Cowok Cantik Milik Zahra

Cowok Cantik Milik Zahra
Luka Masa Lalu yang Menganga


__ADS_3

Jiang Xi menatap langit-langit kamar yang dulu pernah ditempati olehnya bersama Jackson. Ia melihat tak ada perubahan apapun di dalam ruangan tersebut hanya foto dirinya bersama Jackson yang sudah tidak ada di tempatnya. Sekilas ia mengingat penggalan-penggalan masa lalu di saat dirinya yang masih berstatus Nyonya besar keluarga Lu.


Jiang Xi sangat ingat ketika terakhir dirinya meninggalkan rumah membawa serta Jason Lu bersama dirinya. Di kala itu ia pergi tanpa ada sepatah katapun yang tertinggal untuk mantan suaminya begitupun dengan Jackson. Jackson tak melihat mantan istri dan anaknya pergi. Ia memilih mengurung diri di kamar entah apa yang dirinya lakukan saat itu. Jiang Xipun mulai memikirkan hal tersebut, ia berpikir apakah ada penyesalan di dalam hati Jackson atas kepergiannya?. Karena yang dirinya tahu Jackson adalah sosok yang tertutup dan tak ingin semua orang tahu isi hatinya. Iapun sebagai istri saat itu tak pernah mengetahui permasalahan yang terjadi pada mantan suaminya itu.


Hingga lamunan Jiang Xi saat itu dibuyarkan oleh suara Mr. Lucas yang memanggil dirinya.


“Nyonya, Tuan Besar memanggil anda.” Panggilan Mr Lucas agar Jiang Xi menghadap tuan besarnya, Jackson Lu.


“Baiklah!. Dan Mr. Lucas, kau tak perlu memanggilku Nyonya. Karena aku bukan lagi Nyonya di sini.” Pinta Jiang Xi yang risih dengan panggilan nyonya kepadanya.


“Maafkan saya, Nyonya. Tapi bagi saya anda adalah Nyonya di rumah ini.” Jawab Mr.Lucas yang masih menganggap Jiang Xi Nyonya besarnya.


“Itu tidak pantas Mr. Lucas, apalagi aku tahu kalau sudah ada Nyonya baru di mansion ini.” Ucap Jiang Xi yang tak ingin melangkahi Niki istri baru dari Jackson.


Dan Mr.Lucaspun tak menjawab Jiang Xi, dia hanya membungkuk sebagai tanda maaf darinya. Kemudian Jiang Xipun melenggang pergi menuju ke ruangan Jackson dibimbing oleh Mr.Lucas.


***


Di luar ruangan Jackson Lu, tampak Lu Chen yang terlihat sedang menyandarkan dirinya di tembok karena tak kuasa menahan kemarahan di dalam dirinya. Lu Chen tak habis pikir dengan ayahnya yang tak pernah berubah itu. Walau sudah 10 tahun lamanya mereka tak bertemu, rupanya tidak membuat hati Jackson yang sekeras batu itu melunak. Malah hatinya semakin dingin bagaikan bongkahan es.


Seakan tak peduli dengan perasaan Lu Chen, Jackson menuntut sebuah tanggung jawab kepadanya. Yang bahkan dirinya tak pernah mendapatkan pertanggung jawaban ataupun kasih sayang seorang ayah terhadap dirinya. Bagaimana dulunya Lu Chen mengidap mysophobia karena gangguan psikologis yang dia alami. Dikarenakan keegoisan ayahnya sendiri, hingga dirinya harus menerima perpisahan kedua orang tuanya dan harus berjuang dalam kesendirian membangun mental dan kesuksesannya sendiri.


Apa ada darinya yang memberi sedikit saja perhatian kepadanya?.Setidaknya dukungan atas pilihannya sendiri?. Tidak!. Semua itu tidak akan pernah diberikan oleh seorang Jackson Lu kepada putranya sendiri. Lu Chen memegang dadanya yang sesak. Sakit yang sekarang ia rasakan bukanlah sakit karena insomnia ataupun mysophobia yang dideritanya melainkan kekecewaan yang ia dapatkan dari ayah kandungnya sendiri.


Lu Chen bukannya ingin lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang penerus keluarga Lu. Hanya ia belum siap menghadapi ayahnya sendiri, bagaimana harus menghadapinya disaat dirinya sendiri hidup dalam kebencian terhadap ayahnya tersebut. Ia butuh waktu setidaknya waktu untuk berusaha memaafkan.


Ditengah-tengah Lu Chen yang sedang berperang bathin dan menangisi kemalangannya. Jiang Xi datang kepadanya dan menawarkan pelukannya kepada putra satu-satunya itu.


Lu Chen yang masih dalam keadaan kalut menerima pelukan hangat Jiang Xi. Yang sebenarnya dalam hati terdalam Lu Chen, ia sangat merindukan sosok Mommynya yang selalu menyayanginya dengan sepenuh hati. Karena dulu apapun yang terjadi padanya Mommynya itu selalu ada untuknya, walaupun Lu Chen tahu Mommynya selalu saja menyembunyikan perasaan sedihnya itu di depan dirinya.


Mommy Jiang Xi selalu berusaha tersenyum di depan anaknya, walaupun dalam hatinya tercabik-cabik. Lu Chen sangat tahu seperti apa Jiang Xi, walau kini akhirnya dia harus kecewa karena Jiang Xi seolah-olah melupakannya dalam 10 tahun belakangan ini. Lu Chen kehilangan sosok Mommynya yang selalu ada untuknya.

