
Para tamu undangan memenuhi Aula Mall GG Group. Para pengusaha besar dan tak sedikit artis yang diundang dalam Launching Brand milik Jiang Xi tersebut. Dan Lu Chen turut diundang sebagai Brand Ambassador terbaru dari Brand GG Group. Tampak Lu Chen memasuki Lobby mall dan langsung di padati oleh para fansnya. Lu Chen tampil dengan sangat memukau dengan stelan jas hitamnya menambah aura ketampanannya, hingga dapat membuat para fans wanitanya tergila-gila.
Setelah Lu Chen memasuki lobby mall, tak lama kemudian datanglah mobil mewah milik Robby Lu yang juga ditumpangi oleh Amber. Mereka berdua seketika jadi pusat perhatian karena memiliki wajah yang sangat tampan dan memukau tak kalah dengan Lu Chen. Wartawan langsung mengabadikan moment ke dua insan tersebut karena penampilan mereka bak artis papan atas saja.
Tapi satu hal yang mereka tidak tahu, bahwa salah satu dari mereka adalah seorang wanita. Karena melihat Robby Lu yang langsung merangkul pinggang Amber dan seketika Amber merubah sikapnya yang macho itu menjadi centil layaknya seorang wanita. Sontak membuat orang-orang yang melihat, menatap mereka dengan tatapan yang ambigu. Mungkin dibenak mereka ada dua kemungkinan, mereka menganggap kedua pasangan itu adalah pasangan sesama jenis atau kecewa ternyata Amber yang tampan hanyalah seorang wanita. Entahlah!.
Lu Chen yang melihat kedatangan sepupu tirinya itupun menghampirinya dan langsung menjabat tangan Robby begitu juga dengan Amber. Amber yang baru melihat Lu Chenpun langsung terpanah dengan ketampanan Lu Chen.
“Pantas aja Zahra ‘gak bisa move on!.” Ucapan itu begitu saja keluar dari mulut Amber tanpa Amber sadari.
Karena memang Zahra sering menyebut-nyebut nama Jason Lu, di setiap dirinya yang sering menggoda Zahra. Zahra selalu menyebut nama Jason Lu dikala itu, untuk menghentikan godaan Amber yang selalu men jodoh-jodohkan dengan lelaki yang ia tidak sukai. Zahra selalu mengaku bahwa dia pernah punya cinta pertama yaitu Jason Lu. Walaupun sebenarnya Amber pun tak tahu tampang Lu Chen, sampai akhirnya Jessica pun menceritakan tentang kedekatan Zahra dengan Lu Chen.
Lu Chen yang mendengarnya pun meminta Amber untuk mengulang kata-katanya. Amber langsung meralat kata-katanya itu dan berkata bahwa dirinya hanya asal bicara. Namun berbeda dengan Robby yang sangat jelas mendengar kata-kata Amber, dan seketika membuat wajahnya berubah kesal.
“Hai Kak Rob, apa kabar?. Ini siapa?. Pacarmu?.” Lu Chen menyunggingkan senyumannya seolah menyindir Robby. Lu Chen dan Robby memang tidak akrab, padahal saat mereka kecil dulu mereka terlihat sangat akrab. Namun karena Lu Chen tahu bahwa Summer Lu, mommy Robby sangat gila harta dan mengincar kekayaan keluarganya. Membuat Lu Chen membatasi dirinya dari Robby, dan menganggap bahwa Robby sifatnya tak jauh dengan mommy nya itu.
“Bukan dia sahabat sekaligus partnerku saat ini.” Dengan nada datar menjawab pertanyaan Lu Chen dan melirik ke arah Amber mengisyaratkan untuk memperkenalkan dirinya.
“Oh Hai, aku Amber partner Robby sekaligus sahabat dekat Zahra. Robby bukan pacar aku, tapi mungkin akan jadi pacarnya sahabat aku. Hahaha.” Amber berkata tanpa dosa ke arah Lu Chen, karena Amber saat itu tidak suka dengan sikap Lu Chen yang seolah meremehkan Robby temannya.
“Ok, baiklah aku undur duluan kalau begitu. Senang bertemu kalian!.” Sontak Lu Chen membuang wajahnya dari hadapan mereka berdua, seolah-olah tak terima dengan perkataan Amber saat itu.
