Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Dendam salah alamat.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Itulah kenapa Ayah tidak pernah memberitahu masalah ini padamu." Pria baya tersebut mengakhiri ceritanya. Terdengar isakan kecil dari Devan dan juga Ibu Ellena.


Bukan hanya Devan yang terluka. Namun, wanita baya yang masih terlihat cantik tersebut juga merasa sakit mengigat kisah masa lalu yang membuat dia harus kehilangan putri semata wayangnya.


"I--ibu El! Tolong maafkan a--ak--aku!" ucap Devan dengan terbata-bata. Tidak di sangka-sangka wanita yang selama ini dia benci adalah orang paling berjas pada kehidupan keluarganya.


"Tolong maafkan kesalahanku, Bu. Aku tahu kata-kata maaf saja tidak akan bisa mengubah dan mengembalikan Zizi pada Ibu. Tapi... aku benar-benar sangat menyesal walaupun aku tidak mengetahui kebenaran ini. Aku sudah menyesal di saat Zizi pergi dari ku." kata Pria itu kembali meminta maaf, meskipun dia sudah tahu mana mungkin ada ibu yang bisa memaafkan perbuatan jahat seseorang pada putrinya.


"Ibu boleh memberikan aku hukuman apa saja, termasuk memenjarakan aku. Tapi... tolong jangan pisahkan aku dan putri ibu dan tolong jangan tinggalkan ayahku. Ayah tidak bersalah, ini semua murni kesalahanku." ujar Devan yang berhenti sesaat sebelum melanjutkan lagi ucapnya, karena melihat ibu mertuanya hanya diam sambil menangis.


Sedangkan ayahnya cuma bisa membisu dengan pikiran kemana-mana, sebab dari awal inilah yang beliau takutkan. Akan berakibat buruk juga pada pernikahannya.


"Tolong jangan tinggalkan Ayahku, Bu! Selama ini aku tidak pernah melihat Ayah meneteskan air matanya. Tapi hari ini, aku melihat Ayah menangis, karena kesalahan yang aku perbuat. Jadi tolong beri Ayah kesempatan. Katakan saja apa yang harus aku lakukan, agar Ibu tidak meninggalkan Aya---"


"Apa maksudmu? Aku tidak akan meninggalkan suamiku karena perbuatanmu. Aku juga tidak akan melakukan apa-apa. Hanya aku minta tolong cari dan bawa Zivanna ku kembali kesini. Dimana tempat kamu mengikatnya dengan tali pernikahan." sergah Ibu Ellena denga nafas naik turun bak ikan yang kehilangan air.


"Ellena!"


"Ibu!"


Seru anak dan ayah tersebut secara bersamaan. Mendengar perkataan Ibu Ellena membuat keduanya merasa kaget dan senang secara bersamaan.

__ADS_1


"Sayang... terimakasih!" Ayah Dion langsung memeluk tubuh istrinya yang masih menangis tersedu-sedu.


"Maaf, karena masalah masa lalu ku sudah membuat kalian menderita."


"Tidak, kamu juga tidak bersalah. Berhenti menyalahkan dirimu." hanya itu jawaban ibu Ellena. Saat ini wanita tersebut hanya membutuhkan sebuah bahu tempat dia bersandar.


"Menagis lah! Agar hatimu merasa lebih baik. Setelah ini kita akan mencari Zivanna dan membawanya pulang kesini." seru lelaki baya tersebut sambil membelai kepala sang istri.


"Ibu... aku berjanji akan membawa putri Ibu pulang kerumah ini. Maafkan aku sudah mengecewakan kalian berdua." setelah itu Devan langsung pergi dari sana, dan berjalan menuju bagasi tempat mobil mewah nya berada.


Braaak...


Suara pintu mobil yang dibanting cukup keras oleh Devan. Lalu dia mulai menjalankan kendaraan besinya membelah jalanan ibu kota X yang masih terlihat sepi.


Dengan kecepatan di atas rata-rata. Pria tersebut melajukan kendaraannya menuju kompleks pemakaman sang ibu yang selama ini dia anggap sebagai korban dari perselingkuhan ayahnya dan Ibu Ellena.


"Zivanna... di mana pun tempat mu berada. Semoga kalian baik-baik saja, dan tolong jaga buah hati kita. Kakak akan berusaha untuk bisa menemukan kalian." berkata dengan suara bergetar menahan sesak dan rasa menyesal karena telah melakukan balas dendam salah alamat.


Tiiin...


Tiiin...


