Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Hobi yang sama.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Setelah menaiki pesawat selama tiga jam lebih dengan satu kali transit. Lalu menaiki mobil kurang lebih tiga puluh menit. Devan, Zizi dan beserta rombongan pengawal Atmaja group sudah tiba di pulau tempat mereka liburan sampai batas waktu yang belum bisa di tentukan, karena itulah Sekertaris Jimi memilih tinggal untuk mengurus perusahaan Atmaja sampai tuan mudanya kembali.


"Sayang ayo kita istirahat dulu," ajak Devan mengengam lembut tangan sang istri masuk kedalam penginapan yang berada di pinggir laut.


"Tapi Felix dan yang lainnya bagaimana? Apakah mereka akan terus berjaga?" tanya Zizi menoleh kearah para pengawal yang berada di belakang mereka.


"Mereka akan tidur di penginapan sebelah ini juga. Tapi akan beristirahat secara bergantian." jelas Devan kembali lagi berjalan menuju tempat mereka menginap selama berada di pulau tersebut.


Ceklek!


Suara pintu yang dibuka oleh Devan. Sebelum mereka sampai disana. Tadi malam beberapa pengawal Atmaja sudah lebih dulu mengadakan gladi resik untuk tempat tuan mudanya menginap. Jadi tempat itu sudah dijamin keamanannya.


"Masuklah!" kata Devan menutup pintunya kembali. Lalu diapun menyusul Zivanna yang sudah berjalan masuk.


"Wah... indah sekali!" seru Zizi begitu tiba di dalam ruangannya.



"Apa kamu suka?" Devan mendekap tubuh Zizi dari belakang. "Jika kamu tidak suka di sini, maka kita akan mencari tempat lainnya."


"Tidak, tidak! Aku menyukai tempatnya!" jawab Zizi cepat. "Ini benar-benar tempat yang indah," tersenyum sambil melihat laut lepas.


"Tapi keindahan ini tidak ada artinya bila tanpa dirimu," jawab Devan membalikan tubuh sang istri agar melihat kearahnya. Saat ini tubuh keduanya saling berhadap-hadapan.


"Zi, terima kasih, terima kasih sudah mau memberikan kesempatan kedua dan berbesar hati untuk memafkan kesalahan yang pernah Kakak buat." ungkap Devan menatap sang istri penuh cinta.


"Aku sudah memaafkan mu! Bukannya kita kesini untuk berlibur, jadi jangan membahas masalah itu lagi." tutur Zizi apa adanya, karena dia tidak mau mengigat apa yang sudah terjadi diantara mereka.


"Iya, benar sekali. Maaf, Kakak hanya tidak bisa melupakan kesalahan Kakak begitu saja." Devan kembali lagi memeluk istrinya.


Cup!


"Ayo istirahat!" melepas pelukan karena tidak ingin istrinya sampai sakit karena kelelahan. Selanjutnya Devan menuntun Zizi ke tempat tidur yang berada di sebelah mereka.


"Jika mau membersihkan diri lebih dulu, itu kamar mandinya." Devan menujuk pintu kamar mandi, sambil melepas jas dan juga dasinya. Lalu dia taruh di pinggir sofa.


"Apa kamu tidak mau mandi? tanya Zizi melihat Devan sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


"Belum, jika kamu mau mandi, duluan saja. Setelahnya baru Kakak." Devan kembali lagi duduk untuk melepas kaos kakinya, karena tadi dia lupa.


"Baiklah, kalau begitu aku mau mandi sekarang saja." Zivanna yang merasa tubuhnya lengket memilih untuk membersihkan dirinya lebih dulu. Dia masuk kedalam kamar mandi sambil membawa pakaian ganti, karena koper mereka memang telah diantara oleh pengawal sebelum dia dan Devan sampai ke tempat tersebut.


Selama Zivanna berada di dalam kamar mandi. Devan menelepon ayahnya, karena ingin menanyakan keadaan putra mereka.


