Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Rencana Zizi dan Jimi.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Astaga Devan! Setelah menghabiskan minumanku, kau tidur dengan nyenyak," Dokter Kaivan masih mengoceh sebelum dia mendengar ada suara langkah kaki yang berjalan kearah balkon.


"Hem!" Zivanna berdehem sebelum menyebutkan maksud kedatangannya. "Kak Dokter, maaf aku mengangu."ucap Zivanna karena melihat Dokter Kaivan baru saja mau merebahkan tubuhnya.


Rencananya pemuda itu akan ikut tidur bersama Devan. Tapi dia mau tidur di atas sofa. Apabila disore hari, balkon di rumah tersebut sangat dingin. Jadi siapa saja yang datang ke sana pasti akan betah.


"Tidak mengangu, ayo kita bicarakan di dalam. Soalnya kasihan, Devan baru saha tidur. Takutnya dia terbangun mendengar suara kita." ajak dokter muda itu bangkit dari pembaringan dan berjalan masuk kedalam rumah.


Sebelum mengikuti Dokter Kaivan masuk. Zivanna melirik kearah sang suami yang tertidur seperti orang kelelahan. Pada dasarnya Devan memang sangat lelah, karena dari kemarin siang tidak bisa beristirahat dengan tenang.


"Maafkan aku, yang begitu egois memikirkan perasaanku sendiri. Selama ini, aku juga tidak memikirkan perasaan putra kita, yang aku pikir hanyalah, bagaimana cara melindunginya dari kejahatanmu."


Batin Zizi sambil berlalu masuk, karena Dokter Kaivan sudah lebih dulu berjalan masuk menuju sofa yang ada di samping tangga.


"Ayo duduk! Ada apa? Apa dirimu butuh bantuan Kakak?" tanya Dokter Kaivan berbasa-basi. Padahal di dalam hatinya sangat berharap Zivanna ingin meminta bantuannya untuk menggagalkan perceraian dia dan Devan.


"Bukan, bukan bantuan! Aku hanya ingin menanyakan obat yang kakak kasih untuk Reyvano tadi malam. Apakah masih harus diminum atau tidak lagi, karena Rey sudah sembuh." wanita itu menyebutkan maksud kedatangannya.


"Oh, itu!" jawab Dokter Kaivan mengaruk kepalanya yang tidak gatal. "Jika dia sudah sembuh, cukup berikan sirup amoxilin nya saja, sedangkan obat yang dua nya tidak usah." terangnya kembali menjadi seorang dokter. tidak seperti tadi malah menghasut Devan agar manipulasi perceraian mereka.


Walaupun niatnya bagus, tetap saja Dokter Kaivan menyuruh orang lain untuk berbohong.


"Hanya ingin menanyakan itu saja, tidak ingin menceritakan apa, ataupun menanyakan sesuatu?" kembali memastikan. Sebab masih berharap agar Zizi mau berkata demikian.


Zivanna yang sudah mendengar percakapan dokter muda itu dengan suaminya, hanya tersenyum dan berkata. "Tidak, Kak Dokter! Aku hanya ingin mengatakan kalau besok pagi. Kami akan resmi berpisah." di dalam hatinya Zizi ingin tertawa karena melihat wajah terkejut Dokter Kaivan.


"I--i--iya, Kakak sudah tahu juga jika masalah itu." jawabnya merasa malu dan binggung sendiri. Haruskah dia membujuk Zizi atau malah sebaliknya.


"Kak Dokter kenapa? Apa ada yang ingin disampaikan ke padaku? sekarang bergantian Zivanna yang menanyakan padanya.


"Eum... Hem! Begini, Kakak hanya ingin menanyakan apakah kamu benar-benar sudah yakin untuk berpisah dengan Devan?" merasa dilema, Dokter Kaivan akhirnya bertanya juga walaupun tidak berterus terang arah tujuannya.

