
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Setelah hatinya sedikit tenang. Barulah Devan kembali ke lantai atas menyusul anak dan istrinya.
Cek ... lek ...
"Ayah!" seru Reyvano langsung berlari kearah ayahnya setelah pintu kamar itu dibuka oleh Devan.
"Ada apa sayang!" melihat putranya, pria itu menundukkan tubuh untuk mengendong si buah hati.
"Ley, au atan tekalang." memperlihatkan wajah sedihnya. Sudah dari dua menit lalu dia mengajak ibunya makan. Tapi Zizi mengatakan harus menunggu ayahnya.
"Lalu kenapa tidak minta sama ibu?" Devan berjalan menuju sofa. Sambil matanya melirik kearah Zivanna yang lagi membereskan tempat tidur bekas dia dan Reyvano. Wanita itu sudah selesai mandi dan terlihat semakin cantik karena mengenakan pakaian yang sudah dipersiapkan untuknya.
"Ata ibu atan na tunggu Ayah." jawab Rey yang sudah duduk bersama ayahnya. Dihadapan mereka, di atas meja kaca. Sudah dipenuhi oleh berbagai macam makanan-makanan. Termasuk makanan yang dibuat oleh Devan dan Rey tadi pagi.
"Seharusnya jika sudah lapar, makan saja duluan. Tidak usah menunggu ayah lagi. Maaf ya, membuat Rey dan ibu harus menunggu." kata Devan mengelus kepala Reyvano.
"Zi, ayo kita makan. Biarkan saja pekerjaannya, di rumah ini banyak para pelayan." meskipun mengetahui Zizi malas berbicara dengannya. Devan terus berusaha agar wanita yang biasanya bawel dan manja kepadanya. Bisa kembali seperti dulu lagi.
"Eum!" Zizi berdehem dan berjalan menuju sofa yang berada dihadapan anak dan suaminya. Lalu dia mengambil satu piring, setelah itu mengisi piring tersebut dengan makanan. Baru setelahnya diberikan pada sang suami.
"Terima kasih!" ucap Devan menerima piring yang sudah diisi makanan. "Kamu juga makan. Rey biar Kakak yang menyuapinya." lanjutnya lagi sambil mencuri-curi pandang pada istrinya.
"Biar aku saja yang menyuapinya, nanti kamu tidak kenyang bila sambil menyuapinya Rey." cegah wanita itu karena tidak ingin Devan kerepotan. Berbeda dengan dirinya yang sudah terbiasa.
"Tidak apa-apa, dia putraku. Bukan anak orang lain." jawab Devan santai tapi penuh makna. Pria itu mulai menunjukan kalau dia benar-benar Ayah Reyvano.
Zivanna tidak bicara. Dia hanya mengambil piring satu lagi, lalu mengisi sesuai yang dia inginkan karena piring tersebut untuk dia sendiri.
Selama mereka makan yang terdengar hanya suara Reyvano. Anak itu tidak bisa diam. Dia selalu bertanya ini dan itu pada ayahnya. Sosok yang dia rindukan dari saat lahir, sampai berumur tiga tahun lebih.
"Apa sudah selesai? Kenapa tidak nambah. Kakak sengaja memasak untukmu. Dulu kamu sangat suka dengan goreng udang." sengaja berkata seperti itu agar Zizi mengingat kalau mereka berdua, juga pernah memiliki kenangan indah.
"Aku sudah kenyang!" menjawab seperlunya. Wanita itu bukannya tidak ingat. Hanya saja bila mengingat kenangan masa lalu membuatnya terluka. Kenangan dimana Zizi begitu mendambakan hubungan mereka. Sama halnya dengan rumah indah yang mereka tempati saat ini.
"Makan saja, setelah itu biar ku bantu kalau dirimu ingin mandi. Tapi obatnya jangan lupa di minum juga." Zivanna langsung berdiri dari sofa meninggalkan suami dan anaknya yang masih makan.
Dia pergi keluar dari kamar untuk mencari Sekertaris Jimi. Laki-laki yang hari ini dia anggap musuh karena mengira sudah bekerjasama dengan Devan.
"Ibu nana?" tanya Reyvano melihat ibunya pergi.
