Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Ayah Dion dan Reyvano.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Skiip bagi anak di bawah umur.


Matahari sudah terbit dari satu jam yang lalu. Namun, pasangan Devan dan Zivanna belum ada yang membuka mata mereka. Lelah, ya lelah karena mereka berdua baru saja tidur jam lima pagi.


Setelah pergumulan panas mereka sampai jam setengah satu malam. Keduanya langsung tidur karena kelelahan. Akan tetapi jam tiga dini hari. Devan kembali lagi menabur bibit lele yang tiada habisnya.


Matanya terbangun karena adanya pergesekan tubuh mereka yang polos saling berpelukan. Hal itulah yang membuatnya meminta lagi.


Alhasil mau tidak mau Zizi melayani suaminya sampai jam lima. Devan yang merupakan mantan Casanova insyaf, tentunya selalu ingin melakukan penyatuan. Apalagi wanita yang dia gauli adalah istrinya sendiri, wanita yang ia cintai.


*


*


Sementara itu di kota X. Reyvano yang sebentar lagi akan memiliki adik baru saja istirahat. Dia, kakeknya dan si Paman Ace baru pulang dari taman yang pernah dia dan ayahnya datangi.


Saat ini mereka bertiga lagi duduk bersantai di kursi taman yang ada di kediaman Ayah Dion sendiri.


Sebelum sarapan dan mandi. Mereka bertiga pergi jalan-jalan pagi mengunakan sepeda. Semua itu tentu saja atas permintaan si calon pewaris Atmaja.


Tadi malam saat menghadiri pesta perusahaan rekan kerjanya. Ayah Dion sudah memperkenalkan bahwa Reyvano adalah calon pewaris Atmaja nya. Bukan sebagai pewaris harta Devan, akan tetapi harta dia sendiri.


"Kakek nda bica telepon ayah?" tanya Rey pada kakeknya yang lagi memegang ponselnya. Padahal beliau bukan menelepon Devan. Tapi lagi mengirim pesan pada Sekertaris Jimi.


Agar Sekertaris pribadi putranya menghandle perusahaan Atmaja sampai anak dan menantunya kembali dari liburan membuat cucu baru. Sesuai rencana dia dan Ibu Ellena.


Agh... ternyata Ayah Dion benar-benar hebat. Anggap saja menyelam sambil minum air. Selain mempersatukan hubungan Devan dan Zizi seperti semula. Dia mendapatkan keuntungan. Yaitu mendapatkan cucu baru.


"Kakek tidak menelepon ayah mu, sayang." jawab Ayah Dion menyimpan kembali ponselnya. "Apa Rey mau menelepon ayah dan ibu?" bergantian beliau yang bertanya.


"Mau!" jawab Rey merapatkan tubuhnya dan sang kakek.


"Sebentar ya, kita coba dulu. Bila tidak di angkat setelah menelepon tiga kali. Berarti ayahmu masih tidur." mengelus kepala cucunya dan kembali lagi mengeluarkan ponsel untuk menelepon putranya yang dia yakini masih tidur.


Dari mana beliau tahu? Jawabannya dari Asel, pengawal tampan tersebut sudah diberitahu oleh Felix jika tuan dan nona muda mereka belum ada yang keluar dari penginapan. Padahal sarapan sudah disiapkan sedari pagi.


Meskipun berada di pulau yang berbeda. Tapi Felix masih memantau para bawahannya yang menjaga si tuan muda kecil.


Tttdddd!


Tttdddd!


"Nda di atat?" ucap Rey melihat wajah serius kakeknya. "Macih tidul, 'kan?" dia yang bertanya lalu Rey sendiri juga menjawabnya.


"Suuuiiit! Sebentar kakek coba lagi, ya. Tapi katakan pada ayah, jika Rey mau tinggal bersama kakek dan nenek saja. Biar kita bisa naik sepeda setiap pagi." Ayah Dion menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri. Lalu mulai membujuk si tampan agar mau tinggal bersama dia saja.


"Iya, aman, aman! Ley tama Kakek tama Paman Ace, aja." jawab Reyvano yang tidak tahu kalau dirinya sudah masuk perangkap kakek tampannya. Pria paruh baya yang ada udang di balik tepung.


