
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Marisa!" gumam Ayah Dion dengan jantung kembali berdebar-debar. Namun, bukan debaran karena merasa jatuh cinta. Tapi rasa sakit setelah di khianati oleh wanita yang dia cintai.
"Ma--maf, mungkin kedatangan ku sudah mengangu waktu kalian berdua." ucap Marisa dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Kamu tidak mengangu sama sekali. Bicaralah aku akan keluar sekarang." sahut Ibu Ellena sudah berdiri hendak pergi meninggalkan sepasang suami-istri yang baru saja berpisah beberapa bulan lalu.
"Tidak! Kamu tidak boleh keluar El, aku mohon temani aku. Aku hanya ingin bicara sedikit saja pada... Dion." saat menyebutkan nama laki-laki yang pernah menjadi bagian hidupnya Marisa sempat terhenti. Dulu saat hubungan keduanya masih membaik, dia tidak pernah menyebut hanya nama saja. Selalu ada kata Ayah di awal nama tersebut.
"Dion maafkan aku, aku tahu permintaan maaf ku sudah tidak berguna dan tidak akan mengembalikan hatimu yang sudah aku lukai. Tapi percayalah! Aku benar-benar merasa menyesal sudah menghancurkan pernikahan kita, yang sudah hampir empat belas tahun kita lewati bersama" terdengar isakan kecil dari wanita tersebut.
Pertanda kalau dia benar-benar menyesal. Namun, semuanya sudah terlambat, karena mantan suaminya sudah pernah memberikan kesempatan agar dia mau berubah. Tapi kesempatan itu sudah dia khianati lagi.
"Katakan! Ada perlu apa kau datang ke perusahaan ku?" sedikit saja lelaki yang masih sangat tampan itu tidak melihat kearah Marisa yang duduk di Sofa di hadapannya.
"Dion, Marisa! Aku akan keluar sekarang. Selesaikan masalah kalian baik-baik! Di antara kalian berdua memang sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Tapi satu hal yang harus kalian ketahui, tidak pernah ada kata mantan untuk anak kalian." Ibu Ellena kembali lagi berdiri hendak pergi untuk yang kedua kalinya. Tapi kembali lagi di cegah yang sekarang oleh Ayah Dion.
"El, bila kamu meninggalkan kami berdua saja. Maka aku juga akan pergi dari sini." ancam lelaki itu yang sudah tidak mau bicara berdua saja dengan mantan istrinya.
"Ellena... aku mohon! Demi persahabatan kita. Tolong temani aku, agar Dion mau mendengarkan aku berbicara." ucap Marisa dengan memohon di sertai air matanya.
"Huh... Baiklah! Aku akan menemanimu demi persahabatan kita, bukan karena apa-apa." akhirnya Ibu Ellena kembali lagi duduk di sofa yang sama dengan sahabatnya.
"Ayo cepat katakan! Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara dengan mu." tekan Ayah Dion dengan rasa terpaksa nya.
Bohong bila dia tidak memiliki lagi perasaan terhadap wanita yang baru resmi dia ceraikan sekitar lima bulan lalu. Hampir empat belas tahun hidup bersama, melewati suka maupun duka harus kandas karena orang ketiga.
__ADS_1
"Baiklah aku akan menyampaikan maksudku datang kemari. Aku hanya ingin meninta sesuatu padamu."
"Sesuatu apa? Apa semua harta Gono-gini yang aku berikan belum cukup. Ck, hebat sekali... apa kau tahu aku tidak mengambil sepeserpun bagian ku? Semuanya sudah aku berikan kepadamu." mungkin karena terlalu sakit yang dia rasakan, sehingga pria itu tidak mendengar lagi ucapan mantan nya.
"Bukan, bukan seperti itu! Aku datang kemari bukan untuk uang. Tapi aku ingin kamu berjanji tidak akan memberitahu Devan apa yang sebenarnya terjadi."
"Atas dasar apa aku harus memenuhi permintaan mu? Biarkan dia tahu seperti apa ibu kandungnya." tegas lelaki itu berdiri meninggalkan sofa. Namun dalam hitungan detik Marisa berlari lalu bersujud di kaki Ayah Dion.
"Dion aku mohon padamu! Tolong jangan beritahu Devan, apa sebenarnya yang sudah terjadi. Aku tidak ingin di akhir umurku tidak bisa lagi bersamanya. Aku mohon!" ucap Marisa semakin memeluk erat kaki mantan suaminya. Dapat pria itu rasakan kalau celananya sudah basah oleh air mata.
Sedangkan Ibu Ellena yang menyaksikan tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia tahu yang bersalah adalah sahabatnya. Malah dia merasa malu sendiri, sudah hadir diantara perdebatan antara mantan tersebut.
"Apa maksudnya di akhir hidupmu?" sekeras apapun hatinya untuk membenci, setelah mendengar perkataan Marisa membuat lelaki itu berhenti tidak memaksa untuk melepaskan pelukan pada kakinya.
