Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Bintang-bintang.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Malam hari. Setelah selesai makan malam yang lainnya kembali berkumpul di ruang keluarga. Namun, tidak dengan Zivanna. wanita itu pergi ke taman untuk menyendiri. Sedari tadi siang setelah berbicara dengan ibunya. Zivanna kembali lagi menjadi pendiam.


Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Jika dilihat saat mendapat berita duka yang menimpa suaminya. Maka dia tidak pernah melanjutkan perceraian mereka berdua. Akan tetapi semua itu hanya seperti angin lalu, karena dia tetaplah pada pendiriannya.


"Ayah, Ley mau main di kamal nenek," ucap Reyvano ketika ibu Ellena dan Ayah Dion akan kembali ke kamar untuk istrirahat. Tadi malam, mereka semua tidak bisa tidur gara-gara mengkhawatirkan keadaan putra mereka. Berhubung sekarang Devan sudah kembali dalam keadaan selamat. Mereka ingin istrirahat lebih awal.


Lagian sedari tadi siang mereka terus menghabiskan waktu bersama. Jadi binggung juga ingin menceritakan apalagi. Dokter Kaivan juga sudah kembali ke kamarnya sendiri yang ada di rumah tersebut.


"Tapi nenek sama kakek mau istirahat, sayang. Rey sama Ayah saja, ya." bujuk Devan. "Besok pagi kan Rey masih bisa main bersama." lanjutnya lagi.


"Tapi Ley penen itut ke tamal nenek cekalang." jawab si tampan tetap pada pendiriannya.


"Besok saja ya, Nak. Ini---"


"Sudah tidak apa-apa. Biarkan dia ikut ke kamar bersama ibu." sela Ibu Ellena menengahi.


"Jika Rey ikut, ibu dan Ayah mana mungkin bisa tidur." jawab Devan tidak ingin kedua orang tuanya terganggu.


"Nanti saja tidurnya, setelah Rey mau tidur atau di saat dia ingin denganmu lagi." ucap Ibu Ellena karena dia sendiri sebetulnya belum mengantuk. Hanya saja karena ingin suaminya beristirahat beliau pun terpaksa kembali ke kamar untuk menemani laki-laki paruh baya yang mau menerima dirinya apa adanya.


"Benar apa yang dikatakan oleh ibumu, Nak. Biarkan Reyvano bersama Ayah dan Ibu. Kamu pergilah lihat Zivanna, kemana dia? Sudah hampir satu jam lebih kan pergi dari sini. Apakah dia sudah tidur atau masih di luar." sambung Ayah Dion yang tahu jika Devan tidak ingin menyusahkan mereka.


"Oh iya, Ibu juga lupa! Cepatlah kamu cari ke mana dia, sudah tidur atau masih berada di taman samping rumah. Tadi sepertinya dia pergi ke taman, hanya saja setelah itu Ibu tidak tahu" kata Ibu Elena lagi.


"Eum, baiklah kalau begitu Devan akan mencari Zizi di kamarnya lebih dulu, mungkin saja dia sudah tidur." jawab Devan tidak punya pilihan lain.

__ADS_1


Lalu dia menurunkan Reyvano yang duduk di pangkuannya dan berkata. "Sayang, jika Rey mau main di kamar nenek, jangan nakal ya, nanti ayah jemput. Sekarang Ayah akan melihat ibumu di kamar." ucap Devan sambil mengelus kepala sang putra.


Muuuaaah!


"Iya, tanti Ley bobo tama Ayah, ya." jawab Rey kegirangan. Sampai-sampai dia mencium pipi ayahnya lebih dulu. Setelah itu dia langsung berlari mendekati neneknya lagi. Anggap saja dia sedang menyelamatkan diri dari ayahnya yang pasti akan balas mencium pipi chubby nya.


"Wah, sudah berani menggoda ayah, ya? Awas nanti ya, akan Ayah balas!" ancam Devan sambil tertawa gemas melihat Reyvao langsung meminta sang nenek untuk menggendongnya dan pergi dari sana.


"Sudah, pergilah lihat Zivanna di kamarnya. Kami akan ke kamar membawa anakmu." ucap Ayah Dion yang ikut berdiri dari sofa. Lalu mengikuti istri dan cucunya menuju kamar mereka yang terletak dilantai dasar rumah tersebut.


Tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Devan pun pergi dari ruang keluarga menuju ke lantai atas tempat kamar mereka berada


Ceklek!


Suara pintu yang dibukanya dengan cukup pelan, karena takut bila Zivanna benar-benar sudah tidur. Namum, begitu dia masuk di dalam kamar tersebut sepi, tidak ada siapapun di sana. Terlihat tempat tidur pun masih rapi pertanda jika Zizi memang tidak ada di dalam kamarnya.


Ingat ucapan Ibu Elena bahwa dia melihat Zizi pergi ke taman yang ada di samping rumah. Devan kembali lagi menuruni anak tangga satu persatu, dan saat tiba di lantai satu. Devan berbelok menuju pintu ke taman samping rumah mewah tersebut.


Benar saja, ternyata wanita yang masih menjadi istrinya, walau tinggal hitungan Jam saja. Sedang duduk sendiri dibangku taman sambil matanya menatap ke atas langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang.


Mungkinkah pikiranmu lagi memikirkan perceraian kita besok pagi atau malah sedang memikirkan hal lain?"


