
π·π·π·π·π·
.
.
Dengan langkah pelan Zivanna berjalan mendekati pintu kamarnya. Meskipun dia sudah tau kalau bahaya tengah mengintar keselamatannya, tidak membuat gadis itu urung memasuki kamarnya.
Ceklek...
Begitu pintunya dibuka Devan sudah berdiri tepat di depannya dengan sorot mata yang siap mencabik-cabik tubuh kecil gizi. Gadis itu tidak bicara sepatah kata pun dia hanya diam menunggu Devan yang berkata duluan.
"Apa ini! Bisa kamu jelaskan kepadaku?" tanya pria itu dengan melempar beberapa foto di hadapannya. Zizi yang tidak tahu menahu pun langsung berjongkok untuk melihat foto yang dilempar oleh suaminya.
Untuk beberapa saat dia terdiam melihat semua foto itu adalah foto dirinya bersama Dosen Ski tadi siang. Foto dari awal dia masuk ke dalam mobil sampai mereka masuk ke dalam Apartemen Dosen Ski.
"Ayo jelaskan apa maksud semua foto-foto ini?" ucap Devan mengulangi pertanyaan nya tapi dengan tangan yang sudah menjambak rambut panjang Zizi. Sehingga membuat gadis itu langsung meringis menahan sakit pada kepalanya.
"Aku--aku! Aku bisa jelaskan itu poto kami tadi siang." seru Zizi berusaha menarik rambutnya agar terlepas dari cengkeraman tanggan Devan.
"Aku juga tahu ini poto tadi siang. Yang aku tanyakan ada hubungan apa kamu dengan Ski?" sergah lelaki itu melepaskan cengkraman tangannya. Sehingga membuat Zizi tejatuh dan menyebabkan barang yang di bawanya berserakan di atas lantai.
Praaaank...
Mata Devan langsung melihat kearah barang berserakan di lantai lalu dia menunduk untuk melihat satu persatu barang yang di bawa oleh istrinya tadi. Kebetulan satu kota susu khusus ibu hamil terlempar kearah kakinya. Setelah dibaca itu susu untuk ibu hamil Devan tidak bisa lagi membendung amarahnya.
"Zivanna apa maksud nya susu ibu hamil?" Devan langsung menarik kerah baju Zizi seperti ingin mengajak gadis itu mengadu kekuatan.
"Kak tolong dengarkan aku bicara dulu aku mohon!" ucap Zizi menangis takut jika Devan akan menghabisi nyawa anaknya sekarang juga.
Katakan," seru lelaki itu tapi sedikit pun tidak melepas cengkraman tangannya pada baju Zizi.
__ADS_1
"Maa--maa--maafkan a-aku tidak bisa mencegah ke-kehamilan ini. Tapi a-aaku hamil bukan karena aku tidak meminum obat yang kakak beri." dengan bersusah payah Zizi menjelaskan antara takut dan sakit karena perutnya kembali keram.
"Aa--aaku sekarang sedang hamil ti--ti--tiga minggu. Aku--aku sedang hamil anak kita," katanya dengan percaya diri menyebutkan tengah hamil anak kita sebelum Devan berdecih dan mendorong tubuhnya kelantai.
"Ciih! Dasar anak j4 l4 ng. Ternyata kelakuan kamu tidak berbeda dari ibumu. Kalian berdua sama-sama perempuan murahan. Enak saja kamu bilang itu anakku jelas-jelas itu anak Ski lelaki yang sudah beristri tapi kamu malah mengoda nya juga." sergah Devan menendang semua barang yang Zizi bawa. Padahal makanan itu pemberian dari orang yang kasihan pada istrinya.
Zizi yang tengah merasakan sakit pada perutnya tidak menghiraukan lagi apa yang Devan katakan. Dia hanya meringkuk bertahan pada dinding dengan darah segar keluar dari sela-sela kakinya. Namun, hal itu tidak membuat Devan merasa kasihan yang ada lelaki itu tertawa penuh kecewa karena menurutnya Zizi tengah mengandung anak Dosen Ski.
