Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Ketulusan Ibu Ellena.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


📱 Devan : "Fiona ... jaga ucapan mu! Jangan sembarang bicara, Zizi adalah Istriku." bentak Devan pada wanita yang dia anggap sahabat baiknya. Bahkan Devan rela melukai perasaan istrinya sendiri demi menyanjung kan gadis itu di depan umum.


📱 Fiona : "Ha ... ha ... jangan bodoh Dev, dia adalah musuh mu. Sejak kapan kamu menjadi laki-laki bodoh seperti ini!" Fiona tertawa mengejek. Padahal di tempatnya dia sedang menahan amarah mendengar Devan sudah berani membentaknya.


📱 Devan : "Fi, sudahlah aku sedang tidak ingin bertengkar dengan mu. Tunggu aku pulang baru kita bicara." Devan langsung saja menutup telponnya, tidak lupa dia juga menonaktifkan HP tersebut agar Fiona tidak bisa menghubunginya lagi.


"Sial! Semua ini karena kesalahan ku sendiri." mengumpat kesal pada dirinya.


"Pasti Zizi sangat terluka saat aku mengatakan akan menikahi Fiona. Apa karena hal itu juga kamu meninggalkan kakak, Zi?" seru Devan semakin dipenuhi sesal.


...****************...


Hari begitu cepat berlalu, tidak terasa sudah jam sebelas malam Devan baru tiba di kediaman keluarga Atmaja. Tidak ada gairah kehidupan pada wajah pria tersebut. Kepergian Zivanna bagaikan pergi pula kehidupan Devan yang biasa apa-apa selalu sempurna. Itu semua hilang mengikuti kepergian sang istri yang sudah dia sia-siakan beberapa waktu lalu.


"Kemana lagi Kakak harus mencari kalian, Zi? Apa kamu sudah makan? Atau jangan-jangan kamu sedang kelaparan?" Devan kembali bertanya sendiri sebelum keluar dari mobil nya.


Tadi begitu mobilnya berhenti di garasi, Devan memang tidak langsung keluar. Namun, dia hanya memejamkan matanya dengan kepala di letakan pada setir mobil tersebut. Seharian ini dia tidak makan ataupun sekedar minum air putih. Semua rasa haus dan lapar sudah dikalahkan oleh rasa kehilangan istrinya.


Tok...


Tok...


"Devan kenapa kamu belum masuk? Ayo keluar jangan tidur di dalam mobil." Ayah Dion datang mengetuk pintu mobil anaknya karena sudah hampir dua puluh menit Devan tidak kunjung masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Mendengar ayahnya yang memanggil, dengan gerakan malas Pria itu membuka pintu mobil dan keluar dari sana.


"Selamat malam, Ayah?" sapa Devan masih seperti biasa.


"Huh ... Malam juga! Ayo masuk kamu tidak bisa mencari Zizi dalam keadaan seperti ini. Kenapa lukanya tidak kamu obati?" Lelaki baya tersebut menghela nafas berat melihat betapa kacau putranya. Luka yang di maksud olehnya adalah bekas pukulan beliau tadi pagi. Dia kira saat pergi dari rumah Devan akan mengobati luka itu lebih dulu.


Tidak bicara sepatah katapun Devan hanya mengikuti ayahnya berjalan masuk. Dia bagaikan anak kecil yang mengikuti orang tua mereka dari belakang.


Tiba di dalam rumah, tepatnya ruang keluarga. Di sana sudah ada Ibu Ellena yang juga menunggu kedatangannya. Meskipun wanita itu marah pada Devan sudah membuat putrinya pergi. Tapi dia juga tidak bisa menghakimi menantunya begitu saja. Sebab tidak sepenuhnya salah Devan, karena mereka tidak bicara jujur dari awal makanya ada dendam diantara mereka.


Bila ada yang harus di salahkan adalah Marisa. Sebab dialah yang sudah menghidupkan api antar ayah dan anaknya. Bagaimana tidak, karena ucapan Marisa yang mengatakan kalau semuanya terjadi atas kedekatan Ayah Dion dengan rekan kerjanya.


Siapapun itu bila mereka tidak melihat bukti nyatanya pasti akan percaya. Termasuk Devan yang saat itu masih remaja. Apalagi selama ini keluarganya selalu baik-baik saja.


"Selamat malam, ibu." sapa Devan lagi begitu melihat Ibu Ellena berdiri melihat dia sudah datang.


"Selamat malam juga--- Duduk lah, biar ibu obati luka di wajah mu." ucap wanita baya itu yang merasa serba salah. Ada rasa tidak tega melihat anak sambung sekaligus menantunya dalam keadaan seperti sekarang. Namun, ada rasa marah dan kecewa Devan sudah membohongi cinta putrinya yang tulus hanya untuk balas dendam pada dirinya.


Lalu bagaimana mungkin dia masih berani menerima kebaikan wanita yang telah dia sakit. Padahal andai saja dari dahulu dia tidak memiliki dendam pada Ibu Ellena. Maka Devan akan sadar kalau wanita itu memiliki hati yang tulus pada keluarganya.


"Devan duduklah! Biarkan ibu mengobati luka di wajah mu. Ayah tidak yakin kamu akan mengobati luka nya." seru Ayah Dion mencegah Devan yang hendak melangkah pergi dari sana.


