
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Dua bulan kemudian.
"Aagkh! Bibi Emi. Tolong! Se--sepertinya aku mau melahirkan." pangil Zizi meminta bantuan pada wanita yang sudah bekerja membantu nya selama satu bulan terakhir.
"Zivanna!" Bibi Emi langsung berlari kearah meja kasir tempat Zizi melayani pembeli. Semenjak penghasilan nya bertambah. Gadis itu mencari dua orang tenaga kerja untuk membantunya. Termasuk Bibi Emi.
"Zi, kamu kenapa, Nak?" bertanya khawatir melihat wajah Zizi terlihat pucat di sertai pelipisnya yang dibanjiri oleh keringat. Padahal dari pagi Zizi terlihat baik-baik saja.
"Bibi ... Sepertinya, aku mau melahirkan sekarang. Perutku sakit sekali." Zivanna memegang tangan wanita paruh baya itu untuk meminta pertolongan. Padahal tanpa dia minta tentu saja Bibi Emi akan membantu nya.
"Kalau begitu tunggu sebentar, Bibi mau memanggil paman mu. Agar dia mencari taksi." wanita tersebut pergi meninggalkan Zizi setelah di bawa ke atas sofa lebih dulu. Lalu dia memanggil rekan kerjanya untuk menjaga Zizi selama dia pulang kerumahnya.
"Husna, cepat kemarilah! Sepertinya Zivanna mau melahirkan. Aku akan pulang memberitahu suamiku." katanya dengan terburu-buru.
Dua orang karyawan Zizi adalah Bibi Emi dan Bibi Husna. Mereka berdua biasanya hanya bekerja sebagai tenaga kebersihan. Namun, semenjak satu bulan terakhir, di ajak oleh Zivanna bekerja bersama nya. Selain pendapatan yang sudah lumayan, Zizi juga sudah tidak sanggup bila harus mengerjakan semuanya sendiri.
"Iya, pergilah! Biar aku yang menjaganya." wanita itu pun meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
"Sayang, bertahalah. Bibi Emi sedang mencari bantuan." Bibi Husna maupun para tetangga lainnya. Memang sangat menyayangi Zivanna. Gadis itu bisa menitipkan dirinya yang tidak memiliki sanak saudara.
Apabila sedang mendapat pendapatan lebih dari hasil jualanya. Zizi selalu berbagi, dia tidak pernah sombong dan dikenali sebagai gadis Darmawan suka membantu siapa saja. Maka dari itu tanpa saudara ataupun suami bersama nya. Zivanna masih bisa hidup secara normal.
"Bibi Husna, sakit sekali, Bi." Zivanna sampai meneteskan air matanya tidak tahan lagi menahan rasa sakit yang seumur hidup baru dia rasakan.
"Bertahanlah, Nak. Setelah taksinya datang, kita akan segera ke rumah sakit." kata Bibi Husna sambil mengelus-elus pinggang Zizi. Agar gadis tersebut merasa lebih baik. Seharusnya bila memiliki suami, tugas seperti itu adalah tugas para laki-laki.
"Aghkk! Bibi, aku tidak kuat lagi." semakin merintih kesakitan. Dalam keadaan seperti saat ini, barulah Zizi kembali mengigat suaminya. Laki-laki yang sudah merusak hidup dan juga masa depan nya
Setelah tahu Zizi hamil, bukanya bertanggung jawab. Tapi laki-laki tersebut malah mengancam akan menghabisi nyawa anak yang tidak berdosa, yang sedang di kandung oleh istri nya sendiri. Sehingga membuat Zizi memilih pergi meninggalkan semuanya. Lalu berjuang sendiri untuk kelanjutan hidup dan melahirkan anaknya.
"Auh! Bibi tolong aku! Kenapa Bibi Emi lama sekali?" seru Zizi kembali merintih.
"Entahlah, Nak. Bibi juga tidak tahu kenapa dia lama sekali. Bertahanlah Bibi mohon, jangan membuat aku takut. Melihat mu seperti ini." Bibi Husna hanya bisa membantu sebisanya, karena Zizi tidak bisa lahiran melalui bidan. Gadis itu harus melalui operasi Caesar, karena perut Zivanna pernah di operasi saat pengangkatan sel kanker nya sembilan bulan lalu.
