Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Senyum yang kembali.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Eum.. ya terserah padamu saja. Tapi yang jelas aku sudah mengingatkanmu." kata Zizi masih dalam keadaan yang tenang. Meskipun Devan baru saja mengatakan jika dia yang ingin menikah dengan pria lain.


"Terima kasih sudah mengingatkan. Lalu apakah kamu akan mencari pria lain seperti yang kakak katakan tadi?" sudah hampir setengah jam mereka berdua terus saling jawab dan lempar pertanyaan.


Dasar pasangan aneh! Besok pagi akan resmi berpisah, tapi malam ini mereka berdua malah seperti pasangan yang lagi berkencan dibawah sinar rembulan dan bintang.


"Tentu saja tidak! Aku hanya ingin menjadi seorang pengusaha kue yang sukses. Aku tidak memiliki niat untuk menikah lagi." jawab Zizi tersenyum simpul.


Setelah dari siang dia hanya diam. Malam ini Zivanna malah lebih sering tersenyum. Mungkinkah senyuman tersebut karena dia merasa bahagia. Sebab besok pagi dia akan terbebas dari pernikahan yang sudah membuatnya menderita?


Entah mengapa duduk saling bercerita seperti sekarang. Malah membuatnya merasakan ketenangan. Semua masalahnya seakan hilang bersamaan angin malam yang berhembus silih berganti.


"Cita-cita yang sangat bagus. Semoga kamu bisa sukses dengan usahamu." kata Devan memuji dan mendoakan.


"Huem, harus bisa sukses lah! Terima kasih juga untuk do'anya."


"Zi... maaf, karena Kakak menikahimu. Kamu tidak bisa kuliah. Kakak benar-benar menyesal." ucap Devan kembali merasa bersalah.


"Tidak perlu minta maaf, semuanya sudah menjadi takdir hidupku." selama ini, semenjak keadaan mentalnya pulih. Zivanna memang sudah memikirkan untuk mengiklaskan apa yang sudah terjadi padanya.


"Lagian siapa bilang aku tidak bisa kuliah. Aku pernah kuliah di universitas Gunadarma jika kamu lupa. Universitas yang sangat terkenal di kota Y. Walaupun hanya dua bulan kurang lebih." lanjut Zivanna lagi yang masih tetap tersenyum bangga, karena dia pernah juga masuk kuliah selama dua kurang lebih dua bulan.


"Maafkan Kakak. Meskipun kata maaf tidak bisa merubah semuanya. Tapi Kakak tetap ingin meminta maaf padamu." jawab Devan dengan sendu, karena dia hanya bisa menyesali perbuatannya. Tapi tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.


"Sudahlah! Aku sudah memaafkan mu. Besok pagi mari kita mulai lembaran baru. Semoga kamu bisa bahagia, begitu juga dengan diriku." ujar Zizi sambil mengayunkan kakinya.


"Ya, semoga saja. Tapi kita masih bisa berteman kan setelah hari esok?" tanya Devan. Dia tidak ingin memaksakan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, karena dia bukanlah Sekertaris Jimi.


"Tentu saja boleh! Tidak berteman pun, kita juga masih menjadi saudara sambung 'kan?"


"Kamu benar. Mungkin dari awalnya kita memang hanya ditakdirkan sebagai saudara. Bukan sebagai pasangan suami-istri." ucap Devan membenarkan.


"Tapi karena kesalahan itulah kita bisa memiliki si tampan Reyvano. Jika kita berdua tidak menikah, maka Rey tidak akan pernah hadir di dunia ini." seru Zizi kembali tersenyum begitu menyebut nama sang putra.


"Zi... sejak kapan kamu menyukai minuman ini?" tanya Devan begitu matanya melihat ada kaleng minuman di samping tempat dia duduk.

__ADS_1


"Oh, itu minuman punya Sekertaris Jimi. Mungkin dia tadi lupa membawanya." jawab Zizi yang tidak tahu jika ada kaleng minuman di samping tempat yang diduduki oleh Devan.


"Apa dia tadi kesini?"


"Iya, dia pergi dari sini sekitar sepuluh menit sebelum kedatangan mu." jawab Zizi jujur, karena sedari tadi dia memang duduk disana bersama Sekertaris pribadi suaminya.


"Apa yang dia lakukan? Tumben sekali dia pergi ke taman? Aku pikir dia tidak menyukai tempat-tempat seperti ini, dan hanya menyukai tumpukan dokumen." seru Devan setengah mengejek sekertarisnya.


"Dia hanya duduk sambil mendengar aku bercerita. Selama ini, bukan karena dia tidak suka pada taman. Tapi Sekertaris Jimi terlalu sibuk mengurus keperluan dan pekerjaan perusahaan yang kamu limpahkan kepada nya." cibir Zizi.


"Ya... mungkin dia terlalu sibuk membantu ku." setelah mendengar ucapan Zivanna. Barulah Devan mengakui bahwa selama ini dia hanya bisa membuat masalah, dan yang menyelesaikannya adalah Sekertaris pribadinya.


"Memangnya dia bercerita apa? Bukankah selama ini dia sangat jarang berbicara padamu?" mulai kepo.


"Dia tidak bercerita. Lebih tepatnya akulah yang bercerita padanya." kata Zivanna mengakui.


"Apa dia tidak mengatakan sesuatu?"


"Tidak, dia banyak diam." jawab Zivanna seraya berdiri dari tempat duduknya. "Ini sudah malam, ayo masuk! Kita butuh istrirahat yang cukup untuk menyambut hari esok." ajak wanita itu mengulurkan tangannya untuk membantu Devan berdiri dari bangku yang mereka duduki.


Saat mereka pacaran dulu, yang sering mengulurkan tangan seperti itu adalah Devan.