__ADS_1


"Tolong jangan salah paham dulu, Kakak tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin meyakinkan dirimu saja, setidaknya untuk Reyvano, Apakah tidak bisa sama sekali berikan Devan kesempatan Kedua?" daripada susah tidur gara-gara tidak menanyakan hal tersebut. Dokter Kaivan memberanikan dirinya untuk mencoba meyakinkan Zizi.


"Tidak Kak dokter, aku sudah memikirkan semuanya. Keputusan yang aku ambil sekarang, juga demi Reyvano. Jadi Kak Dokter tidak perlu mengkhawatirkan kami." tersenyum seakan tidak ada penyesalan sama sekali dengan keputusan yang sudah diambilnya.


"Oh, baguslah bila kamu sudah memiliki keputusan yang kuat." di mulut berkata demikian tapi di dalam hatinya Dokter Kaivan merasa tidak berguna sebagai seorang teman ataupun sebagai Dokter pribadi.


Nyatanya dia tidak bisa menyembuhkan luka hati yang dirasakan oleh sahabatnya.


"Iya memang keputusan yang sangat bagus! O'ya kalau tidak ada lagi yang akan dibicarakan, aku permisi dulu untuk melihat Reyvano yang lagi bermain bersama ibu." ucap Zizi hendak pergi dari sana.


"Pergilah! Kakak juga mau tidur dulu. Soalnya hampir semalaman tidak bisa tidur karena mengkhawatirkan keadaan Devan." kata Dokter Kaivan berdiri dari Sofa.


"Terima kasih, Kak Dokter," gizi kembali lagi mengucapkan kata terima kasih lalu dia pun pergi menuruni tangga untuk menemui anaknya yang lagi main bersama Ibu Elena.


"Maafkan aku, Dev. Ternyata Zizi benar-benar ingin berpisah darimu. Aku sangat berharap kalian tidak jadi berisah. Akan tetapi aku tak tau harus bagaimana lagi. Dengan cara apa?" Dokter tampan itu menatap kepergian Zivanna. Setelah itu barulah dia kembali ke balkon dan melanjutkan niatnya yang mau tidur.


*


*


Singkat cerita. Begitu selesai makan malam. Zivanna langsung pergi tidak ikut berkumpul dengan keluarga yang lain.


"Selamat malam, Nona!" sapa Sekertaris Jimi dengan sopan. "Maaf, apakah Anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya masih berdiri cukup jauh dari si nona muda.


"Iya, selamat malam juga. Duduklah!" titah Zivanna menggeser duduknya. Mana tahu Sekertaris pribadi suaminya takut bila mereka duduk terlalu dekat.


"Saya berdiri saja, Nona." jawab Sekertaris Jimi tidak berani duduk bersama istri dari tuan mudanya.


"Duduklah!"kembali lagi menyuruh Sekertaris Jimi untuk duduk. "Ada hal penting yang ingin aku sampaikan, bila kamu tidak mau mendengarnya, ya sudah. Aku akan kembali masuk." Ha... ha... ternyata Zivanna sudah berani mengancam.


"Hal penting apa?" tanya Sekertaris tersebut penasaran. "Apa ada hubungannya dengan Tuan Muda Devan?" bila bersangkutan dengan sang bos. Apapun akan Jimi lakukan. Termasuk duduk bersama waria sekalipun.


"Tentu saja ada hubungannya dengan tuan muda mu." Zizi sengaja melihat kearah langit malam yang begitu cerah, secerah hatinya.


Setelah mendengar pengakuan Devan pada Dokter Kaivan tadi sore. Hati Zizi benar-benar merasa lega. Semua ketakutan dihatinya langsung hilang. Tidak ada prasangka buruk lagi terhadap Devan.


"Bagaimana? Jika kamu tidak mau duduk. Maka aku akan masuk sekarang," yang namanya mengancam harus tegas. Pikir Zizi ingin tertawa, karena Sekertaris yang di takuti oleh para pengawal Atmaja group. Langsung duduk setelah mendengar ancaman dari Zivanna.