📲 Devan : "Iya, sangat bagus. Zizi juga menyukai tempatnya. Terima kasih, Ayah sudah menyiapkan tempat liburan untuk kami." ucap Devan menjawab pertanyaan ayahnya dari seberang sana.


📱 Ayah Dion : "Tidak perlu berterima kasih, kalian memang harus berlibur agar Rey bisa cepat memiliki adik." akhirnya lelaki paruh baya itu mengatakan juga maksudnya menyuruh Devan dan Zizi pergi liburan.


📱 Ayah Dion : "Jika Rey memiliki adik, maka dia akan tinggal bersama ayah. Kamu dan Zizi urus saja adiknya." papar beliau lagi dengan tersenyum bahagia.


Tidak masalah dia dan Ibu Ellena kehilangan putra-putri mereka. Tapi akan digantikan oleh Reyvano sabagai pewaris Atmaja yang sesungguhnya.


📲 Devan : "Ck, Devan sudah curiga dari tadi malam jika Ayah memiliki niat tertentu. Makanya dalam waktu beberapa jam sudah menyiapkan tempat untuk kami berlibur. Kalau begini sama saja Devan dan Zizi pergi berbulan madu." jawab Devan ikut tersenyum.


📱 Ayah Dion : "Ha... ha... tidak apa-apa bulan madu juga. Bukannya dulu kalian memang belum melakukannya, karena dirimu beralasan memiliki pekerjaan." tertawa karena sepertinya rencana dia bersama sang istri akan segera berhasil.


📲 Devan : "Ya, ya! Kali ini ayah akan berhasil. Tolong do'akan saja, agar kami bisa secepatnya memberikan Reyvano adik, dan jika memang dia mau tinggal bersama ayah. Maka tidak masalah." jawab Devan tersenyum seraya mengelengkan kepalanya, karena dugaannya benar, jika ayah dan ibu mertuanya, telah membuat rencana seperti yang dia pikirkan.


📲 Devan : "Apakah Rey sudah tidur dari tadi?" kembali lagi menanyakan putranya yang sedang tidur siang.


📱 Ayah Dion : "Belum, dia baru saja tidur. Sepertinya kelelahan sudah mengelilingi taman bersama Asel." Ayah Dion berbicara sambil menatap wajah cucunya yang sangat menggemaskan meskipun lagi tidur.


Ceklek!


Namun, saat dia berjalan kearah meja rias. Devan menyuruh dia mendekati ranjang mengunakan isarat tangannya.


📲 Devan : "Oh, yasudah! Kalau begitu bila si tampan sudah bangun, Devan akan menelepon Ayah lagi. Ayah dan ibu juga jangan lupa untuk istrirahat." ucap Devan mematikan sambungan telepon dia dan sang ayah.


"Apakah itu ayah?" tanya Zizi sudah mendekat.


Cup, cup, muaah!


"Iya, Kakak lagi menelepon ayah. Tadinya ingin berbicara dengan anak kita. Tapi dia lagi tidur siang." menjawab setelah memberikan beberapa kecupan pada pipi dan juga bibir istrinya.


"Diamlah! Aku lagi mengeringkan rambut ku." kesal Zizi karena Devan terus saja mengecup dia yang ikut duduk di sisi ranjang.


"Sini biar Kakak yang lakukan." Devan langsung berpindah tempat duduk ke belakang tubuh istrinya dan mengambil alih handuk kecil tersebut untuk mengeringkan rambut sang istri.


"Terima kasih!" kata Zizi membiarkan Devan mengeringkan rambutnya. Sebab ini bukanlah pertama kali Devan membantunya.


Dulu, saat mereka masih berpacaran bila terlalu lama menunggu Zizi mengering rambut panjangnya. Maka Devan akan membantu sang kekasih. Namanya juga tinggal serumah, tentu saja cara berpacaran Devan dan Zizi akan berbeda dari pasangan lainnya.

__ADS_1


Satu-satunya yang tidak mereka lakukan adalah berhubungan intim, karena Devan lebih memilih membayar wanita lain. Daripada merusak adik tirinya.


