Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Tidak percaya.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Sudah hampir tiga jam, keluarga kecil yang belum tahu seperti apa kisah biduk rumah tangga untuk kedepannya. Masih menghabiskan waktu mereka dirumah minimalis yang sekarang sudah menjadi hak milik Zivanna.


Saat ini mereka sedang makan siang yang dibawakan oleh pengawal setia Atmaja group. Para pengawal itu tanpa disuruh langsung mencarikan makan siang untuk tuannya dari Restoran terbaik yang ada di kota tersebut.


"Makanlah yang banyak! Nanti kita akan melakukan perjalanan jauh. Kakak tidak ingin kalian berdua sampai sakit." ucap Devan melihat Zivanna sudah selesai menghabiskan makanannya.


"Aku sudah kenyang. Kamu makan saja, biar aku yang menyuapi Rey." jawab Zizi berdiri ingin membawa Reyvano duduk di dekatnya karena dia ingin bergantian menyuapi si kecil.


"Tidak usah, biarkan aku yang menyuapinya. Selama ini dirimu sudah mengurusnya sendiri." cegah Devan tidak ingin sang istri menyuapi anaknya, karena dia sudah banyak melewatkan waktu tersebut.


Deg ...


Untuk beberapa detik mata keduanya sempat beradu pandang. Apa yang Devan ucapkan adalah benar. Dari Zizi hamil anaknya, Devan tidak ikut campur mengurus sang putra.


Hanya saja Zizi yang mendengar pria itu mengakui kesalahannya merasa tidak percaya, karena Zizi masih ingat seperti apa Devan mengancamnya apabila sampai mengandung keturunan Atmaja.


"Eum, baiklah! Kalau begitu aku ingin mengambil beberapa foto ibu untuk dibawa kerumah ku." Zivanna membuang pandangan matanya sambil berdiri dari sofa. Mereka memang makan siang di atas sofa ruang tengah, karena Devan ingin disana saja agar putranya merasa nyaman.


"Cukup tunjukkan saja mana yang ingin dibawa. Biarkan pengawal mengerjakan pekerjaan seperti itu." Devan kembali mencegah.


Saat ini, sipat pria itu sudah kembali seperti saat mereka belum menikah. Selalu melarang Zivanna mengerjakan ini dan itu karena dia mengkhawatirkannya.


Hanya saja, untuk sekarang seperti apapun perlakuan baik Devan. Zivanna sudah tidak mau tahu dan perduli. Dia sudah tidak percaya seperti apapun perubahan sikap Devan padanya. Entahlah! Hanya Zizi yang berhak memutuskan seperti apa untuk kedepannya.

__ADS_1


"Tidak perlu memangil mereka. Aku bisa mengambilnya sendiri. Seorang pembantu harus bisa mengerjakan pekerjaan apapun." hardik Zizi yang sengaja menyebutkan kata pembantu. Lalu setelahnya dia pergi ke gudang kecil yang berada di dekat dapur.


"Huh!" menghela nafas berat penuh penyesalan.


"Maaf, maafkan kakak, Zi. Gara-gara perbuatan ku, membuat sikapmu berubah seperti sekarang ini."


Gumam Devan karena mendergar perkataan tajam sang istri membuat hatinya terasa nyeri.


"Ayo sayang, buka lagi mulutnya. Kalau makan harus dihabiskan, ya." kata Devan kembali menyuapi Reyvano. Anak itu makan nya sambil bermain. Jadinya dari tadi tidak kunjung selesai.


"Iya, igal ditit agi tan?"


"Benar tinggal sedikit lagi. Setelah ini kita akan ke makam nenek Eris." jawab Devan yang menyuapi dengan telaten. Sedangkan dia sendiri sampai tidak jadi makan siang.


Meskipun baru kali ini Devan mengendong dan juga menyuapi anak-anak, tapi dia sudah lumayan pintar. Terbukti dia menyuapi Rey tanpa ada makanan yang terjatuh. Semua makanan tersebut benar-benar masuk kedalam mulut putranya.


Hal paling menyenangkan yang baru dia rasakan sekarang. Andailah dia tidak melakukan kesalahan besar. Mungkin dari saat istrinya hamil Devan sudah menikmati masa-masa bahagia walaupun dengan cara sederhana.


