
“Derrtt..!. Derrrtt!!.” Suara ponsel Lu Chen berbunyi.
Lu Chen meraba-raba meja di sebelah tempat tidurnya untuk menggapai ponselnya.
“Ya Halo!.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang menjawab dengan suara khas bangun tidurnya.
“Bagaimana harimu, Lu?.” (bahasa mandarin) Tanya Xiao Feng di seberang telponnya.
“Sialan kau Xiao Feng!. Sudah beberapa hari ini kau sulit dihubungi!. Pasti sengaja menghindar dariku kan?.” (bahasa mandarin) Kesal Lu Chen yang begitu tahu Xiao Feng yang meneleponnya.
“Bukan menghindar aku hanya memberikan kalian waktu untuk bermesraan!. Hahaha!. Bagaimana kejutannya?.” (bahasa mandarin) Tanya Xiao Feng.
“Kau sengaja membuatku merana kan?. Kau sudah tahu dan tidak langsung memberitahu aku?.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang marah karena Xiao Feng mengerjainya.
“Itu hukuman karena kau selalu membuatku susah Lu!. Kau tahu akhir-akhir ini semenjak dirimu pacaran dengan Zahra, berapa kali kau membuat ulah!. Dan siapa yang kau buat susah kalau bukan diriku Lu?. Itu tidak ada apa-apanya dengan kesulitanku!.” (bahasa mandarin) Ucap Xiao Feng yang ingin Lu Chen mengerti penderitaannya.
“Baiklah!. Baiklah!. Anggap saja aku sedang berbaik hati padamu jadi aku tidak akan mempermasalahkan ini. Tapi begitu kau kembali ke Beijing, aku pastikan kau akan membayarnya!.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang masih ingin membalas perbuatan Xiao Feng.
“Kalau begitu aku akan segera mengalihkan pekerjaanku kepada Bo!. Sudah Lu Chen aku akan menikmati masa-masa cutiku dulu!. Bye!.” (bahasa mandarin) Lagi-lagi Xiao Feng mematikan panggilannya secara sepihak.
“Dasar Xiao Feng!. Awas saja kau pulang nanti aku pastikan hidupmu tidak akan tenang!.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang marah-marah kepada ponselnya.
***
Xiao Feng manajer Lu Chen hari itu tengah mendaki gunung di daerah Shang Hai kota kelahirannya. Ia memutuskan untuk menghabiskan waktunya sampai malam tahun baru di salah satu pegunungan yang ada di Shang Hai.
Ia mendaki hingga menemukan sebuah tebing yang indah di atas gunung tersebut. Iapun memutuskan untuk beristirahat sejenak di tebing tersebut. Xiao Feng mengambil termos air yang ada di ranselnya kemudian meneguknya hingga habis.
Di sela-sela dirinya yang sedang lelah akibat menempuh perjalanan panjang menuju puncak gunung iapun mendengar suara teriakkan minta tolong yang berasal dari jalan curam yang tak jauh dari tempatnya duduk.
“Tolong!!.” (bahasa mandarin) Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita meminta tolong. Seketika bulu kuduk Xiao Fengpun berdiri, ia menebak-nebak siapa yang berteriak minta tolong siang-siang begini?.” Dan gunung saat itu sedang sepi dari pengunjung.
“Tolong!!. (bahasa mandarin) Lalu terdengar kembali suara teriakkan minta tolong di arah yang sama. Dan suaranya semakin terdengar kencang ke telinga Xiao Feng.
Xiao Fengpun memutuskan untuk mencari sumber suara tersebut, lalu jalan menuju jalan curam di mana suara berasal.
“Ini gila!. Tapi kalau aku gak tolongin kasihan!.” (bahasa mandarin) Bathin Xiao Feng karena tak tega dengan yang meminta pertolongan.
Iapun mulai menelusuri jalan curam itu, perlahan-lahan dan sangat hati-hati Xiao Feng menuruni jalan tersebut. Banyak semak belukar dan akar-akar pohon yang menjadi penghalang jalannya. Dan di situ terdapat tulisan “Beware Dangerous Area,!.” Ingin Xiao Feng berhenti melangkah pada saat itu, tapi lagi-lagi suara itu terdengar kembali dan kali ini diiringi dengan suara isak tangis.