Untuk mengucapkan terimakasih kepada penjaga keamana yang bertugas menjaga gerbang arah masuk. Devan membunyikan klakson beberapa kali. Lalu begitu tiba di tempat yang biasanya orang memarkirkan kendaraan, Pria tersebut memberhentikan mobil dan langsung turun setelah kembali menutup pintunya.


Perlahan tapi pasti langkah Devan semakin mendekati makam sang ibu. Tidak ada rasa bahagia karena akan mengunjungi makam wanita yang telah melahirkannya, dan tidak ada bunga di tangannya. Rasa kecewa pada ibunya sudah merubah Devan menjadi seperti itu.


"Selamat pagi... Bu. Apa sekarang ibu sudah puas sudah kembali menyakiti ayah dan berhasil membohongi ku?" tanya Devan begitu tiba di hadapan makam ibunya. Sebelum hari ini, apabila datang berkunjung walau hanya pada sebuah tumpukan batu. Pria itu selalu mengucapkan.

__ADS_1


"Ibu, Devan datang mengunjungi ibu. Maaf sudah lama tidak kemari, karena akhir-akhir ini putra... ibu sangat sibuk. Tapi ketahuilah kalau aku sangat merindukanmu.


Itulah kata-kata seorang Devan saat tiba di depan batu nisan ibunya. Lalu dia akan menceritakan apa saja, meskipun sang ibu tidak ada. Namun, hari ini dia datang bukan untuk melepas rindu. Tapi seperti ingin menuntut kebohongan sang ibu semasa hidupnya.


"Kenapa ibu berbohong padaku? Kenapa sebelum kau pergi, mengatakan kalau semuanya terjadi karena ayah ku sedang dekat dengan karyawan nya?" Seolah-olah ibunya ada disana, sejumlah pertanyaan langsung Devan tanyakan. Untung saja masih pagi, jadi tidak ada pengunjung makam yang mendengar perkataan nya.


"Kenapa kau tega berbuat demikian? Kau sudah kembali menyakiti ayah ku. Andai saja sahabat mu, Ibu Ellena bukan orang baik. Mungkin hari ini pernikahan ayah ku akan kembali hancur seperti saat kau mengkhianati nya." karena rasa kecewanya. Devan berbicara dengan kata Kau. Kata yang tidak pernah dia ucapkan kecuali pada musuh. Pada Zizi saja, saat dia menyiksanya. Pria itu tidak sampai mengunakan kata-kata tersebut.


"Aku sangat membencimu!" sambil meneteskan air mata Devan menyampaikan perasaannya.


Bagaimana pun jahat nya perbuatan Marisa. Wanita tersebut adalah perempuan yang sudah melahirkan dia kedunia. Namum, karena wanita itu juga Devan harus mengalami penderitaan selama bertahun-tahun.


Bagaimana dia tidak menderita harus berpura-pura baik dengan orang-orang yang dianggap nya musuh. Bahkan untuk melancarkan balas dendam untuk penderitaan sang ibu. Devan harus rela menikahi putri dari musuhnya.


"Aku sangat membencimu, Bu. Gara-gara kau... aku harus kehilangan anak dan istri ku."


Tes...


Tes...


Pria yang biasa sangat tegas dalam segala hal. Hari ini kembali menangis. Devan menagis bukanlah karena telah di bohongi oleh sang ibu. Tapi karena kebohongan tersebut, dia harus kehilangan istri dan calon anaknya.


"Karena kau, aku harus kehilangan wanita yang ternyata selama ini aku cintai. Wanita yang sudah aku siksa pisik dan hatinya. Sekarang dia pergi meninggalkan aku bersama calon anak kami. Apa kau tahu bahwa wanita tersebut adalah Zivanna putri dari sahabat karib mu. Perempuan yang aku kira selama ini telah merebut ayah dari kita berdua." mungkin bila sang ibu masih hidup, Devan akan meraung-raung untuk menyampaikan rasa kecewanya.


"Dengarkan aku baik-baik! Sebelum aku bisa menemukan istri dan anak ku. Maka aku tidak akan pernah lagi mengunjungi mu." setelah mengatakan itu, Devan langsung pergi meninggalkan makam ibunya.


Tiba di dekat mobil dia langsung membuka pintunya dan kembali lagi menjalankan kereta tersebut yang entah mau kemana tujuannya. Sambil membawa kendaraan itu Devan hanya melamun sambil mengingat kembali tempat mana saja yang pernah dia dan Zizi datangi apabila sedang menghabiskan waktu bersama, dan dia akan mendatangi tempat itu satu persatu. Berharap bisa menemukan sang istri ataupun untuk mengobati rasa rindunya.

__ADS_1


Braaak...


Jeritan terdengar setelah bunyi benturan yang cukup keras.


__ADS_2