
Diperjalanan tak ada kata-kata yang terucap diantara keduanya, Lu Chen fokus menatap jalan sambil tangan kirinya menggenggam erat jemari Zahra. Sampai akhirnya mobil Lu Chen berhenti di tepi sungai yang sangat familiar bagi Zahra.
Ya, Lu Chen membawa Zahra ke tepi sungai di mana ia terakhir kali bertemu Jason Lu sebelum akhirnya dipertemukan kembali sepuluh tahun kemudian. Zahra menatap takjub sungai tersebut, sudah banyak ditumbuhi bunga matahari kesukaannya.
“Bagaimana? Apa kamu suka?.” Tanya Lu Chen sambil membawa Zahra mendekat ke tepi sungai.
“Bagus sekali Lu!.” Zahra yang terkesima dengan keindahan tepi sungai itu, sampai ia lupa permasalahan antara dirinya dengan Lu Chen.
“Aku mempersiapkan semua ini untuk permintaan maafku kepadamu.” Ungkap Lu Chen yang dengan tulus meminta maaf kepada Zahra.
Lu Chen lalu meraih tangan Zahra, dan mengucapkan kata-kata yang membuat Zahra tersentuh.
“Bunga, Wuxi Huani!.” Tanpa sengaja air mata Zahra menetes mendengar perkataan Lu Chen yang sangat-sangat dinantikannya. Selama hampir dua bulan dirinya gegana karena Lu Chen, akhirnya semuanya terbayar sudah dengan kata-kata itu.
“Aku memang bukan lelaki sempurna untukmu Bunga, masih banyak yang belum mampu aku berikan kepadamu. Termasuk masa laluku yang belum aku ceritakan semua kepadamu, salah satunya adalah Jia Li. Tapi sungguh itu semua adalah berita bohong, memang dulu aku sempat akan ditunangkan dengannya tapi semuanya telah kubatalkan dan kami tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Aku bersumpah!.” Ungkap Lu Chen yang dapat membuat Zahra tak dapat berkata-kata.
“Aku sengaja datang kemari untuk menjelaskan padamu, walaupun jadwalku sangat padat aku berusaha untuk menemuimu. Dan inilah aku yang memohon kepadamu agar mau memaafkan diriku yang serba kekurangan ini. Aku mohon!.” Permintaan Lu Chen agar Zahra dapat memaafkan dirinya.
Melihat ketulusan Lu Chen Zahrapun meraih pinggang Lu Chen dan memeluknya sambil menangis terharu. Zahra tak menyangka pengorbanan luar biasa yang telah dilakukan Lu Chen yaitu meninggalkan jadwalnya yang sangat padat sebagai seorang artis hanya untuk menjelaskan berita bohong mengenai dirinya.
Lu Chenpun yang melihat kekasih hatinya itu terlihat menangis iapun membalas dengan mengelus punggung Zahra untuk menenangkannya. Akhirnya usahanya untuk menyusul Zahra berhasil walaupun dengan sedikit akal licik.
***
Flashback 1 hari lalu
Saat itu Xiao Feng yang ditugaskan untuk mengawasi Lu Chen 24 jam oleh Aaron Lu tertidur pulas diruangannya. Itu semua ulah Lu Chen yang telah memasukkan obat tidur dosis tinggi ke minuman Xiao Feng.
Pagi hari hingga menjelang siang hari adalah jadwal Lu Chen untuk latihan koreografi. Lu Chen meminta tolong kepada Xiao Feng untuk membelikannya beberapa minuman dingin di toserba terdekat. Dan saat Xiao Feng memberikan semua minuman dingin yang telah ia beli, Lu Chenpun mengeluarkan satu botol minuman dingin yang telah ia buka dan memasukkan obat tidur ke dalamnya dan memberikan botol tersebut kepada Xiao Feng. Dan tanpa curiga Xiao Feng menenggak habis minuman pemberian Lu Chen dan alhasil Xiao Feng tertidur pulas sampai malam hari di ruang latihan.
__ADS_1
Lu Chen yang melihat Xiao Feng yang sudah tertidur pulas itu langsung menelpon seseorang melalui ponselnya.
“Bagaimana? Apa semua sudah kau urus?.” Tanya Lu Chen kepada orang disebrang telponnya.
“Bagus!. Aku akan secepatnya menuju ke bandara sore ini.” Lu Chen langsung mengemasi perlengkapannya dan kabur dari ruang latihan. Lu Chen terlihat berjalan hati-hati agar tidak tertangkap CCTV.
Dan akhirnya Lu Chen berhasil sampai di bandara Soekarna Hatta dan langsung disambut oleh Mr. Lucas yang merupakan ajudan sekaligus asisten pribadi dari Jackson Lu. Dan ternyata orang yang membantunya kabur dari Cina itu adalah Mr. Lucas, karena pada dasarnya Mr. Lucas senang dengan tuan mudanya yang kembali ke Jakarta kota kelahiran Lu Chen.