__ADS_1
Xiao Feng akhirnya memutuskan kembali mencari asal suara tersebut. Dan tak berapa lama ia mendapati sebuah tangan yang mencengkram engkel kakinya saat itu.
“Akkhhh!.” Xiao Feng hampir saja pergi berlari karena takut. Namun tangan itu berhasil mencengkram kuat kaki Xiao Feng hingga ia tak dapat kabur.
Xiao Fengpun akhirnya melihat tangan siapa yang sudah berani mencengkram engkel kakinya. Dan iapun melihat seorang perempuan yang sedang terjebak di antara akar-akar pohon yang ada di semak-semak tersebut. Dan Xiao Feng memperjelas pandangannya kepada siapa orang tersebut, dan ternyata orang tersebut adalah Sunny Chen rekan duet Lu Chen.
“Xiao Xiao!. Syukurlah ada kau!. Tolong aku!.” (bahasa mandarin) Pinta Sunny Chen yang ingin Xiao Feng menariknya dari akar yang membelitnya.
“Sunny?. Ngapain kamu di sini?. Dan apa ini?. Kau memanggilku apa?.” (bahasa mandarin) Kesal Xiao Feng yang lagi-lagi dipanggil dengan sebutan baru oleh Sunny.
“Kau jangan bertanya dulu!. Yang penting sekarang lepaskan aku dari jeratan akar ini!.” (bahasa mandarin) Pinta Sunny yang ingin Xiao Feng cepat menariknya.
Dan Xiao Fengpun menarik Sunny Chen sampai akhirnya terbebas dari jeratan akar yang melilit kakinya.
“Terima kasih Xiao Xiao!.” (bahasa mandarin) Sunny Chen langsung memeluk Xiao Feng yang seketika membuat wajah Xiao Feng memerah.
“Ya ya!. Sama sama!.” (bahasa mandarin) Jawab Xiao Feng terbata-bata.
“Bagaimana kau bisa ada di sini?.” (bahasa mandarin) Tanya Xiao Feng kembali.
“Aku tadi sedang berjalan menyusuri gunung, lalu aku tersesat dan tak sengaja bertemu babi hutan. Dan aku dikejar sampai kemari!. Babi hutan itu sangat kejam padaku!. Dia tidak tahu kalau aku ini artis yang sedang naik daun!. Bagaimana kalau aku ditemukan tak bernyawa karena babi hutan itu?.” (bahasa mandarin) Ungkap Sunny Chen dengan diringi rengekannya yang seperti anak kecil.
“Tadi aku bersama ke dua temanku. Lalu di tengah jalan aku sibuk selfie, sehingga tertinggal teman-temanku. Dan aku berakhir di sini jadinya!.” (bahasa mandarin) Lagi-lagi Sunny memasang wajah memelasnya ke arah Xiao Feng tanpa melepaskan genggaman tangan Xiao Feng karena rasa takutnya.
“Sudah-sudah aku akan ke atas gunung, apa kau mau ikut?.” (bahasa mandarin) Ajak Xiao Feng kepada Sunny.
“Benarkah aku boleh bersamamu?.” (bahasa mandarin) Sunny yang sangat senang dengan ajakan Xiao Feng.
“Ya boleh, memang apa yang membuat kau berpikir kalau aku tak akan memperbolehkannya?.” (bahasa mandarin) Tanya Xiao Feng yang sedikit bingung dengan reaksi Sunny.
“Karena selama ini kau terlihat benci kepadaku. Kau selalu memasang wajah kesalmu kepadaku.” (bahasa mandarin) Ungkap Sunny yang memang sering diperlakukan seperti itu oleh Xiao Feng.
“Itu perasaanmu saja!.” (bahasa mandarin) Ucap Xiao Feng lalu membantu Sunny Chen untuk naik ke atas jalan dan melanjutkan perjalanan hingga ke puncak gunung.
Mereka berdua kala itu mulai saling mengenal satu sama lain, dan ternyata Sunny adalah wanita yang menyenangkan dan tidak manja seperti yang Xiao Feng pikirkan. Mereka akhirnya menikmati waktu berdua hingga penutupan tahun baru di pegunungan Shang Hai.
