
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Hari begitu cepat berlalu. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Namun, mereka belum mendapatkan kabar berita tentang keberadaan pesawat yang di tumpangi Devan beserta para pengawalnya.
Sedari siang Reyvano sangat rewel. Dia selalu menanyakan ayahnya yang tak kunjung datang. Padahal saat mereka bicara di telepon tadi siang. Devan mengatakan sebelum Rey tidur malam, maka dia sudah datang. Itupun jika mereka berangkat sore. Tapi ini berangkat dari jam sebelas siang.
Ceklek!
"Ibu!" lirih Zivanna menoleh kearah ibunya yang berjalan masuk.
"Bagaimana keadaannya, Nak? Apa masih terus mengigau?" tanya Ibu Ellena berjalan masuk kedalam kamar Zivanna.
Dirumah mewah itu, tidak ada yang bisa tidur terkecuali Reyvano. Hanya dia yang tidak mengetahui kalau pesawat ayahnya hilang dari radar dan sampai saat ini belum diketahui apa yang telah terjadi.
"Sudah berkurang, Bu. Setelah meminum obat dari Dokter Kaivan tadi." jawab Zizi dengan sendu. Sekarang dia tidak hanya memikirkan keadaan Devan. Tapi juga keadaan putranya yang tiba-tiba demam dari pukul empat sore tadi.
"Shykulah, kalau begitu." imbuh wanita paruh baya itu sambil menyentuh kening sang cucu.
"Berdo'alah sayang! Semoga dimanapun Devan berada saat ini, dia dalam keadaan baik-baik saja." lanjut Ibu Ellena ikut duduk di sisi ranjang tempat tidur.
Meskipun dia sendiri ragu akan keselamatan menantunya.
"Eum, iya Bu." Zivanna mengaguk kecil karena tanpa disuruh. Didalam hatinya tidak berhenti mendo'akan sang suami.
Ya, sampai saat ini. Devan masih sah menjadi suaminya karena dua hari lagi baru mereka mendatangi kantor pengadilan. Untuk menandatangani berkas berakhirnya hubungan keduanya.
Namun, siapa sangka. Devan malah mengalami musibah saat status mereka masih sebagai suami istri.
"Apa ayah dan Dokter Kaivan belum kembali?" sekarang bergantian Zizi yang bertanya.
"Belum! Setengah jam yang lalu, ayah mengirim pesan, katanya mereka kemungkinan akan tidur di kota Y." jawab Ibu Ellena berhenti sejenak lalu bicara lagi.
"Besok pagi-pagi, ayah mu dan Dokter Kai akan ikut mencari ke titik lokasi yang kemungkinan pesawatnya jatuh di daerah sana." paparnya sambil menyerka air mata yang meluncur dengan sendirinya.
"Ibu... jangan seperti ini," seru Zizi memeluk ibunya.
"Rasanya ibu, ibu tidak sanggup lagi, Nak. Dosa apa yang sudah ibu dan Ayah Dion perbuat. Sehingga kamu dan Devan harus menderita seperti sekarang?" tangis wanita paruh baya itu tersedu-sedu. Melihat Reyvano sampai deman karena ingin bertemu dengan Devan. Membuat ketabahan hatinya luruh begitu saja.
Masalah perceraian Devan dan Zivanna saja belum usai. Sekarang kabar duka Devan hilang berserta pesawat dan para pengawalnya. Di susul lagi cucunya demam tinggi.
Sebetulnya yang membuat Ibu Ellena sering sakit-sakitan akhir-akhir ini adalah karena perceraian kedua anaknya. Namun, ingin mencegah Zizi mereka juga tidak bisa. Semua keputusan tersebut tergantung pada Zivanna sendiri. Sebab kalau Devan hanya menuruti permintaan sang istri.
Apa yang Devan lakukan hanya sebagai bentuk menghukuman dirinya sendiri, karena sudah menyakiti Zivanna. Dia sangat mencintai Zizi jadi apapun yang membuat wanita itu bahagia. Akan dia turuti meskipun menyakiti dirinya.
"Ibu--- Tolong jangan bicara seperti itu. Kalian berdua tidak bersalah! Semua ini kesalahan Zizi yang sudah jatuh cinta pada Devan." ucap Zizi ikut menangis. Sebab kalau menurutnya, dia sendirilah yang bersalah. Terlalu mudah jatuh cinta, sampai-sampai tidak memilih tempat. Jatuh cinta pada laki-laki yang dia sebut kakak.