Flashback selesai
***
Di tepi sungai terlihat dua insan yang sedang melepas kerinduan sambil menatap indahnya pemandangan di sore itu. Dengan posisi Zahra yang menyandarkan kepalanya di bahu Lu Chen dan Lu Chen yang membelai & mencium mesra pucuk kepala kekasih hatinya sesekali.
“Lu, bagaimana nasib Xiao Feng?.” Zahra yang sudah mendengar langsung mengenai Lu Chen yang mengerjai Xiao Feng untuk bisa pergi dari Cina.
“Lalu bagaimana dengan Jia Li? Apa dia tahu kamu kemari?.” Tanya Zahra yang khawatir Jia Li akan bertindak nekad.
“Kamu tenang saja, aku tidak akan diam begitu saja!. Setelah dia mengusikku, ku pastikan hidupnya tidak akan mudah!. Apalagi sampai dia mengusikmu, bahkan keluargaku saja tidak akan kubiarkan!.” Tegas Lu Chen yang tidak akan membiarkan orang lain mengusik dirinya dan Zahra.
“Lu, ada sesuatu yang sangat ingin kutanyakan. Bagaimana kamu bisa menyukaiku?. Padahal saat itu aku masih Zahra yang dulu. Ya maksudku kamu itu kan “Bunga Sekolah…” Tanya Zahra dengan ragu-ragu kepada Lu Chen.
“Entahlah! Mungkin saat itu kamu menggunakan guna-guna terhadapku?.” Canda Lu Chen yang langsung disambar dengan cubitan kecil dipinggang Lu Chen oleh Zahra.
Dan Lu Chenpun meraih jemari Zahra dan mulai berkata serius kembali.
“Cinta itu tak dapat diprediksi datangnya, mungkin saat itu kamulah peri cantik yang dikirimkan tuhan kepadaku. Dan aku sangat mensyukuri pemberiannya, karena memang sesuai dengan prediksiku bahwa hanya dirimu yang dapat membuat hati ini tersentuh. Kamu bisa merasakannya sendiri.” Sambil meletakkan jemari Zahra di dada Lu Chen, hingga Zahra dapat merasakan detak jantung Lu Chen yang terasa sangat cepat berdetak.
Dan merekapun saling memandang satu sama lain, hingga tak terasa bibir mereka saling bertemu. Dan tepi sungai itu menjadi saksi bisu di mana Lu Chen mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada Zahra. Saat itu Zahra dan Lu Chen berada di tepi sungai tersebut hingga hari menjelang malam tiba.
__ADS_1
***
Akhirnya Zahra diantar oleh Lu Chen sampai ke depan pintu rumah orang tuanya. Zahra masih merasa sangat rindu kepada Lu Chen, rasanya berat untuk melepas kekasihnya itu pergi. Tapi mau bagaimana lagi hari sudah malam, Lu Chen khawatir orang tua Zahra akan mencemaskannya karena izin sejak pagi hari. Dan Lu Chenpun masih harus beristirahat karena dirinya masih merasakan Jet lag karena belum lama sampai Jakarta, dirinya langsung menemui Zahra.
Zahrapun memberikan kecupan mesra di bibir Lu Chen, tanda perpisahan darinya. Lu Chenpun langsung kembali menuju mobilnya, namun tiba-tiba saja ada tangan yang memeluknya dari belakang. Tangan itu adalah tangan Zahra yang belum bisa melepas Lu Chen pergi. Zahra yang tiba-tiba bersikap manja itu membuat Lu Chen bahagia, karena akhirnya kekasihnya dapat jujur pada hatinya.
“Aku besok akan menjemputmu untuk ke kantor dan aku akan menemanimu seharian. Bagaimana?. Apa kamu senang?.” Tawaran Lu Chen yang langsung mendapatkan anggukan dari Zahra tanpa melepaskan pelukannya ke Lu Chen.
***
Di sisi lain terlihat Aaron Lu yang menatap nyalang Xiao Feng yang kepergok ketiduran di ruang latihan.
“Bisa kamu jelaskan?.” Tanya Aaron yang mulai tak bisa menahan amarahnya.
“Maaf saya tidak sadar Tuan, tiba-tiba saja saya merasa sangat mengantuk dan akhirnya saya tertidur pulas. Maafkan saya!.” Xiao Feng yang menjawab apa adanya, dan memang benar dirinya tanpa sengaja tertidur.
“Klien kita sudah membayar mahal untuk ini! Bagaimana kamu menjelaskan tentang pinalti yang kita terima?.” Aaron memasang wajah kusutnya karena dengan absennya Lu Chen dia harus membayar beberapa pinalti kepada beberapa klien yang memakai Lu Chen sebagai modelnya.
Dan sebenarnya Aaron tahu Xiao Feng tidaklah bersalah dalam hal ini. Ia sangat tahu bagaimana keponakkannya Lu Chen, pabila sudah berkehendak tak dapat dicegah oleh siapapun.
Xiao Feng yang terkena imbas dari Lu Chenpun hanya bisa menundukkan kepala dan mengusap-usap tengkuk lehernya menghadapi Aaron.
Author
Kesian Xiao Feng jadi korban terus
__ADS_1