
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Apa maksudmu Kai? Bagaimana mungkin dia pergi dari rumah sakit kalau dia belum sembuh?" Devan bertanya tidak yakin dengan ucapan temannya. Sekarang mereka sedang berada dalam ruangan pribadi Dokter Kai.
"Apa yang tidak mungkin! Tadi setelah aku pulang dari perusahaan mu, aku sudah bilang akan merawatnya di rumah ku. Namun, Zizi hanya diam tidak bicara sepatah katapun."
Flashback on...
Ceklek....
Dokter Kai membuka pintu ruang rawat Zivanna dengan pelan, lalu dia memanggil gadis itu. "Zi... apa kamu tidur? Ini kakak bawakan makanan buatmu. Kamu makan dulu ya setelah itu ada sesuatu yang ingin kakak sampaikan." ucap Kai duduk di kursi sebelah ranjang Zizi.
Zizi yang di panggil membuka matanya dan melihat dokter muda itu datang dengan barang bawaan. "Kak Dokter sudah datang! Aku belum lapar kak, tadikan sudah makan sebelum kakak pergi." jawabannya sedikit tersenyum karena Dokter Kai sangat baik padanya.
"Hem baiklah! Nanti kalau kamu sudah lapar makan saja ya. Ini makanannya kakak taruh di atas nakas. Kakak ada jadwal operasi mengantikan rekan kakak yang tidak bisa datang. Jadi kamu akan ditemani oleh seorang perawat wanita menjelang kakak kembali." kata Dokter Kai seraya memperbaiki selimut di tubuh Zivanna.
"Iya tidak apa-apa! Kakak pergi saja aku sudah lebih baik jadi jangan khawatirkan aku. Oh iya tadi katanya kakak ingin mengatakan sesuatu, mengatakan apa?" gadis itu menatap mata Kaivan menunggu jawaban nya.
"Iya kakak ingin mengatakan masalah kamu. Zizi tolong dengarkan kakak baik-baik ya. Setelah kamu diperbolehkan pulang dan sudah sembuh kamu pulangnya ke rumah kedua orang tua kakak saja. Di sana ada adik kakak yang seumuran dengan mu, dia juga perempuan." melihat tanggapan tidak perduli Devan terhadap kesehatan istrinya, membuat dokter muda itu berinisiatif akan membawa Zizi pulang ke rumah orang tuanya.
"Kenapa aku pulang kerumah kakak? Bukanya aku sudah memiliki tempat tinggal?" gadis itu bertanya heran.
"Hem! Zi maaf tadi kakak tidak pulang ke rumah, melainkan pergi ke perusahaan Devan suamimu. Kakak menemuinya agar dia bertanggung jawab pada kalian karena walau bagaimanapun kamu adalah istrinya dan anak yang dikandung mu darah daging nya. Kalian butuh perlindungan bukan untuk dia sakiti." Dokter Kai menjeda sesat untuk melihat raut muka Zizi yang langsung menunduk begitu dia menyebutkan nama suaminya.
"Maaf kakak tidak memberitahumu lebih dulu. Tapi percayalah apa yang kakak lakukan sekarang karena kakak peduli padamu." begitu melihat Zizi menunduk sedih, Dokter Kaivan membuang mukanya karena dia tidak tahan melihat kesedihan gadis itu.
"Lalu jika kakak sudah mengatakan kepadanya, kenapa aku harus tinggal di rumah Kak dokter? Apakah Kak Devan tidak boleh lagi aku tinggal di rumahnya?" tanya Zizi dengan suara lirih. Namum, dia tidak menangis gadis itu hanya menahan kesedihannya di dalam hati. Dia tidak mau orang memandangnya wanita yang lemah.
"Tidak, bukan seperti itu! Devan tidak melarangmu tinggal di rumahnya, hanya saja kakak sendiri yang ingin membawamu pergi dari sana. Kamu tidak perlu khawatir kakak juga sudah memberitahu suamimu kalau kamu sedang mengidap penyakit berbahaya apabila tidak segera ditangani. Sewaktu kakak bilang akan membawamu pergi dari rumahnya. Devan hanya diam saja jadi tidak ada masalah. Kalau dia tidak boleh tentunya sudah melarang kakak membawamu." Dokter kaivan tidak mengatakan yang sebenarnya karena tidak sanggup melihat Zizi semakin terluka apabila dia berkata jujur bahwa sebenarnya Devan tidak peduli pada kesehatan gadis itu.
__ADS_1
"Sudahlah kamu tidak perlu bersedih, ini hanya untuk sementara. Apabila kamu sudah sembuh maka kakak akan mengantarmu pulang ke rumahnya lagi. Tapi kalau memang kamu tidak mau pergi dari rumahnya, kakak tidak akan memaksamu yang penting sekarang kamu harus dirawat dulu biar keadaanmu bisa pulih kembali." ucap pria itu yang mengerti kalau Zivanna berat menerima keputusan yang sudah dia buat sendiri tanpa bertanya pada Zizi lebih dulu.
