
**Lanjutan**
Lu Chen langsung men-dial nomor telepon Zahra saat itu juga. Ia khawatir absennya dia membuat kekasih hatinya itu sedih, apalagi dengan adanya berita tentang dirinya dan Jia Li.
Namun Zahra tak dapat dihubungi, Lu Chen sudah mencoba untuk menghubunginya berkali-kali. Dan Lu Chen tampak frustasi dengan hal itu, dan melempar ponselnya ke arah pintu mobil.
Xiao Feng yang melihat itupun ikut merasa gelisah, dia merasa bersalah atas tindakannya yang telah menyembunyikan berita itu dari Lu Chen.
***
Keesokkan harinya Lu Chen mendatangi Aaron Lu untuk mempertanyakan tindakan yang telah menyembunyikan berita pertunangan dirinya dan Jia Li.
“Paman! Ada yang harus paman jelaskan kepadaku! Aku ingin sedetail mungkin tentang berita itu! Sekarang!.” (bahasa mandarin) Lu Chen bertanya kepada Aaron Lu dengan wajahnya yang penuh amarah.
“Kamu sudah melihatnya sendiri kan Lu? Apalagi yang dapat aku jelaskan?.” (bahasa mandarin) Jawab Aaron Lu dengan santai.
“Mungkin bagimu Zahra bukanlah siapa-siapa tapi bagiku Zahra adalah segalanya! Aku tak mungkin dapat mendiamkannya begitu saja Paman! Aku ingin segera klarifikasi!. Buat konferensi pers secepatnya!.” (bahasa mandarin) Lu Chen memohon kepada Pamannya Aaron Lu.
“Aku sudah mempersiapkannya dengan hati-hati, dua hari lagi aku akan menggelar konferensi pers. Tapi ingat kamu jangan gegabah dengan pernyataanmu. Ingat siapa wanita itu?. Dia bukan orang sembarangan!.” (bahasa mandarin) Peringatan yang diberikan Aaron Lu agar Lu Chen tidak gegabah saat konferensi pers nanti.
“Sebenarnya aku sudah tidak peduli dengan itu, aku hanya tidak ingin menyakiti Zahra. Itu saja.” (bahasa mandarin) Jawab Lu Chen dengan tegas.
***
Di sisi lain Terlihat Jia Li yang di wawancara oleh salah satu majalah terkenal di Cina.
“Bagaimana awalnya Anda bisa menjadi tunangan Lu Chen?.” (bahasa mandarin) Tanya jurnalis majalah tersebut.
“Saya dijodohkan dengannya lima tahun yang lalu. Dan saat itu saya sangat bahagia, dan Lu Chenpun ikut bahagia dengan pertunangan kami.” (bahasa mandarin) Jawab Jia Li dengan wajah yang menutupi kebohongan.
“Lantas kenapa pertunangan kalian tidak pernah diumumkan ke media? Apalagi Lu Chen yang kami tahu adalah seorang anak pengusaha ternama di negeri ini. Bisa Anda Jelaskan alasannya?.” (bahasa mandarin) Tanya jurnalis kembali.
Lalu tiba-tiba saja Jia Li merubah mimik wajahnya menjadi sedih saat menjawab pertanyaan sang jurnalis.
“Yah, saya tahu Lu Chen adalah seorang idol yang terkenal dan karirnyapun sedang meroket. Jadi mau tidak mau kami harus merahasiakannya kepada seluruh orang dan juga kami berusaha menutupinya dari media. Itu semua permintaan dari Lu Chen. Dan ya, saya sebagai tunangannya harus membantunya sebisa mungkin.” (bahasa mandarin) Dengan nada lirihnya menjawab pertanyaan Jurnalis tersebut.
Jia Li berusaha membuat dirinya sebagai orang yang tertindas atas sikap Lu Chen, untuk mendapatkan simpati dari netizen. Dan membuat agar Lu Chen terpojok atas setiap tindakannya di media. Iapun tak segan-segan mengeluarkan airmata buaya untuk menyempurnakan aktingnya.
Dan hasil wawancara itupun di rekam dan disebarkan ke seluruh media sosial yang ada oleh pihak majalah. Dan berita itupun langsung menjadi trending topic di seluruh Cina, tak terkecuali di beberapa negara luar.
Lu Chen yang melihat hal inipun terlihat sangat geram dan tak bisa menahan amarahnya lagi. Iapun langsung meminta Pamannya Aaron agar memajukan konferensi persnya menjadi besok siang. Ia tak ingin menunggu lagi, bisa-bisa kesabarannya habis karena ulah mantan tunangannya itu.
***
__ADS_1
Hari konferensi perspun tiba, Lu Chen beserta Manajernya Xiao Feng dan pamannya Aaron Lu menghadiri konferensi pers untuk mengklarifikasi berita tentang pertunangan Lu Chen dan Jia Li.