Mendengar jawaban cucunya Ayah Dion tertawa. Begitu pula dengan Asel. Pemuda itu tertawa karena tahu jika ayah dari tuan mudanya sedang memanfaatkan cucunya sendiri.


"Asel, sepertinya kamu tidak akan kembali ke kota Y lagi. Saya akan mencarikan gadis dari putri rekan kerja Saya untuk menjadi istrimu. Asalkan tetap berada di sisi Reyvano." ucap beliau yang telah memikirkan jauh ke depan.


Selain memberikan beberapa persen saham, rumah dan mobil. Ayah Dion berencana akan mencarikan Asel gadis baik-baik untuk di jadikan Istri. Beliau begitu menyukai cara Asel menjaga cucunya. Maka dari itulah ia mempersiapkan untuk masa depan pengawal tersebut.


"Terima kasih, Tuan besar." jawab Asel setelah berhenti tertawa.


"Kakek tepat telepon lagi," suara Rey yang tidak sabar mengalihkan pembicaraan kedua pria dewasa di samping kiri dan kanannya.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah! Mari kita coba lagi." karena sudah mendapatkan kesepakatan antara dia dan sang cucu. Ayah Dion kembali lagi menelepon putranya penuh semangat.


Tttdddd!


"Kenapa belum diangkat juga? Memangnya mereka berdua tidur jam berapa?" bertanya entah pada siapa karena Asel saja tidak tahu apalagi di kecil Reyvano yang tahunya hanya bermain mobil-mobilan dan menaiki sepeda.


Tttdddd!


📱 Devan : "Heum... iya, Yah?" setelah lebih dari lima kali Devan baru mengangkat pangilan tersebut.


📲 Ayah Dion : "Wah, wah! Sepertinya Ayah akan mendapatkan cucu kembar jika jam segini saja kalian berdua belum bangun." ejek Ayah Dion sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.


📱 Devan : "Ck, Ayah seperti tidak pernah muda saja." jawab Devan bangun dari tempat tidur dengan pelan karena takut membagungkan istrinya yang masih bergelung dibawah selimut.


Lalu dia berjalan mengambil handuk untuk dililitkan pada tubuh polosnya. Setelah itu ia pun pergi ke balkon agar leluasa saat berbicara.


📲 Ayah Dion : "Justru karena Ayah pernah muda makanya berbicara seperti itu. O'ya mana putri Ayah? Apakah masih tidur." tanyanya sebelum menyerahkan ponsel tersebut pada cucunya.


📱 Devan : "Iya, Zizi masih tidur. Ayah ada apa menelepon sepagi ini? Apakah Rey ada? Devan ingin berbicara dengannya." ucap Devan secara beruntun.


📲 Ayah Dion : "Biarkan dia istrirahat. Ini bukan pagi, tapi sudah hampir jam delapan." cibir beliau. Mungkin bila dekat, maka dia akan terus-terusan mengejek putranya.


📲 Ayah Dion : "Ayah menelepon karena Rey yang ingin berbicara dengan mu. Sepertinya sangat serius." tersenyum dan mengedipkan matanya pada sang cucu yang juga tersenyum.


📲 Ayah Dion : "Tanyakan saja pada calon pewaris Ayah yang baru. O'ya, Ayah hampir lupa! Kamu sudah Ayah keluarkan dari penerimaan warisan harta Atmaja, dan sudah digantikan oleh Reyvano." ucap Ayah Dion merasa puas setelah berbicara seperti itu. Lalu dia memberikan ponselnya pada Reyvano yang sudah menunggu sedari tadi.


"Ini bicaralah dengan ayahmu," Rey pun langsung menerima ponsel milik kakeknya.


📲 Reyvano : "Ayah..." sapa Rey lebih dulu.


📱 Devan : "Iya, bagaimana kabarmu jagoan Ayah? Apakah naik sepedanya sudah lancar?" tanya Devan dengan suara berbinar-binar. Mendengar suara putranya bagaikan sebuah energi, yang baru di isi full.


📲 Reyvano : "Baik, Ley dah pintal naik cepeda nya." jawab Rey berhenti sesaat, setelah itu dia kembali lagi berbicara. "Ayah, Ley mau tama Kakek, ya? Tama Paman Ace duga." ucapnya tersenyum kearah sang kakek yang memberikan jempolnya ke atas.