***
Di sisi lain Zahra, Jessica beserta asistennya sedang sibuk dengan model-model yang ada di back stage. Mereka bertiga tengah berjuang demi mendadani para model agar tampil maksimal di catwalk nanti. Di saat mereka sibuk muncullah Robby dan Amber menghampiri mereka yang tengah sibuk itu.
Amber langsung merangkul ke dua sahabatnya dengan hangat, seolah-olah lama tak bertemu padahal kemarin mereka baru saja menghabiskan malam bersama di mansion. Namun mereka lupa bahwa ada lelaki tampan yang dilupakan oleh mereka yaitu Robby.
Zahra dan Robby terlihat canggung saat ingin saling menyapa, tanpa berpikir dua kali Robby langsung menyambar tangan Zahra dan menjabatnya. Jessica melihat dengan jelas tatapan berharap yang dipancarkan oleh Robby terhadap Zahra, terlihat dari tangan Robby yang seolah-olah tak mau lepas dari Zahra. Namun tatapan itu berbeda dengan Zahra, Jessica melihat Zahra tidak menyukai Robby seolah-olah ingin segera menghindar.
Jessica yang melihat itupun langsung ingin menghentikan jabatan tangan Robby kepada Zahra. Namun seketika sebuah tangan melepaskan genggaman tangan Robby. Orang itu adalah Lu Chen, yang mendadak datang mendekat ke arah Robby dan Zahra. Lu Chen terlihat tidak suka, apabila Zahra didekati oleh sepupu tirinya itu, langsung melepaskan tangan Robby dari tangan Zahra.
__ADS_1
Saat itu Lu Chen dan Robby terlihat bertatapan dengan tatapan saling mengintimidasi. Jessica dan Amber yang melihat itupun, seperti melihat adanya perang dingin diantara keduanya. Dan Zahra yang berada ditengah-tengah perang dingin mereka langsung menarik tangan Lu Chen dan menjauh dari Robby.
“Maaf semuanya aku ada urusan sebentar dengannya. Amber, boleh kamu gantikan aku menyelesaikan pekerjaanku?.” Zahra meminta teman-temannya untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan selagi dirinya menyelesaikan urusannya dengan Lu Chen. Yang sebenarnya dirinya merasa tidak memiliki urusan dengannya.
Zahra menarik Lu Chen hingga ke gudang Wardrobe yang ada di ujung backstage.
“Mau apa kamu menemui ku?.” Zahra memulai pembicaraan dengan Lu Chen.
“Mau menagih janjimu padaku.” Lu Chen menegaskan bahwa dirinya menagih janji sebuah jawaban tentang ajakannya berpacaran saat itu.
“Memangnya jawaban apa yang kamu inginkan saat ini? Jujur aku merasa kamu hanya bercanda, karena aku tidak suka dipermainkan. Dan aku benci hal itu.” Zahra menegaskan di setiap kata-katanya bahwa ia tak ingin dipermainkan oleh seorang laki-laki.
Lu Chen lebih mendekatkan dirinya ke arah Zahra, hingga ke dua manik mata mereka saling memandang dalam jarak yang sangat dekat.
DEG
DEG
DEG
“Sejak kapan aku bercanda untuk hal yang penting seperti ini?. Kamu sudah tahu apa yang aku inginkan saat ini?. Dan aku yakin kamu pun memiliki perasaan yang sama dengan diriku?.” Lu Chen meyakinkan Zahra bahwa dirinya tidak main-main dengan perkataannya.
“Aku masih butuh waktu, karena ini terlalu mendadak dan aku tak ada waktu untuk memikirkan hal itu di saat-saat seperti ini. Kamu tahu 'kan maksudku?. Lagipula bagaimana kamu tahu tentang perasaanku?.” Zahra berbicara kepada Lu Chen tanpa berani menatap ke arah Lu Chen. Itu membuat Lu Chen semakin yakin dengan tebakannya.
“Aduhhh nih jantung 'gak bisa kompromi apa?.” Batin Zahra menggerutu terhadap jantungnya yang tidak berbohong saat ini. Karena jelas perkataan dan hati Zahra saat ini sedang berseberangan.
“Apa perlu aku buktikan?.” Lu Chen mendekatkan bibirnya ke arah bibir Zahra, namun seketika Zahra mengelak dan membuang wajahnya ke arah berlawanan.