"Maksudnya hidupku mungkin sudah tidak lama lagi. Aku hanya ingin di akhir sisa waktu ku, masih bisa bersama Devan. Aku tidak mau dia membenci ku apabila mengetahui apa yang sudah aku perbuat." jelas wanita itu melepas pelukan tangannya.
"Apa yang terjadi?" suara Ayah Dion langsung melemah mendengar ucapan Marisa.
"Aku, aku sudah menerima bayaran atas perbuatan ku." tidak langsung mengatakan, sebab jika bukan karena sang anak, Marisa malu untuk menceritakan aib nya.
"Hick... hick... El tolong bantu aku." Marisa pun menangis di pelukan Ellena sahabatnya.
"Iya, iya! Aku akan membantu sebisa ku. Tapi tolong ceritakan apa yang membuat seorang Marisa bisa seperti ini?"
"Aku... mengidap penyakit kanker serviks. Gara-gara sering bergonta-ganti pasangan." meskipun berat untuk mengakui itu Marisa tetap harus mengatakannya.
Sedangkan Ayah Dion hanya terdiam antara ikut prihatin dan juga sakit hati karena Marisa mengakui sendiri kalau dirinya sering bergonta-ganti pasangan, yang sudah dia ketahui sebelum menceraikan wanita itu.
"Apa? Kamu mengidap penyakit seperti Almarhum suamiku?" tanya Ibu Ellena ikut kaget mendengarnya.
"Iya El, aku baru mengetahuinya dua hari yang lalu. Makanya aku menemui Dion, karena aku tidak mau Devan mengetahui seperti apa ibunya. Dia pasti akan minder untuk berteman dengan anak lain. Bila tahu aku lah yang sudah mengkhianati ayah nya."
__ADS_1
"Lebih baik kita pindah ke atas sofa. Lantai nya sangat dingin, tidak bagus juga bila ada yang melihatnya." ucap Ibu Ellena ingin membantu Marisa untuk berdiri. Tapi langsung di tolak oleh wanita tersebut.
"Tidak El, aku tidak mau dan tidak perduli orang lain melihat ku seperti ini. Asalkan Dion mau berjanji untuk merahasiakan masalah yang sebenarnya dari Devan."
"Dion---"
Ucap Marisa terputus karena Pria itu sudah mengangkat satu tangannya ke atas.
"Cukup Marisa! Kau tidak usah memohon sampai seperti ini. Baiklah aku akan memenuhi permintaan mu. Tapi ketahuilah, aku melakukannya bukan untuk mu. Akan tetapi untuk putraku sendiri." seru Ayah Dion sambil berjalan mendekati jendela.
"Benarkah? Dion... terimakasih sudah menolong ku, sekarang aku bisa tenang."
"Hem benar! Buat apa aku harus berbohong. Tapi dengan satu sarat, setelah hari ini tolong jangan pernah muncul di hadapan ku lagi." laki-laki itu berkata dengan tegas dan tetap tidak menoleh kebelakang. Dia hanya tidak mau kalau melihat Marisa menangis hatinya akan bertambah sakit.
"Iya, tidak apa-apa! Mulai hari ini aku tidak akan menampakkan wajah ku di hadapan mu lagi." ucap wanita tersebut menghapus air matanya dan langsung kembali berdiri.
"Marisa, aku turut prihatin pada penyakit yang menimpa mu." seru Ibu Ellena yang juga kembali berdiri.
"Terimakasih El, bila aku sudah tidak ada lagi, aku titip Devan dan... Dion ke pada mu."
"Apa maksud mu menitipkan? Kamu harus sembuh. Penyakit mu pasti masih bisa di obati, percayalah." kata Ibu Ellena menyentuh bahu sahabatnya.
"Iya, semoga saja. Kalau begitu aku pergi dulu.' Dion... terimakasih untuk semuanya." Marisa langsung pergi dari ruangan tersebut setelah menyampaikan rasa terima kasih nya, dan tidak menghiraukan suara Ellena yang memintanya untuk berhenti.
Di dalam ruangan yang mencekam itu hanyalah tinggal Ayah Dion dan Ibu Ellena. Lalu wanita tersebut berjalan mendekati bos nya yang hanya diam seribu bahasa.
"Dion apa kamu baik-baik saja?"
"El, aku... tidak baik-baik saja." Pria itu berbalik dan langsung memeluk sahabat serta sekertaris nya.
"Sudahlah jangan mendendam pada nya. Kasihan Marisa, kami sudah bersahabat sejak lama. Aku yakin ada seseorang yang ingin melihat mu hancur. Makanya orang tersebut merebut Marisa dari mu." ucap Ibu Ellena mengusap punggung sang bos yang masih menangis.
__ADS_1
Flashback off...
"Begitulah ceritanya, aku sudah berjanji tidak akan mengatakan padamu atas permintaan terakhir Marisa. Hari itu pun adalah hari terakhir kami bertemu." ucap Ayah Dion dengan lega setelah mengatakan pada putranya.