"Ha... ha... ha bagus sekali kalau kamu keguguran. Dasar perempuan murahan! Apa kamu tau kalau dosenmu itu sudah memiliki anak, dan anaknya masih berumur dua bulan. Pantas saja kamu selalu pulang malam ternyata kamu pergi melayani lelaki berengsek itu." cecar Devan semaunya tanpa memiliki rasa iba pada gadis yang sudah tidak bisa menjawab semua perkataan pedasnya.
"Aku mohon kak tolong bawa aku kerumah sakit. Walaupun kakak sangat membenciku tapi anak ini tidak bersalah. Dia adalah anak kakak bukan anak dosen ku." ucap Zizi memohon dengan menghilangkan rasa malu maupun harga dirinya.
"Jangan harap aku akan membantumu. Lebih baik kalian mati disini." kata pria itu pergi meninggalkan istrinya dalam keadaan sakit.
Braaak...
Devan keluar dari sana dengan membanting pintunya cukup keras. Tapi dia tidak mengunci pintu itu karena di dalam hati kecilnya berharap Bibi Marta datang kesana lalu menolong Zizi.
Ucap Zizi memohon di dalam hatinya agar ada orang yang masuk ke kamar untuk menolongnya, dan do'a gadis itu terkabulkan karena tidak lama setelah itu pintunya di buka oleh Dokter Kai dengan cukup keras.
"Zi, Zizi!" panggilnya khwatir melihat gadis itu mengeluarkan darah segar.
"Dok--dokter tolong selamatkan anak saya. Saya mohon tolong bawa Saya kerumah sakit sekarang juga." seru Zizi menarik jaket yang di pakai dokter muda itu.
"Tanpa di minta pun aku akan membawa mu kerumah sakit." kata Dokter Kai langsung menggendong tubuh kecil Zizi ala bridal style. Dia sudah tidak perduli dengan Devan yang mungkin saja marah kepadanya karena sudah menolong gadis malang itu. Andai saja tadi Bibi Marta tidak meminta tolong kepada nya mungkin saja Zizi akan mati malam ini juga.
"Tuan Dokter apa yang terjadi?" Bibi Marta berlari mengikuti Dokter Kai yang baru saja keluar dari dalam lift.
"Aku juga tidak tau apa yang terjadi, tapi sepertinya dia mengalami pendarahan karena dia sedang mengandung. Tolong Bibi bantu aku membuka pintu mobilnya aku akan membawa gadis ini kerumah sakit." kata lelaki itu penuh rasa khawatir melihat muka Zizi sudah sangat pucat.
Bibi Marta pun tidak bertanya lagi karena dia juga sudah tau semua yang terjadi pasti gara-gara tuan mudanya. Saat mereka tiba di parkiran kebetulan sekali mereka melihat Devan dan Fiona ingin menaiki mobil juga pertanda kalau Devan akan pergi.
__ADS_1
"Devan mau pergi kemana kalian? Ayo bantu aku membawa istrimu kerumah sakit." ucap dokter itu masih dengan khawatir.
"Aku ingin pergi ke Club malam, kamu bawa saja dia kerumah sakit. Aku tidak perduli." Devan berkata seperti itu tapi pandangan matanya melihat kearah mata Zizi yang melihatnya penuh rasa kecewa.
"Brengsek kamu Dev. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya aku bersumpah akan memasukan kamu kedalam penjara." umpat Dokter Kai kesal mendengar jawaban dari sahabatnya yang tidak peduli pada nyawa istrinya sendiri.
Bebeda dengan Zizi meskipun dia sudah hampir hilang kesadarannya tapi dia masih memaksakan diri untuk bicara walaupun terbata.
"Dokter... tidak usah mengharapkan bantuan orang lain. Bawa saja Saya kerumah sakit sekarang." pintanya dengan suara lirih. Yang di ikuti Dokter Kai setelah pintu mobilnya di buka oleh Bibi Marta.
BERSAMBUNG...π€§
.
.
.
.
Yah di gantung lagiπ€ Penasaran kan π€
jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya!! terimakasih ππππ
Like.
Vote.
Favorit.
Komen.
__ADS_1
Dan.... hadiahnya bunga ataupun kopi.ππππ€§