"Tidak, Nak. Kamu tidak bersalah, begitupun dengan Devan." ibu Ellena melepaskan pelukan mereka.
"Nak, ada yang ingin ibu ceritakan padamu. Ini masalah, kesalah pahaman yang terjadi diantara kita semua." lanjut Ibu Ellena yang tidak bisa menyembunyikan lagi dari Zivanna.
"Tentang apa, Bu? Apakah salah paham Devan yang menuduh ibu merebut ayahnya dari Ibu Marisa?" tanya Zizi sambil menyerka air matanya.
"Apa kamu tahu apa yang membuat Devan memiliki pikiran seperti itu? Sehingga membuatnya dendam pada kita?" Ibu Ellena balik bertanya.
Dia yang tadi juga menangis langsung berhenti. Lalu di genggamnya tangan Zizi.
"Tidak, yang Zizi tahu dia dendam karena mengira ibu menghancurkan rumah tangga kedua orang tuanya." jawab Zizi mengelengkan kepalanya pelan.
"Itu memang benar, tapi Devan tidak akan pernah berbuat demikian. Bila saja Marisa tidak melempar kesalahannya pada Ayah Dion." terang beliau.
"Maksud ibu bagaimana?" Zivanna menyergit keningnya binggung.
Ucap Ibu Ellena di dalam hatinya. Lalu beliau pun menceritakan semuanya pada Zizi. Tidak ada yang dia lewatkan, karena kenyataannya Devan memang tidak sepenuhnya bersalah.
"Kenapa ibu tidak menceritakannya dari kemarin-kemarin?" wajah Zizi semakin sendu setelah mengetahui hal yang menyebabkan mereka saling menyakiti.
__ADS_1
Ibu Ellena tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan putrinya. "Kami tidak ingin keadaanmu semakin parah karena memiliki banyak pikiran. Sebetulnya dari awal, Ibu sudah mau menceritakan padamu. Tapi Devan yang melarang ibu bercerita padamu," tutur Ibu Ellena.
"Jadi itu alasan dia tidak pernah datang kemakam ibu Marisa lagi? Aku tidak menyangka, Devan malah balik membenci ibunya, Bu." seru Zizi merasa iba pada Devan.
Selama ini Zizi selalu beranggapan bahwa hanya dirinya yang menderita. Tanpa mau tahu kalau Devan juga menderita semenjak kepergiannya.
"Iya, itulah alasan Devan tidak pernah mengunjungi makam ibunya lagi. Padahal ayah kalian saja sudah memaafkan kesalahan Marisa." jawab wanita paruh baya itu membenarkan.
Ibu Ellena mengetahui Devan tidak pernah mengunjungi makam ibu kandungnya, karena penjaga makam itu sendiri yang bercerita padanya.
"Ehem, ini sudah malam. Kamu istirahatlah selagi putramu tidur. Nanti bila dia rewel, pangil saja ibu." kata wanita tersebut berdiri mau kembali ke kamar nya sendiri.
"Tapi, Bu---"
"Kamu harus istirahat, nanti jika kamu juga sakit. Siapa yang akan merawat Reyvano. Semoga besok kita sudah mendapatkan kabar baik." sela Ibu Ellena karena sebetulnya dia sendiri juga tidak bisa tidur.
Dia berkata seperti itu untuk menguatkan putrinya saja.
"Baiklah, ibu juga jangan lupa untuk istirahat."
"Tentu, kita harus memikirkan kesehatan kita juga. Ibu kembali ke kamar dulu, ya."
Cup!
"Selamat malam!" Ibu Ellena mengecup kening Zivanna dan mengucapakan selamat malam sebelum benar-benar pergi dari sana.
"Devan... sekarang kamu ada dimana? Apa sebenarnya yang telah terjadi padamu?" lirih Zivanna kembali menangis.
Dadanya tiba-tiba sesak mengingat dugaan dinas perhubungan, yang mengatakan perkiraan mereka pesawat yang membawa suaminya jatuh pada samudra.
"Demi Reyvano, tolong kembalilah!" masih terus menangis sambil menatap wajah sang putra yang baru bisa tidur dengan tenang.
"Jika kamu benar-benar merasa bersalah padaku, maka seperti apapun keadaanmu saat ini. Bertahanlah!" gumam Zizi disela Isak tangisnya.
"Apa kamu tahu, saat ini putramu sedang demam. Gara-gara kamu membohonginya akan kembali hari ini. Katamu sangat menyayangi Rey, kan? Buktikan ucapanmu itu, sudah cukup aku yang kamu bohongi. Jangan anak kita lagi." Zivanna berbicara seolah-olah Devan ada dihadapannya.
