Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Sebuah kebahagiaan.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Beberapa menit kemudian. Mobil yang dikendarai oleh Sekertaris Jimi, sudah memasuki pekarangan kediaman keluarga Atmaja. Lalu dengan sigap Devan turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil buat sang istri.


"Ayo!" mengulurkan tangannya sambil tersenyum penuh cinta. "Terima kasih!" sejak tadi Devan terus saja mengucapakan kata terima kasih. Rasanya meskipun ratusan atau bahkan ribuan kali mengatakan terima kasih. Belum cukup, karena Zivanna sudah mau memaafkan dirinya dan juga memberikan kesempatan kedua untuk rumah tangga mereka.


"Eum, sama-sama!" jawab Zizi juga tersenyum kecil. Dari tadi Devan tidak mau melepaskan tangan mereka, seakan-akan takut terpisahkan.


Bagitu melihat kedatangan mereka berdua. Semua pengawal dan pelayan menunduk hormat.


"Asel, Reyvano ada dimana?" tanya Devan pada pengawal yang paling dekat dengan anaknya.


"Tuan muda kecil sedang bersama nyonya di kebun bunga, Tuan." jawab Asel yang baru saja kembali dari tempat tersebut.


"Kalau ayah ke mana? Apa sudah berangkat ke perusahaan?" Devan kembali lagi bertanya. Saat ini mereka sedang berada di ruang tengah.


"Tuan Dion sepertinya sedang berada di kamar, beliau tidak jadi ke perusahaan." pemuda itu menjawab seperti apa yang dia ketahui.


"Iya, baiklah! jika begitu silakan lanjutkan pekerjaanmu." titah Devan. "Ayo sayang kita menemui Rey dan ibu dulu. Setelah itu baru kita menemui ayah, mungkin dia sedang bersedih karena perceraian kita." ajak Devan menarik tangan sang istri menuju kebun bunga ibu Ellena.


Begitu melihat kedatangan ayah dan ibunya, Rey langsung berteriak kegirangan. Si tampan tidak mengtahui jika sudah terjadi masalah yang cukup besar, sehingga membuat kakeknya mengurung diri di dalam kamar.


"Ayah... Ibu, Ley di cini." ucapannya tersenyum.



"Wah, wah! Anak Ayah sedang apa? Eum!" Devan langsung berjongkok untuk menggendong putranya.


"Lagi belkebun bantuin nenek," jawab si tampan tertawa karena sang ayah menciumnya berulangkali.


"Benarkah? Kalau begitu nenek ada dimana?" Devan melihat sekeliling dan ternyata ibu mertuanya berjalan mendekati mereka bertiga.


"Kalian sudah kembali? Capat ya, ibu kira lama." kata ibu Ellena dengan wajah lelahnya. Bukan lelah karena bekerja, tapi lelah pikirannya.

__ADS_1


"Sudah, Bu." Devan yang menjawab karena Zizi hanya diam sambil memperhatikan raut wajah sang ibu.


"Ibu... Zivanna sudah mencabut surat perceraian kami. Makanya tidak lama, karena masalahnya telah diselesaikan oleh Sekertaris Jimi Tadi malam." papar Devan masih tetap tersenyum bahagia.


Tes!


Tes!


"Be--be--benarkah? Ibu tidak salah dengar, 'kan?" Ibu Ellena langsung menangis meskipun dia belum tahu pasti dengan ucapan menantunya.


"Benar, Bu. Maafkan Zizi sudah membuat ibu bersedih," jawab Zivanna memeluk tubuh ibunya yang bergetar karena menangis.


"Sekali lagi tolong maafkan Zizi, yang egois hanya mementingkan diri sendiri. Tanpa ingin tahu perasaan kalian semuanya." ungkap Zivanna memeluk erat ibunya.


"Tidak, Nak. Kamu juga tidak bersalah." seru Ibu Ellena membalas pelukan putrinya. "Apa kalian sudah memberitahu ayah?" tanya beliau merenggangkan pelukannya.


"Belum, kami ingin memberitahu ibu lebih dulu," Devan mendekat kedua wanita yang sekarang sangat berarti bagi dirinya.


"Kalau begitu ayo kita temui ayah. Dia benar-benar merasa bersedih karena mengangap semua ini terjadi disebabkan olehnya." imbuh Ibu Ellena yang tidak berhasil menyakinkan sang suami. Padahal di saat Ibu Ellena bersedih, Ayah Dion selalu menguatkan agar istrinya bersabar. Nyatanya beliau sendiri yang lebih tertekan.


"Maaf," ucap Zizi sambil berjalan di samping suaminya.


