Cowok Cantik Milik Zahra

Cowok Cantik Milik Zahra
Ungkapan Cinta Yang Tertunda


__ADS_3

Lokasi Syuting 


Lu Chen sedang dalam persiapan syuting hari pertama drama kolosalnya, ia terlihat sedang menghafal naskah sembari di make up oleh MUA yang bertugas. Tampak Xiao Feng yang datang menghampirinya dengan membawa peralatan milik Lu Chen yang tertinggal di mobil.


“Terima kasih!.” Ucap Lu Chen kepada Xiao Feng yang telah membantunya membawakan barang-barang miliknya.


“Sama-sama. Oh ya Lu Chen aku ingin berbicara serius kepadamu.” Xiao Feng yang berkata kepada Lu Chen sembari memberi kode agar Lu Chen membuat MUA yang meriasnya pergi.


“Oh, aku rasa sudah cukup. Kau boleh pergi!. Terima Kasih!.” Lu Chen meminta MUA yang meriasnya agar segera pergi dari tempatnya.


Selepas kepergian MUA tersebut, Xiao Feng mulai menarik kursi yang ada di sebelah Lu Chen dan mulai berbicara serius.


“Kau tahu polisi masih belum menemukan jejak sipir itu. Ini sudah lebih dari dua minggu lamanya, sepertinya kali ini kamu harus meminta bantuan Mr. Feng. Apa kau sudah menghubunginya kembali?.” (bahasa mandarin) Tanya Xiao Feng yang memberi sedikit saran kepada Lu Chen.


“Kamu benar, tapi harusnya Mr. Feng sudah menghubungiku. Dia sudah berjanji padaku, dan mungkin juga saat ini dia sudah tahu kasus ini. Aku yakin itu!.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang tak ingin mencurigai Mr. Feng.


“Tapi hal ini sangat aneh, biasanya polisi dapat menemukan bukti hanya dalam hitungan hari saja. Tapi ini sudah dua minggu lamanya, bisa jadi ini ada campur tangan mafia di dalamnya. Aku serius!. Pasti ada hubungannya dengan Mr. Feng.” (bahasa mandarin) Ucap Xiao Feng yang sekali lagi meyakinkan Lu Chen.


“Baiklah!. Setelah ini aku akan menghubunginya. Tapi seandainya itu memang benar aku harus menemui sipir itu sendiri dan menanyakan langsung kepadanya.” (bahasa mandarin) Ucap Lu Chen yang ingin melihat sendiri sipir itu.


“Bagaimana kabar Zahra, Lu?. Pasti kau sekarang bahagia bisa bersama dengannya dalam satu rumah. Ya, walaupun belum satu kamar.” (bahasa mandarin) Canda Xiao Feng kepada Lu Chen.


"Ehem!. Jaga bicaramu!. Aku di sana hanya untuk menjaganya saja!. Karena situasi sudah sangat berbahaya, kamu tahu aku tak dapat mengawasinya 24 jam.” (bahasa mandarin) Ucap Lu Chen yang mengingatkan Xiao Feng bahwa tidak ada maksud lain darinya.


“Sudah andaikan kamu melewati batas itu, kamu tinggal membawanya ke catatan sipil terdekat!. Aku siap menjadi saksi kalian!.” (bahasa mandarin) Canda Xiao Feng yang langsung di hadiahi pukulan maut di bahunya oleh Lu Chen.


“Pergi Kau!.” (bahasa mandarin) Usir Lu Chen agar Xiao Feng segera pergi dari hadapannya.


Lu Chen pun meneruskan kegiatannya menghafal naskah miliknya sebelum panggilan dari crew untuk memulai *scene-*nya. Lu Chen kali ini memerankan sosok seorang pendekar yang jatuh cinta dengan seorang peri. Seorang pendekar cantik yang sangat dikagumi oleh banyak wanita tapi dirinya tidak memiliki ketertarikan kepada wanita-wanita tersebut, karena dirinya belum menemukan cinta sejati yang dapat menarik perhatiannya.