"Aku akan mengobati luka nya setelah mandi." kata Devan kembali menyakinkan sebelum tangannya di tarik paksa oleh Ibu Ellena dan di suruh duduk di atas sofa dengan paksa.


"Duduklah! Jangan menganggap aku mertua mu, bila merasa tidak enak. Tapi anggap saja sebagai ibu tiri mu." Wanita tersebut langsung saja membersihkan dulu luka lebam di wajah Devan yang ada beberapa tempat mengunakan handuk kecil yang sudah dia siapkan dari tadi, karena beliau yakin tidak mungkin Devan mengobatinya.


Ada beberapa bekas luka lebam di wajah yang sangat sempurna itu. Ada yang baru, ada juga yang lama, bekas pukulan Dokter Kai saja belum hilang. Malah sudah kembali di pukul oleh ayahnya tadi pagi.


Selama lukanya di obati, Devan tidak bicara apa-apa. Dia hanya diam seraya memperhatikan ibu mertuanya. Meskipun ibu mertuanya terlihat biasa-biasa saja. Tapi Devan sangat yakin bahwa wanita tersebut jauh lebih terluka dari dirinya.

__ADS_1


"Ibu ... tolong maafkan aku." kata Devan tidak tahan melihat wajah Ibu Ellena yang terlihat sangat tegar untuk menyembunyikan rasa kecewanya.


Sehingga membuat ibu Ellena menghentikan tangannya yang sedang mengoles salep pada wajah Devan. Sebelum menjawab wanita tersebut terdiam beberapa saat.


"Aku sudah memaafkan mu. Sudahlah semuanya sudah terjadi, berdo'a saja semoga putriku baik-baik saja. Bila kamu lebih dulu menemukannya, tolong kembalikan Zizi padaku. Bila putriku sudah kembali ... biar aku membawanya pergi dari rumah ini." Ibu Ellena kembali lagi menyelesaikan pekerjaannya mengolesi salep tersebut sambil menahan agar air matanya tidak keluar.


"Ellena apa maksudmu pergi dari rumah ini?" seru Ayah Dion yang langsung di penuhi rasa takut.


"Ibu ... tidak! Aku tidak akan membiarkan kalian pergi dari sini." ujar Devan ikut mencegah ibu Ellena, padahal wanita itu baru bicara akan pergi membawa putrinya bila sudah di temukan.


"Sudah selesai! Kembalilah ke kamar, bersihkan dirimu. Setelah itu turun kebawah. Biar ibu panaskan makananya." Ibu Ellena berucap seolah-olah dia barusan tidak mengatakan apapun. Padahal ucapannya bagaikan bom nuklir bagi ayah dan anak yang sama-sama membeku di tempatnya masing-masing.


"Sudah cepat sana, bersihkan dirimu. Jangan sampai aku marah karena lama menunggumu." seru wanita itu berdiri sambil membereskan kotak obat bekas mengobati Devan.


Mendengar ucapan sang ibu dengan buru-buru Devan pergi ke lantai atas tempat kamar nya berada. Dia tidak mau membuat ibu Ellena bertambah marah. Walaupun dia sendiri belum tahu pasti apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran wanita tersebut.


Sementara itu Ayah Dion mengikuti ibu Ellena sampai ke dapur bersih. Lelaki itu belum bisa tenang sebelum sang istri menjawab pertanyaannya yang tadi. Sedangkan Ibu Ellena terus saja mengerjakan pekerjaannya memanaskan beberapa macam makanan.


"Ayah kenapa mengikuti ku?" wanita itu tersenyum melihat suaminya sudah seperti anak-anak yang ingin sesuatu pada ibunya. Padahal dia sendiri sudah tahu jawabannya.


"Jangan tersenyum seperti itu, aku sedang tidak ingin bercanda. Tolong jawab dulu apa maksudmu akan pergi dari rumah ini?" Lelaki baya tersebut langsung menahan pergerakan istrinya yang hendak mengambil piring.


"Perkataan yang mana? Mingir dulu aku akan menyiapkan makanan untuk Devan. Aku sangat yakin dia belum makan setelah sarapan bersama kita tadi pagi." berusaha mendorong suaminya agar menjauh tidak menghalanginya.


"Ellena! Tolong jangan membuatku takut. Apa maksudmu akan meninggalkan rumah ini? Apa kamu tidak mencintai ku lagi." apabila sudah menyebutkan nama seperti itu berarti Ayah Dion sedang tidak ingin bercanda, karena selama mereka menikah dia tidak pernah menyebut nama sang istri.


"Apa aku mengatakan akan meninggalkan mu? Aku hanya ingin pindah dari sini. Tapi--- bila Ayah tidak mau, ya tidak masalah! Aku dan putriku saja yang akan pergi."


"Apa? Agh jadi begitu maksudnya! Baiklah kalau itu mau mu, setelah menemukan Zizi kita akan tinggalkan rumah ini." Lelaki baya itu akhirnya merasa lega karena sang istri hanya ingin mengajak pindah bukan mau meninggalkan nya.

__ADS_1


Sementara Devan yang melihat betapa bahagianya ayah dan ibu tirinya merasa semakin bersalah. Dia sudah tiba di sana dari beberapa waktu yang lalu. Hanya saja dia sengaja tidak langsung ke meja makan karena mengira jika kedua pasangan baya itu sedang bertengkar.


__ADS_2