Tap ..
Tap...
"Husna, ayo bantu aku membawa Zizi ke depan! Suamiku sedang tidak ada di rumah, jadi aku mencari taksinya sendiri." ucap Bibi Emi setengah berlari. Sebelum temannya bertanya, dia lebih dulu menjelaskan. Lagian prediksi dokter, Zizi akan melahirkan sekitar satu Minggu lagi. Jadi tidak ada persiapan yang mereka lakukan.
"Baiklah, ayo! Kita berdua juga tidak apa-apa. Asalkan bisa sampai kerumah sakit." mereka mana bisa menunggu lebih lama, karena takut Zizi melahirkan di rumah.
"Zizi, sayang. Mari kita kedepan, Nak. Biar Bibi bantu. Kami tidak bisa mengendong mu." ajak Bibi Emi. Dia menuntun Zizi dari sebelah kiri, karena disebelah kanan sudah ada Husna temanya.
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa, Bi. Kalian sudah mau menolong ku saja, aku sudah berterima kasih." saat mengatakan itu Zizi memang terlihat baik-baik saja. Namun, tidak dengan hatinya. Perempuan mana yang akan baik-baik saja bila berada di posisi.
"Bertahalah, sayang. Tolong bantu ibu, agar kuat dan bisa menjaga mu."
Kata gadis itu di dalam hati. Agar calon buah hatinya bisa bertahan sampai tiba di rumah sakit dan dia juga diberi keselamatan untuk menjaga anaknya.
Dengan langkah pelan kedua wanita tersebut menuntut Zivanna berjalan ke luar. Sambil merintih menahan sakit Zizi pun memaksakan dirinya agar mampu menuju ke mobil taksi yang sudah di cari oleh Bibi Emi.
Demi sang buah hati. Zivanna harus berjuang meskipun menyakitkan. Tidak memiliki suami bersamanya membuat gadis itu mengandalkan bantuan dari para tetangga yang kasihan padanya.
"Pak, tolong bantu kami mengangkat nya kedalam mobil." pinta Bibi Husna pada sopir taksi yang sudah membukakan pintu mobil tersebut.
"Iya, biar Saya dari sebelah sini." kata si sopir taksi langsung membuat Zizi masuk kedalam taksi.
"Zizi, Nak. Kamu berangkat lah duluan bersama Bibi Emi. Bibi akan menutup toko kita dulu. Setelah itu Bibi akan menyusul ke rumah sakit." ucap wanita itu membelai kepala Zizi. Dia tidak bisa meninggalkan rumah Zivanna begitu saja. Meskipun sangat mengkhawatirkan keadaan gadis itu.
"Iya, Bibi. Tidak apa-apa. Biar kami saja yang berangkat duluan. Tolong Bibi urus saja toko kita." walaupun menahan sakit. Zivanna masih memaksakan untuk tersenyum. Agar kedua wanita paruh baya itu tidak mengkhawatirkan dirinya.
"Hem baiklah kalau begitu.' Pak tolong bawa saja sekarang. Kasihan putri kami sudah menahan sakit dari tadi." ujar Bibi Husna setelah memeluk Zizi dan menutup pintu mobil tersebut.
Melihat mobil taksinya sudah berjalan meninggalkan tempat dia berdiri. Barulah wanita itu kembali masuk untuk membereskan semuanya dan juga mempersiapkan perlengkapan yang akan di butuhkan oleh Zizi dan bayinya nanti.
Zivanna memang sudah menyiapkan perlengkapan buat bayi nya, meskipun bukan barang-barang mahal. Sekarang dia harus bisa menyesuaikan dengan kehidupan dan penghasilannya.
Sejauh ini toko kue nya memang berjalan cukup baik. Walaupun tidak terlalu ramai, tapi dia memiliki pelanggan setia. Yaitu pelanggan dari karyawan pabrik angur yang tidak terlalu jauh dari rumah nya.
Saat bibi Husna sedang memasukan barang milik Zizi kedalam tas. Terdengar suara ponsel gadis itu berdering, karena dia tidak membawa ponselnya.
📱 Kevin : "Hallo zi? Kenapa lama sekali mengangkat nya? Aku sangat mengkhawatirkan dirimu, gara-gara telepon ku tidak di angkat." sapa Kevin belum mengetahui kalau yang mengangkat nya bukanlah Zivanna.