"Entahlah, Ayah juga tidak tahu. Mungkin ibu lagi pergi kebawah." belum sempat Devan bertanya, Zizi sudah keluar dari kamar lebih dulu. Lalu ayah dan anak itu melanjutkan sarapan pagi yang sudah menjadi makan siang.
Di lantai bawah.
"Sekertaris Jimi!" pangil Zizi begitu melihat laki-laki itu masih berada di ruang tengah.
"Iya Nona muda." Sekertaris Jimi langsung menutup laptopnya dan melihat kearah asal suara.
"Eum ... bisa tolong carikan perban penutup luka, tapi yang anti air. Dulu saat aku habis melahirkan Reyvano, aku mengunakan perban itu." ternyata semarah apapun Zizi. Dia masih memiliki hati untuk mengurus orang yang sudah menghancurkan hidupnya.
"Baik Nona! Anda tunggu saja di atas. Sepuluh menit lagi Saya antar kesana." berjanji sepuluh menit lagi akan mengantarkan ke atas. Sekertaris Jimi bukannya pergi mencari benda tersebut. Tapi malah membuka laptopnya lagi.
"Huh! Aku tunggu dalam sepuluh menit. Jika tidak, biarkan aku yang pergi membelinya sendiri." Ancam Zizi sebelum meninggalkan tempat itu. Sekertaris Jimi yang diancam seperti itu hanya tersenyum dan mengelengkan kepalanya.
Baginya melihat Zivanna seperti itu malah terlihat semakin lucu. Sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya. Sekertaris Jimi mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada salah satu pengawal Atmaja group, untuk mencari perban yang di inginkan oleh nona mudanya tadi.
__ADS_1
"Ibu dali nana!" Reyvano kembali bertanya begitu melihat Zivanna sudah datang.
"Ibu dari bawah! Apa makannya sudah selesai?" Zivanna kembali lagi duduk di atas sofa.
"Tudah, Ley au ain lagi ya." jawab Rey pergi kearah mainan baru yang diantar oleh para pelayan.
"Dari mana?" tanya Devan menatap wajah Zizi dengan lekat
"Dari mencari Sekertaris Jimi." ditatap oleh Devan membuat jantung Zizi tiba-tiba berdegup kencang. Sehingga membuatnya langsung membuang muka agar pandangan mereka tidak bertemu.
"Zi!" pangil Devan singkat.
"Eum!" ikut menjawab dengan tiga kata.
"Kita berdua sangat dekat. Tapi meskipun dirimu sudah berada dihadapan Kakak. Kamu bagaikan sebuah bayangan yang tidak bisa Kakak peluk, walau hanya sesaat." ungkap Devan tidak bisa menahan perasaannya. Mereka masih berstatus suami istri. Namun, untuk sekedar bicara saja sudah susah.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu. Zivanna langsung menundukkan pandangannya. Sebelum dia menjawab pertanyaan tersebut.
"Bila dengan sebuah jarak kita tidak saling menyakiti. Maka biarkan tetap seperti ini. Sebuah bayangan tidak akan menyakiti bayangan lainya." menarik nafas pelan, agar tidak menjatuhkan air mata.
"Ku mohon tolong lepaskan semua kenangan yang pernah kita miliki, karena sesungguhnya aku tidak ingin lagi terluka. Bila mengigat masa lalu, hanya membuat dadaku sesak. Maka dari itu bila---"
Tok ...
Tok ...
Ketukan pintu, membuat Zivanna meninggalkan Devan yang terdiam mendengar ucapannya, karena dia tahu kalau yang mengetuk pintu itu adalah Sekertaris Jimi.
"Terima kasih!" Zizi menerima perban yang dipesannya tadi. Lalu setelah Sekertaris Jimi pergi, dia kembali menutup pintunya.
"Lepaskan baju mu!" tidak menjelaskan untuk apa, tiba-tiba langsung menyuruh Devan membuka bajunya.
"Sepertinya mengeluarkan darah lagi." sudah bicara biasa saja. Padahal sebelum kedatangan Sekertaris Jimi. Mereka sempat saling mengungkapkan perasaan yang sama-sama terluka. Itulah Zivanna, terkadang dia bersikap baik dan terkadang menatap Devan seperti musuh.
