Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Bukan untuk menyakiti kalian.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Setelah hampir lima belas menit manaiki mobil. Barulah Devan berbicara setelah tadi hanya diam saja. Dia masih menggap, kalau semua ini bagaikan mimpi. Padahal tadi siang Devan sempat merasa putus asa bahwa sampai kapanpun mereka tidak akan bisa menemukan istrinya. Namun, sebuah keajaiban langsung datang pada malam harinya.


"Jim, apa tempatnya masih jauh? Kenapa lama sekali?" duduk semakin gelisah. Belum lagi jantungnya yang berdebar-debar karena akan bertemu gadis yang pernah dia siksa.


"Mungkin sekitar sepuluh menit lagi Tuan muda. Bila dari taman hiburan tadi siang, tidak sampai lima belas menit." jangankan Devan, Sekertaris Jimi saja ikut berdebar-debar. Padahal laki-laki tersebut bukan siapa-siapa. Selain sekertaris pribadi.


"Taman hiburan tadi siang. Ap--ap--apakah Rey adalah putra ku?" mungkin bila Devan sedang memegang sesuatu, benda tersebut akan terlepas dari tangannya. Dia semakin gemetar saat menanyakan apakah Reyvano putranya. Instingnya saat bertemu anak kecil tersebut sangat kuat. Sehingga Devan menduga kalau Reyvano memang anaknya.


Aaghk, Anak! Mengingat kata anak saja sudah membuat jantung Devan seakan langsung berhenti. Anak yang pernah ingin dia habisi ternyata tumbuh dengan baik walaupun tanpa dirinya. Entah seperti apa perjuangan seorang Zivanna untuk memenuhi kebutuhan mereka. Gadis kecil yang dia bohongi, nikahi dan sakiti sekarang sudah menjadi seorang ibu dari anaknya.


"Iya, benar! Tuan muda Rey, adalah putra Anda. Orang-orang kita sudah memeriksa rumah sakit tempat Nona melahirkan tuan Rey. Semuanya sesuai dengan data saat Nona pergi meninggalkan kota Y." itulah kenapa Sekertaris Jimi ingin data dari rumah sakit, karena dia tidak mau salah paham antara tuan dan Nona mudanya kembali terjadi.


"Huh! Pantas saja saat melihatnya jantungku berdegup kencang." Devan menghela nafas berat. Rasa hatinya semakin sakit mengigat seperti apa Reyvano hanya berdiri melihat anak-anak seusianya bermain bersama keluarga mereka.


Sedangkan putranya hanya bermain sendiri. Saat ditanya kemana pergi ibunya, Rey menjawab kalau sang ibu sedang mencari uang, karena dia tidak memiliki ayah. Ternyata ayahnya adalah Devan sendiri. Pengusaha sukses yang memiliki kekayaan berlimpah ruah.


"Ya Tuhan! Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengan kenyataan ini. Aku hidup dalam bergelimang harta. Sedangkan Istri dan anakku lagi berjuang diluar sana." ucap Devan semakin terpukul. Devan sangat tahu, meskipun Zizi hanya dibesarkan oleh Ibu Ellena dalam serba kekurangan. Akan tetapi Zivanna tidak pernah bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Gadis itu mulai bekerja paruh waktu dan tenaga kebersihan setelah menjadi istrinya saja.


"Tuan muda, kita sudah sampai." pangil Sekertaris Jimi karena melihat Devan menutup mukanya mengunakan tangannya sendiri.


"Apa, kita sudah sampai!" pria itu langsung menurunkan tangannya dan keluar dari mobil sendirian. Tidak menunggu pintunya dibuka lebih dulu.


"Yang mana rumahnya, Jim?" baru bertanya pada Jimi. Padahal saat turun dari mobil seolah-olah tidak membutuhkan sekertaris nya lagi.


"Itu Tuan muda. Rumah Nona yang ada toko Royal Bakery nya. Untuk mencukupi kebutuhan mereka. Nona muda berjualan kue." Sekertaris Jimi menunjuk rumah yang berada sekitar seratus meter dari tempat mobil mereka berhenti.


"Aah! Aku tidak sanggup lagi mendengarnya, Jim. Kalian tunggu saja disini. Aku akan menemuinya. Perketat penjagaan sekitar." ucap Devan melangkah pelan menuju toko sang istri. Terlihat tempat tersebut masih buka dan belum ditutup. Padahal sudah jam tujuh malam.