"Apa Rey belum selesai?" Zivanna sudah kembali dari gudang dan ditangannya ada tiga bingkai foto, beserta gambar ibu Eris. Satu jam yang lalu Zivanna sudah diberitahu kalau rumah itu sudah kembali padanya. Makanya dia bebas ingin mengambil barang apapun.


"Sudah, Rey sudah selesai." jawab Devan meletakkan gelas bekas minuman Rey keatas meja dihadapannya.


Zizi hanya mengangguk. Meskipun tahu kalau Devan tidak jadi makan karena menyuapi anak mereka. Dia hanya diam. Lidahnya tidak bisa terangkat untuk berbuat baik pada laki-laki yang masih bersatatus suaminya itu. Terkecuali saat seperti tadi. Anggap saja dia hanya berbasa-basi.


"Bagaimana kalau kita pergi sekarang? Takutnya sore ini akan turun hujan. Maka akan menghambat perjalanan kita ke kota Y." ajak Devan seraya melirik jam pada pergelangan tangannya.


"Iya, sekarang juga tidak apa-apa. Tapi tunggu sebentar, aku ingin membersihkan piring-piring kotor ini dulu." tunjuk Zizi pada piring dan gelas yang ada di atas meja.


"Eh, tidak usah. Sebentar lagi bibi yang bertugas membersihkan tempat ini akan segera datang." cegah Devan agar Zivanna tidak melakukan pekerjaan tersebut, karena dia sudah membayar mahal sepasang suami-istri hanya untuk membersihkan rumah itu saja.

__ADS_1


"Tapi bagaimana jika---"


"Sudah, ayo pergi!" Devan berdiri sambil menggendong putranya. Lalu tangan satunya lagi menarik tangan sang istri.


"Masuklah, jangan cemberut begitu." membukakan pintu untuk sang istri. Setelah itu baru dia dan putranya yang menyusul masuk. Tapi pintu mobilnya sudah di bukakan oleh pengawal yang merekap menjadi sopir.


"Zi!" pangil Devan singkat.


"Hem, apa?"


"Eum, tidak, tidak jadi. Bila mengantuk tidur saja dulu. Nanti setelah sampai Kakak akan membangunkan mu." mengurungkan niatnya yang ingin menanyaka tentang Kevin. Namun, karena takut menjadi masalah baru Devan mencari alasan lain.


"Aku tidak mengantuk. Kamu tidak perlu bersikap baik-baik padaku." jawab Zivanna kembali jutek. Untungnya Devan benar-benar sudah menyadari kesalahannya. Jadi perubahan sikap Zizi yang terkadang bicara baik, kadang bicara menyinggung dirinya. Devan anggap angin lalu.


"Iya, jika tidak mau juga tidak apa-apa. Nanti kita tidak bisa lama di makam nya karena sedang Rey tidur." ucap Devan sambil membelai kepala Reyvano yang menempel pada dada bidangnya.


"Eum!" Zivanna berdehem dan menganggukan kepalanya. Sebetulnya baru lima hari lalu, dia berkunjung ke makam ibu angkatnya. Namun, berhubung hari ini dia akan kembali bersama Devan untuk waktu yang belum bisa ditentukan, jadilah dia harus berpamitan lebih dulu.


"Apa ini tempatnya?" Devan bertanya pada sopir karena mobil mereka sudah berhenti.


"Betul Tuan muda. Ini tempatnya." si sopir pun turun untuk membukakan pintu mobil tersebut. Saat ini Devan hanya diam karena Rey sedang tidur dengan nyenyak dalam dekapannya.


"Pergilah! Biar Kakak menunggu disini." tidak tega mengangu tidur putranya Devan memilih mengurungkan niatnya untuk berterima kasih pada makam Bu Eris.


"Tapi---"


"Jangan takut, Kakak tidak akan membawanya kabur ataupun menyakiti Reyvano." sela Devan karena melihat gelagat Zizi seperti orang takut.


"Jika kamu ragu, maka kita langsung pulang saja. Aku tidak ingin membuatmu tertekan karena berada bersama ku. Lain waktu kita juga masih ada waktu untuk kesini." seru pria itu tidak bisa memaksa.

__ADS_1


"Eum, iya. Kita pulang saja. Lain kali masih bisa kesini lagi." putus wanita itu yang tidak bisa percaya pada ucapan Devan. Alhasil mereka tidak jadi berziarah karena Zizi tidak percaya meninggalkan anaknya begitu saja.


__ADS_2