
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Sudah lima hari Devan berada di kota X. Selama berada di kota tersebut dia tidak pernah diam. Setiap harinya selalu pergi dari pagi dan akan pulang tengah malam. Hanya untuk mencari istrinya yang sampai saat ini belum juga ada titik terang keberadaan nya.
Tidak hanya di kota tempat orang tuanya. Di seluruh ibu kota Y, tiem keamanan dari Atmaja group sudah di kerahkan mencari dari berbagai tempat termasuk rumah sakit dan penjara. Semua pasilitas tidak ada yang mereka lewatkan demi bisa menemukan Nona muda Atmaja. Namun, tetap saja belum ada tanda-tanda jika gadis tersebut masih hidup atau sudah meninggal dunia.
Selama berada di kota X. Devan sendiri juga sudah mendatangi tempat-tempat yang di sebutkan oleh ibu mertuanya. Termasuk kota kecil tempat Zivanna di lahirkan. Tapi hasilnya tetap sama, gadis itu menghilang bagaikan di telan bumi.
Maka dari itu hari ini Devan akan kembali pulang ke kota Y. Tempat dia membangun perusahaan raksasa dan rumah bak istana. Istana yang sudah di tinggal oleh Ratu nya. Iya ratu! Tanpa diduga ternyata Zizi adalah ratu tersebut.
"Zi ... hari ini kakak akan pulang ke rumah kita yang ada di kota Y. Bila kamu masih ada di kota ini tolong kembalilah ke rumah ini." ucap Devan pada poto Zivanna yang sedang dia tatap sedari tadi.
Saat ini Devan sudah bersiap-siap, hanya tinggal menunggu waktu penerbangan yang akan berangkat satu setengah jam lagi.
"Bila kamu masih berada di kota Y maka tunggu kakak kembali. Kakak sangat merindukanmu! Jangan hukum kakak seperti ini." gumam Devan yang masih betah menatap dan mengelus poto yang berada dalam figuran berukuran sepuluh R.
"Lama-lama aku bisa gila karena belum juga bisa menemukan dirimu." penampilan yang sudah rapi sekarang kembali lagi berantakan, karena Devan yang tadinya duduk di pinggir ranjang sekarang merosot duduk di atas lantai. Setelah menarik rambutnya sendiri.
Sekarang poto tersebut tidak hanya di tatap, tapi sudah dia dekap penuh rasa rindu dan penyesalan. Sampai beberapa saat kemudian pintu kamarnya kembali lagi di ketuk setelah tadi pagi saat dia di ajak untuk sarapan bersama.
Tok...
__ADS_1
Tok...
"Devan ini ibu!" pangil Ibu Ellena dari luar kamar.
"Em ... sebentar, Bu. Devan masih bersiap-siap." seru pria itu menghapus air matanya dan memperbaiki jas yang dia pakai agar tidak terlihat kusut.
"Buku, buk---"
Ucap Devan mencari buku, lalu setelah mengingatnya dia langsung mengambil buku Diary Zizi di bawah bantal, yang hampir saja ketinggalan. Setiap malam Devan memang selalu membaca buku Diary tersebut, karena buku itu saat malam dia bisa tidur. Sebab buku kecil tersebut sudah seperti buku pengantar tidur baginya.
Cek... lek...
"I--ibu masih di sini!" Devan kaget saat membuka pintu ibu mertuanya masih menunggu di sana.
Mendengar pertanyaan Devan. Ibu Ellena sedikit tersenyum sebelum menjawab pertanyaan menantunya.
"Aku baik-baik saja, Bu. Terima kasih sudah memberi aku kesempatan. Aku berjanji, akan terus berusaha mencari Zizi sampai bisa menemukannya." ucap Devan tulus dari hatinya yang paling dalam. Dia sudah bertekad tidak akan pernah berhenti mencari Zivanna.
"Ibu percaya padamu, Nak. Semoga saja kita bisa segera menemukannya." wanita paruh baya itu menyentuh pundak Devan. Sebagai bentuk dukungan pada menantunya. Lalu mereka pun berjalan turun ke lantai bawah.
"Hem ... kalau begitu aku berangkat sekarang. Apa Ayah masih ada?" tanya Devan sambil mengikuti Ibu Ellena dari belakang.