“Pokoknya aku butuh waktu untuk itu. Ku mohon kamu mengerti, jangan terus memaksaku karena aku merasa tidak nyaman.” Zahra langsung menjauhkan tubuh Lu Chen darinya dan berjalan menuju arah pintu. Saat Zahra mulai menjauh tangan Lu Chen menarik tangan Zahra.
“Aku akan menunggumu, tapi kumohon jangan terlalu lama karena aku bukanlah orang yang punya banyak waktu. Kamu tahu kan?.” Lu Chen menegaskan kepada Zahra bahwa dirinya bukanlah orang yang punya banyak waktu untuk menunggu.
__ADS_1
Zahra berlalu dari hadapan Lu Chen dengan wajah yang sulit diartikan. Dan Lu Chen memandang Zahra yang pergi meninggalkannya dengan penuh harap.
***
Di lobby terlihat Jiang Xi yang datang bersama ke tiga asistennya melenggang masuk ke dalam aula mall, untuk mengecek pekerjaan anak buahnya. Begitu menuju ke area backstage, Jiang Xi mendapati Zahra yang keluar dari ruang wardrobe. Namun Zahra tidak menyadari kedatangan dari Jiang xi saat itu, tak berapa lama Jiang Xi melihat Lu Chen juga keluar dari ruangan yang sama dengan Zahra.
“Lu!.” Jiang Xi memanggil anaknya itu dari kejauhan.
Lu Chen secara reflek menoleh ke arah belakang, mencari suara yang dia yakini itu adalah suara mommy nya Jiang Xi. Lu Chen menatap mommy nya itu dengan perasaan rindu sekaligus benci.
“Lama tidak bertemu? Apa kabarmu Lu?. Apa kau tidak merindukanku?.” Jiang Xi menyapa dan menghampiri anaknya yang sudah dua tahun lamanya tidak bertemu. Iapun memeluk dengan penuh kerinduan terhadap anaknya tersebut.
Namun berbeda dengan Lu Chen, Lu Chen melepaskan pelukan hangat mommy nya tersebut dengan kasar. Dengan sikap Jiang Xi yang seolah tidak peduli dengan anak semata wayangnya itu, membuat Lu Chen menganggap bahwa ibunya telah meninggalkannya. Setelah perceraian kedua orang tuanya, Lu Chen ikut dengan mommy nya ke Cina dengan harapan melupakan kisahnya bersama mantan suaminya itu selama di Indonesia. Namun yang terjadi Jiang Xi malah sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan Lu Chen yang saat itu butuh kasih sayang dari mommy nya itu.
Lu Chen yang remaja dan butuh dukungan orang tua di sampingnya malah dekat dengan pamannya Aaron Lu. Aaron selalu ada di saat Lu Chen membutuhkan dukungan moril, sedang Jiang Xi sebagai ibunya hanya memberi dukungan materi saja. Perasaan hormat Lu Chen terhadap mommy nya itu sudah hilang, seperti perlakuannya Jiang Xi selama sepuluh tahun ini kepadanya.
“Rupanya kau masih ingat pulang? Ku kira kau lupa kalau kau memiliki seorang anak?.” Lu Chen menatap wajah Jiang Xi dengan penuh kebencian.
“Apa kau masih sering bermimpi buruk Lu?. Kenapa wajahmu terlihat kusut?.” Jiang Xi melihat dibawah mata Lu Chen sedikit ada kantung mata. Jiang Xi memperlihatkan raut wajah khawatir kepada anaknya itu. Iapun membelai wajah anak kesayangannya itu dengan lembut, namun perlakuannya itu langsung ditepis oleh Lu Chen.
“Apa peduli mu? Anggaplah aku tidak ada seperti biasanya.” Lu Chen segera pergi meninggalkan Jiang Xi dengan wajah yang kesal. Ia sungguh tak menyangka akan bertemu mommy nya itu di sini, padahal tujuannya hanya untuk menemui Zahra semata, hal ini membuat moodnya menjadi buruk.
Jiang Xi yang melihat penolakan anaknya itu yang kesekian kalinya, membuat air matanya jatuh tanpa sadar. Ia mengerti sebagai seorang ibu, dirinya bukanlah seorang ibu yang baik. Namun tak ada salahnya sebagai ibu, ia hanya ingin dianggap oleh anaknya terlepas dari perlakuannya selama sepuluh tahun ini.
Author
Di balik senyumnya ternyata Lu Chen menyimpan banyak luka ya?
__ADS_1