Satu persatu pertanyaan dilontarkan para wartawan.
“Apa benar kalau kabar berita pertunangan anda dengan seorang wanita bernama Jia Li itu benar adanya?.” (bahasa mandarin) Tanya salah satu wartawan yang ada di konferensi pers.
“Ada benarnya dan ada yang tidak benar. Saya katakan benar kami pernah bertunangan lima tahun lalu, dan ada tidak benarnya bahwa sebenarnya pertunangan kami sudah dibatalkan bahkan sebelum diumumkan. Dan kami sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.” (bahasa mandarin) Tegas Lu Chen menjawab pertanyaan dari wartawan tersebut.
“Dan kenapa wanita yang bernama Jia Li itu mengaku bahwa anda dan dirinya masih berstatus tunangan?.” (bahasa mandarin) Tanya wartawan yang lain kepada Lu Chen.
“Sayapun tidak mengerti dengan hal tersebut, karena saya sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan dirinya. Mungkin untuk lebih jelasnya anda bisa menanyakan langsung kepadanya.” (bahasa mandarin) Jawab Lu Chen tak ingin banyak berargumen.
Dan konferensi pers itupun ditutup dengan ucapan penutup Lu Chen yang dapat membungkam semua wartawan tentang gosip-gosip yang tidak benar tentang dirinya.
“Saya tidak mengerti dengan semua pemberitaan tentang diri saya, karena selama ini saya belum pernah memiliki hubungan dengan siapapun apalagi bertunangan. Dan seandainya apabila hal itu terjadi dan saya memiliki seorang wanita yang dekat dengan saya. Pasti akan saya umumkan dan beritahukan kepada kalian dengan senang hati. Saya harap apabila itu terjadi kalian akan memahami hal tersebut sama seperti saya memahami kalian! Dan satu lagi untuk para fans saya, Kalian begitu berharga untuk saya, karena kalianlah saya dapat seperti ini. Yang perlu kalian ingat! Saya hanyalah seorang manusia biasa, yang memiliki salah dan dosa!. Untuk itu saya meminta pengertian kalian semua atas sikap dan perilaku saya untuk yang lalu, sekarang dan nantinya!. Demikian dari saya! Terima Kasih atas perhatian dan dukungan kalian selama ini!.” (bahasa mandarin) Tegas Lu Chen memberi pernyataan di akhir konferensi persnya.
Kata-kata Lu Chen yang seakan menyiratkan sesuatu itu, membuat para wartawan justru bertanya-tanya siapakah wanita yang beruntung itu. Yang mungkin disembunyikan Lu Chen selama ini? Siapakah dia?. Dan konferensi perspun berakhir dengan tertib dan damai.
Di ruang istirahat di area ball room hotel tempat Lu Chen mengadakan konferensi pers. Lagi-lagi Lu Chen mencoba menghubungi Zahra namun tak berhasil, Iapun merasa frustasi dan akhirnya mencoba menghubungi Jiazhen namun sepertinya Jiazhen sedang tidak ada di Beijing.
Xiao Fengpun yang melihat Lu Chen yang panik, lalu memberikan sebuah ide kepadanya.
“Lu, apa Zahra masih belum bisa dihubungi?.” (bahasa mandarin) Tanya Xiao Feng dengan hati-hati.
“Bagaimana bila kamu coba tanyakan pada Mommymu, Lu? Mungkin Bu Jiang tahu ke mana designernya berada?.” (bahasa mandarin) Ide sedikit gila dari Xiao Feng yang tahu hubungan antara ke dua orang itu sedang tidak baik. Tapi memang itulah ide yang paling tepat, karena sebagai atasan pasti Mommynya Lu Chen mengetahui keberadaan dari bawahannya tersebut.
“Aishhh!! Kau gila!.” (bahasa mandarin) Jawab Lu Chen dengan ekspresi kesalnya.
Tapi tak dapat dipungkiri bahwa ide Xiao Feng ada benarnya juga. Iapun bergegas menuju GG Group untuk bertemu Mommynya walaupun hatinya sedikit tak rela.
***
Akhirnya sampailah Lu Chen di kantor GG Group, ia langsung menuju ruangan Mommynya tersebut. Tapi begitu hendak menuju ruangan, Lu Chen dihadang oleh Chyou.
“Ma.. maaf tuan muda, Bu Jiang sedang meeting online belum bisa diganggu!. Tunggu kira-kira 15 menit lagi beliau baru bisa ditemui.” (bahasa mandarin) Chyou meminta maaf kepada tuan mudanya itu dengan sangat hati-hati.
“Hhmm baiklah, aku akan menunggu di sini. Segera beritahukan bosmu itu kalau aku sedang menunggunya.” (bahasa mandarin) Pinta Lu Chen kepada Chyou.
Dan Chyou mempersilahkan Lu Chen untuk menunggunya di ruang tunggu depan ruangan Jiang Xi.