📱 Bibi Husna : "Nak Kevin. Ini Bibi Husna. Zivanna baru saja di bawa ke rumah sakit. Sepertinya dia sudah mau melahirkan."
📱 Kevin : "A--apa? Zizi sudah mau melahirkan?" Pemuda itu langsung kaget, karena setahu dirinya, masih satu Minggu lagi. Kevin sudah mengambil cuti kuliah selama satu Minggu. Agar bisa menemani Zizi saat masa tersulit bagi seorang ibu yang baru saja melahirkan. Namun, apa. Hari ini dia sudah mendapat kabar kalau Zivanna sudah mau melahirkan.
📱 Bibi Husna : "Iya benar, Nak. Ini Bibi lagi menyiapkan keperluannya." kata Bibi Husna tetap melanjutkan pekerjaannya mengemas barang yang di perlukan, karena waktunya juga tidak banyak. Entah seperti apa keadaan Zizi saat ini.
📱 Kevin : "Lalu dia ke rumah sakitnya bersama siapa? Sudah berapa lama?" Saat ini Kevin sedang dalam perjalanan pulang ke rumah orang tuanya. Pemuda itu baru saja pulang dari kuliah.
📱 Bibi Husna : "Dia ditemani Bibi Emi. Mungkin sekarang mereka baru tiba di rumah sakit. Apa Nak Kevin akan kemari sore ini?" karena Zizi tidak memiliki keluarga lain. Makanya Bibi Husna menayai Kevin akan datang atau tidak.
📱 Kevin : "Aagh ... Itu masalahnya! Saya tidak bisa kesana sekarang, karena surat pengajuan cuti nya sudah di kirim. Saya tidak bisa libur begitu saja." Kevin mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh rasanya dia ingin menjerit karena bisa-bisa si author mempersulit dirinya.
📱 Kevin : "Bibi, Saya mohon temani Zizi. Saya belum bisa kesana sekarang, karena cuti nya Minggu depan. Saya akan membayar kalian berapapun. Tapi tolong jaga dia dengan baik." seru Kevin sebelum wanita itu kembali berbicaranya.
📱 Bibi Husna : "Nak Kevin tidak perlu khawatir. Kami tidak meminta bayaran. Zivanna adalah gadis yang baik, banyak yang akan menyanyagi nya. Kami juga akan menjaganya seperti putri kami sendiri."
📱 Kevin : "Terima kasih Bibi. Tolong Bibi kirim nomor rekeningnya. Saya akan mentransfer uang untuk kalian. Ini bukan upah, tapi angap saja buat mengantikan waktu kalian yang tidak bisa bekerja selama merawat Zizi."
📱 Bibi Husna : "Sama-sama. Nak Kevin tidak perlu mengirim uang. Inilah saatnya kami membalas kebaikan Zizi. Jadi tidak masalah kami berhenti bekerja untuk beberapa hari saja." Zivanna memang sangat baik. Makanya wanita itu tidak mau menerima uang yang akan Kevin berikan. Meskipun mereka harus hidup pas-pasan.
__ADS_1
📱 Kevin : "Bibi Husna. Saya mohon terimalah uang yang ingin Saya kirim. Ini untuk biaya operasi dan juga kebutuhan selama kalian selama berada di rumah sakit. Saya tahu kalian menyayangi Zizi dengan tulus dan tidak pernah mengharapkan upah. Tapi Saya juga menyanyagi nya. Hanya ini yang bisa Saya lakukan untuknya."
Pemuda itu terpaksa berkata kalau uang yang akan dia kirim untuk biaya operasi Zizi. Bila tidak seperti itu, maka Bibi Husna pasti tidak akan mau menerimanya.
📱 Bibi Husna : "Agkk ... ya sudahlah! Nanti Bibi bilang dulu pada Emi. Dia yang memiliki nomor rekening. Ini Bibi matikan dulu. HP Zizi akan Bibi bawa menyusul ke rumah sakit. Jadi kamu bisa menelepon lagi." tidak ingin mempersulit keadaan akhirnya wanita tersebut mengalah pada permintaan Kevin.
📱 Kevin : "Iya, Bibi hati-hati. Nanti bila sudah tiba di rumah sakit tolong segera hubungi Saya." ucap Kevin sebelum sambungan tersebut di matikan oleh nya.
