Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Mencoba keberuntungan.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Ayo sayang kita sarapan dulu," ajak Devan pada putranya. Sebetulnya bukan sarapan dan juga bukan makan siang, karena jam masih pukul sembilan pagi.


Reyvano yang tidak demam lagi hanya mengangguk. Asalkan bersama sang ayah. Maka si kecil hanya akan mengangguk setuju. Sedangkan Zivanna, wanita cantik itu hanya mengikuti saja dari belakang, sesekali dia menatap Devan dengan perasaan tidak menentu.


Tiba di lantai bawah. Tepatnya di dalam dapur bersih. Disana Ibu Ellena sudah menata berbagai macam makanan kesukaan keluarga kecilnya yang selalu diterpa badai rumah tangga.


"Sayang, ayo makan dulu. Ayah dan Dokter Kaivan sedang membersihkan dirinya. Sebentar lagi mereka akan menyusul." ucap Ibu Ellena tersenyum melihat kedatangan anak dan menantunya. Jangan lupakan, ada si tampan Reyvano juga.


"Apa ayah dan Dokter Kaivan sudah datang? Cepat sekali!" seru Devan merasa heran. Setahunya kedua orang itu dan Sekertaris Jimi baru saja akan berangkat saat pesawat mereka mendarat.


"Sudah! Hanya ayahmu dan Dokter Kaivan. Jika Sekertaris Jimi dia belum kesini karena ada masalah yang harus dia selesaikan. Ibu dengar sih, seperti itu. Cuma tanyakan saja pada ayah atau Dokter Kaivan, biar lebih jeat" papar wanita paruh baya itu.


"Iya, nanti saja Devan tanyakan. Kit---"


"Mau menanyakan apa? Apa kau ingin bertanya semalam aku dan paman beserta Sekertaris pribadimu tidur dimana?" sela Dokter Kaivan yang baru saja datang.


Dihatinya ingin marah, dan juga ingin menangis melihat sahabatnya yang tidak bisa diatur pulang dalam keadaan selamat. Hanya saja cara dia menunjukkan kasih sayangnya melalui cemoohan.


"Ck, aku tidak perlu bertanya karena aku sendiri tadi malam hanya duduk menunggu surat izin penerbangan." balas Devan tidak mau kalah.


"Sudah, sudah! Nak Kai ayo duduk. Tadi malam pasti kalian semua tidak bisa makan dengan tenang." kata Ibu Ellena menengahi perdebatan tersebut.


Meskipun beliau tahu jika Devan dan Dokter Kaivan hanya saling bercanda. Semenjak Zivanna pergi Dokter Kaivan memang sering diajak oleh Devan berkunjung ke rumah ayahnya. Dia dengan bangga memperkenalkan ibu tirinya pada sang sahabat.


"Nanti saja, Bu. Kita menunggu Paman Dion. Sekarang aku ingin menyapa keponakan ku yang tampan ini." jawab dokter muda itu. Dia memang di suruh oleh Ibu Ellena memangilnya ibu. Sama seperti Devan.


"Hallo tampan! Apa kepalanya masih pusing seperti tadi malam?" sapanya pada Reyvano yang masih berada dalam pelukan ayahnya.


"Nda pucing, dah cembuh paman." jawab Rey sambil memainkan kerah baju ayahnya.


"Shukurlah! Rey harus sehat dan tumbuh menjadi anak yang kuat. Agar bisa menghukum orang yang menyakiti Ibu Zizi. Oke, boy." Dokter Kaivan menyeringai melihat kearah Devan yang langsung menatapnya dengan ancaman lewat sorot matanya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" pura-pura bertanya padahal sudah tahu kesalahan apa yang sudah dia perbuat.


"Huh! Karena kamu sudah mengobati putraku. Jadi kali ini aku memaafkan mu." Devan menghela nafas panjang. Agar tidak terpancing dengan ucapan sahabat sekaligus dokter pribadinya.


"Nak---"


Suara Ayah Dion tercekat bagitu melihat putranya dalam keadaan baik-baik saja. Lalu dia melangkah mendekati Devan dan langsung memeluk putra sekaligus cucunya.


"Berhentilah membuat Ayah selalu mengkhawatirkan mu, Nak." ucap Ayah Dion mengelus punggung sang putra.

__ADS_1


"Ayah... maafkan Devan, yang selalu menyusahkan kalian." jawab Devan membalas pelukan ayahnya. Meskipun hanya mengunakan satu tangan karena satu tangannya mengendong Reyvano.


