
π·π·π·π·π·
.
.
Waktu begitu cepat berlalu. Siang sudah berganti malam dan hari sudah berganti Minggu.
Tidak terasa, sudah satu bulan lebih setelah Devan dan Zivanna mengajukan permohonan cerai mereka. Pada kantor pengadilan agama yang ada di kota X.
Sudah dua kali persidangan, yang datang hanya Zivanna sendirian saja. Namun, wanita itu dikawal cukup ketat oleh pengawal Atmaja group atas perintah Devan.
Tinggal satu kali persidangan lagi mereka berdua sudah resmi berpisah. Meskipun terasa menyakitkan, Devan masih kembali kerumah ayahnya setia dua kali dalam satu Minggu.
Semua itu dia lakukan demi putranya. Hubungan dia Zizi memang akan segera berakhir. Tapi tidak dengan Reyvano. Anak yang memiliki kenangan indah dan juga menyakitkan.
Devan masih terlihat baik-baik saja juga karena Reyvano. Putranya itulah sebagai penerang hidupnya saat ini. Bila sebuah jalan buntu dan gelap gulita. Maka Rey sebagai lentera menjadi petunjuk untuk sang ayah.
Dalam satu hari Reyvano bisa menelepon ayahnya sampai dua puluh atau tiga puluh kali. Tidak perduli sepenting apapun meeting yang sedang dilakukan. Bila tahu ada telepon dari putranya. Maka Devan akan meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Reyvano tidak menelepon sendiri. Tapi dia meminta pada siapa saja yang ada di rumah neneknya untuk menelepon sang ayah.
Biasanya yang seringkali menjadi sasaran adalah pengawal yang diberi tugas untuk menjaganya. Mereka mana ada yang berani menolak permintaan tuan muda kecilnya.
Jika pada ibunya pasti Zivanna selalu berkata.
"Ayah sedang bekerja, nanti saja, ya. tunggu ayah selesai bekerja. Biar dia yang menghubungi kita."
Itulah yang sering Zizi ucapkan agar Reyvano tidak menelepon terus menerus karena Zivanna tahu Devan adalah orang yang sangat sibuk.
Semenjak ditangani oleh Dokter Shiren keadaan Zizi sangat jauh dari kata baik. Dia tidak pernah lagi mengalami mimpi buruk ketakutan secara tiba-tiba ataupun yang lainnya.
Hanya saja apabila ada Devan dia sangat jarang bicara. Malah terlihat aneh karena sebelumnya meskipun dia masih mengalami trauma. Zivanna sering berbicara walaupun akhirnya dia marah tidak karuan pada laki-laki itu.
Setelah mereka resmi berpisah Zivanna tidak akan kembali ke kota F lagi. Atas permintaan Ibu Ellena yang berhasil menyakinkan Zizi agar tidak meninggalkan dirinya yang sering sakit-sakitan.
Akan tetapi Zivanna memiliki sarat. Dia tidak mau tinggal serumah dengan keluarga Atmaja karena dia bukan lagi bagian dari keluarga itu. Mau tidak mau, semuanya menyetujui termasuk Devan.
Rencananya dia akan kembali membuka usaha roti seperti sebelumnya. Tidak memiliki gelar sebagai sarjana. Tentu mempersulit dirinya untuk mendapatkan pekerjaan. Terkecuali melalui Ayah Dion ataupun Devan.
Namun, Zizi tetaplah Zizi. Gadis yang tidak mau bergantung hidup pada orang lain. Itulah dirinya.
"Paman telepon ayah," Reyvano yang sedang bermain tiba-tiba berlari kearah pengawal agar menghubungi ayahnya. Padahal belum ada satu jam lalu mereka menelepon Devan yang kebetulan masih berada dalam ruangan kerjanya.
"Bagaimana kalau setengah jam lagi Tuan muda?" tanya pengawal tersebut karena dia tahu kalau saat ini tuan besarnya sedang melakukan meeting.
Lagian nanti sore kalau tidak ada halangan. Devan akan kembali karena saat persidangan terakhir dia harus datang.
"Nda mau, mau na cekalang." jawab Reyvano dengan mata berkaca-kaca mau menagisi.
"Baiklah, baiklah! Ayo duduk sini. Kita coba hubungi ponsel Paman Sekertaris Jimi. Tapi bila tidak bisa dihubungi, Tuan muda kecil jangan menangis. Mungkin paman dan ayah masih sibuk." kata pengawal yang selalu dipanggil Rey dengan sebutan Paman Ace.
"Iya, telepon na cekalang." jawab Reyvano setuju. Lalu mereka berdua duduk di atas ayunan yang dibuat setelah ada sang pewaris selanjutnya.
Tttdddd!
Ttttdddd!
