Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Cinta yang aku miliki.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Flashback on...


Setelah menemani putranya bermain. Zivanna pergi mencari Dokter Kaivan untuk menanyakan apakah Reyvano masih harus diberikan obat demamnya atau tidak.


"Bi, apa Bibi ada melihat Dokter Kai?" tanya Zizi pada salah seorang pelayan yang baru saja turun dari lantai atas. Saat ini mereka berada didalam dapur bersih.


"Dokter Kaivan ada di balkon atas Nona. Ini Saya baru saja mengantar jus untuknya." jawab si Bibi pelayan mengangkat nampan yang dibawa olehnya.


"Oh ya sudah. Kalau begitu Saya ingin menemuinya." Zivanna tersenyum menyentuh pundak si Bibi sebelum meninggalkan dapur.


Lalu Zivanna pun langsung saja menuju tempat yang disebutkan oleh pelayan tadi. Namun, saat dia sudah mau mendekati balkon. Sayup-sayup Zizi mendengar Dokter Kai membentak seseorang.


Dengan langkah pelan. Zivanna memberanikan dirinya untuk melihat siapa yang dibentak oleh dokter muda itu. Setahu Zizi, Dokter Kai seperti sangat penyabar. Walaupun dia baru mengenalnya.


"Devan! Jangan bodoh, pikirkanlah apa yang aku katakan." Dokter Kai mengusap wajahnya kasar. Tidak habis pikir dengan keras kepala sahabatnya.


"Aku tidak bisa melakukannya, Kai. Sudah cukup penderitaan yang aku berikan padanya, selama ini." jawab Devan dengan suara sendu.


"Dev, sekarang berbeda. Kamu bukan ingin menyakiti Zizi. Tapi ingin membahagiakan dia." seru Dokter tersebut mencoba menasehati sahabatnya agar membatalkan perceraian mengunakan kekuasaan yang Devan miliki. Akan tetapi Devan tidak mau, karena dia tidak ingin kembali membuat Zizi kecewa padanya.


Deg!


"Kenapa mereka menyebut namaku? Apa yang sedang mereka bahas? Mungkinkah lagi merencanakan sesuatu? Aku harus mencari tahu. Jika sampai benar, maka aku akan pergi membawa putraku."


Gumam Zivanna hanya diam dibalik tembok. Rasa penasaran yang dia rasakan, ternyata membuatnya berani untuk menguping pembicaraan Devan dan Dokter Kaivan.

__ADS_1


"Jadi hanya segini cinta yang kamu miliki? Kenapa kamu tidak berusaha untuk menahanya?" cibir Dokter Kai lagi. Sedari tadi dia terus mencibir dan mengatai Devan semaunya.


Setidaknya hari ini Devan tidak akan memecat nya sebagai dokter pribadi. Satu kali tepuk dua lalat mati. Ha... ha... Dokter Kai memang hebat. Menasehati sekalian membalas perbuatan Devan yang sering semena-mena padanya.


"Iya, hanya ini cinta yang aku miliki. Lebih baik aku mengikuti keinginannya untuk berpisah, daripada harus membohongi Zizi seolah-olah Tuan Bram mempersulit perceraian kami." papar Devan.


Sehingga dikit demi sedikit Zivanna yang menguping mulai paham kemana arah pembicaraan dua pemuda tersebut.


"Tapi Zivanna tidak akan pernah mengetahui. Apabila Tuan Bram atau kita yang memberitahu dirinya, Dev." dari tadi dokter muda itu menyakinkan Devan. Ternyata tidak berhasil juga.


"Ada kata pepatah mengatakan. Berbohong demi kebaikan, maka tidak apa-apa. Sekarang kamu berbohong demi kebaikan rumah tangga mu, demi Reyvano dan demi kedua orang tua kalian." mencoba mempengaruhi. Agar Devan goyah pada pendiriannya.


"Bagiku sekali berbohong, tetap saja berbohong. Apapun alasannya, aku tidak akan menyakiti Zivanna." Devan melihat kerah burung-burung yang berterbangan. Pandangan matanya jauh melihat kedepan.


"Melihat dia sudah sembuh saja aku sudah bahagia. Aku tidak mau membuat dia tersiksa berada di sisiku." ungkap Devan menceritakan perasaannya. Selama ini dia selalu memendam perasaan tersebut seorang diri.


Dulu apabila memiliki masalah. Devan selalu bercerita pada mantan sahabatnya. Yaitu Fiona, gadis yang saat ini lagi mendekam di penjara sejak dua tahun lalu. Dia di jatuh hukuman sebelas tahun, karena selain melakukan pembunuhan berencana. Fiona juga memakai obat terlarang dan mengedarnya.


Tetapi jika Devan sendiri belum pernah menjenguknya. Alasannya tentu saja karena Devan ingin menjaga perasaan istrinya yang tidak tahu dimana rimbanya.


"Hatiku semakin sakit melihat Zivanna ketakutan karena mengigat kenangan buruk yang pernah aku berikan." karena Dokter Kai hanya diam saja. Devan mulai menceritakan masalahnya. Dia berpikir, mungkin saja dengan menceritakan pada sahabatnya. Beban yang dia tanggung sendiri, akan terasa ringan.