"Sudah, tidak apa-apa. Kali ini Ayah maafkan. Tapi bila kamu kembali mencemaskan kami. Maka Ayah tidak mau memaafkan mu lagi." seseorang yang terlalu bahagia karena orang yang begitu berharga dalam hidupnya dalam keadaan baik-baik saja. Terkadang memang seringkali berkata seperti benci. Namun, ketahuilah jika saat itu orang tersebut lagi mencurahkan rasa bahagianya dengan cara yang berbeda.


"Ayah, sudahlah yang penting sekarang Devan kembali dalam keadaan selamat. Sekarang ayo makan, nanti makanannya menjadi dingin." ujar wanita paruh baya itu merasa terharu, karena juga merasa bahagia.


"Iya, iya! Kai, ayo duduklah kita makan bersama. Gara-gara mengkhawatirkan anak nakal ini. Paman dari kemarin siang tidak bisa makan dengan benar." kata Ayah Dion duduk di kursi yang biasa dia tempati.


"Nak, kamu kenapa diam saja? Ayo duduklah, kita makan bersama. Walaupun ini sudah lewat sarapan dan belum waktunya untuk makan siang. Tapi tidak akan mengurangi rasa enaknya masakan ibu kalian." puji pria paruh baya itu sambil tersenyum menatap istrinya penuh cinta.


"Iya, Yah!" jawab Zivanna. Namum, setelah itu Dokter Kaivan ikut menimpali.


"Paman sudahlah, jangan membuat Devan dan Zizi menjadi iri pada kemesraan kalian berdua." dokter muda itu kembali mencari cara buat mengejek Devan.


Uuhukk!


Zivanna yang mendengar namanya di sebut. Langsung tersedak, padahal dia belum memakan apa-apa.


"Sayang!"


"Zi" seru Devan dan Ibu Ellena secara serentak. "Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Devan merasa khawatir karena mata Zizi sampai mengeluarkan air mata. Walaupun hanya disudutnya saja.


"Eum, aku tidak apa-apa," jawab Zizi sambil duduk di kursi meja makan yang berada di sisi ibunya.


"Ayo makanlah, Nak! Tadi pagi kamu sarapannya hanya sedikit." titah Ibu Ellena yang tidak mau membuat Zizi merasa canggung.


Perubahan sikap Zivanna tersebut. Tentu saja membuat semua yang ada di sana menjadi saling pandang. Antara percaya dan tidak percaya.


"Ini makanlah!" ucapannya seraya menyerahkan piring yang sudah diisi dengan makanan. Devan yang merasa senang tentu saja langsung menerimanya.


"Terima kasih! Kamu juga harus makan yang banyak." kata pria itu tersenyum kecil.


Zivanna hanya mengangguk dan membalas tersenyum juga. Namun, senyum tersebut hampir tidak terlihat.


Akhirnya mereka semua makan dengan saling diam karena itulah peraturan di rumah tersebut. Akan tetapi yang terus berbicara hanyalah Reyvano.


Lima belas menit kurang lebih. Semuanya sudah selesai menghabiskan makanan mereka masing-masing. Lalu Devan membawa putranya kedepan bersama Ayah Dion dan juga Dokter Kaivan.


"Zi... Nak! Ada yang ingin ibu tanyakan padamu," ucap Ibu Ellena sambil mencuci piring bersama sang putri.


"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Zizi menoleh pada ibunya. Kebetulan sekali mereka sudah selesai mencuci piring bekas mereka berlima.


"Mari, kita berbicara di kebun bunga ibu." kata beliau mengelap kering tangannya. Lalu dia mengajak Zivanna ke taman belakang. Kebun bunga yang dia rawat semenjak dia pindah ke rumah tersebut.


"Duduklah!" ajaknya lagi begitu tiba di taman mini miliknya.


"Ada apa, Bu? Ibu membuatku menjadi takut." tanya Zizi merasa aneh karena biasanya ibunya tidak pernah seperti itu.

__ADS_1


"Ibu hanya ingin menanyakan tentang hubungan kalian," jawab Ibu Ellena menyentuh tangan sang putri yang duduk disebelahnya.


"Hubungan kami ya, seperti ini. Memangnya mau seperti apa lagi." jawab Zivanna yang mengerti kemana arah pertanyaan ibunya.