"Maaf buat?" Devan berhenti sejenak untuk menatap muka Zivanna.


"Karena keras kepalaku, keluarga kita ikut merasakan dampaknya."


"Ini bukan salah siapa-siap. Sekarang saatnya kita memperbaiki sebuah hubungan yang retak. Jadi jangan mengigat masa lalu, karena bila mengingatnya. Kakak adalah penyebabnya." Devan membelai kepala istrinya.


"Sudah, ayo." pria itu kembali lagi menarik tangan sang istri menuju kamar orang tua mereka. Setibanya disana, ternyata pintu kamar tersebut sudah dibuka cukup lebar oleh Ibu Ellena yang berjalan lebih dulu dari mereka.


"Ayah!" ucap Devan dan Zizi mendekati ranjang tempat tidur.


"Nak... kemarilah!" laki-laki paruh baya itu menentangkan kedua tangannya. "Ibu sudah mengatakan pada ayah, jika kalian tidak jadi berpisah." ucapnya setelah memeluk anak dan menantunya secara serempak. Sedangkan si tampan Reyvano diambil alih oleh Ibu Ellena.


"Maafkan kami, Yah. Seharusnya Devan membahagiakan kalian dari dulu, bukan malah sebaliknya." rasa bersalah timbul begitu saja. Ketika melihat orang-orang yang disayang ikut menderita karenanya.


"Ayah sudah memaafkan kalian. Semua ini tidak akan terjadi bila saja ayah tegas dan berani berkata jujur padamu." jawab Ayah Dion melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


"Ayah, yang berlalu biarlah berlalu. Sekarang mari kita mulai lembaran baru. Tidak hanya kami berdua, tapi juga ayah dan ibu. Kita berlima." imbuh Zizi mengelus lengan ayah mertuanya.


"Iya, kamu benar, Nak. Memang itulah yang ayah harapkan sejak kalian berpisah." berita bahagia tersebut bagaikan pitamin untuk Ayah Dion, karena dia langsung terlihat sembuh dan baik-baik saja.


"Nek, tenapa cemuanya dangis?" tanya Rey dengan suara keras. Sehingga semua orang menoleh kearahnya.


"Ayo gendong dengan ayah lagi, nanti nenek keberatan bila mengedong Rey terlalu lama." Devan mengulurkan tangannya dan mengendong sang putra.


"Tenapa cemuanya dangis?" karena pertanyaannya belum dijawab. Reyvano bertanya pada ayahnya lagi.


"Semuanya menangis karena lagi merasa bahagia." jawab Devan membawa Rey duduk di sisi ranjang.


"Ayo beri ciuman dulu pada kakek, biar kakek cepat sembuh." kata Devan mengelus kepala putranya. Dengan perlahan Rey pun mendekati Ayah Dion dan mencium pipi sang kakek.


Muuuaaah!


"Kakek cepat tembuh, ya." ucap si kecil mengikuti apa yang diperintahkan oleh ayahnya.


"Tentu, sekarang saja kakek sudah sembuh setelah dicium oleh cucu kesayangan kakek." Ayah Dion tersenyum menatap cucunya. Lalu dia menoleh kearah sang istri yang hanya tersenyum pada tempatnya berdiri.


"Sayang kemarilah!" ucapnya memanggil sang istri.


Lalu setelah Devan menggeser tubuhnya Ibu Ellena berjalan mendekat dan duduk tepat di sebelah suaminya.


"Sekarang semuanya sudah kembali seperti semula, jadi jangan banyak pikiran lagi aku sangat membutuhkanmu." ucap Ibu Elena menyatukan jari-jari tangan dia dan suaminya. Di umur yang sudah menginjak hampir lima puluh tahun, mereka berdua baru bisa merasakan hidup tenang.


Bersatunya Devan dan Zivanna, tentunya kebahagiaan bagi mereka berdua.


"Tidak, aku tidak banyak pikiran lagi, paling juga yang menjadi pikiranku saat ini adalah apabila mereka bertiga meninggalkan kita berdua saja." ungkap Ayah Dion ikut tersenyum pada sang istri.


"Untuk sementara, kami akan tetap tinggal di sini, Yah, Bu." jawab Devan yang sudah memikirkan setelah melihat keadaan ayahnya.


"Maksudnya, Nak?" Ibu Ellena menatap menantunya.


"Maksudnya, sampai keadaan ayah sembuh seperti biasanya. Devan tidak akan membawa Zizi dan Rey meninggalkan kalian. Hanya Ayah dan Ibu yang kami miliki." jawab Devan yang ingin membahagiakan orang tua mereka.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2