"Terimakasih Kak Dokter! Beri aku waktu untuk berpikir lebih dulu." jawab gadis itu setelah dari tadi hanya diam saja.
"Oke tidak masalah segala sesuatu memang harus dipikirkan lebih dulu." seru dokter muda itu melirik jam di pergelangan tangannya. "kalau begitu kakak tinggal dulu ya jadwal operasinya sebentar lagi. Ingat jangan banyak berpikiran yang macam-macam. Kakak akan kembali tiga jam dari sekarang dan sebentar lagi akan ada perawat yang akan menjagamu." pria itu lalu pamit karena dia ada jadwal untuk mengoperasi pasien lainnya.
Flashback off...
"Aku rasa Zivanna tidak pulang kerumah mu," ucap Dokter Kai sambil menguyar rambutnya kasar. Sumpah demi apapun dia sangat mengkhawatirkan keadaan Zizi.
Berbeda dengan Devan. Pria itu hanya diam sambil memikirkan ke mana perginya Zizi apabila tidak pulang ke rumahnya juga. Sedangkan istrinya itu tidak punya sanak saudara di kota Y.
"Sudahlah aku akan melihatnya di rumah, paling juga dia pulang kesana. Mana mungkin dia pergi ke tempat lain." lelaki itu berdiri di ikuti sekertaris Jimi di sampingnya.
"Devan apa sedikit saja kamu tidak merasa khawatir pada keselamatan istrimu? Dia hanya gadis muda yang menjadi korban balas dendam mu. Kamu tau kan sekarang dia sedang hamil dan memiliki penyakit yang bisa sewaktu-waktu mengancam nyawa dia dan anakmu." sergah Dokter Kai tidak suka mendengar jawaban Devan yang acuh tak acuh.
"Kamu tidak tau apa-apa. Dia gadis yang licik sama seperti ibunya. Aku rasa bila dia tidak pulang ke rumah ku. Pasti dia bersembunyi di rumah dosen keparat itu." setelah mengatakan itu Devan langsung pergi dengan keadaan luka lebam di wajahnya. Luka bekas pukulan dari Dokter Kaivan.
"Baik Tuan muda!" sekertaris Jimi pun menghubungi kediaman Devan untuk menanyakan keberadaan Nona mudanya.
📱Jimi : "Halo Bibi Marta apa Nona Zivanna sudah pulang?" tanya sekertaris Jimi begitu teleponnya sudah terhubung.
📲 Bibi Marta : "Tidak, Nona Zivanna bukannya masih di rumah sakit?" jawab Bibi Marta kembali bertanya. Sehingga tidak menunggu lagi Jimi langsung memutuskan sambungan dan melaporkan kepada tuan mudanya. "Nona tidak pulang kerumah, Tuan muda."
"Apa dia tidak ada dirumah! Kalau begitu dia pasti pulang ke Apartemen dosenya itu. Cepat putar balik! Aku akan menyeretnya dari sana. Berani sekali gadis itu mempermainkanku. Dia bahkan sudah menghasut Kaivan, sehingga berani memukul wajahku." umpat Devan semakin kesal.
Begitu mobil mereka tiba di depan gedung Apartemen yang ditempati oleh Ski bersama Miranda istrinya. Devan keluar dari mobil lebih dulu dan langsung masuk menuju ke lantai atas tempat Apartemen yang di masuki oleh Zizi kemarin siang.
Ceklek...
"Selamat malam Tuan muda Devan!" sapa Miranda sopan karena dia memang mengenal nya.
"Malam juga! Saya datang kesini ingin menjemput Zivanna Lois. Apa dia ada di sini?" tanya Devan sudah merubah niat awalnya. Tadi dia sudah berencana akan memukul Ski ataupun Zizi bila pintunya di buka.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Devan membuat wanita itu tersenyum lalu berkata. "Tidak ada Tuan Devan. Zizi datang nya kemaren, hari ini dia tidak datang kesini."
"Apa Anda mengetahui dia datang kesini?"
"Tentu saja Saya tahu. inikan tempat tinggal Saya." Miranda menjawab masih tetap tersenyum.
"Kalau boleh tahu untuk apa Zivanna datang kemari?" tanya pria itu mulai memiliki perasaan tidak enak.
"Dia datang untuk membersihkan tempat ini."
Duuuaar..
Devan langsung membeku di tempatnya. Setelah mengetahui kebenaran itu.
BERSAMBUNG....
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya 🤗 Agar Mak author semangat juga nulisnya. O'ya tolong jangan lupa beri bintang lima nya ya, karena itu untuk meningkatkan karya Mak author. Terimakasih 🙏🙏
Like.
Vote.
Vaforit.
Komen.
Dan hadiahnya 🤧🤧
__ADS_1