"Sayang, tanpa ibu sebutkan secara detail. Kamu pasti tahu maksud ibu. Besok adalah hari terakhir kalian menentukan semuanya." papar beliau mengingatkan. Meskipun Zizi tidak mungkin lupa akan perceraiannya.


"Lalu?"


"Lalu apakah kamu tidak bisa membatalkan semuanya? Ibu tidak memaksa mu, tapi hanya ingin kamu memikirkan kembali." lanjut wanita paruh baya itu lagi.


"Jika kamu masih memiliki perasaan pada suamimu. Maka tidak ada salahnya memberi dia kesempatan kedua. Devan sudah berubah, Nak. Dia tidak sama seperti dulu. Ibu dapat melihat jika perasaan yang dia miliki, sangat tulus pada dirimu dan juga anak kalian." karena Zivanna hanya diam saja Ibu Ellena terus berbicara.


"Ibu tidak akan mengatakan ini semua demi Reyvano. Tapi demi perasaan yang kalian miliki. Bila demi anak, kalian harus mengorbankan perasaan masing-masing. Ibu tidak setuju. Jadi pikirkanlah baik-baik, heum!" ucap Ibu Ellena mencoba keberuntungan. Mana tahu Zivanna bisa mengubah keputusannya.


"Terima kasih, Bu. Tapi maaf, sepertinya Zizi tidak bisa memenuhi permintaan ibu. Kali ini, tolong biarkan aku memilih jalan yang menurut ku benar," jawab Zizi balas menyentuh tangan ibunya. Ia genggam tangan yang sudah mulai keriput itu di atas pahanya.


"Baiklah! Apapun keputusan mu. Ibu tidak akan menghalanginya. Apa yang ibu lakukan sekarang, semata-mata karena hanya ingin melihat kalian bahagia." meskipun di dalam hatinya sedih karena tidak berhasil menyakinkan sang putri. Ibu Ellena masih tetap tersenyum, seolah-olah semuanya baik-baik saja.


"Sekali lagi terima kasih, Bu." imbuh Zizi merasa bersyukur karena baik ibunya ataupun ayah Dion. Tidak ada yang memaksanya.


"Sekarang ayo kita kedepan. Aku takut Rey mengangu ayahnya saat berbicara dengan Dokter Kai dan ayah." ajak Zizi berdiri dari tempat duduknya.


"Baiklah, ayo kita ke depan." karena tidak ada hal penting yang di bicarakan bersama sang putri. Ibu Ellena pun menyetujui.


Mereka berdua menyusul ke ruang keluarga. Tampat berkumpulnya para laki-laki tampan yang berbeda usia. Termasuk Reyvano si calon pewaris kekayaan ayah dan juga kakeknya.


"Kenapa lama sekali?" tanya Ayah Dion begitu melihat istrinya.


"Biasalah, sambil mencuci piring. Kami berdua mengobrol." jawab Ibu Ellena memilih Sofa kosong yang ada di samping sang suami. Mana mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.


Sedangkan Zizi memilih duduk di atas karpet bersama putranya yang lagi bermain, macam-macam permainan.


"Jadi Jimi akan berangkat sore ini?" tanya Devan pada Ayah Dion untuk kedua kalinya.


"Heum, iya. Dia akan berangkat sore ini."


"Baguslah, besok aku ingin di temani oleh Sekertaris Jimi." kata Devan melihat kearah Zizi yang kebetulan juga menatap padanya, karena wanita itu tahu. Besok yang Devan maksud adalah berangkat ke kantor pengadilan agama untuk menandatangani surat berakhirnya hubungan mereka sebagai suami istri.


"Tuhan... kuatkanlah hatiku untuk melepaskan istri yang masih aku cintai. Besok pagi aku dan dia akan resmi berpisah. Aku mohon kepadamu, tolong jaga hatiku ini agar tidak jatuh cinta pada wanita manapun. Meskipun kami berpisah, aku hanya ingin menyimpan namanya saja di dalam relung hatiku."


Gumam Devan di dalam hatinya. Lalu setelah itu dia memutuskan pandangan mereka lebih dulu, karena semakin lama mereka bertatap muka. Maka Devan semakin berat melepaskan Zizi.


Berbeda dengan Zivanna. Dia malah terus menatap Devan. Walaupun berupa lirikan. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu.


Setelahnya Zivanna hanya diam juga, sambil menemani putranya bermain. Dia tidak ada menimpali saat semuanya bersanda gurau. Zizi seakan-akan sedang berselancar di dunianya sendiri.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2