__ADS_1


Semakin dekat langkah kakinya. Maka jantung Devan semakin berdegup kencang. Ada rasa takut yang dia rasakan. Takut karena Zizi pasti sangat membencinya. Gadis itu rela hidup susah dan berjuang seorang diri daripada kembali pada keluarganya. Itu pertanda kalau Zivanna sangat terluka.


Dari kejauhan sudah mulai terdengar suara putranya yang berceloteh. Devan memang sengaja tidak langsung mendekat, karena ingin menatap wajah yang dia rindukan. Kalau setelah menemuinya nanti, belum tentu masih bisa menatap wajah sang istri.


"Bu, Ley boeh itut tatak dalan-dalan dadi Tan?" tanya Reyvano sambil bermain didekat ibunya yang mulai membereskan toko mereka.


"Kenapa? Bukankah tidak boleh ikut, bila tidak diajak?" Ibu muda itu kembali bertanya karena putranya tidak pernah meminta ikut, bila Bibi Emi dan Bibi Husna tidak mengajaknya lebih dulu.


"Ley au ain obin-obinan. Tayak tadi iyang." jawab Rey yang baru bercerita pada sang ibu malam ini. Tadi siang Zizi sibuk karena ada pesanan kue. Jadinya mereka berdua belum sempat bercerita seperti biasanya.


Mendengar cerita anaknya yang menaiki mobil-mobilan. Zivanna langsung menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu kembali lagi melanjutkannya.


"Memangnya tadi siang Rey main mobil-mobilannya sama siapa? Apa sama kakak?" Zizi bertanya karena kedua cucu Bibi Emi adalah perempuan. Jadi mana mungkin mau menemani putranya menaiki permainan tersebut.


"Tama om danteng."


"Om ganteng siapa? Bukan Om Kevin 'kan?" Zivanna menyergit keningnya. Sambil berpikir mungkinkah Kevin datang ke kota F. Tapi kenapa tidak datang kerumahnya.


"Eum ... yasudah tidak usah dijelaskan. Besok ibu akan bertanya sendiri pada nenek." kata Zizi yang tidak ingin membuat putranya berpikir diluar batas kemampuan anak seusianya.


"Bu, tapan ayah dah puyang tita ain tana, ya?" pinta anak itu yang tahu kalau ayahnya sedang pergi bekerja. Selama ini Zizi memang tidak pernah mengatakan kalau ayah Reyvano orang jahat.


"Nanti ya, tunggu ayah pulang. Sekarang ayah sedang mencari uang yang banyak agar bisa membeli mainan untuk mu." dusta Zizi yang terpaksa harus berbohong. Andai ada cara lain, maka Zizi akan mengatakan kalau ayah putranya sudah meninggal. Dari pada harus membohongi anaknya, yang entah sampai kapan.


Apapun yang dia dan Reyvano ceritakan Devan dapat mendengar semuanya. Pria itu lagi berdiri disamping pintu masuk. Dadanya semakin sesak saat Zivanna mengatakan kalau dia sedang pergi bekerja buat mencari uang agar bisa membalikkan permainan untuk putra mereka. Padahal jangankan sekedar permainan. Bila kota F dijual. Maka Devan sanggup membelinya.


"Tunggu ibu menutup toko dulu, ya. Setelah itu kita istrirahat." ucap Zizi mendekati sang putra. Setelah memberikan ciuman di pipi anaknya. Ibu muda itu menutup pintu tersebut satu persatu. Namun saat ingin menutup pintu utama dia langsung membeku disertai dengan air matanya.


Batin Zizi sedang berperang dengan apa yang dilihatnya. Dia tersadar setelah Reyvano berjalan mendekat dan menarik tangannya.


"Ibu, butak nini." ucap Reyvano mengulurkan tempat permainannya. Bukannya membuka apa yang di pinta oleh putranya. Namun, Zivanna langsung mengendong Rey dan mendekapnya sambil berkata.


"Pergi, pergi! Jangan sakiti anakku. Kamu boleh membunuhku. Tapi tolong biarkan putraku hidup." teriak Zizi sambil menangis.

