Cowok Cantik Milik Zahra

Cowok Cantik Milik Zahra
Robby Yang Hangat


__ADS_3

Sore itu Zahra sangat ingin melepas penat yang sudah beberapa minggu ini dirinya tahan. Iapun memutuskan untuk pulang berjalan kaki hingga ke halte bis terdekat. Zahra berjalan sambil merenungkan hari-harinya yang dipenuhi konflik bathin.


Di saat dirinya yang sedang melamun sambil menatap jalan, dirinya tak sengaja berpapasan dengan Robby Lu di pinggir jalan menuju halte bis. Robby yang terlihat tersenyum ke arahnya saat itu mengingatkan Zahra pada perkataan Amber yang mengatakan bahwa Robby tidak seperti yang dirinya pikirkan. Zahrapun tanpa ragu mengulas senyumnya membalas senyuman Robby. Ke duanya pun mulai bertegur sapa dengan rasa yang sedikit canggung, karena baru kali ini Zahra menyapa Robby dengan nada yang ramah.


“Hai Rob? Apa kabarmu?.” Sapa Zahra memulai percakapan terlebih dahulu.


“Oh hai Ra! Kabarku baik! Kamu?.” Tanya Robby kembali.


“Yah! Seperti yang kamu lihat sekarang. Sepertinya aku baik-baik saja.” Dengan wajah terlihat ragu-ragu menjawab pertanyaan Robby.


Namun Robby yang tahu kalau Zahra sedang menyembunyikan sesuatu memilih diam saja dan bersikap seperti biasa.


“Sedang apa di sini?.” Tanya Zahra kepada Robby.


“HHmm.. tidak hanya…” Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan mengarahkan wajahnya ke arah layar besar di sebuah gedung bertingkat tepat di depan jalan.


“Wah Rob! Apa benar itu kamu?. Apa kamu seorang pengusaha?.” Tanya Zahra yang saat itu terkejut dengan foto Robby yang terpampang jelas di sebuah layar besar di atas gedung tersebut.


“Yahh… seperti itulah.” Robby kembali merasa malu sambil mengusap wajahnya yang menahan malu dihadapan Zahra.


“Bukannya kamu adalah seorang Fotografer?. Apa hanya aku yang tidak mengetahuinya?.” Zahra masih penasaran dengan status asli Robby, kembali bertanya kepadanya.


“Fotografi hanya hobiku saja, inilah pekerjaanku sebenarnya.” Jawab Robby sambil menyunggingkan senyum manisnya.


Zahrapun melihat penampilan Robby saat itu yang memang sangat pas sebagai seorang eksekutif kelas atas. Dengan stelan jas mahal, atribut bermerk dan mobil mewah yang ia gunakan membuatnya yakin kalau Robby bukanlah orang biasa.


“Wah Rob! Kamu memang tak bisa di duga!.” Zahra mendekati Robby dan menepuk bahunya dengan ramah. Robby yang melihat itupun merasa bahagia ternyata dengan perlakuan Zahra yang seperti itu, membuatnya terlihat lebih cantik dan hangat. Dan Robby tak henti-hentinya tersenyum ke arah Zahra.


“Dan kamu sedang apa di sini? Tak biasanya berjalan sendirian tanpa didampingi supir Jessica?.” Tanya balik Robby yang penasaran dengan Zahra yang berjalan sendirian di jalanan.


“Oh itu… aku hanya ingin melepas penat saja.” Sambil tersenyum kecut ke arah Robby.


Robby yang melihat itupun langsung memiliki ide untuk membawa Zahra ke suatu tempat. Robby menarik tangan Zahra dan membawanya ke mobil mewah miliknya. Zahra yang ditarik tangannyapun hanya bisa diam dan mengikuti pergerakkan Robby dan ikut masuk ke dalam mobil.