Tak lama Chyoupun mempersilahkan tuan mudanya itu untuk masuk ke ruangan Jiang Xi. Dan Jiang Xipun yang melihat Lu Chen yang telah sekian lama tak pernah menemuinya walaupun hanya sekedar menanyakan kabar itu merasa sangat bahagia, sangat terlihat dari ekspresinya.
“Lu, apa kabarmu?.” Jiang Xi memeluk Lu Chen dengan penuh kerinduan. Namun lagi-lagi sikapnya itu ditepis Lu Chen.
__ADS_1
“Aku tidak ingin berlama-lama, aku kemari hanya ingin menanyakan keberadaan Zahra designer utamamu.” Tanya Lu Chen langsung to the point kepada Jiang Xi.
Jiang Xipun yang mendengar pertanyaan dari anaknya itu langsung melebarkan senyumannya.
“Oh, Zahra? Kenapa kamu sangat ingin tahu? Ada hubungan apa kamu dengannya, Lu?.” Tanya Jiang Xi kepada Lu Chen yang seketika membuat Lu Chen sedikit kesal kepadanya.
“Apa pedulimu? Cukup kau beritahukan saja di mana dia sekarang?.” Tanya Lu Chen kembali dengan geram.
“Aku tak ingin menjawabnya sampai kau jujur siapa Zahra bagimu?.” Jiang Xi yang ingin sebuah kejujuran dari mulut Lu Chen.
“Apakah jika aku menjawabnya kau akan memberitahukan keberadaannya?.” Tanya Lu Chen yang ingin sebuah kepastian dari Jiang Xi bahwa dirinya tidak dibohongi.
“Iya, hanya jika kamu jujur, Lu.” Jiang Xipun memastikan ucapannya, bahwa tidak ada kebohongan di dalamnya.
“Zahra adalah kekasihku.” Dengan singkat Lu Chen memberitahu posisi Zahra di hatinya.
“Apakah dia penting bagimu?.” Tanya Jiang Xi ingin lihat seberapa pentingnya Zahra bagi Lu Chen.
“Tentu saja dia penting bagiku! Bahkan sangat penting, hingga diriku menjadi frustasi karena tak bisa menghubunginya saat ini! Jadi ku mohon beritahukan keberadaan dirinya padaku!.” Jawab Lu Chen yang mulai terlihat frustasi.
Melihat kepanikan Lu Chen, Jiang Xipun memeluk anaknya tersebut dengan erat. Jiang Xi berusaha untuk menenangkan Lu Chen dari kepanikannya, Lu Chen sedikit terharu dengan sikap Jiang Xi yang sudah lama tidak ia rasakan itu. Namun beberapa saat kemudian ia tersadar dan segera menepis kembali pelukan Jiang Xi kepadanya.
Jiang Xi yang diperlakukan seperti itu sudah mulai terbiasa dengan sikap Lu Chen kepadanya dan memilih memaklumi tindakannya. Dan akhirnya Jiang Xi memberitahukan keberadaan Zahra kepada Lu Chen. Bahwa dari dua hari lalu Zahra berada di Indonesia untuk kepentingan Launching Brand GG Group yang memilih tempat di Jakarta sebagai tempat peresmiannya. Dan iapun memberitahukan bahwa Lu Chen juga ditunjuk sebagai model yang dipilih untuk Brand Ambassadornya. Tentunya setelah urusan promosi single Lu Chen selesai, Lu Chen baru bisa menyusul Zahra ke Jakarta.
Lu Chenpun akhirnya lega dengan penuturan Mommynya itu, dan dia memilih undur diri secepatnya tanpa ada kata pamit diantara mereka, karena Lu Chen sudah lama melupakan tradisi tersebut antara dirinya dan Jiang Xi. Yang ada hanya kecanggungan diantara mereka saat ini, dan Lu Chen memilih pergi begitu saja dari ruangan Jiang Xi.
“Lu!.” Jiang Xi memanggil Lu Chen yang hendak pergi dari ruangannya.
Lu Chenpun menoleh ke arahnya dengan sedikit ragu.
“Lu, jaga dirimu!.” Hanya kata-kata itu yang dapat keluar dari mulut Jiang Xi. Yang sebenarnya banyak kata yang ia ingin ucapkan sebagai seorang Ibu, hanya saja hanya kalimat itu yang dapat keluar dari mulutnya saat ini.
Lu Chenpun tanpa memberi sebuah jawaban kepada Jiang Xi, langsung kembali memutar tubuhnya menuju pintu keluar.
Yang terlihat saat ini hanya guratan sedih dari wajah Jiang Xi yang melihat Lu Chen pergi meninggalkannya begitu saja.
“Kapan kamu akan kembali memanggilku Mommy seperti dulu, Lu?.” Bathin Jiang Xi yang menahan kesedihannya.
Author
Lu Chen OTW Jakarta guys!
__ADS_1