__ADS_1


Melihat hal tersebut. Devan ikut menangis, ternyata perbuatannya sudah membuat trauma mendalam bagi Zivanna. Hanya melihat kehadirannya saja Zizi sudah takut.


Padahal kedatangannya bukan untuk menyakiti putranya. Melainkan ingin membawa istri dan anaknya kembali. Tidak perduli kata-kata makian yang Zizi ucapkan. Devan terus berjalan masuk mendekati Istri dan anaknya yang sekarang sedang menangis.


"Aku mohon, jangan sakiti putraku Tuan Devan. Tolong biarkan kami hidup. Bila Anda belum puas membalaskan dendam Anda, maka sakit aku saja." Zizi terus berteriak sambil menagis. Sehingga para tetangga sekitar langsung keluar. Namun, mereka tidak diizinkan mendekat, karena para pengawal Atmaja group sudah menjaga tempat tersebut.


"Hei siapa kalian? Apa yang akan kalian lakukan pada putriku? Bibi Emi berusaha ingin masuk untuk melihat keadaan Zivanna yang berteriak sambil menagis.


"Nyonya, tenanglah! Tuan muda kami tidak akan menyakiti Nona muda." ucap Sekertaris Jimi yang mendekat karena melihat para tetangga sekitar keluar dari rumah mereka masing-masing.


"Apa maksudnya Tuan muda dan Nona muda. Siapa kalian sebenarnya? Anda teman tuan yang tadi siang mengajak Reyvano bermainkan?" Bibi Emi menatap sekertaris Jimi penuh selidik.


"Hem! Anda benar sekali. Nyonya tenang saja. Didalam tidak terjadi apa-apa. Tuan muda kami sedang menemui istrinya yang sudah lama pergi dari rumah." Sekertaris Jimi menjelaskan agar para warga sekitar bisa memahami maksudnya.


Sementara di dalam rumah sederha itu dua orang insan saling menagis. Zivanna menangis karena mengira Devan datang untuk menyakiti dia dan putranya. Sedangkan Devan menangis karena perbuatannya sudah menyakiti Zizi sampai sejauh ini. Bagaimana mungkin dia akan menyakiti anak yang sangat dia rindukan.


"Zizi ... tolong maafkan Kakak." setelah empat tahun lebih tidak bertemu. Hanya kata maaf yang mampu Devan ucapkan.


"Jangan seperti ini. Kakak datang bukan untuk menyakiti kalian." Lirih Devan yang berjalan semakin mendekat.


"Kamu bukan kakak ku. Kamu hanya seorang pembohong. Pergi dari sini! Pergilah, aku mohon!" seru Zivanna yang tidak bisa kemana-mana lagi. Tubuhnya sudah menabrak meja kasir. Sementara itu Reyvano yang tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Hanya diam sambil menatap mereka bergantian yang sama-sama menangis.


"Iya, kamu benar. Kakak memang pembohong. Tapi kakak tidak akan pergi dari sini, bila tidak bersama kalian berdua. Kakak benar-benar menyesal sudah menyakiti mu." sekarang Devan sudah berdiri tepat dihadapan Zivanna. Jarak antara keduanya begitu dekat.


Hati Devan benar-benar hancur melihat gadis yang sekarang sudah menjadi ibu dari anaknya. Terlihat lebih kurus, mukanya tidak seperti dulu yang selalu terlihat ceria, sudah bisa dipastikan kalau Zizi melewati hari-hari yang begitu sulit.


"Aku tidak akan pernah pergi dari sini, karena disinilah rumah ku." Zivanna langsung membantah ucapan laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya.


"Zizi ... maaf, maafkan Kakak!" ucap Devan ingin mengambil Reyvano untuk digendong. Namum, belum sampai tanganya menyentuh sang putra. Zivanna sudah menepis dengan kasar.


"Jangan pernah menyetuh putraku mengunakan tangan kotor mu." emosi Zizi semakin meluap-luap setelah bayangan masa lalu terlintas dibenaknya begitu saja.


"Sayang, tolong izinkan Kakak untuk mengendong Reyvano. Kakak hanya ingin mengendong bukan menyakitinya." mohon Devan bersungguh-sungguh. Sebetulnya dia sangat ingin langsung memeluk Zizi dari awal melihatnya. Hanya saja Devan sadar akan kesalahan yang sudah dia perbuat.

__ADS_1


__ADS_2