"Bentar kita coba sekali lagi, ya." kata si pengawal yang bernama Aselio. Dia masih berumur dua puluh empat tahun. Tapi sudah menjadi pengawal Atmaja selama dua tahun belakangan.
__ADS_1
Tttdddd!
"Nda di atat?" kata Rey pindah duduk di atas paha pengawal untuk mendengar yang jelas.
"Bentar," ucap Asel menenangkan. Lalu dia mencoba kembali. Mereka memang selalu menghubungi Sekertaris Jimi karena kalau menelepon Devan itu percuma saja. Bila jam kerja ponselnya selalu dititipkan pada Sekertarisnya.
Tttdddd!
π± Jimi : "Hem, ada apa, Sel?" meskipun sudah tahu kenapa Asel meneleponnya Sekertaris Jimi tetap bertanya karena saat ini mereka sedang melakukan rapat yang baru saja dimulai sekitar tiga puluh menit kurang lebih.
π² Asel : "Paman... ini Ley." begitu tersambung Reyvano langsung yang berbicara.
π±Jimi : "Tuan muda kecil. Ayah Tuan lagi bekerja. Katakan saja Tuan muda ingin dibawa oleh-oleh apa? Nanti Paman akan menyampaikan pada Tuan besar?" jawab Sekertaris Jimi mencoba merayu agar Reyvano tidak mencari ayahnya.
Sebab Devan lagi tidak bisa diganggu. Ini bukan rapat biasa. Tapi antara perusahaan luar negeri juga.
π² Rey : "Ley mau bicala tama ayah, nda mau mainan." untuk apa juga Sekertaris Jimi menawarkan mainan pada tuan muda kecilnya. Dikediaman kakeknya sudah seperti toko mainan.
Segala macam ada. Ayah Dion benar-benar menjadikan cucunya seperti seorang raja kecil. Beliau melakukan itu karena ingin menebus waktu yang sudah terlewati bersama cucu satu-satunya, yang akan mewariskan seluruh kekayaan keluarga Atmaja.
π±Jimi : "Oh iya, kalau begitu tunggu sebentar. Paman akan bicara dengan ayah tuan muda." Sekertaris Jimi yang sudah mendapat perintah dari Devan bila putranya menelepon harus diberikan padanya. Tidak berani berbohong.
Setelah mengatakan itu. Sekertaris Jimi kembali masuk keruang rapat yang sangat mencekam, karena Devan sedang marah besar pada perusahaan Nyonya Mika yang pernah diajukan saat mereka melakukan rapat pemegang saham beberapa pekan lalu.
"Maaf Tuan, ada telepon dari Tuan Rey." bisik Sekertaris Jimi seraya menyerahkan ponselnya.
"Apa, kalau begitu kamu pegang rapat ini." seru Devan menerima ponsel Jimi seperti mana orang yang mendapatkan telepon dari seorang kekasih.
Hati Devan seakan berbunga-bunga, karena Reyvano adalah dunianya. Untuk saat ini pekerjaan hanyalah nomor dua, ayah satu anak itu cuma ingin membahagiakan sang putra. Makanya Devan tidak perduli meskipun sedang rapat dia tetap memilih anak daripada pekerjaan.
Begitu Devan keluar dari ruangan tersebut. Semuanya baru bisa menarik nafas lalu dihembuskan lagi. Demi apapun mereka sangat berterima kasih pada si penelepon yang secara tidak langsung sudah menyelamatkan mereka dari amukan Presdir Atmaja group.
π± Devan : "Iya sayang ada apa?" ucap Devan langsung berbicara karena sambungannya tidak dimatikan oleh Sekertaris Jimi ataupun oleh Reyvano.
π² Rey : "Ayah tapan puyang na?" terdengar saat berbicar dengan sang ayah suara Rey berubah menjadi sendu.
π±Devan : "Kenapa, apa Rey sudah merindukan ayah?" Devan tersenyum saat menanyakan. Sambil menelepon dia berjalan masuk ke kantornya.
π² Rey : "Dawab dulu, Ayah tapan puyang?" kembali lagi bertanya. Anak kecil itu memang sudah tahu kalau ayahnya akan pulang hari ini. Tapi belum tahu kapan sampainya. Padahal baru empat hari mereka tidak berjumpa.
π± Devan : "Sore ini Ayah akan berangkat dari sini, karena Ayah masih ada pertemuan jam tiga nanti sore. Tapi putra Ayah jangan bersedih. Sebelum Rey tidur malam, Ayah sudah tiba dirumah." jawab Devan yang sebetulnya juga sangat merindukan buah hati.
π² Rey : "Tapi Ley mau Ayah puyang cekalang. Nda mau tanti malam," Reyvano mulai terisak karena ingin segera bertemu dengan ayahnya.
