Cowok Cantik Milik Zahra

Cowok Cantik Milik Zahra
Di balik Sebuah Berita


__ADS_3

Di Perusahaan S


“Tuan, saya membawa kabar dari Indonesia!.” (bahasa mandarin) Ucap seorang lelaki berbadan kekar yang merupakan anak buah dari seorang bos besar di depannya.


“Kabar apa itu?.” (bahasa mandarin) Tanya lelaki paruh baya yang tenyata Mr. Feng, Ayah Jia Li.


“Tuan Jackson jatuh sakit saat acara peringatan kematian Mr. Zao Lu.” (bahasa mandarin) Jawab asisten Mr. Feng.


“Mengapa kau baru memberitahukanku sekarang?.” (bahasa mandarin) Sesal Mr. Feng.


“Maafkan aku, Tuan.” (bahasa mandarin) Jawab asisten Mr. Feng tersebut sambil menundukkan kepala.


“Baiklah!. Kau boleh pergi!.” (bahasa mandarin) Pinta Mr. Feng kepada asistennya. Iapun meraih ponsel dan men-dial nomor seseorang.


“Halo, Aaron.” (bahasa mandarin) Tanya Mr. Feng kepada Aaron Lu, Paman Lu Chen.


“Ya Mr. Feng. Ada yang bisa ku bantu?.” (bahasa mandarin) Tanya Aaron


“Apa kau sibuk?.” (bahasa mandarin) Tanya Mr. Feng kembali.


“Sedikit, aku dan crew baru saja sampai di Beijing. Saat ini aku sedang berada di Bandara.” (bahasa mandarin) Jawab Aaron yang baru beberapa menit yang lalu sampai di bandara.


“Apa Jackson sedang sakit?.” (bahasa mandarin) Tanya Mr. Feng yang ingin tahu kabar dari Jackson.


“Iya, tapi saat ini ia sudah dapat bangun dari tempat tidurnya. Namun belum bisa kembali ke kantor.” (bahasa mandarin) Ungkap Aaron yang memberi kabar soal kakaknya Jackson.


“Maafkan aku yang baru tahu hal ini, dan juga maaf aku tak bisa hadir diperingatan kematian kakek Zao Lu.” (bahasa mandarin) Ucap Mr. Feng yang menyesal tidak hadir di acara penting keluarga Lu.


“Tidak apa-apa Mr. Feng. Kami tahu orang super sibuk seperti dirimu sulit untuk mengosongkan jadwal.” (bahasa mandarin) Ucap Aaron yang mewakili keluarga Lu.


“Aaron apa kau dapat meluangkan waktumu untuk bertemu denganku?.” (bahasa mandarin) Tanya Mr. Feng yang ingin berbicara empat mata dengan Aaron.


“Tentu saja Mr. Feng mungkin besok sore setelah pertemuanku dengan beberapa klien, aku akan mampir ke kantormu.” (bahasa mandarin) Ucap Aaron yang memberitahu jadwalnya kepada Mr. Feng.


“Baiklah, aku akan coba menyesuaikan jadwalku denganmu. Aku akan mengabarkan kembali nanti Aaron.!.” (bahasa mandarin) Ucap Mr. Feng yang kemudian menyudahi pembicaraannya dengan Aaron.

__ADS_1


Tak lama Mr. Fengpun kembali memanggil asistennya untuk masuk ke dalam ruangan.


“Shawn!. Aturkan jadwalku besok sore untuk pertemuan dengan Aaron Lu.” (bahasa mandarin) Pinta Mr. Feng kepada asitennya Shawn.


“Tapi Tuan, besok sore anda sudah berjanji kepada nona Jia Li untuk berbelanja bersama.” (bahasa mandarin) Jawab Shawn bahwa Mr. Feng sudah ada jadwal janji dengan putrinya.


“Oh ya!. Kenapa aku bisa lupa?.” (bahasa mandarin) Mr. Feng yang memijat dahinya yang lupa akan janji dirinya kepada Jia Li.


“Ngomong-ngomong soal Jia Li, apakah dia.. maksudku apa dia berulah lagi seperti dulu?. Karena aku curiga dengan kembalinya putriku itu yang tiba-tiba. Entah kenapa sepertinya ada sesuatu yang tidak beres dengan ini.” (bahasa mandarin) Ungkap Mr. Feng yang mulai mencurigai Jia Li.


“Sebenarnya saya ingin memberitahukan hal ini kepada anda, Tuan. Namun saya merasa ragu-ragu.” (bahasa mandarin) Ungkap Shawn yang sedikit tergagap itu.


“Apa itu Shawn!. Apa kau tidak ingat tugasmu?. Permasalahan sekecil apapun kau harus memberitahukannya kepadaku!.” (bahasa mandarin) Ucap Mr. Feng yang mulai menggunakan nada tingginya kepada Shawn.


Dan Shawn mulai memberikan ponselnya yang berisi berita seputar kekasih rahasia Lu Chen. Dan berita kehebohan di instagram soal wawancara Jia Li dengan sebuah media cetak dan Konferensi pers Lu Chen di media beberapa bulan yang lalu. Mr. Feng tidak habis pikir dengan semua pemberitaan itu, kenapa ia bisa melewatkan berita-berita tersebut. Dan lebih kesalnya lagi ternyata ia mengetahui bahwa putrinya itu sudah pulang ke Beijing dari beberapa bulan yang lalu.


Karena kesibukkan Mr. Feng mengurus cabang perusahaan yang berada di Perancis hingga dirinya harus bolak-balik Perancis-Beijing, karena itulah ia tak dapat setiap saat melihat berita yang ada di media.