Sampai malam berganti pagi Zivanna terus saja menangis. Dia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Ingatannya dipenuhi oleh bayang-bayangan berita yang pernah dia tonton dari televisi.
Tok!
Tok!
"Masuk saja, Bu. Pintu tidak dikunci." jawab Zizi dengan mata yang masih sembab karena baru berhenti menagis beberapa menit lalu.
"Ayo kita masuk!" ajak Ibu Ellena pada pelayan perempuan yang membantunya membawa nampan berisi makanan.
"Astaga! Apa yang terjadi pada matamu? Apa kamu menagis semalam, Nak?" seru wanita paruh baya itu kaget melihat mata putrinya sudah semakin sipit. Akibat terlalu lama menangis.
"Ibu--- Ak--ak--aku takut terjadi sesuatu pada Devan. Bagaimana bila pesawat yang membawanya benar-benar masuk kedalam perairan. Apa mungkin dia bisa selamat?" tanpa ba-bi-bu Zivanna langsung berdiri dari atas ranjang lalu turun memeluk ibunya yang baru saja menaruh gelas susu pada meja.
"Suuuiiit! Tidak boleh bicara seperti itu. Cukup do'akan semoga dia baik-baik saja." kata Ibu Ellena menyerka air mata putrinya seperti tadi malam.
"Sekarang bersihkan dirimu! Setelah mandi, kamu harus sarapan. Biar ibu yang menjaga Reyvano." titahnya menoleh pada makanan yang sudah disiapkan diatas meja oleh pelayan.
"Tapi Zivanna tidak lapar, Bu." mantap mata sang ibu. Sebagi bentuk kalau dia tidak mau apa-apa.
"Mandilah, dengarkan kata ibu, Nak. Kamu harus terlihat baik-baik saja, sebelum Rey bangun dan bertanya kenapa kamu menangis." kata beliau memaksa.
"Baiklah, Zizi mandi dulu. Titip Rey sebentar," takut putranya bangun dan melihat dia dalam keadaan kacau. Zivanna menurut apa yang diperintahkan oleh wanita yang sudah melahirkannya dua puluh tiga tahun lalu.
Setelah Zizi masuk kedalam kamar mandi.
"Kembalilah ke bawah. Biar Saya yang membawa piring-piring ini." kata beliau pada pelayan.
"Baik, Nyonya. Saya permisi dulu," pamit pelayan tersebut dengan sopan.
"Bibi--- Tolong suruh salah satu dari kalian untuk berjaga di telepon rumah. Mana tahu ada yang menghubungi kita," pangil Ibu Ellena sebelum si pelayan keluar dari sana.
"Iya, Nyonya!" jawab si pelayan sembari menundukkan sedikit tubuhnya. Baru setelah itu dia menutup kembali pintu kamar nona mudanya.
__ADS_1
"Huh!" Ibu Ellena kembali lagi duduk disisi ranjang yang dia duduki tadi malam.
"Do'akan ayahmu, ya sayang. Semoga dimanapun dia berada, dalam keadaan sehat, tiada kurang suatu apapun." mengelus sayang kepala sang cucu yang masih tidur dengan nyenyak.
"Semoga kakek dan para paman-paman pengawal segera mengirim kita berita bahagia." lanjutnya lagi.
Ceklek!
Tidak sampai sepuluh menit. Zivanna sudah selesai membersihkan dirinya. Lalu wanita itu langsung berjalan kearah lemari pakaian dan memakainya.
"Kenapa kamu berpakaian seperti ini? Memangnya mau pergi kemana?" tanya Ibu Ellena menatap heran.
"Ibu... Aku, aku mau ikut mencari Devan. Aku titip Rey, ya?" selama berada dalam kamar mandi. Zizi memiliki ide untuk ikut mencari suaminya, karena dia ingat ibunya tadi malam mengatakan kalau ayah mertuanya dan Dokter Kaivan mau ikut mencari ke titik lokasi tempat perkiraan pesawat yang membawa suaminya jatuh.
"Apa? Tidak tidak! Lihatlah putramu, Nak. Ibu mohon bersabarlah. Kita tidak kekurangan orang untuk mencarinya." mata Ibu Ellena langsung membola mendengar ucapan sang putri.
Aneh-aneh saja! Mau ikut mencari? Bisa-bisa Zizi merepotkan orang-orang yang mencari Devan. Sudah pasti Zizi akan pingsan berkali-kali apabila tiba di lokasi.