Sampai akhirnya dirinya dipertemukan dengan seorang peri cantik tapi memiliki pikiran yang cabul yang selalu mencoba menggodanya dengan berbagai cara tanpa mengenal malu. Kisah pendekar cantik dan peri cabul ini memiliki banyak adegan-adegan lucu di mana peri cabul tersebut beberapa kali mencoba mengintip sang pendekar mandi dan juga diam-diam menggodanya di tempat tidur. Walaupun banyak adegan yang sedikit erotis namun tak banyak memiliki adegan intim di dalamnya karena tiap adegan selalu diiringi oleh kegagalan si peri cabul dalam percobaannya menggoda sang pendekar.


Lu Chen sengaja memilih drama ini karena selain berlatar sejarah, namun juga tak banyak memiliki adegan intim di dalamnya. Walaupun ini pertama kalinya Lu Chen memilih komedi percintaan seperti ini, yang biasanya ia memilih menjadi karakter seorang yang dingin dan penuh ambisi. Ia mencoba sesuatu yang baru untuk terakhir kalinya mengambil peran dalam drama sebelum dirinya berniat untuk pensiun dari dunia hiburan.


Ya, Lu Chen tahun ini memilih untuk pensiun dari dunia hiburan dan kembali ke Jakarta dan meneruskan bisnis keluarganya. Setelah berbicara dengan Pamannya dan berdamai dengan Mommy nya akhirnya Lu Chen memutuskan untuk mengakhiri kontraknya bersama Light Entertainment sampai beberapa bulan ke depan.


Namun hal tersebut belum diketahui Zahra kekasihnya, ia memilih merahasiakannya sampai masalah mereka selesai bahkan keputusannya ini belum diketahui oleh Ayahnya Jackson.

__ADS_1


Tentu saja ini merupakan keputusan yang sulit yang harus diambil Lu Chen. Ia harus mengorbankan karirnya selama kurang lebih 6 tahun lamanya sebagai seorang artis. Namun ia harus melakukannya untuk menepati janjinya kepada kakeknya, Mr. Zao Lu.


***


Robby tengah sibuk melipat pakaian-pakaian untuk di masukkan ke dalam koper. Robby saat ini berniat untuk meninggalkan Beijing dan kembali ke Jakarta, ia tak dapat menetap lama di Beijing karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukannya di Jakarta. Apalagi Mr. Lucas sudah berkali-kali menelponnya agar dirinya segera kembali.


Dengan berat hati Robby harus menuruti perintah Jackson Lu bila ingin posisinya tetap aman di perusahaan. Di sela-sela dirinya yang sedang merapihkan beberapa pakaiannya tiba-tiba saja sebuah amplop besar terjatuh dari lemarinya.


Ternyata di dalamnya terdapat beberapa foto Zahra yang Robby ambil saat di studio kantor Zahra untuk pertama kali. Foto yang di tangisinya saat pertama kali melihat gosip Lu Chen yang tertangkap kamera bersama Zahra. Robby saat itu berpikir Kalau Zahra telah menjalin hubungan dengan Lu Chen dan memang sudah menjadi kenyataan saat ini Zahra telah menjadi pasangan Lu Chen.


Robby merasa bahwa saat inilah waktu yang tepat dirinya untuk mengungkapkan semua perasaannya kepada Zahra dan memilih untuk menyerah. Dia harus menemui Zahra untuk terakhir kalinya, sebelum dirinya pergi meninggalkan Beijing. Robby pun mulai mengetikkan pesan kepada Zahra saat itu.


-Pesan-


Pengirim : Robby


"Bisakah luangkan waktu sebentar saja ada yang harus ku bicarakan denganmu. Ku mohon!."


Dan tak lama Zahra pun membalas pesan Robby.


Pengirim : Zahra


"Ke kantor saja!. Kebetulan Jessica sedang tidak ada. Kau tahu bagaimana posesifnya dia kepadaku!."


Robby yang melihat pesan Zahra sedikit tersenyum karena mengingat posesifnya Jessica waktu itu. Robby memaklumi Jessica yang bertindak seperti itu karena ingin menjaga perasaan Lu Chen.


-Pesan-


Pengirim : Robby


"Baiklah aku segera ke sana!."


Robby lalu mengambil mantelnya dan bergegas ke kantor Zahra dengan mengendarai mobilnya.


Kira-kira kurang lebih satu jam perjalanan Robby akhirnya sampai di kantor Zahra. Robby langsung menelpon Zahra agar dirinya bisa langsung menemui saat itu tanpa harus melalui petugas keamanan.


