu tenang saja sayang, semua sudah aku urus dengan baik. Tapi mulai besok aku minta maaf kepadamu, mungkin aku akan sulit dihubungi karena jadwalku yang mulai menumpuk.” Maaf Lu Chen karena memang jadwalnya yang sangat padat mulai esok hari.
“Tidak apa-apa sayang, aku ngerti kok!. Yang penting kamu jaga kesehatan!. Ingat tidur tepat waktu!.” Pinta Zahra yang justru khawatir bila Lu Chen sakit karena jadwalnya yang padat.
“Kamu memang kekasihku yang luar biasa sayang!. Bagaimana aku tidak merindukanmu selalu?." Gombalan Lu Chen yang selalu sukses membuat Zahra menjadi tersipu malu.
Akhirnya percakapan mereka berakhir dengan saling melempar kecupan mesra. Hari-hari Lu Chen yang tenang akan kembali disibukkan dengan jadwalnya yang padat sebagai seorang artis. Lu Chen harus sabar menunggu hingga launching brand GG Group selanjutnya di mulai.
Author
Lu Chen dan Zahra harus puasa dulu ya
__ADS_1