__ADS_1


Lu Chen menangis di pelukan Jiang Xi meluapkan kekecewaannya saat itu. Biarlah ia menjadi orang yang lemah kali ini saja, daripada dirinya harus menahannya hingga dirinya harus berakhir dengan dilema dan keputusasaan.


“Mr. Lucas!. Bawa aku pergi dari sini!.” Pinta Lu Chen kepada Mr.Lucas yang langsung melepaskan pelukan dari Jiang Xi, dan merubah perangainya kembali seperti Lu Chen sedia kala yang selalu acuh kepada Jiang Xi. Lu Chenpun pergi tanpa menatap wajah Jiang Xi, Jiang Xipun lagi-lagi hanya dapat termangu dengan kepergian Lu Chen yang selalu pergi begitu saja.


***


Di gerbang mansion milik keluarga besar Lu, Niki istri dari Jackson Lu berusaha menerobos masuk.


“Nyonya besar akan masuk!. Kenapa kau halangi hah!.” Kesal seorang lelaki yang merupakan asisten dari Niki.


“Ini perintah Tuan Besar, agar tidak mengijinkan nona Niki untuk masuk.” Ucap salah satu bodyguard yang menjaga gerbang.


Saat itu semua tatapan pemburu berita yang berkerumun di depan gerbang serempak menoleh ke arah mereka.


Asisten Nikipun memberitahukan kepada Niki bahwa penjaga tidak ingin membukakan pintu.


“Bilang pada penjaga itu, biarkan aku masuk atau berita Tuan Besarnya telah mengusir istrinya pergi akan tersebar!.” Ucap Niki untuk mengancam penjaga di depan mobilnya. Dan asistennyapun langsung menyampaikan pesan tersebut kepada penjaga.


“Tuan, Nona Niki mengancam akan menyebarkan hal ini kepada media. Bagaimana Tuan?.” Lapor penjaga yang menangani gerbang.


“Aku akan segera konfirmasi soal ini kepada Tuan Besar Jackson. Kau tunggu perintahku!.” Pinta Mr.Lucas agar bawahannya menunggu perintah darinya.


Namun yang ada Tuan Besar Jackson tak mengangkat telpon darinya. Mr.Lucaspun mengambil tindakan untuk membiarkan Niki masuk ke mansion. Khawatir istri Tuan Besarnya itu mencari ulah kepada para wartawan.


***


Lu Chen memilih untuk segera pergi dari mansion dan menuju ke arah mobilnya. Di saat dirinya berjalan menuju arah lobby iapun bertemu Aaron Pamannya.


“Lu, apa yang terjadi?. Di mana kakakku?.” (bahasa mandarin) Aaron yang panik melihat Lu Chen dengan mata yang sembab.


“Tidak apa-apa Paman. Seperti biasanya.” (bahasa mandarin) Ucap Lu Chen lalu segera pamit undur diri darinya.

__ADS_1


“Lu!. Gunakan ini! Banyak wartawan dan kolega ayahmu di depan.” (bahasa mandarin) Pinta Aaron untuk menutupi matanya dengan kacamata hitam agar tak ada satupun orang yang curiga dengan matanya yang sembab.


Lu Chenpun kemudian menutupi matanya itu dengan kacamata hitam pemberian Pamannya. Ia kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju lobby mansion.


Tak disangka tepat di depan Lobby Lu Chen berpapasan dengan Niki yang mobilnya baru saja masuk dan terparkir di lobby mansion.


Iapun mendekati Lu Chen yang tampak menunggu keberadaan mobilnya di depan lobby.


“Apa kamu yang bernama Jason?.” Sapa Niki kepada Lu Chen.


“Benar, anda siapa?.” Tanya Lu Chen yang sedikit enggan menjawab pertanyaan Niki.


“Aku istri ayahmu. Tepatnya Ibu tirimu.” Ungkap Niki dengan lirikan mautnya menatap Lu Chen.


Namun Lu Chen melihat wajah licik dari Niki seketika mengubah perangainya menjadi sedikit angkuh.


“Heh Maaf, istri maupun ibu tiri aku tidak peduli tante!.” Ucap Lu Chen dengan nada ketusnya.


“Baik anak ini maupun yang itu sama saja!. Mereka sama-sama memanggilku tante!.” Gerutu Niki yang kesal karena Lu Chen dan Robby sama-sama memanggilnya tante.


“Apa benar kau seorang artis?.” Kepo Niki.


“Anda tentunya sudah membaca berita tentang diriku?. Ku rasa tidak ada yang perlu kujawab bukan?.” Kesal Lu Chen yang melihat Niki semakin ingin tahu tentangnya.


Dan tak lama mobil Lu Chenpun sampai di depan Lobby, dan Mr.Lucas bergegas membukakan pintu untuk Tuan Mudanya itu.


Sebelum pergi Lu Chenpun sempat pamit dengan Niki Ibu Tirinya yang baru ia jumpai.


“Maaf tante, saya permisi dulu!.” Pamit Lu Chen kepada Niki tanpa membiarkan dia bertanya lebih banyak terhadapnya.


“Isshh..! Kenapa kalau cowok tampan selalu saja susah di dekati?.” Kesal Niki yang tak bisa mendekati buruannya.

__ADS_1


__ADS_2