Sebab Zizi yang mengalami trauma saja bisa sembuh setelah menceritakan masalahnya pada Dokter Shiren.


Agh, Devan! Dokter Kaivan dan Dokter Shiren berbeda jurusan.


"Apa kamu tahu, satu bulan lalu aku menemukan dia menangis di tengah malam. Dia duduk bersimpuh di atas lantai yang dingin. Untung Saja malam itu aku ingin menemui putraku sebelum tidur. Jadi aku tahu kalau dia sedang tersiksa dengan keadaan ini." terdengar pria itu menghela nafas panjang saat bercerita kejadian malam itu.


"Apa maksudmu? Jadi Zivanna pernah sampai seperti itu?" sela Dokter Kai merasa kurang percaya, karena dia bertemu Zizi setelah keadaanyanya mulai membaik.


"Iya, dia sampai seperti itu. Malam itu jugalah aku berjanji akan melepaskan dirinya, asalkan dia bisa sembuh. Hanya itulah tekad ku." kembali berhenti sejenak, lalu bercerita lagi.

__ADS_1


"Kata orang... cinta itu tidak harus memiliki. Maka sekarang aku ingin melepas cintaku. Demi kebahagiaannya. Dia tidak bahagia berada di sisiku, Kai. Makaknya aku melepasnya." tanpa Devan dan Dokter Kaivan sadari jika di balik tembok yang mengarah ke balkon. Ada Zivanna duduk mendengarkan pembicaraan mereka sejak tadi.


"Tujuanku saat ini hanya satu. Yaitu membahagiakan Reyvano. Bagaimana pun caranya aku tidak ingin Rey merasakan apa yang pernah aku rasakan." berhenti lagi karena dadanya terasa sesak bila mengigat sang putra harus merasakan seperti dirinya.


"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. Tadi aku pikir dengan meminta bantuan orang-orang penting. Bisa menyelamatkan hubungan kalian," ucap Dokter Kai menepuk pelan pundak sahabatnya yang terlihat begitu menyedihkan.


"Heum, tidak apa-apa. Aku tahu niat mu baik. Sebelum dirimu, Sekertaris Jimi juga sudah ingin melakukan itu." tersenyum miring karena begitu banyak orang yang perduli pada hubungan dia dan Zivanna.


"Jika aku mau, tidak perlu harus repot-repot datang ke kantor pengadilan. Tapi aku tidak ingin melakukan hal seperti itu. Zivanna bukan siapa-siapa, apa pantas aku memanfaatkan ketidak mampuan istriku sendiri?" tanya Devan ingin mendengar jawaban sahabatnya.


"Tentu saja tidak boleh! Aku bangga memiliki sahabat sepertimu, Dev. Meskipun dulu aku juga sangat kecewa padamu." salut. Ya, Dokter Kai salut pada Devan yang menerima dan mengakui kesalahannya.


Biasanya apabila sudah melakukan kesalahan. Sangat jarang ada yang menyadari kesalahannya. Lebih banyak menyalahkan orang lain daripada memperbaiki kesalahannya tersebut.


Namun, Devan benar-benar membuat sahabatnya saja merasa bangga, karena kebesaran hatinya ingin menjadi lebih baik lagi. Sampai-sampai untuk menipulasi perceraian bersama wanita yang dia cintai saja Devan tidak mau.


"Kamu tahu sendirikan, bila aku memberi izin. Cukup Sekertaris Jimi menelepon saja. Maka semuanya akan beres. Dalam waktu satu jam saja, kami bisa mendapatkan surat perceraian. Akan tetapi aku ingin menjadi seperti rakyat biasa, biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya." Devan mengakhiri ceritanya. Lalu dia mengambil jus yang ada di atas meja dan meminumnya.


"Hei... itu minumanku, kenapa kau meminumnya," sentak Dokter Kaivan membulatkan matanya. Sebab minuman yang Devan minum, adalah jus jeruk miliknya yang belum sempat dia minum, karena Devan tiba-tiba datang dan duduk bersamanya.


"Ck, jangan pelit. Pesan lagi sana. Hanya minuman, satu ember saja para pelayan akan membuatkan untuk mu." berkata memang enak!


Tapi untuk mendapatkan jus satu gelas saja butuh proses. Apa lagi satu ember.


"Tuhan... kenapa aku bisa memiliki teman begitu menyebalkan seperti dia," ucap Dokter Kaivan menengadahkan tangannya. Seolah-olah dia sedang berdo'a karena telah dianiaya Devan dengan kejahatan. Padahal hanya minumannya saja yang diminum tanpa permisi.


"Aiissh! Sudahlah jangan mengoceh. Aku ingin memejamkan mataku sebentar saja. Nanti bila sudah setengah enam. Tolong bangunkan lagi aku." pesan Devan sudah membaringkan tubuhnya diatas ayunan yang ada di sana. Dia tidak menghiraukan perkataan Dokter Kaivan.


Justru ocehan sahabatnya itu bagaikan dongeng, karena tidak sampai lima belas menit. Devan telah tertidur dengan nyenyak.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2