“Shawn!. Mengapa aku bisa melewatkan hal ini?.” (bahasa mandarin) Kesal Mr. Feng.


“Kau gila Shawn!. Apa yang harus aku katakan kepada Jackson dan juga anaknya?. Putriku ternyata masih bertingkah seperti dulu.” (bahasa mandarin) Mr. Feng yang mulai melampiaskan kemarahannya dan menggebrak meja kerjanya.


***


Apartemen Lu Chen


“Paman!. Kenapa ikut kemari?. Aku bukan anak kecil lagi!.” (bahasa mandarin) kesal Lu Chen yang terus diikuti oleh Pamannya sampai ke apartemen miliknya.


“Aku tidak akan membiarkan kejadian dua hari lalu terjadi lagi. Aku sudah kecolongan dua kali!.” (bahasa mandarin) Ucap Aaron yang tak ingin melihat Lu Chen kabur untuk yang ke tiga kali.


“Paman, buat apa aku kabur?. Sedang di sini tidak ada Zahra?. Tidak ada alasan aku harus melarikan diri!.” (bahasa mandarin) Kesal Lu Chen kepada Pamannya Aaron.


“Oh berarti kalau Zahra nanti kembali kemari, kau akan melakukan hal yang sama begitu maksudmu?.” (bahasa mandarin) Aaron yang tahu maksud tersembunyi dari perkataan keponakkannya itu.


“Sudahlah Paman! Aku harus beristirahat!. Aku ini artismu yang butuh istirahat, karena aku harus menunjukkan performa terbaik dalam setiap karyaku!. Ingat masih banyak pekerjaan yang menanti!.” (bahasa mandarin) Ucap Lu Chen yang tidak ingin mendengar ocehan Pamannya kembali.

__ADS_1


“Ok ok!. Aku akan pergi!. Tapi ingat untuk sebulan ini kamu tidak boleh pergi tanpa sepengetahuan Xiao Feng!. Ingat! Kejadian kita di bandara tadi sore?. Banyak pihak yang ingin mendapat klarifikasi darimu!.” (bahasa mandarin) Pinta Aaron yang lagi-lagi ingin mengingatkan Lu Chen atas sikapnya.


“Baiklah!. Baiklah!. Aku pergi!.” Aaron Lu langsung pergi menuju pintu ke luar apartemen Lu Chen.


“Akhirnya!.” (bahasa mandarin) Lu Chen yang dapat bernafas lega dengan kepergian Aaron.


Selepas kepergian Pamannya, Lu Chen segera menghubungi seseorang melalui ponselnya.


“Halo, bisakah aku memesan whisky?.” (bahasa mandarin) Ucap Lu Chen kepada seseorang di ponselnya.


Lu Chen lalu membuang ponsel ke sofa yang berada di ruang tamunya. Sepertinya hari ini Lu Chen sangat lelah dengan berbagai macam permasalahan di dalam hidupnya hingga memilih untuk melampiaskannya dengan meminum alkohol.


***


Di sebuah Cafe terlihat Jia Li yang tampak sedang menyesap minuman jus dengan anggunnya. Kemudian tak lama datanglah seorang wanita mendekati mejanya.


“Apa anda sudah menunggu lama?.” (bahasa mandarin) Tanya wanita itu kepada Jia Li.


“Lumayan, sudah sekitar 15 menit yang lalu tapi tidak apa-apa.” (bahasa mandarin) Jawab Jia Li.


“Baiklah!. Apa maksud dan tujuan anda memanggil saya?.” (bahasa mandarin) Tanya wanita itu to the point.


“Saya hanya ingin bertanya siapa yang telah menaikkan berita Lu Chen dan seorang wanita tak dikenal?. Saya tahu perusahaan anda yang telah merilisnya dan pasti anda tahu mengenai hal ini?.” (bahasa mandarin) Tanya Jia Li yang ingin tahu siapa dalang dibalik kehebohan ini.


“Loh, bukannya Anda yang meminta salah satu pekerja kami untuk menaikkan artikel tersebut?.” (bahasa mandarin) Ungkap wanita tersebut menanggapi pertanyaan Jia Li.


“Saya?. Sejak kapan?.” (bahasa mandarin) Jia Li yang mulai bingung karena ada seseorang yang mengatas namakan dirinya dalam perilisan berita tersebut.


“Kami memiliki semua buktinya, kalau tidak percaya anda dapat mengeceknya sendiri.” (bahasa mandarin) Wanita itupun memberikan bukti chat atas nama Jia Li.


“Anda memang selalu menggunakan nomor baru bila menghubungi kami. Dan saya tidak mencurigainya sama sekali, selama hal tersebut tidak merugikan dan malah justru menguntungkan kami. Kami tidak akan pernah mempermasalahkannya.” (bahasa mandarin) Ungkap wanita tersebut yang tak ingin disalahkan dalam hal ini.


“Baiklah anda boleh pergi!. Tapi ke depannya tolong beritahukan dulu kepada saya sebelum anda merilisnya. Akan saya berikan nomor baru saya kepada anda, jangan pernah membalas pesan siapapun yang mengatas namakan diri saya di luar nomor itu!.” (bahasa mandarin) Pesan Jia Li kepada wanita tersebut dan akhirnya iapun memilih segera pamit dari hadapan Jia Li.


“Sial!. Siapa yang berani mempermainkanku?.” (bahasa mandarin) Gumam Jia Li sambil meremas tisu yang ada di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2