"Tapi aku tidak bisa hanya berdiam diri saja, Bu. Ini semua demi Reyvano. Jadi tolong biarkan aku ikut menyusul ayah dan dokter Kaivan." mohon Zizi tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Zivanna, dengarkan ibu, Nak! Bila kamu ikut, maka bukan mempermudah mereka yang membantu kita. Tapi malah mempersulit mereka. Jadi cukup disini saja. Kita tunggu kabar dari ayahmu." sentak Ibu Ellena.
Biasanya dia sangat jarang menyebut nama panjang putrinya. Tidak, bukan jarang! Tapi memang tidak pernah. Bila pun dia menyebut Zivanna, itu saat tidak ada putrinya.
"Tapi--- Bu! Aku takut terjadi sesuatu padanya," lirih Zizi menutup wajahnya untuk menahan diri agar tidak menangis.
"Ibu tahu itu, ibu tahu apa yang kamu rasakan! Jangan seperti ini, pikirkanlah anak kalian. Bila Devan kembali, lalu melihat kamu meninggalkan Reynano dalam keadaan sakit. Dia pasti akan marah. Kamu tidak mau kan bila Devan mengambil Rey darimu?" sengaja menakuti Zizi agar mau mendengarkan perkataannya.
"Ibu!" Zivanna yang takut bila hak asuh jatuh pada Devan menghela nafas panjang.
Satu sisi dia mencemaskan keadaan Devan. Takut bila terjadi sesuatu pada suaminya. Tapi disatu sisinya lagi. Takut bila Devan baik-baik saja. Lalu marah sudah meninggalkan putra mereka.
"Iya, apa yang ibu katakan benar! Ayo sini sarapanlah, walaupun hanya sedikit." Ibu Ellena mengisi piring kosong dengan sedikit nasi beserta lauk pauknya. Lalu diberikan pada Zizi yang sudah duduk dihadapannya.
"Ini makanlah! Sebentar lagi Rey pasti bangun." ucap beliau memberikan piring tersebut pada Zivanna.
Meskipun Zivanna hanya makan sedikit dan mengaduk-aduk isi piringnya saja. Ibu Ellena membiarkan dan hanya diam, karena beliau juga mengerti. Jangan Zivanna, dia sendiri juga tidak berselera makan.
"Apa sudah selesai?" tanyanya karena Zizi telah menyimpan piring tersebut diatas nampan.
"Sudah, Bu. Ibu juga sarapan."
"Sudah, ibu sudah sarapan bersama pelayan." jawab Ibu Ellena. Padahal sedari kemarin sore dia belum makan apapun.
"Eum, ayah!" begitu membuka mata. Reyvano langsung menanyakan ayahnya.
"Ayah belum datang, Nak." jawab Zizi dengan suara bergetar. Lalu dia duduk disisi sang putra yang sudah duduk sambil mengucek matanya.
"Ley, au ayah, Bu." mendengar ayahnya belum juga datang, Rey langsung menagis.
"Sayang, jangan menangis. Rey masih sakit." bujuk Zizi mengendong sang putra. Akan tetapi Rey bukannya diam tapi terus menangis.
"Cucu nenek tidak boleh menagis, sebentar lagi ayah datang. Sekarang ayah masih berada dalam pesawat." ibu Ellena ikut membujuk Rey yang terus menagis.
"Tita jemput ayah cekalang, ayo Bu, ayo Nek. Tita jemput ayah di petawat," ajak si tampan disela Isak tangisnya.
Tidak ada pilihan karena Rey terus menagis. Zivanna pun memutuskan membawa Rey ke bandara. Sesuai permintaan sang putra.
Selama di dalam perjalanan. Rey tidak menangis. Dia malah tersenyum bahagia karena akan bertemu dengan ayahnya.
Dua puluh tujuh menit kemudian, mobil iring-iringan yang mengantar mereka. Sudah tiba di bandara. Lalu Zizi dan putranya turun dari mobil setelah pintunya dibuka oleh pengawal.
Namun, baru saja mereka keluar dari mobil. Reyvano sudah berteriak memanggil ayahnya.
"Ayah!" teriak si tampan dengan suara girang.
Devan yang sudah tahu anak dan istrinya berangkat ke bandara. Hanya tersenyum di sudut bibirnya, yang nyaris tak terlihat.
__ADS_1
Meskipun dia belum mandi dan memakai jaket para pengawal Atmaja group. Devan tetap saja terlihat begitu tampan.
BERSAMUBUNG...😂