***
“Kita mau ke mana?.” Tanya Zahra yang berada di mobil bersama Lu Chen yang sedang menyetir.
__ADS_1
“Kau tidak perlu tahu, karena ini surprise!.” Jawab Lu Chen sambil merekahkan senyumannya.
Tak lama setelah itu mobil mereka pun sampai di sebuah restoran mewah yang berada di kota Beijing. Lu Chen membukakan pintu mobilnya untuk Zahra, dan meraih tangan Zahra untuk turun dari mobil.
Zahra yang melihat restoran mewah itu menjadi terkesima melihat keindahan restoran tersebut. Hingga akhirnya lamunannya terbuyarkan oleh suara salah satu pelayan restoran yang mengarahkan mereka ke tempat tujuan.
Lu Chen rupanya menyewa restoran itu semalaman khusus untuk mereka berdua. Dan staf di restoran itupun hanya sedikit, karena ia tak ingin ada yang menyebarkan rumor kencannya bersama Zahra.
Lu Chen akhirnya membawa Zahra ke dining table yang sangat mewah di restoran tersebut. Dining table tersebut sudah dihiasi bunga mawar merah yang sangat banyak dan beberapa aksen gold untuk melengkapi kemewahan dekorasinya.
“Maaf sayang, aku hanya bisa mempersiapkan ini untukmu. Padahal sebenarnya aku sangat ingin membawamu pergi berwisata ke sebuah tempat. Hanya untuk saat ini sepertinya sulit, karena pasti banyak paparazi yang menemukan kita.” Maaf Lu Chen kepada Zahra karena tak bisa mewujudkan keinginannya.
“Ini sudah sangat luar biasa sayang. Apalagi yang aku inginkan, sudah bisa bersamamu saja aku sudah merasa bahagia.” Ungkap Zahra yang membuat Lu Chen terenyuh dengan perkataannya.
Lalu Lu Chenpun meminta para pelayan untuk menyiapkan semua menunya. Dan datanglah beberapa menu mewah yang ditutupi tutup saji mewah khas restoran itu.
Merekapun makan malam ditemani oleh beberapa pelayan yang siap melayani mereka kapanpun.
“Apa menunya enak?.” Tanya Lu Chen.
“Yah sangat enak, tapi sayangnya perutku tak mampu untuk menampung semuanya.” Ucap Zahra yang sudah merasa kekenyangan.
Lu Chen akhirnya meminta semua pelayan pergi dari hadapan mereka berdua. Dan mulai mendekati Zahra, kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah maroon yang dihiasi dengan pita emas di atasnya.
“Bukalah!.” Lu Chen memberikan kotak tersebut kepada Zahra.
“Apa ini, Lu?.” Tanya Zahra yang mulai penasaran dengan isinya.
Zahrapun membuka kotak tersebut dan ia menemukan sebuah cincin di sana. Cincin dengan permata ruby di atasnya membuat cincin itu semakin terlihat berkilau bila dipandang. Zahrapun menjadi terharu dibuatnya, ia meneteskan air mata atas kejutan yang diberikan Lu Chen di malam itu.
“Bunga, aku tahu ini sangat terburu-buru. Tapi aku tak ingin menunggu lagi. Maukah kau menikah denganku?.” Lu Chen yang melamar Zahra saat itu.
Seketika Zahra menjadi teringat dengan pertemuan terakhirnya bersama Jason di tepi sungai. Saat itu Zahra mengira Jason memberinya sebuah cincin tapi kenyataannya dia hanya mengembalikan gantungan kuncinya saja. Dan hari ini khayalan Zahra saat itu menjadi nyata. Jason Lu memberikan cincin untuk melamarnya, Zahra sungguh tak menyangka ternyata hal itu telah menjadi kenyataan.
Dan Zahrapun menganggukkan kepalanya tanda dirinya setuju atas permintaan Lu Chen.
“Ya, aku setuju!.” Jawab Zahra yang langsung memeluk Lu Chen saat itu.
Lu Chenpun kemudian memakaikan cincin tersebut di jari manis milik Zahra. Dan mereka saling berpelukkan mesra dan menghabiskan waktu bersama di restoran mewah tersebut sambil menikmati pemandangan kembang api di roof top restoran.
__ADS_1