"Zi!" pangil Devan yang sudah hampir selesai mengeringkan rambut Zivanna.


"Huem! Apa?"


"Bila kamu tidak lelah, bagaimana kalau kita langsung pergi jalan-jalan? Tapi tunggu Kakak mandi dulu." tanya Devan ingin segera menikmati liburan mereka.


"Tidak, aku tidak lelah. Kalau begitu cepat mandi. Kita pergi jalan-jalannya sekarang saja," seru Zizi yang sama tidak sabar untuk mengelilingi tempat mereka saat ini.


"Kita bisa sekalian mencari makanan khas daerah sini, jadi ayo cepat mandi. Biar aku siapkan pakaian ganti mu." titahnya semakin tidak sabar.


"Oke, Kakak mandi sebentar. Sisir lah rambutmu, karena ini sudah kering." ucap Devan langsung turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.


Selama Devan mandi. Setelah menyisir rambut dan berdandan ala kadarnya. Zivanna pun menyiapkan pakaian ganti suaminya.


Devan tidak perlu bersusah payah untuk mengajak Zivanna pergi jalan-jalan, karena pada dasarnya mereka berdua memang memiliki kehobian yang sama. Yaitu hobi jalan-jalan ke taman ataupun pantai.


Kebetulan sekali tempat mereka berlibur sekarang adalah sebuah pulau kecil yang berada di tengah-tengah laut lepas.


Sebagai orang tua, ternyata Ayah Dion sangat tahu tempat yang disukai oleh Devan dan Zivanna.


Beberapa saat kemudian. Devan sudah keluar dari kamar mandi. Dia berjalan keluar dan langsung memakai pakaiannya di hadapan sang istri yang sengaja membuang pandangan matanya.


"Tidak usah malu, nanti juga kamu akan melihat semuanya lagi." bisik Devan pada telinga istrinya. Ia yang sudah memakai pakaian sengaja berjalan pelan lalu mengatakan hal tersebut pada Zivanna.


"Apa maksudmu!" tanya Zizi dengan muka memerahnya.


"Tidak bermaksud apa-apa. Hanya ingin memberitahumu agar bersiap-siap buat nanti malam." jawab Devan tergelak. Tapi sambil berbicara dia mengengam tangan Zizi keluar dari kamar mereka.


Devan memang tidak menyisir rambutnya lebih dulu, karena walau rambutnya berantakan dia tetaplah akan terlihat tampan.


"Tuan Muda, Anda mau kemana?" tanya Felix yang sedang duduk di depan sambil berbicara bersama rekannya.


"Kami akan jalan-jalan di sekitar sini. Tidak perlu mengawasi ku." kata Devan berhenti di tempatnya berdiri.


"Tempat ini aman dari musuh-musuh kita. Jadi silahkan nikmati liburan kalian, bersenang-senang lah!" ucapannya kembali lagi mengandeng Zivanna berjalan menuju pantai yang begitu teduh, karena meskipun masih siang. Di sana banyak pepohonan. Jadi bagi pariwisata yang berlibur bisa kapan saja menikmati keindahan tempat tersebut.


"Tuan Felix bagaimana, ini. Apa yang harus kita lakukan?" tanya salah seorang pengawal binggung apa yang harus mereka lakukan bila bos-nya sendiri melarang untuk di ikuti.


"Tetap awasi dari jarak jauh!" sahut Felix langsung mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu yang berjaga di pantai agar memastikan jika semua yang berada di sekeliling tuan mudanya dalam keadaan aman.


"Kita dibayar dengan gaji berpuluh kali lipat. Jadi bekerjalah dengan baik. Jangan memikirkan liburan, karena bila sudah saatnya. Maka kita semuanya selalu diberikan kebebasan untuk liburan kemana saja." ucap Felix agar para rekan yang mendengar perkataan tuan mudanya tadi tidak mengabaikan tugas masing-masing.

__ADS_1


*BERSAMBUNG* ...


__ADS_2