Robbypun mulai menjalankan mobilnya dan menyusuri kota Beijing yang sangat indah di sore hari. Mereka akhirnya berhenti di sebuah danau indah dipinggiran kota tersebut, Robby membukakan pintu Zahra dan membukakan tali seat belt miliknya. Tingkah Robby yang sangat hangat kepadanya itu membuat Zahra sedikit bingung dan sempat mengira bahwa Robby masih berharap dengannya. Tapi pikiran-pikiran itu ditepis Zahra dan mencoba berpikir positif bahwa saat ini Robby hanya berusaha menjadi teman yang baik untuknya.

__ADS_1


Saat turun dari mobil Zahra langsung terperangah dengan keindahan danau yang ada di hadapannya. Ia berpikir ternyata di Beijing banyak sekali harta karun yang belum sempat ia saksikan, salah satunya adalah danau ini.


“Danau apa ini Rob?.” Tanya Zahra.


“Ini danau beku yang ada di kota Beijing, sangat indah dipandang saat masuk musim dingin seperti ini.” Jawab Robby dengan antusiasnya.


“Wah! Indah sekali!.” Sambil menggesek-gesekkan tangannya yang mulai terlihat kedinginan.


Robby yang melihat itupun langsung membuka mantelnya dan memberikannya kepada Zahra. Saat itu Zahra yang awalnya ingin menolak pemberian Robby akhirnya menerimanya karena ia benar-benar mulai kedinginan. Robby akhirnya membawa Zahra ke kedai di dekat danau tersebut.


Robbypun memesan minuman hangat dan makanan rebusan yang dapat menghangatkan tubuh mereka.


“Bu! Hot Potnya untuk dua porsi dan ginseng merahnya dua! Dan dua paket dumpling!.” (bahasa mandarin) Teriak Robby yang memesan makanan kepada ibu pemilik kedai tersebut.


“Banyak sekali kamu memesannya?.” Protes Zahra yang melihat begitu banyak menu yang dipesan Robby.


“Sudah kamu tenang saja! Hari ini aku yang traktir!.” Jawab Robby sambil berbisik di telinga Zahra.


Ibu kedai yang ada di toko tersebutpun setelah melayani tamu-tamu yang lainnya menghampiri Robby.


“Inginnya seperti itu, Bu.” (bahasa mandarin) Balas Robby sambil tersenyum ke arah Ibu kedai.


Zahrapun yang mencuri-curi dengar percakapan mereka berdua dan berusaha mengartikan kata-kata mereka, namun sayang Zahra tidak mengerti dengan percakapan mereka akhirnya memilih diam saja.


Ibu kedai itupun kembali ke dapur dan mulai berkutat dengan masakannya.


“Kamu sering kemari?.” Tanya Zahra yang mulai penasaran.


“Yah, begitulah. Aku sering melakukan sesi foto di sini dengan beberapa klienku.” Jawab Robby singkat.


“Bukannya kamu sudah memiliki pekerjaan? Kenapa masih mencari pekerjaan lain? Apalagi pekerjaan itu tidak sebanding dengan pekerjaanmu sekarang?.” Tanya Zahra yang memasang wajah penasarannya ke arah Robby.


“HHmm.. bisa dibilang aku hanya ingin menyalurkan hobiku saja tanpa ada bayang-bayang sebuah kewajiban di dalamnya.” Robby berkata sambil membuang nafasnya kasar.


“Maksudmu?.” Zahra yang masih bingung dengan perkataan Robby kembali bertanya.

__ADS_1


“Perusahaan itu bukan perusahaan milikku, itu semua milik keluargaku. Hanyalah sebuah kewajiban yang harus aku jalankan, sehingga menuntut agar aku dapat berperan dengan baik di dalamnya. Ya, meski hati ini sulit menerima, akhirnya mau tidak mau aku harus menjalankannya dengan baik 'kan?.” Senyum kecut mengiringi setiap perkataan Robby.