Reyvano yang polos mengira jika dia yang begitu pintar. Namun, ternyata si kakeknya lah yang jauh lebih pintar darinya.


📱 Devan : "Boleh saja, bila ibumu mengizinkan. Ayah tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Nanti ibumu malah marah," terang Devan. Meskipun dia tahu semua itu adalah ulah ayahnya. Tapi tetap saja dia harus berbicara dengan Zizi.


Wanita itulah yang lebih berhak mengambil keputusan, karena Zivanna yang membesarkan putranya.


📲 Reyvano : "Iya!" jawab Reyvano singkat. Lalu dia langsung memberikan ponsel tersebut pada kakeknya lagi, karena merasa jika dia sudah selesai menjalankan tugas dari sang kakek.


📲 Ayah Dion : "Dev, sudah dulu, ya. Ayah mau mandi dan sarapan. Jam sembilan nanti Ayah akan berangkat ke perusahaan." ucap Ayah Dion.


📱 Devan : "Iya, baiklah! Ayah jangan terlalu sibuk mengurus perusahaan. Banyak-banyaklah istrirahat di rumah. Temani cucu Ayah saja. Nanti Devan akan bertanya pada Sekertaris Jimi. Apakah sudah menemukan orang untuk membantu Ayah di perusahaan." papar Devan, karena sekitar dua Minggu lalu, dia sudah menyuruh Sekertaris Jimi mencarikan orang yang tepat untuk membantu ayahnya di perusahaan.


Bukannya Devan tidak mengetahui kalau sang ayah masih kecewa padanya yang malah membangun perusahaan sendiri. Daripada mengurus perusahaan ayahnya. Untuk itulah Devan memberi nama perusahaannya, Atmaja group juga. Sama seperti nama perusahaan ayahnya. Agar Ayah Dion tidak begitu kecewa pada dirinya.


📲 Ayah Dion : "Jadi dirimu sudah mencari pengganti ayahmu ini? Ckckck! Benar-benar anak yang sangat berbakti! Setelah Ayah di tinggalkan sendiri. Sekarang ingin mencari penganti, tidak ada meminta pendapat Ayah lagi." bila orang yang tidak mengerti, akan mengira Ayah Dion marah pada keputusan putranya.


Akan tetapi dia begitu bahagia karena putra itu masih memikirkan perusahaan keluarga mereka yang sudah menjadi turun-temurun dari Tuan Atmaja. Kakek Devan yang telah meninggal dunia.


📱 Devan : "Sudahlah tidak perlu marah-marah. Bukannya Ayah mau mandi dan sarapan. Jadi matikan saja sambungannya. Titip salam buat ibu, katakan padanya kami tidak akan pulang sebelum berhasil membuat adik untuk Reyvano." ucap Devan tertawa dan langsung mematikan sambungan telepon mereka.


"Ayah, ayah!" tersenyum sendiri. "Meskipun aku membagun perusahaan sendiri. Bukan berarti akan meninggalkan perusahaan Atmaja." ucap Devan sambil kembali masuk ke dalam kamar untuk melihat istri cantiknya yang belum juga bangun.


Ceklek!


Membuka pintu cukup pelan. Setelah menutup kembali Devan naik keatas tempat tidur.


Cup!


"Lagi tidur seperti ini saja begitu cantik." tersenyum dengan tangan menyibakkan anak rambut sang istri yang menutup sebagian wajah cantiknya.

__ADS_1


Cup, Cup!


"Sayang ayo bangun. Ini sudah jam delapan," bisiknya di telinga sang istri. "Sayang! Cup!" Kembali lagi memberikan ciuman.


"Sayang ayo bangun! Bukanya kita mau jalan-jalan pagi ini?" tadi malam setelah selesai makan malam. Mereka berdua sudah berencana akan pergi jalan-jalan ke salah satu tempat wisata yang ada di daerah sana.


"Sayang... Zi, Zizi!" mengelus pelan wajah istrinya.


"Heum... apa?" membuka matanya sebentar lalu tidur lagi. Bukan hanya lelah karena di gempur oleh Devan saja, akan tetapi dia juga masih mengantuk gara-gara kurang tidur.


"Ayo bangun, kita mandi sarapan lalu pergi jalan-jalan." ucap Devan mengingatkan karena dia tahu pasti istrinya lupa pada jangi mereka.