“Halo Zahra!. Aku sudah sampai di lobby kantormu.” Ucap Robby yang sembari melihat di sekitar, Robby yang saat itu risih dengan tatapan para karyawan wanita yang tengah menatapnya dengan tatapan kagum.

__ADS_1


“Hai Rob!. Naik langsung saja ke atas!.” Ucap Zahra.


“Maaf, Zahra. Bisakah kamu turun menemui ku. Aku tidak nyaman kalau harus ke atas sendiri.” Pinta Robby yang merasa tidak nyaman dengan tatapan para karyawan wanita itu.


“Baiklah aku akan ke bawah, tunggu sebentar!.” Jawab Zahra.


Saat itu Robby memang sedang tidak berpakaian formal seperti biasanya. Ia hanya menggunakan kaos putih oblong celana jeans dan mantel panjang. Walaupun dengan penampilan sederhananya sudah membuat para wanita klepek-klepek dibuatnya. Mungkin saja para karyawan wanita akan sangat menyayangkan bahwa lelaki nan hot macam Robby ini sudah ditolak mentah-mentah oleh Zahra.


“Robby!.” Teriakan Zahra memanggil Robby dari kejauhan.


Dan Robby pun menjawabnya dengan lambaian tangan. Seketika para karyawan wanita terkejut dengan kedatangan Zahra yang menghampiri Robby di lobby. Mulut para wanita itu mulai bergosip yang tidak-tidak soal Zahra dan Robby. Untung saja Zahra tak mengerti bahasa mereka jadi tak terlalu memusingkan perkataan julid para karyawan wanita tersebut. Tapi berbeda hal dengan Robby ia sangat jelas mendengar bahwa karyawan itu bergosip mengenai Zahra yang selalu mendapatkan lelaki tampan dan mereka menganggap Zahra tidak puas dengan Lu Chen dan beralih ke lelaki lainnya. Dan Robby hanya tersenyum simpul mendengar perkataan karyawan wanita tersebut lalu pergi mengikuti Zahra menuju ke lantai atas.


Sesampainya di ruangan Zahra, Robby langsung mengutarakan maksud dan tujuannya bertemu dengan Zahra.


“Zahra, aku akan kembali ke Jakarta.” Dengan menatap lekat manik mata Zahra dari kejauhan, Robby mulai memberanikan diri mengatakan isi hatinya.


“Kapan?.” Tanya Zahra yang tak tahu maksud dan tujuan Robby saat itu.


“Besok pagi.” Jawab Robby.


“Cepat sekali!.” Zahra yang terkejut dengan kembalinya Robby yang terkesan terburu-buru.


“Zahra, aku kemari karena sesuatu hal. Bolehkah aku mengatakannya?.” Tegas Robby yang ingin langsung pada intinya.


“Katakanlah!.” Zahra yang ingin Robby langsung mengatakannya.


“Aku menyukaimu, Zahra. Bukan hanya menyukaimu tapi aku mencintaimu.” Ungkap Robby yang seketika membuat Zahra menjatuhkan cangkir teh yang ada di tangannya.


“Zahra kamu tidak apa-apa?.” Robby yang secara spontan membantu Zahra membersihkan bajunya yang terkena tumpahan teh.


“Aku tidak apa-apa!.” Zahra yang merasa risih dengan bantuan Robby.


“Maafkan aku yang tiba-tiba, hanya saja aku tidak dapat berbohong kepada diriku sendiri dan tak bisa menyembunyikannya lagi. Aku tahu ini tidak pantas tapi aku harus mengatakannya karena dengan ini aku bisa menyerah terhadapmu dan kembali menjalani hidupku dengan tenang.” Ungkap Robby yang sekali lagi membuat Zahra membeku tak dapat berkata-kata.


Zahra sebenarnya sudah lama mengetahui hal ini, bahwa sebenarnya Robby masih memiliki rasa suka terhadapnya. Hanya saja ia berpura-pura tidak tahu dan memilih bersikap biasa saja karena tak ingin menyakiti perasaan Robby seperti dulu. Ia ingin membangun sebuah hubungan pertemanan yang tulus dengan Robby. Namun yang ada sikapnya ini membawa Robby semakin memiliki rasa cinta yang mendalam kepadanya.


“Ya Tuhan!. Apakah aku berdosa kepadanya?.” Batin Zahra saat itu.

__ADS_1


__ADS_2