π± Devan : "Hei... jagoan tidak boleh menangis. Tunggu Ayah bicara pada Paman Jimi, ya. Setelah itu Ayah akan segera pulang." Devan memang menyuruh anaknya memangil Sekertaris Jimi ataupun pengawal lain dengan sebutan paman.
Agar anaknya bisa menghormati orang yang lebih tua. Memiliki kekuasaan, bukan berarti tidak memiliki sopan santun.
π² Rey : "Benel, Ayah puyang cekalang?" seru si tampan dengan suara riangnya.
π± Devan : "Tentu saja, Ayah mau bilang pada paman Jimi dulu, ya. Rey bobo siang dulu." pesan Devan sebelum memutuskan sambungan telepon.
Diliriknya jam baru menunjukkan pukul sebelas siang. Menjelang sore sangat lama. Mana rapat belum selesai.
"Aku harus pulang sekarang. Biarkan Jimi yang mengurus rapat. Setelah selesai baru dia menyusul ku." putus Devan langsung berdiri. Namun, sebelum
"Ris, katakan pada Sekertaris Jimi kalau Saya sudah kembali ke kota X. Jika pekerjaannya sudah selesai, suruh dia menyusul." ucap Devan pada sekertaris perusahaan yang berada di meja kerjanya.
"Baik, Tuan Muda. Tapi Anda akan berangkat dengan siapa?"
__ADS_1
"Saya akan berangkat dengan Felix ." jawab pria itu langsung pergi.
Tiba di lobby perusahaan.
"Felix ayo kita kembali ke kota X sekarang." kata Devan pada salah satu pengawal terbaiknya.
"Hanya kita?" tanya Felix yang binggung karena setahunya Sekertaris Jimi juga akan ikut bersama mereka.
"Iya, hanya kita. Ayo berangkat sekarang. Sekertaris Jimi akan menyusul nanti sore." jawab Devan sudah masuk kedalam mobil.
"Baik Tuan Muda." jawab Felix sebelum memberi perintah pada pengawal lain untuk mengikutinya. "Ayo kita akan langsung berangkat ke kota X." kata Felix pada rekannya.
Lalu mereka pun berangkat sebanyak delapan mobil, karena yang sisanya akan berangkat bersama Sekertaris Jimi. Kali ini Felix menaiki mobil yang membawa Devan. Selama dalam perjalanan menuju bandara dia sudah mengatur penerbangan. Agar tuan mudanya sampai di bandara, mereka tinggal terbang.
Hanya tiga puluh menit. Mobil iring-iringan tersebut sudah tiba di bandara internasional yang ada di kota itu. Felix mendampingi Devan sampai mereka masuk kedalam pesawat. Lalu dia duduk di kursi sebelah kiri Devan.
Hal yang biasanya dilakukan oleh Sekretaris Jimi. Namun, berhubungan Sekertaris Jimi tidak ada. Felix yang mengantikan.
Hanya selang lima belas menit kemudian. Pesawat yang mereka tumpangi melakukan Take off. Perlahan mulai mengudara dengan sempurna. Dari kota Y ke kota X hanya menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Jadi diperkirakan jam dua siang Devan sudah sampai di rumah ayahnya.
*
*
Kembali ke perusahaan Atmaja group.
Satu jam kemudian.
Jimi yang baru saja keluar dari ruang meeting. Bagitu kaget mendengar Tuan mudanya sudah pulang duluan ke kota X. Padahal dia sudah mengatur waktu keberangkatan, yaitu jam lima sore baru mereka berangkat.
Sebab kalau berangkat sekarang pekerjaan mereka masih banyak. Tapi apalah daya, dia juga tidak bisa mencegah tuan mudanya.
Baru saja dia mau duduk dengan tenang setelah menyelesaikan tugas tuan mudanya. Ponselnya yang diletak oleh Devan di atas meja, berdering. Begitu dilihat ada puluhan kali pangilan yang tidak terjawab.
"Ada hal apa?" gumam Sekertaris Jimi.
π± Jimi : "Ada apa?" tanya Jimi begitu mengeser tombol hijau pada layar ponselnya.
π± Pengawal : "Maaf Tuan--- pesawat yang membawa tuan muda, hilang dari radar sejak setengah jam yang lalu,"
π± Jimi : "Apa maksudmu? Kenapa baru menghubungi ku? Bangsat! Bila terjadi sesuatu pada tuan muda. Aku akan menghabis nyawa kalian semua." maki Sekertaris Jimi sambil berlari keluar dari perusahaan.
Jantungnya seakan langsung berhenti mendengar berita tersebut.
*BERSAMBUNG*...
.
.
.
Hayo siap-siap semuanya, mana tahu pesawat yang di tumpangi bbg Devan nyasar kerumah kalian π
Mak mau izin promo lagi ya. Kali ini novel Mak author sendiri yang masih sepi mencam kuburan.πππ€§
__ADS_1
Terima kasih.πππ