"Baiklah, bila kamu mengantuk kita tidak usah pergi. Tidur saja, Kakak juga akan tidur lagi." kata Devan merebahkan tubuhnya juga.


"Eh, tidak, tidak! Kita akan jalan-jalan. Ayo mandi sekarang." seru Zizi membuka matanya. Tempat yang akan mereka kunjungi sangat indah karena itulah Zivanna begitu bersemangat untuk pergi ke sana.


"Baiklah, ayo kita mandi sekarang." ajak Devan kembali lagi duduk.


"Tapi tolong ambilkan handuk, aku tidak memakai apa-apa." pinta Zizi ikut duduk tapi menutupi tubuhnya mengunakan selimut.


"Tidak perlu menggunakan handuk sekarang, nanti saja setelah selesai mandi." Devan menarik selimut yang membungkus tubuh istrinya. "Ayo Kakak gendong. Tidak usah malu, Kakak sudah melihat dan menikmati tubuhmu." tidak menunggu jawaban sang istri. Devan langsung saja mengendong wanita itu masuk ke dalam kamar mandi.


Niat hati hanya ingin mandi saja. Tapi saat gunung kembar Zizi menempel pada dadanya. Jiwa kelelakian Devan bangkit lagi. Tiba di dalam kamar mandi dia menurunkan Zizi di bawah guyuran air shower.


"Sebentar Kakak siapakan air hangat." ucapannya mencoba untuk menahan hasratnya karena mereka berdua belum sarapan.


Setalah menghidupkan air hangat mengisi bathub. Devan memutar tubuhnya menghadap kearah sang istri.


"Zi..."


Dia langsung menarik pinggang kecil Zivanna agar tubuh mereka menempel.


Cup!


"Maaf, Kakak ingin," lirih Devan sambil mencumbu istrinya. "Kakak tidak bisa menahannya. Sebentar saja." setelah memberikan jejak pada leher jengang Zizi. Devan menjauhkan wajahnya untuk menatap muka sang istri yang belum memberikan jawaban boleh atau tidaknya.


Cup!


"Tak apa-apa bila kamu mau langsung mandi. Ini airnya sudah siap." seru Devan berubah tidak jadi meminta lagi. Lalu dia memutar tubuhnya untuk mematikan air yang mengisi bathub.


Namun, tanpa dia sangka-sangka. Zivanna si gadis polos, menarik tangannya, dan begitu tubuh mereka berhadap-hadapan. Zizi mengalungkan tangannya pada leher Devan.


Meskipun Zizi tidak mengatakan mau. Tapi Devan tahu jawaban istrinya.


"Terima kasih!" kata Devan sebelum dia memulai aksinya.


Cup, Cup!


Setelah mengecup kedua pipi istrinya. Dia pun mulai lagi melahap bibir istrinya meskipun wanita tersebut belum mencuci muka dan gosok gigi.


Sambil berciuman tanganya meraba-raba dinding kamar mandi untuk menghidupkan air shower. Suasana yang tadinya dingin. Tiba-tiba menjadi panas setelah mereka saling mencumbui.


Dengan sekali tarik, handuk yang dia lilitkan pada pinggangnya sudah terlepas. Lalu karena Zizi masih dalam keadaan polos. Devan tidak perlu repot-repot. Dia mengangkat tubuh Zivanna keatas meja kecil yang terbuat dari semen. Tempat tersebut biasanya digunakan untuk menaruh peralatan mandi.


Tapi kali ini Devan gunakan untuk tempat istrinya. "Sekarang!" ucap Devan dengan suara berat. Lalu setelah membuka lebar jalan yang akan di lewati si tabung lelenya. Dia kembali lagi menyabar bibir istrinya yang sudah menjadi candu.


Saat bibir tersebut masih menyatu. Devan mendorong tabung lelenya masuk.


"Aaaakh! Kak!" seru Zizi antara kaget dan nikmat.


"Heum! Kakak sangat menikmatinya, sayang. Maaf sudah membuatmu lelah," mulut berkata seperti itu. Tapi pinggulnya terus berpacu maju dan mundur. Guna mencapai pelepasan lagi.


Aaugh! Aaaghkk!

__ADS_1


"Kak---"


Suara Zizi langsung terputus karena Devan sudah melahap bibirnya lagi.


__ADS_2