"Ya Tuhan! Aku mohon jaga Zivanna dan juga anaknya." Andai saja belum mengajukan cuti. Maka sore ini juga Kevin akan berangkat untuk menemani Zizi. Namun, baru tiga hari lalu dia mengajukan permohonan cuti tersebut.
Dia juga sudah mengatakan pada keluarganya kalau Minggu depan akan pulang ke kota tempat kelahiran ayahnya. Jadi mana mungkin Kevin berangkat sekarang. Pasti kakak dan juga orang tuanya akan curiga. Pemuda itu merahasiakan semuanya karena tidak ingin Devan mengetahui keberadaan Zivanna. Atas permintaan gadis itu sendiri.
🍃
Kembali ke rumah sakit.
Saat ini Zivanna sedang menunggu jadwal operasinya yang akan di lakukan dua puluh menit lagi. Tapi sekarang dia dan Bibi Emi sudah berada dalam ruangan rawat khusus bagi pasien hamil dan melahirkan.
Meskipun dia sudah tidak tahan menahan sakit. Namun, pihak rumah sakit juga memiliki jadwal mereka sendiri. Tidak bisa asal operasi dan bedah saja, karena itu akan membahayakan nyawa pasien nya.
"Auh! Rasanya aku sudah tidak tahan. Ini sakit sekali." kata Zizi hanya bisa menahan rasa sakitnya.
"Bibi tahu rasa sakitnya seperti apa, Nak. Bersabarlah, rasa sakit yang kita rasakan akan hilang setelah melihat buah hati kita sudah lahir dengan selamat." wanita paruh baya itu terus menenangkan Zizi. Sebagai sesama wanita yang pernah memiliki anak, tentu tahu seperti apa rasa sakitnya, yang tidak sama adalah Zizi hanya sendirian. Mau sesakit apapun gadis itu harus menahannya sendiri.
"Bibi ... bila aku tidak selamat saat menjalani operasi nya nanti. Tolong Bibi titipkan anakku pada Kevin. Biarkan dia membawa anakku kembali ke kota Y." pesan Zizi yang belum tahu seperti apa nasipnya setelah berada di meja operasi.
"Apa maksudmu. Jangan berbicara seperti itu. Kamu pasti akan baik-baik saja." sergah wanita tersebut tidak boleh Zizi berpesan seperti itu.
"Tidak, Bi. Apa yang aku katakan adalah benar. Sebetulnya dokter yang memeriksa aku selama ini, sudah mengatakan kalau resiko saat aku melahirkan sangatlah besar. Hanya saja aku tidak mengatakan pada Kevin. Aku tidak mau membuatnya khawatir."
Dari semenjak masih bersama Almarhumah Ibu Eris. Zivanna memang sudah mengetahui resiko saat dia melahirkan anaknya. Hanya dia dan ibu angkatnya itulah yang mengetahuinya.
"Apa, kamu tidak membohongi Bibi 'kan?" Bibi Emi langsung menangis begitu mendengar nya.
"Tidak, aku tidak berbohong. Buat apa aku membohongi, Bibi. Bila terjadi sesuatu padaku, tolong titipkan saja anakku pada Kevin, dan sampaikan terima kasih ku pada nya."
"Lalu kenapa harus dia yang membawa nya? Biarkan Bibi yang menjaga anak mu. Bibi akan merawatnya seperti anak Bibi sendiri."
"Itu karena Kevin tahu kemana dia akan membawa anak ku." jawab Zizi tersenyum kecil.
Sudah beberapa hari ini, Zivanna memang telah memikirkan. Apabila terjadi sesuatu saat dia menjalani operasi nya nanti. Zizi ingin Kevin membawa anaknya kembali ke kota Y. Sebab walau bagaimanapun anaknya masih memiliki orang tua kandung.
*BERSAMBUNG*.....
.
.
.
__ADS_1
...Bila dukungannya banyak, sore Mak usahakan buat update satu bab lagi ya. Dan buat kalian yang memiliki nama buat calon anak Zivanna silahkan di tulis pada kolom komentar. Nanti akan Mak pilih salah satunya, karena Zizi tidak memiliki anak kembar.😄...
Terima kasih.🤗