"Masih! Ayah mu menunggu di ruang tamu." seru Ibu Ellena terus melanjutkan langkahnya menuju di mana suaminya menunggu.
"Ayah, Aku pulang sekarang." pamit Devan yang langsung mencium punggung tangan sang ayah dan memeluknya.
__ADS_1
"Iya hati-hati! Jaga kesehatan mu. Ayah juga akan terus mencari Zizi. Jadi kamu cukup cari di luar kota ini saja." kata Ayah Dion setelah melepaskan pelukan mereka. Begitu mengetahui Zizi pergi dari rumah. Ayah Dion memang sudah mengutus orang-orang kepercayaan untuk mencari menantun nya.
"Baiklah! Ayah dan ibu jangan lupa untuk menjaga kesehatan kalian." setelah selesai berpamitan pada pasangan paruh baya tersebut. Devan langsung saja pergi menaiki mobil yang sudah menunggunya dari tadi.
Dalam perjalanan menuju bandara. Devan hanya diam sambil memperhatikan di pinggir jalan, karena masih berharap bisa melihat istrinya.
Zizi ... dimanapun kamu berada. Tolong jaga anak ku. Walaupun mungkin kamu sangat membenci ku. Tapi anak itu adalah sebagai kenangan saat hubungan kita masih baik-baik saja, karena aku sangat yakin dia hadir dari awal aku menyentuh mu. Maafkan aku yang sempat tidak mengakui kehadirannya."
Pria itu kembali bergumam dengan penuh doa yang dia panjatkan di dalam hatinya. Berdo'a semoga istri dan calon anaknya baik-baik saja.
Setelah di ingat-ingat oleh Devan, mungkin saja Zizi hamil karena salah mengkonsumi obat penunda kehamilan. Makanya dia sangat yakin kalau anak tersebut hadir saat sebelum dia melanjutkan niat balas dendam nya.
...****************...
Sementara itu di kota kecil yang Zivanna tinggali sekarang. Dia sudah memulai lembaran yang baru. Dua hari lalu Zizi sudah di perbolehkan pulang. Hanya saja keadaannya belum pulih seratus persen.
Operasi pengangkatan sel kanker itu berjalan dengan lancar. Meskipun belum setatus persen bisa sembuh, karena penyakit tersebut bisa tumbuh kembali. Bila yang menderita nya tidak menjaga pola makan dan kesehatan tubuhnya.
Rencananya setelah sehat Zizi akan membantu ibu angkatnya berjualan kue. Dia tidak mungkin hanya diam dan menyusahkan wanita yang sudah menolongnya.
"Mulai sekarang hanya ada kita berdua. Kamu dan ibu. Jadi bantu ibu agar bisa segera sembuh seperti sedia kala dan melupakan apa yang sudah terjadi pada kita." ucap Zizi saat mengajak calon anaknya berbicara.
"Aku akan menjadi ayah dan sekaligus menjadi ibu buat mu. Kita harus bisa bertahan dan hidup bahagia. Dulu saat ibu masih kecil, kakek mu sudah meninggal dunia. Jadi ibu hanya di besarkan oleh nenek mu. Tapi meskipun besar tanpa kasih sayang dari seorang ayah. ibu masih bisa hidup seperti anak lainnya." Zizi berhenti sebentar sebelum kembali lagi melanjutkan ceritanya.
Meskipun di dalam hati tidak ingin anaknya mengalami nasip seperti dirinya. Namun, gadis yang masih berumur delapan belas tahun itu tidak memiliki pilihan lain. Hanya dengan pergi seperti sekarang, dia bisa menyelamatkan nyawa sang anak yang akan di habisi oleh suaminya sendiri.
__ADS_1
Malam di mana Devan tidak mau membantu Dokter Kai membawanya ke rumah sakit dan lebih memilih pergi bersama Fiona. Di dalam hati Zivanna sudah berpikir tidak akan pernah lagi mengemis sebuah pengakuan untuk anaknya. Agar Devan menerima kehadiran malaikat kecil yang sedang dia kandung.
Kenangan pahit itu menjadi sebuah tekad bagi Zivanna agar bisa hidup mandiri dan membesarkan anaknya seorang diri.