__ADS_1


"Hem!" sebelum berbicara. Zivanna berdehem lebih dulu. Mengikuti cara Devan saat berbicara. "Apakah kamu mau membantuku?" tanya Zizi tidak mengalihkan pandangan matanya dari langit malam.


"Tentu, katakan saja apa yang harus Saya lakukan?" Sekertaris Jimi kembali bertanya.


"Ck, katakan saja kamu mau membantuku karena tuan muda mu, 'kan?" jawab Zizi mengejek. "Bisakah kamu menemui Tuan Bram, besok pagi-pagi sekali. Sebelum aku dan Devan pergi ke kantor pengadilan?" meskipun awalnya mengejek. Akan tetapi setelah itu Zizi pun mengatakan maksudnya memangil Sekertaris Jimi.


"Tentu saja bisa, Nona. Katakan saja apa yang harus Saya lakukan?" Sekertaris Jimi semakin tidak sabar, saat mendengar nama Tuan Bram di sebutkan.


Meskipun dugaannya mengarah pada perceraian tuan mudanya, tapi Jimi belum berani menebak asal, karena takut bila tebakannya meleset.


"Tolong katakan pada Tuan Bram. Kalau aku ingin membatalkan perceraian kami." jawab Zivanna dengan yakin.


"Benarkah? Jika benar, Saya akan menemuinya malam ini juga," di ibaratkan lampu redup. Bagitu mendengar nona mudanya ingin membatalkan perceraian. Sekertaris Jimi langsung bersemangat.


"Aaiish! santai saja tidak usah buru-buru. Aku belum selesai berbicara." kata Zizi masih tetap terlihat santai. "Tapi... tolong rahasiakan dari siapapun. Cukup kita berdua saja yang tahu." lanjut Zivanna lagi.


"Maksudnya Anda tidak ingin memberitahu tuan muda?"


"Tidak, besok saja. Biar dia mengetahuinya setelah di kantor Tuan Bram." jawab Zizi. Dia mengetahui kalau Sekertaris Jimi bisa membantunya karena perkataan Devan pada Dokter Kaivan tadi sore, saat dia tidak sengaja menguping.


"Baiklah, Saya akan melakukan semuanya dengan sempurna. Saya akan pergi sekarang, karena Tuan Bram baru saja kembali dari makan malam bersama keluarganya." ucap Sekertaris Jimi berdiri dari bangku panjang yang mereka duduki.


"Aku belum menjelaskan padamu. Kenapa terburu-buru sekali?" tanya Zizi ikut berdiri.


Mendengar ucapan Zivanna. Sekertaris Jimi menyugikan senyum. "Anda tidak perlu menjelaskan apa-apa, Nona. Saya sudah tahu kemana arah pembicaraannya." didalam hatinya Sekertaris tersenyum menyeringai.


Apakah nona mudanya itu tidak tahu. Saat mendengar nama Tuan Bram. Dia langsung memerintahkan pengawal Atmaja group mencari tahu dimana keberadaan Bram saat ini.


"Anda jalankan saja sesuai rencana. Selebihnya Saya yang akan mengurusnya." ucap Sekertaris Jimi langsung meninggalkan Zivanna.


"Huh, dasar! Akukan belum mengatakan apapun," seru Zizi kembali lagi duduk pada kursi taman untuk menikmati angin malam.


Flashback off...


"Aku cuma mengatakan itu pada Sekertaris mu." kata Zizi setelah menceritakan semuanya.


"Jadi kamu menyuruh Jimi? Pantas saja Tuan Bram berani mempermainkan ku." Devan tersenyum setelah mendengar Zizi bercerita.

__ADS_1


Bisa-bisanya Zizi berkata seperti itu pada Sekertaris Jimi. Jelas saja, tanpa dijelaskan lagi. Sekertaris Jimi sudah tahu apa yang harus dia lakukan.


*BERSAMBUNG*...


__ADS_2