"Terima kasih!" Devan tersenyum menerima uluran tangan kecil Zivanna. Lalu tanpa babibu tangan mengacak gemas rambut Zizi yang sudah tidak teratur karena ditiup oleh angin malam.


"Ada apa dengannya? Apa sebahagia itu akan berpisah denganku, sehingga Zizi bisa ceria seperti dulu lagi,"


Gumam Devan menatap punggung Zivanna yang sudah hilang di balik pintu kaca menuju ke dalam rumah. Lalu setelah itu dia pun menyusul masuk dan berjalan mengarah pada kamar kedua orang tuanya.


Tok!


Tok!


"Iya, masuk saja, Nak!" ucap Ibu Ellena dari dalam kamar.


Ceklek!


"Apa Rey sudah tidur?" tanya Devan setelah membuka pintu cukup pelan.


"Sudah, dia telah tidur dari setengah jam yang lalu. Tapi dia bilang ingin tidur disini." jawab Ibu Ellena memperbaiki selimut cucunya. "Kembalilah ke kamar mu. Istirahatlah yang cukup, jangan banyak pikiran. Ibu tidak ingin kamu sakit." ucap beliau lagi menatap menantu penuh rasa iba.


"Dev... coba duduklah sebentar. Ada yang ingin Ayah sampaikan padamu." kata Ayah Dion menutup laptopnya. Sedari tadi, pria paruh baya itu menemani cucunya bermain setelahnya ia memeriksa pekerjaan yang dia tinggalkan pada sekretaris pribadinya dua hari lalu.

__ADS_1


"Iya ada apa, Yah?" tanya Devan sudah duduk di hadapan ayahnya.


"Begini Nak, Jika kamu belum siap melepas Zivanna. Kita bisa menghubungi Tuan Bram agar dia mencari alasan untuk menunda perceraian kalian." tutur Ayah Dion yang juga sangat kasihan pada putra semata wayangnya.


"Apa? Tidak Yah! Devan tidak mau bermain curang di belakang Zivanna. Sudah cukup dulu Devan membohonginya, sekarang biarkan semuanya terjadi seperti apa yang sudah ditentukan untuk rumah tangga kami." pria itu langsung menolak ide dari ayahnya.


"Devan, semua ini untuk kebaikan kalian semua. Demi putramu, Ayah mohon coba pikirkan lagi usul dari ayah." tutur Ayah Dion menyakinkan sang putra.


"Nak... menurut ibu, usul dari ayahmu cukup bagus! Hanya ini satu-satunya cara agar. Selama menunggu, mana tahu Zizi merubah keputusannya." timpal Ibu Ellena ikut duduk bersama suaminya dan Devan.


"Maaf, Ibu, Yah! Devan tidak mau melakukannya. Biarkan perceraian ini terjadi, jika kami memang berjodoh. Maka pasti ada cara yang membuat kami untuk bersatu lagi." sungguh Devan merupakan laki-laki yang limited edition.


"Lagian, apabila Zivanna tahu kita mempermainkannya melalui kekuasaan. Maka sudah pasti dia akan pergi lagi membawa anak kami." terang Devan yang sangat takut hal itu terjadi.


"Devan tidak mau membuat dia kecewa untuk kedua kalinya, Bu, Yah. Jadi tolong mengertilah! Devan hanya minta do'anya saja. Agar setelah ini Devan kuat untuk menjalini hari-hari sebagai pria yang pernah gagal memperjuangkan pernikahannya." lanjutnya lagi.


"Ya sudah, Nak. Jika memang itu sudah menjadi keputusanmu, kami berdua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian semuanya." jawab Ayah Dion menghela nafas panjang.


Ternyata membujuk Zizi ataupun Devan tidak ada gunanya, mereka berdua tetap pada pendiriannya masing-masing.


"Ini sudah malam, tidurlah! Ayah juga ingin istirahat." ucap Ayah Dion setengah mengusir.


"Iya, sekali lagi Devan minta maaf," kata Devan langsung berdiri dan meninggalkan kamar kedua orang tuanya.


Malam ini yang masih bisa tersenyum di rumah itu adalah Zivanna dan Reyvano putranya. Jika Reyvano tidak heran dia memang belum mengerti apa-apa. Akan tetapi berbeda dengan Zizi, dia adalah titik permasalahan dari setiap kesedihan yang mereka rasakan.


Bila saja Zivanna bisa berbesar hati tidak melanjutkan perceraian antara dia dan Devan. Maka semuanya akan berjalan seperti semula, tidak ada kesedihan lagi di kediaman keluarga Atmaja.


Akan tetapi tidak ada yang bisa membujuk Zizi, untuk merubah keputusan terakhirnya. Alhasil Devan hanya bisa memasrahkan semuanya pada takdir.


"Maafkan Devan, ayah, ibu!"


Gumam pria itu sambil menaiki tangga.


"Aku hanya tidak ingin Zizi kembali tertekan karena keegoisan diriku, malam ini aku sudah menemukan Zivanna, ku lagi. Gadis yang dulu selalu terlihat ceria dan mudah tersenyum."


Devan terus bergumam-gumam, sampai dia masuk kedalam kamarnya sendiri.


Setibanya didalam kamarnya, Devan langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang yang terlihat begitu luas, karena dia hanya tidur seorang diri. Mungkin karena terlalu lelah tubuh dan juga pikiran, tidak sampai lima belas menit Devan pun sudah masuk ke alam mimpinya.


Mimpi indah yang bisa berubah menjadi mimpi buruk, sehingga dia tidak ingin bangun lagi apabila memiliki pilihan lain.

__ADS_1


Ya, andai tidak memiliki anak, mungkin pria itu lebih baik mati daripada harus hidup dengan status barunya.


*BERSAMBUNG*...


__ADS_2