"Mungkin tadi pagi, saat memandikan anak kita." jawab Devan kembali menyebutkan kata anak kita.
"Aauh!" Devan meringis saat Zizi sedikit menekan lukanya. Mungkin karena marah mendengar ucapan sang suami. Jadinya dia lampiaskan pada luka yang tidak bersalah dan tidak tahu apapun.
"Tahanlah! Ini tidak sakit." tiba-tiba rasa kesal datang disaat waktu yang salah. Bagaimana waktunya tidak salah, saat ini Zivanna sedang melapisi kain kasa tersebut dengan perban anti air.
"Lakukan saja seperti apa mau mu. Asalkan bisa meluapkan rasa bencimu pada Kakak." kata Devan yang sudah menduganya sejak awal. Tapi dia bahagia karena Zivanna masih perhatian padanya.
"Sudah selesai! Sekarang tinggal mandi." seru Zivanna setelah selesai melapisi perbankan tersebut.
"Baiklah, terima kasih! Aku akan mandi sekarang." kata Devan hendak berdiri. Namun, tanpa di sangka-sangka dia mencium pipi kanan Zizi karena wanita itu berada satu sofa dengan nya.
Cup ...
"Jangan marah-marah, bila kamu marah maka akan semakin terlihat cantik." tersenyum sambil berlalu masuk kedalam kamar mandi.
Zivanna yang hendak menjawab kata-kata Devan tidak jadi karena Reyvano memangilnya.
"Ibu patang nini," ucap Rey yang seakan-akan menjadi malaikat penolong untuk ayahnya yang sudah mencuri ciuman sang ibu.
"Agh, iya sebentar!" Zivanna menyimpan perban yang masih berada di tangannya lebih dulu. Baru setelah itu mendekati putranya.
"Apa sayang," ibu muda itu duduk bersama anaknya di atas karpet.
"Patang ban obinnya. Nda bica putel." Reyvano memberikan permainannya pada sang ibu.
"Wah, ini bukannya tidak bisa muter. Tapi bungkusnya belum dilepas." Zizi melepaskan plastik yang masih membungkus permainan tersebut, karena permainan masih baru.
__ADS_1
"Ibu pintal tayak Om tavin." puji Reyvano setelah permainanya sudah bisa digunakan.
"Ibu belum bisa menghubungi Om Kevin, Nak. Dia masih sibuk selama satu Minggu ini." gumam Zizi. Terakhir kali dia bertukar kabar adalah dua hari lalu. Sahabatnya itu lagi pergi mengunjungi beberapa tempat yang akan dia bangun untuk usah barunya.
Kleeeek ...
Pintu kamar mandi terbuka lebar. Devan sudah selesai membersihkan tubuhnya. Wajahnya lebih segar sama seperti air yang menetes dari rambut. Belum lagi pemandangan roti sobek yang terpapar begitu saja sebanyak enam bagian. Mungkin bila wanita lain yang melihatnya akan berlari mendekati pria itu. Tapi tidak bagi Zivanna. Wanita itu malah menoleh kearah lain. Tidak ingin tergoda pada sesuatu yang akan menghancurkan kehidupannya lagi.
Devan yang mengetahui hal itu hanya diam saja dan langsung memakai pakaiannya.
"Bajunya jangan di pasang. Kita harus menganti perban yang baru." cegah Zivanna kembali mendekati sofa tempat yang mereka duduki tadi. Di ikuti oleh Devan yang berjalan dari arah lemari pakaian. Tapi di tangannya sudah membawa baju yang akan dipakai.
"Kamu benar-benar memiliki hati yang tulus. Meskipun lagi marah, tapi masih mau merawat Kakak." pria itu tidak tahan hanya diam saja.
"Diamlah!" seru Zivanna cuek tidak perduli apa yang akan Devan katakan.
"Baiklah, baiklah!" Devan hanya tersenyum, meskipun ada rasa bahagia dan gundah yang sedang dia rasakan. Mencoba menutupi semuanya.
"Aku ingin kita pulang ke kota X hari ini juga." ucap Zizi santai. Namun, kata-kata itu langsung membuat Devan membeku untuk beberapa saat.
"Kenapa harus hari ini? Kakak sudah menyuruh Sekertaris Jimi mengaturnya besok pagi?" menoleh kearah Zivanna yang berdiri menyimpan peralatan bekas mengobati lukanya.