“Aku mengerti, maaf kalau aku banyak bertanya. Hanya saja semua begitu mendadak dan aku seperti tidak mengenal dirimu. Dan memang aku tidak pernah mengenalmu, lebih tepatnya tidak mau tahu tentangmu dan selalu menganggapmu tidak baik. Dan maaf… maafkan atas sikapku yang sebelumnya. Aku sudah salah menilaimu. Maafkan aku!.” Maaf tulus yang terucap dari mulut Zahra untuk Robby, yang seketika membuat Robby terperangah dan tak bisa berkata-kata. Hingga lamunan Robby saat itu terintrupsi oleh ibu kedai yang membawa pesanan mereka.


“Ehem! Sepertinya kita harus makan terlebih dahulu, takut nanti makanannya keburu dingin.” Robby mengajak Zahra agar segera melahap makanannya sambil tersenyum canggung.


“Oh! Baiklah!.” Jawab Zahra dan mulai melahap menu yang ada di depan matanya.


Ditengah-tengah asik melahap makanannya, diam-diam Robby melihat ekspresi Zahra yang sedang melahap menu hot pot dengan nafsu dan terlihat kelaparan. Zahra yang melihat tatapan Robby kepadanya seketika menjadi malu, dan mencoba membersihkan mulutnya takut ada sisa makanan yang menempel di bibirnya. Namun seketika Robby meraih sisa kotoran yang ada di bibir Zahra dengan tangan telanjangnya. Zahra yang mendapat perlakuan itu dari Robbypun langsung mencoba menepis tangan Robby dari bibirnya.


“Oh maaf, aku hanya reflek saja. Aku biasa membersihkan kotoran di bibir Mommyku saat makan.” Kebohongan yang dibuat Robby untuk menutupi kecanggungannya.


“Ehem! Bagaimana kabar Lu Chen?.” Seketika keluar pertanyaan mengenai Lu Chen begitu saja dari mulut Robby.


“Hhmm.. apa kamu sudah mengetahuinya?.” Tanya Zahra yang yakin kalau Robby sudah mengetahui hubungannya dengan Lu Chen. Dan dijawab dengan anggukan dari Robby.


“Apa Amber yang memberitahunya?.” Tanya Zahra kembali, dan dijawab dengan anggukan kembali oleh Robby.


“Apa kamu baik-baik saja?. Tanya Robby yang mengarah pada topik hangat yang sedang ramai baru-baru ini.


“Oh itu, aku baik-baik saja.” Jawab Zahra mencoba untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya sebenarnya tidaklah baik-baik saja. Dan Robby yang melihat itu lebih memilih tersenyum dan kembali melahap menu hot pot yang ada di hadapannya.


Robby saat itu menemani Zahra dari sore hingga malam hari. Ia menemani Zahra berkeliling di sekitar danau, dan mengelilingi pasar tradisional yang ada tak jauh dari danau tersebut. Mata Zahra terhenti di sebuah toko klontong yang menjual banyak manisan berbentuk stick di depannya. Dan iapun membeli beberapa buah manisan tersebut dan membungkusnya untuk di bawa pulang. Bak anak kecil yang membawa pulang mainan, Zahra terlihat sangat bahagia dengan setangkai gulali di tangannya. Dan moment itupun diabadikan oleh Robby dengan menggunakan ponselnya secara diam-diam tentunya.



Kira-kira begini ya ekspresinya Zahra saat lihat gulali


Robby saat itu sangat bahagia karena setelah sekian lama akhirnya ia bisa merasakan berjalan berdua dengan pujaan hatinya. Hari itupun berakhir dengan kenangan manis yang dapat mengobati luka hati Zahra walaupun hanya sekejap saja, karena walau bagaimanapun Lu Chen telah bersemayam terlalu dalam di lubuk hatinya. Sulit untuk orang lain masuk dan menggantikan posisi Lu Chen dengan mudah.


 


Author


Maju terus Koko Robby pantang mundur!

__ADS_1


 


__ADS_2