"Huh! Apa yang kamu lakukan di sini, Zi? Bukankah sudah hampir satu jam kamu berada di sini? Apa mungkin kamu lagi memikirkan perceraian kita besok pagi, atau malah sebaliknya memikirkan hal lain?"


Gumam Devan didalam hatinya, setelah itu dengan langkah pelan dia mendekati tempat Zivanna. Lalu duduk di sampingnya, jarak mereka berdua tidak terlalu jauh ataupun dekat. Mungkin berjarak sekitar satu setengah meter. Karena bangku taman itu cukup untuk empat atau lima orang.


"Sedang memikirkan apa? Kakak perhatikan serius sekali?" tanya Devan ikut duduk sambil memperhatikan bintang diatas langit. Seperti yang Zizi lakukan.


"Tidak ada, hanya sedang memperhatikan bintang-bintang itu. Mereka terlihat begitu bahagia tidak memiliki beban seperti para manusia." Jawab Zizi dengan tersenyum kecil.


"Kenapa kamu kemari? Apa Reyvano sudah tidur?" sekarang bergantian Zivanna yang bertanya.

__ADS_1


"Rey belum tidur, dia masih ingin bermain di kamar ibu." jawab Devan. "Kakak ke sini sengaja mencari dirimu. Sebelum ke sini kakak juga sudah melihat di kamarmu, ternyata masih kosong tidak ada orang." Jawabnya lagi sambil menghela nafas berat. Sama halnya dengan beratnya beban hidup yang sedang dia jalani.


Kekayaan, harta berlimpah yang Devan miliki ternyata tidak mampu menyangga beban hidup yang tidak ada sangkut-pautnya dengan materi, karena kegunaan harta hanya untuk membayar sesuatu yang dapat kita beli. Sedangkan beban hidup itu bergantung dengan hati. Jika pemilik hati tersebut tidak ingin menjualnya. Maka uang tidak berarti apa-apa.


"Kenapa mencariku? Apa ada sesuatu?" tanya Zizi untuk kedua kalinya, dia bertanya seperti tidak ada masalah diantara mereka berdua.


"Tidak ada apa-apa, sih!" Jawab Devan, karena dia sendiri saja bingung. Apalagi yang hendak mereka bahas, sudah berulang kali dia meminta Zizi untuk membatalkan perceraian mereka. Nyatanya tidak ada gunanya juga, karena Zivanna tetaplah pada pendirian yang sudah diambilnya kurang lebih satu bulan lalu.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" ucap Zizi membuat Devan menoleh ke arahnya.


"Apa? tanyakan saja! Selagi Kakak bisa, maka akan menjawabnya." jawab Devan.


"Setelah kita resmi bercerai. Apakah kamu akan sering seperti sekarang kembali ke sini?" Selama mereka mengurus perceraian. Baru kali inilah Zivanna bertanya seperti itu.


"Tentu saja, Kakak akan terus pulang-pergi seperti satu bulan belakangan ini." jawab Devan seperti apa yang sudah Iya rencanakan sebelumnya.


"Kenapa? Eum... maksudku apakah karena Reyvano?" tanya wanita itu lagi.


"Iya, memangnya untuk siapa lagi?Sekarang hanya dia yang kakak miliki, tujuan hidup Kakak cuma ingin membuat Rey bahagia. Walaupun kita sudah berpisah." Devan tersenyum miris.


"Jangan berbicara seperti itu. Bukankah kamu masih memiliki ayah selain anak kita." kata Zizi merasa ucapan Devan seperti merendah. "Memangnya kamu tidak memiliki niat, untuk menikah lagi dengan Fiona atau wanita lainnya? Agar kamu memiliki tujuan hidup yang baru." tanyanya lagi.


"Sepertinya tidak!" jawab Devan yakin.


"Jangan menghukum dirimu sendiri, apa yang sudah terjadi di antara kita, lupakan saja. Jangan menutup pintu hatimu untuk wanita lain hanya karena kesalahan yang pernah kamu lakukan padaku." tutur Zizi berbicara dengan tenang. Sama halnya saat dia menceritakan semua masalahnya pada Dokter Shiren beberapa waktu lalu.


"Kamu Memiliki segalanya, aku sangat yakin pasti banyak gadis diluar sana yang mau kepadamu. Lagian meskipun kamu sudah menikah lagi, bukan berarti tidak bisa membahagiakan anak kita. Jadi kuharap pikirkan juga kebahagiaanmu sendiri." di saat Zizi berbicara Devan hanya diam sambil mendengarkan, tidak ada sepatah kata pun ia menyela ucapan wanita tersebut.


"Tentang Reyvano tidak perlu kamu khawatirkan, karena selain dirimu dia juga masih memiliki aku yang akan selalu mencurahkan kasih sayangku kepadanya." papar Zivanna panjang kali lebar.


"Entahlah! Jika kamu memang memiliki niat untuk menikah lagi, maka menikahlah. Kakak tidak akan menghalangi niatmu itu. Tapi... tolong jangan pernah mengira kalau Kakak akan mencari wanita lain seperti apa yang kamu pikirkan." jawab Devan disaat Zivanna sudah selesai berbicara.

__ADS_1


"Untuk sekarang, Kakak hanya ingin membahagiakan Reyvano, tidak ada yang lain." tekan Devan pada ucapannya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2