"Tidak ada apa-apa. Hanya aku ingin kembali hari ini. Jika kamu mau besok pagi tidak apa-apa. Tapi aku dan Rey akan berangkat hari ini." entah apa yang terjadi sehingga Zivanna ingin kembali ke kota X hari ini juga.
"Iya, kita akan kembali hari ini, tapi katakan dulu kenapa? Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa, Kakak sangat tahu dirimu." Devan mendekati Zizi setelah memakai bajunya.
"Aku tidak ingin terlalu lama berada di rumah mu. Itu alasanku." imbuh Zizi yang terasa mau menjerit bila tidak ada anaknya. Melihat rumah yang didesain seperti keinginannya membuat dia tertekan sajak tadi malam. Tapi masih berusaha kalau semuanya baik-baik saja.
"Apa yang salah dengan rumah ini? Bukanya ini rumah impian mu?" meskipun sudah tahu bahwa emosi Zivanna tidak pernah stabil. Devan tetap belum tahu kalau rumah itulah penyebabnya.
"Dulu, dulu aku memang menginginkan rumah seperti ini. Tapi untuk sekarang aku tidak mau lagi. Jadi aku mohon, bawa aku pergi dari sini sekarang juga. Lama-lama aku bisa gila bila terus berada disini." ungkap Zivanna yang akhirnya jujur dengan apa yang dia rasakan.
Deg ...
"Baiklah, kita akan kembali ke kota X hari ini. Tunggulah sebentar lagi. Kakak akan memberitahu Sekertaris Jimi untuk menyiapkan penerbangan." mendengar penderitaan Zivanna yang sakit tinggal di rumah tersebut. Membuat Devan langsung menghubungi Sekertaris Jimi.
Ttuuuuddt
📱 Jimi : "Iya Tuan muda," jawab Sekertaris Jimi begitu mengangkat pangilan telepon dari sang bos.
📱 Devan : "Persiapkan penerbangan sekarang juga. Kita akan kembali ke rumah ayah." perintah Devan yang tidak ingin memikirkan egonya saja.
📱 Jimi : "Baik Tuan muda! Saya akan menjemput Anda sebentar lagi." tidak ada kata lain yang diucapkan oleh sekertaris pribadi itu selain kata baik tuan muda.
📱 Devan : "Tidak apa-apa. Berhati-hatilah! Aku juga masih bersiap-siap." kata Devan langsung memutuskan sambungan telepon tersebut. Lalu dia menoleh kearah Zivanna yang masih berada di samping tempatnya berdiri.
"Tunggu Sekertaris Jimi menjemput kita. Kakak harap, setelah tiba disana kamu bisa berubah pikiran." ucap Devan berjalan mendekati putra mereka. Untuk saat ini hanya Reyvano lah yang bisa membuat hatinya tenang.
Semakin cepat mereka kembali ke kota X. Maka semakin cepat pula keputusan untuk rumah tangga mereka. Devan yang menyadari kesalahannya. Tidak bisa berbuat banyak. Pria itu tidak mau lagi harus menyiksa sang istri dan memaksanya.
"Kita lihat saja nanti. Untuk saat ini aku hanya butuh menenangkan diriku." gumam Zivanna. Dia juga belum tahu seperti apa untuk kedepannya. Memang jika keinginannya sekarang, hanya ingin mengakhiri pernikahan mereka. Tapi entah jika nanti.
"Sayang ayo bersiap-siap. Ganti bajunya dulu, karena kita akan pergi ke rumah nenek dan kakek." berkata dengan rayuan, agar putranya tidak menangis. Saat ini Rey sedang asik memainkan berbagai permainan baru, yang dibelikan oleh Sekertaris Jimi. Tapi atas perintah ayahnya.
"Tepat nenek tama kakek?" Reyvano mengulangi perkataan sang ayah. Tapi dia sudah meletakkan permainannya di atas karpet.
"Iya kita akan kesana. Sekarang ayo ganti bajunya."
BERSAMBUNG ...
"Ya, sudah! Apa yang ingin dibawa. Siapkan saja, kita akan menunggu Sekertaris Jimi dibawah."
__ADS_1